Artikel

Cara Cepat Menemukan Dokter yang Cocok

“Pergi ke dokter itu cocok-cocokan.”

Benar. Konsultasi medis itu seni, meskipun ada pakem-pakemnya tapi ada interaksi antara manusia juga di sana yang sangat mempengaruhi hubungan tenaga medis-pasien. Apakah kalian sering merasa sulit menemukan dokter yang cocok?

Ada triknya lho bagaimana bisa segera menemukan dokter yang cocok.

Yuk simak ulasan berikut ini!

Pertama-tama, masyarakat harus mulai menyadari bahwa konsultasi pribadi itu berbeda dengan sekedar “tanya-tanya”. Ada kontribusi dua pihak di sana, dari pasien dan dari tenaga medisnya.

Pasien harus menyadari masalah kesehatan yang ia alami dan memberi informasi yang jujur dan jelas. Dokter memberikan ekspertisenya sesuai informasi yang disampaikan oleh pasien.

Bayangkan seperti ini:

Pasien (P) : Dok saya demam.

Dokter (D) : Sejak kapan?

P : Mmm, kurang tahu ya dok, uda agak lama sih.

D : Demamnya berapa suhunya?

P : Gak tahu dok. Saya gak ukur. Demam lah pokoknya, tapi gak tinggi sih.

D : Selain demam ada keluhan lain?

P : Badan saya sakit semua dok. Sama perut saya sakit.

D : Sakit perutnya sebelah mana?

P : Wah semua dok.

D : Sakitnya seperti ditusuk atau kembung atau mules atau melintir atau bagaimana?

P : Ga tau dok, gak enak aja rasanya semua perut ni.

Kalau Anda dokternya, bagaimana perasaan Anda?

Bandingkan dengan konsultasi berikut:

P: Dok, saya demam sudah 3 hari.

D : Demam suhunya berapa?

P : Hari pertama masih belum terlalu dok, cuma 37,5oC. Hari kedua saya kira mendingan paginya, tiba-tiba sorenya demam lebih tinggi 38oC. Saya minum paracetamol turun sih. Tapi besok paginya 38oC lagi dok. Ini 1 jam lalu saya baru minum paracetamol sebelum ke sini jadi agak turun ni.

D : Selain demam ada keluhan apa?

P : Mulut pahit dok, saya tidak selera makan. Mual, tapi tidak sampai muntah sih. Kalau saya paksakan makan, perut saya mules dok. BAB jadi cair juga tapi sehari cuma 2-3x sih.

Bagaimana menurut Anda? Akan lebih efisien yang mana?

Pasien dan dokter bertemu di waktu, tempat dan situasi yang disepakati bersama sesuai dengan kondisi pasien.

Meskipun tidak ada perjanjian tertulis, tapi ada kesepakatan bersama untuk dokter bekerja di fasilitas kesehatan dan pasien mendatangi fasilitas kesehatan tersebut untuk berkonsultasi, diperiksa, diterapi dll. Ini adalah etika profesi tenaga medis. Bahwa tenaga medis harus melayani pasien berdasarkan kaidah-kaidah yang memastikan layanan terbaik bagi pasien.

Maka untuk konsultasi yang efisien pastikan kamu mengikuti kaidah ini. Datanglah ke praktek dokter sesuai appointment atau sabarlah menunggu antrian. Atau bila kamu tidak bisa datang ke faskes, kamu bisa mencari faskes yang menyediakan layanan home visit.

Tentu tidak bisa bila pasien hanya menulis surat pendek berisi gejala-gejala yang dia alami, lalu berharap dijawab oleh dokternya melalui surat juga. Atau seperti yang sering terjadi, orang lain mewakili pasien untuk berkonsultasi lalu konsultasinya hanya penuh dengan “katanya..”.

Anda juga perlu menghargai waktu istirahat dokter dan juga pasien lain. Bila kondisi kalian tidak gawat darurat, jangan memaksa dokter memeriksa di luar praktek. Dokter yang sedang kelelahan atau merasa terganggu jam istirahatnya tentu akan sulit melayani sedang baik.

Juga jangan malah pergi ke UGD untuk sesuatu yang tidak gawat darurat hanya karena Anda malas mengantri. UGD adalah instalasi untuk pasien-pasien gawat saja, bila Anda yang tidak gawat ada di sana, Anda mengganggu sistem kerja di UGD dan membuat gelisah dokternya, karena bila nanti ada pasien yang gawat betulan, dokter harus meninggalkan Anda di tengah-tengah konsultasi dan melayani pasien yang gawat duluan, dan sulit melayani pasien gawat kalau ruangnya dipakai oleh Anda yang tidak gawat.

Dokter ikhlas membantu, pasien ikhlas dibantu.

Ini yang sering dilupakan orang bahwa yang terlibat dalam konsultasi medis kedua pihak adalah individu yang merdeka yang tidak boleh berada dalam paksaan.

Anda tentu merasa tidak nyaman kan kalau saat berkonsultasi dokternya jutek, malas-malasan seakan sedang tidak ingin berada di situ. Sama juga, dokter pun merasa tidak bisa maksimal kalau Anda menjawab seadanya atau bahkan tidak mau menjawab “Dokter kan yang lebih pinter dari saya, kasi tahu aja saya sakit apa. Gak usa pake tanya-tanya.” #truestory

Sulit juga bagi dokter kalau pasien berkonsultasi dengan mental block, setiap kali diberi arahan selalu menangkis atau diberi saran obat/terapi ngeyel karena misalkan dari awal pasien sudah ragu karena dokternya terlihat baru lulus.

Jadi perlu diketahui bersama, bahwa pasien berhak memilih dokter karena keikhlasan pasien dalam berkonsultasi sangat penting untuk kesembuhan pasien. Sebaliknya, tenaga medis tidak punya privilese ini. Tenaga medis tidak boleh menolak pasien karena status/atribut tertentu dari pasien. Misalnya: dokter tidak mau menerima pasien yang berlawanan jenis kelamin/gender. Secara agama mungkin itu yang diyakini si dokter, tapi secara etika dan profesionalisme hal ini tidak boleh dilakukan.

Jadi manfaatkan hak istimewa ini. Bila kamu merasa tidak cocok dengan 1 dokter, jangan memaksakan diri, kamu bisa mencari referensi dokter lain, sekedar mencari second opinion atau berpindah dokter. Jangan lupa kembali ke tips pertama ya, saat kamu berpindah dokter pastikan kamu mencatat semua riwayat kesehatanmu dengan dokter sebelumnya.

Demikian 3 tips dari Dokter Tanpa Stigma. Sehat selalu ya! Semoga kalian segera berjodoh! #eh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s