Artikel

Kenapa sih HIV AIDS Sangat Distigma?

Teman-teman yang cukup jeli mungkin akan bertanya-tanya, kenapa sih orang segitu paranoidnya dengan HIV AIDS? Padahal ada juga virus-virus lain yang bahkan lebih mematikan, dengan teknik penularan yang kurang lebih sama tapi orang nampaknya santuy saja, misalnya Hepatitis.

HIV dan hepatitis memang sama-sama disebabkan oleh virus. Sama-sama ditularkan melalui hubungan seksual, lewat penggunaan jarum suntik bergantian dan secara vertikal dari ibu ke anak. (Penularan lewat tranfusi darah sudah amat sangat kecil sekali kemungkinannya karena saat ini PMI sudah memilik teknologi pemeriksaan yang sangat canggih yang bisa mendeteksi virus-virus ini.) Sama-sama membutuhkan pengobatan yang intens dan sama-sama bisa berakibat fatal bila tidak diobati.

Atau bisa juga dibandingkan dengan infeksi lainnya seperti HPV misalnya.

Tetapi mengapa hanya HIV yang akrab sekali dikait-kaitkan dengan “perilaku seksual menyimpang” atau “penyakit orang nakal/ orang gak bener”?

Tentu saja semua infeksi ini berbahaya dan sangat perlu kita hindari tetapi mengaitkan suatu infeksi virus dengan pola perilaku tertentu harus berdasarkan fakta dan bukan prejudice semata, dan jelas salah bila mengaitkan infeksi virus dengan karakter seseorang. Karena Jaka Sembung makan kedondong. Gak nyambung dong.

Nah bicara tentang asal muasal stigma HIV, membuat kita harus mundur ke masa-masa yang tidak terlalu jauh dari masa sekarang, yaitu sekitar tahun 1970-an, ketika mulai muncul beberapa kasus kematian laki-laki muda dengan gejala yang sangat progesif : berat badan menurun drastis, pneumonia berat dan muncul kanker agresif yang disebut Kaposi Sarcoma. Setelah makin banyak kasus kematian, CDC kemudian menyimpulkan bahwa ada benang merah di antara semua kasus kematian tersebut yaitu bahwa semua pasien tersebut adalah laki-laki berusia sangat muda (bahkan ada yang usianya baru 16 tahun), dengan riwayat kesehatan yang baik sebelumnya dan mereka semua adalah homoseksual.

Maka barulah pada tahun 1981, nama AIDS pertama kali disebut oleh CDC (Center for Disease Control). Tahun 1983 Human Immunodeficiency Virus berhasil diidentifikasi tapi sampai saat ini masih belum ditemukan vaksinnya.

Dengan informasi yang sangat minim pada saat itu terkait penyakit ini, semua orang segera menyimpulkan bahwa penyakit ini disebabkan karena perilaku homoseksual. Bahkan tidak lama setelah itu sebuah koran khusus komunitas homoseksual, The Bay Area Reporter, menyebut penyakit ini sebagai “Gay Men’s Pneumonia”. Yang meskipun saat ini sudah dibuktikan tidak benar karena heteroseksual pun bisa terkena HIV, tetapi pada saat itu informasi itulah yang beredar.

Dan dari situlah stigma itu berasal. Jadi kalau kita masih berpikiran bahwa HIV AIDS adalah penyakit homoseksual saja, that is so 1980ish dude..

Sementara infeksi virus lain seperti hepatitis dan mungkin HPV tidak memiliki sejarah ini. Hepatitis bahkan baru mulai menjadi perhatian setelah ada wabah “sakit kuning” pada sekitar 50.000 tentara saat perang dunia kedua. Pada tahun 1965, virus hepatitis B berhasil diidentifikasi oleh Dr. Baruch Blumberg yang kemudian mendapatkan penghargaan nobel karena penemuannya ini dan 4 tahun setelahnya vaksinnya berhasil dibuat.

Dan inilah informasi yang beredar bahwa hepatitis sudah ada vaksinnya, jadi tidak perlu khawatir. Tapi banyak orang lupa, yang sudah ada vaksinnya hanya hepatitis B. Padahal hepatitis ada dari A sampai G. Dan hepatitis C yang sama berbahayanya, sampai saat ini belum ada vaksinnya, seperti HIV.

Maka dari mempelajari sejarah singkat ini kita bisa merefleksikan bahwa informasi yang tidak akurat dan pengetahuan yang minim tentang suatu penyakit bisa berbuntut panjang sampai ke generasi-generasi berikutnya. Jadi satu-satunya cara untuk bisa melawan stigma-stigma ini adalah dengan memperkaya diri dan masyarakat dengan informasi-informasi yang akurat yang up to date, karena seperti kita sadari bersama, informasi selalu berubah, pengetahuan berkembang, teknologi makin maju.

“Change is inevitable. Growth is optional”

John Maxwell

Perubahan itu keniscayaan, tetapi pertumbuhan pribadi adalah pilihan kita. Apakah kita berani berubah mengikuti perkembangan zaman atau keras kepala membiarkan diri kita digilas perubahan zaman?

Sumber:

https://www.hiv.gov/hiv-basics/overview/history/hiv-and-aids-timeline

https://www.hepb.org/prevention-and-diagnosis/vaccination/history-of-hepatitis-b-vaccine/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s