Woman whispering to a man with visual impairment in a cinema while a movie plays

Pada tahun 1911, seorang ilmuwan film dari Italia bernama Ricciotto Canudo mengikrarkan film sebagai seni ketujuh (la settima arte). Hal ini merujuk pada keberadaannya sebagai medium seni audiovisual yang hadir mengikuti seni lukis, seni patung, arsitektur, musik, sastra, dan teater. Melalui film, penonton diajak menyelami berbagai cerita dari berbagai genre.

Seorang sutradara asal Jepang bernama Naomi Kawase, merilis film arahannya berjudul Radiance (Hikari). Film ini juga sempat berkompetisi dalam kategori Palme d’Or pada Festival Film Cannes. Meski tidak menuai rating yang spektakuler, film ini sukses memberikan insight tentang bagaimana disabilitas netra menikmati film sebagai medium seni.

Sebagai medium audiovisual, film tidaklah sulit dinikmati orang kebanyakan. Kini, film bahkan bisa dinikmati melalui platform OTT (over the top). Konsumsi film tidak lagi jadi soal, terutama bagi mereka yang punya akses internet.

Ketika Adegan Visual Diterjemahkan Menjadi Narasi

Namun, apakah kita pernah berpikir bagaimana seorang disabilitas netra menikmati film? Bagaimana cara mereka mampu memahami cerita yang dibawakan dalam sebuah film? Jika penglihatan bukan lagi jadi kemampuan, apakah mereka dapat menjadi ‘penonton’ seperti orang awas kebanyakan?

Naomi Kawase membawa isu tersebut dengan kemasan slice of life dan sedikit romansa dalam film Radiance. Film ini mengisahkan seorang perempuan muda bernama Misako (Ayame Misaki) yang berprofesi sebagai pengisi audio description. Film didominasi keseharian Misako, sesekali bersama atasannya, berlatih mengisi deskripsi audio dalam sebuah kelompok disabilitas netra. Kita disuguhi kompleksitas dan keseriusan pemilihan kata, intonasi, volume, nada dari sepenggal kalimat untuk mendeskripsikan sebuah adegan film.

Woman wearing headphones watching black and white movie with audio description on TV

Jauh dari kesan sepele dan sederhana, profesi pengisi deskripsi audio film rupanya memerlukan latihan dan keteguhan hati. Pasalnya, caranya menarasikan berhak dikritik dan diperbaiki oleh sekelompok disabilitas netra. Latihan demi latihan diupayakan agar kelak deskripsi audio film benar-benar akurat saat dilepas untuk audiens yang lebih besar.

Dalam beberapa pertemuan, Misako dikritik habis-habisan. Baru sepenggal menarasikan sebuah adegan, beberapa disabilitas netra sudah menyampaikan kritik secara bergantian. Salah satu disabilitas netra yang paling sering melempar kritik dengan nada dingin adalah Masaya (Masatoshi Nagase), seorang lelaki paruh baya pengidap low-vision yang berprofesi sebagai fotografer.

Relasi Setara antara Orang Awas dan Disabilitas Netra

Titik mengesankan yang dicetuskan film ini berada pada dinamika interaksi antara orang awas dan disabilitas netra. Tidak saja perihal bagaimana memenuhi ekspektasi tentang “membacakan” adegan supaya tergambar secara utuh di kepala disabilitas netra, namun juga bagaimana orang awas belajar memahami bahwa pengalaman menonton tidak selalu bertumpu pada penglihatan. Dalam proses itu, deskripsi audio bukan sekadar aktivitas menjelaskan apa yang tampak di layar, melainkan juga upaya menerjemahkan suasana, emosi, gestur, ruang, dan detail visual tanpa mengambil alih imajinasi penonton.

Two women sitting on a bench with a guide dog outside in a park

Melalui interaksi Misako dengan kelompok disabilitas netra, Radiance memperlihatkan bahwa aksesibilitas tidak bisa dibangun dengan asumsi sepihak. Orang awas mungkin merasa sudah membantu ketika menjelaskan sebuah adegan, tetapi bagi disabilitas netra, pilihan kata yang terlalu berlebihan, terlalu minim, atau terlalu subjektif dapat mengubah cara mereka memahami cerita. Di sinilah komunikasi yang setara menjadi penting: disabilitas netra tidak ditempatkan sebagai penerima bantuan yang pasif, melainkan sebagai penonton yang memiliki pendapat, preferensi, kritik, dan hak untuk menentukan bentuk akses yang paling sesuai bagi mereka.

Film ini juga menunjukkan bahwa membangun akses bukan hanya soal menyediakan fasilitas, tetapi juga soal kesediaan untuk mendengar. Kritik-kritik yang diterima Misako menjadi pengingat bahwa inklusivitas menuntut kerendahan hati dari orang awas untuk tidak merasa paling tahu. Relasi yang setara lahir ketika pengalaman disabilitas netra dipandang sebagai pengetahuan yang sah, bukan sekadar keterbatasan yang perlu dikasihani. Dengan demikian, Radiance tidak hanya berbicara tentang bagaimana film dapat dinikmati oleh disabilitas netra, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat awas perlu belajar ulang tentang empati, bahasa, dan cara berbagi ruang budaya secara lebih adil.

Akses Film bagi Disabilitas Netra: Pekerjaan Rumah di Indonesia

Pasal 16 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2016 menjelaskan bahwa penyandang disabilitas mempunyai hak memperoleh kesamaan dan kesempatan untuk berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan seni dan budaya. Pasal 87 juga mencantumkan kewajiban pemerintah dalam memfasilitasi penyandang disabilitas dalam kegiatan seni budaya.

Upaya mencapai kesetaraan dalam menikmati film bagi penyandang disabilitas agaknya masih menjadi pekerjaan rumah yang berat di Indonesia. Seolah-olah film dibingkai sebagai ekosistem seni untuk orang awas saja. Meski tidak sekrusial hak lain seperti aksesibilitas, pekerjaan, dan pendidikan, namun bukankah film juga menjadi salah satu medium seni sekaligus hiburan yang seharusnya dapat diakses seluruh kalangan?

Inisiatif mewujudkan kesetaraan itu dapat dilihat dari adanya fasilitas audio description ketika sebuah film ditayangkan. Akan mengalun narasi untuk menggambarkan adegan demi adegan sehingga disabilitas netra dapat menonton dan memahami filmnya. Hal ini tentu saja belum umum didapatkan di negeri kita.

Inisiatif Aksesibel: Dari Sporadis Menuju Akses Reguler

Upaya-upaya membantu kawan disabilitas netra perihal konsumsi film nyatanya hanya sporadis, jauh dari kata berkelanjutan. Atensi pemerintah sebagai pemangku kebijakan terkait isu ini juga patut ditingkatkan.

Beberapa inisiatif terkait isu ini diantaranya terwujud dalam sebuah produksi film pendek berjudul Jemari yang Menari di Atas Luka-Luka karya mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara. Film diproduksi dengan format audio description secara penuh sehingga penonton awas maupun disabilitas netra harus mengandalkan kemampuan dengar. 

Woman whispering to a man with visual impairment in a cinema while a movie plays

Terobosan lain yang juga turut menjadi solusi adalah hadirnya bioskop bisik. Bioskop bisik tercipta dari inisiasi Cici Suciati dan Tarini, ketua komunitas Fellowship of Netra Community. Berjalan dari tahun 2015, bioskop bisik memberikan kesempatan menonton film dengan bantuan orang awas yang membisikkan detail visual melalui alat bantu audio transmitter. Beberapa film yang pernah ditayangkan dalam bioskop bisik, antara lain Janji Joni, Filosofi Kopi, dan Tjokroaminoto.

Selain hadir di Jakarta, bioskop bisik juga diprakarsai sebuah komunitas film di Banjarmasin bernama Forum Sineas Banua. Komunitas ini sukses menggelar Bioskop Berbisik dengan dukungan Dana Abadi Kebudayaan yang dikelola LPDP.

Pagelaran Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) lalu juga menghadirkan bioskop bisik yang menayangkan film ‘Home Sweet Loan’. Inovasi membuat sinema semakin aksesibel ini sukses menjadi contoh untuk festival-festival film lainnya.

Melihat berbagai upaya itu tentu memberikan angin segar bagi inklusivitas disabilitas, terutama disabilitas netra. Meskipun begitu, upaya-upaya itu tidak cukup hadir sporadis dan temporer, namun seyogyanya tampil dalam jadwal-jadwal tayang ataupun pemutaran reguler. Alih-alih hadir di kota besar melulu, terobosan seperti bioskop bisik juga diharapkan hadir pula di daerah.

Film Radiance besutan Naomi Kawase berhasil merefleksikan pentingnya kesadaran bahwa film bukan saja untuk populasi awas, namun juga untuk seluruh manusia, termasuk disabilitas netra. Upaya-upaya menikmati film bagi mereka sudah selayaknya diberikan dukungan, terutama dari pemangku kebijakan maupun ekosistem produksi filmnya sendiri.

Referensi:

  1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 (https://peraturan.bpk.go.id/Details/37251/uu-no-8-tahun-2016)
  2. Kisah Bioskop Berbisik dari Forum Sineas Banua (https://lpdp.kemenkeu.go.id/informasi/berita/mengubah-sinema-merangkul-semua-kisah-bioskop-berbisik-dari-forum-sineas-banua/)
  3. Pakai Format Audio Description, Mahasiswa UMN Buat Film Untuk Tunanetra (https://news.detik.com/berita/d-5278404/pakai-format-audio-description-mahasiswa-umn-buat-film-untuk-tunanetra)

Artikel ini ditulis oleh Maria Monasias Nataliani, seorang part-time writer dan full-time doctor.

Tinggalkan komentar