Aktivitas

Mengapa Nakes Perlu Paham Perdagangan Orang?

Bagian Pertama dari Seri Peran Tenaga Medis Membantu Korban Perdagangan Manusia

Praktik perdagangan manusia/ human trafficking adalah fenomena yang masih marak terjadi dan bisa menimpa siapa saja. Perdagangan manusia adalah bentuk dari perbudakan modern.1 Data dari SIMFONI PPA menunjukkan bahwa kasus tindak pidana perdagangan orang (TPPO) pada perempuan dan anak meningkat 62,5% pada tahun 2020. Seringkali, korban perdagangan manusia juga akan mengalami eksploitasi seksual selain ragam kekerasan lainnya, dan memiliki status kesehatan yang buruk karena kekurangan akses ke layanan kesehatan.

Unbound Indonesia melaporkan data dari Global Slavery Index yang menyatakan bahwa 50% populasi Indonesia rentan menjadi korban human trafficking atau perdagangan manusia, dan saat ini diestimasikan ada 1,2 juta orang Indonesia masih menjadi korban, yang setara dengan 4,7% populasi. Kerentanan ini salah satunya disebabkan karena Indonesia merupakan salah satu negara sumber utama buruh migran berupah rendah. Komunitas PerEMPUan melaporkan bahwa korban perdagangan seks anak kini mencapai 30% dari perkiraan 8 juta pekerja Indonesia ilegal.

Siluet tangan hitam-putih
Foto: Lalesh Aldarwish, Pexels

Serba-serbi perdagangan manusia dan bagaimana tenaga kesehatan bisa berperan dibahas dalam diskusi antara Dokter Tanpa Stigma dengan dr. Adiyana Esti dan dr. Deby Lusiana Adsit dari Unbound Indonesia pada Agustus 2022.

Ragam Penyebab dan Cara Rekrutmen Korban dalam Aktivitas Perdagangan Manusia

Praktik perdagangan manusia atau TPPO (tindak pidana perdagangan orang) merupakan tindakan eksploitasi manusia. Komunitas PerEMPUan menjabarkan bahwa TPPO sangat terkait erat dengan kekerasan seksual, dan kelompok masyarakat yang rentan menjadi korban adalah perempuan dan anak perempuan.2 Indonesia adalah target utama perdagangan anak di dunia, bahkan sering disebut-sebut “surganya pedofilia.

Dikutip dari Komnas HAM, komunitas PerEMPUan juga menjelaskan bahwa kasus perdagangan manusia biasanya didorong oleh kepentingan ekonomi, sehingga seringkali menyasar korban dari kalangan keluarga tidak mampu. Namun, masalah perdagangan manusia sifatnya kompleks dan berlapis-lapis, sehingga ekonomi dan tingkat pendidikan tidak selalu menjadi faktor utama. Selain sering diambil dari anak-anak jalanan, ada juga yang diculik dari keluarga mapan, atau diculik dari peserta beasiswa atau pekerja internasional dengan visa resmi. Marak juga lewat penipuan. Bahkan, buruh migran resmi bisa dijual lagi oleh majikannya di luar negeri. Anak-anak juga bisa direkrut dari Internet dengan cara pendekatan dan pacaran virtual.3

TPPO dikenal sebagai kejahatan yang sangat sistematis. Pelakunya memiliki target dan secara aktif melakukan perekrutan dengan strategis. Prosesnya bisa dimulai dari manipulasi, perekrutan, penipuan, dan pemberian iming-iming tertentu. Seringkali, pelaku menggunakan berbagai cara kekerasan seperti penculikan, penjeratan utang, pemalsuan usia dan data diri, hingga penyalahgunaan kekuasaan yang melibatkan aparat keamanan maupun pimpinan setempat untuk memuluskan jalan pelaku.

Berbagai modus perdagangan manusia menurut KPAI antara lain pengiriman buruh migran perempuan, pengiriman pekerja rumah tangga (PRT) domestik, eksploitasi seksual, perbudakan, pengantin pesanan, pekerja anak, pengambilan organ tubuh, adopsi anak, penghambaan, duta seni budaya dan bahasa, serta kerja paksa hingga penculikan anak dan remaja. Eksploitasi yang dialami bisa berupa dipekerjakan menjadi buruh kasar atau pekerja seks merangkap kurir narkoba.

Korban Perdagangan Manusia Rentan Mengalami Berbagai Masalah Medis

Administration for Children and Families menjabarkan bahwa dalam proses perdagangan manusia, ada tiga tahap yaitu action (tindakan), means (cara), dan purpose (tujuan).4

ActionMeansPurpose
Rekrutmen Transportasi Pemindahan Penyekapan TransaksiPemaksaan Kekerasan Penculikan Manipulasi Penipuan Abuse of powerProstitusi Pengambilan organ Buruh kasar Perbudakan Pengantin pesanan

Dalam tiap-tiap tahap, korban-korban TPPO bisa saja mengalami satu atau lebih dari hal-hal berikut: 2,5

  • Kekurangan makanan dan tempat tinggal yang tidak layak
  • Pemaksaan penggunaan alkohol dan obat-obatan
  • Penyekapan fisik dan manipulasi emosional
  • Masalah dengan aparat hukum/ administrasi
  • Eksploitasi finansial dan jeratan utang
  • Hazard pekerjaan dan transportasi
  • Kekerasan fisik dan seksual
  • Kekerasan psikologis
  • Stres ekstrem
Zimmerman C, Stöckl H. Human Trafficking. In: Understanding and Addressing Violence Against Women. Geneva: World Health Organization; 2012

Meskipun TPPO bisa menimpa siapa pun, korban terbanyak tetaplah perempuan dan anak-anak. Karena itu, kesehatan reproduksi menjadi salah satu perhatian utama dalam fenomena perdagangan orang. Sebagian besar perempuan mengaku mengalami kekerasan fisik dan seksual sejak sebelum (59%) dan selama (95%) dalam proses eksploitasi.2 Karena mereka berada dalam penyekapan, biasanya ketika mereka dibawa berobat, penyakit-penyakit yang diderita sudah berada dalam tahap lanjut.5

Studi menunjukkan enam kategori diagnosis medis yang paling sering ditemukan pada korban perdagangan manusia yang berkombinasi dengan prostitusi anak, antara lain: HIV/AIDS (sering diiringi tuberkulosis), penyakit tidak menular, gangguan kesehatan reproduksi (tersering STD yang berkomplikasi sampai ke infertilitas karena infeksi kronis), penyalahgunaan obat-obatan, gangguan kesehatan jiwa (khususnya gangguan stres pascatrauma/PTSD, depresi, dan kecemasan), dan trauma fisik.1,2

Zimmerman C, Borland R, editors. Caring for Trafficked Persons: Guidance for Health Providers. Geneva: International Organization for Migration; 2009

Fenomena human trafficking atau perdagangan manusia (TPPO) adalah problema multilapis yang masih sangat relevan di masa kini dan harus menjadi perhatian kita bersama, khususnya tenaga medis. Sebab, para korban perdagangan manusia mengalami tekanan dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi sampai kesehatan. Karena mereka adalah kelompok rentan yang seringkali berada dalam penyekapan atau tidak tercatat (undocumented), maka banyak kendala kesehatan yang mungkin melanda, mulai dari fisik, seksual, sampai mental. Dalam menghadapi masalah ini, nakes bisa bekerja sama dengan aparat yang berwajib serta berbagai komunitas perlindungan perempuan dan anak.

Referensi:

  1. Barrows J, Finger R. Human Trafficking and the Healthcare Professional. Southern Medical Journal 2008 May; 101 (5): 521-4. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/18414161/
  2. Zimmerman C, Stöckl H. Human Trafficking. In: Understanding and Addressing Violence Against Women. Geneva: World Health Organization; 2012. https://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/77394/WHO_RHR_12.42_eng.pdf
  3. CNN Indonesia. KPAI Beberkan 12 Modus Perdagangan Manusia Indonesia. CNN Indonesia; 2019. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190710031148-12-410730/kpai-beberkan-12-modus-perdagangan-manusia-di-indonesia
  4. Waugh L. Human Trafficking and the Health Care System. LegisBrief 2018 April; 26 (14). https://www.ncsl.org/research/health/human-trafficking-and-the-health-care-system.aspx
  5. Dovydaitis T. Human Trafficking: The Role of the Health Care Provider. Journal of Midwifery & Women’s Health 2010 Sept-Oct; 55 (5): 462-7. doi: 10.1016/j.jmwh.2009.12.017 https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3125713/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s