Sebagai tenaga medis, dukungan lini pertama atau first-line support adalah aspek penting dalam manajemen klinis bagi korban dan penyintas perkosaan serta kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Peran tenaga kesehatan, mulai dari dokter, perawat, bidan, dan nakes lainnya sangat penting dalam memberikan perawatan dan dukungan segera untuk memastikan keselamatan serta memenuhi kebutuhan medis serta psikologis korban. Berikut ringkasan langkah-langkah esensial dalam memberikan first-line support kepada korban sesuai pedoman WHO bagi korban kekerasan berbasis gender dan seksual (KBGS).

Photo by MART PRODUCTION on Pexels.com

Memahami Pentingnya First-Line Support

Respons ideal sebagai first-line support bagi korban kekerasan ialah dengan cara memprioritaskan kebutuhan korban, menghormati martabat korban, dan memastikan keselamatan korban. Ini dilakukan dengan cara mendengarkan, memvalidasi perasaan korban, menanyakan kebutuhan dan kekhawatiran korban, serta mendukung korban melalui tahap awal pemulihan. Prinsip-prinsip utama first-line support atau dukungan lini pertama ini dirangkum dalam akronim LIVES:

  • Listening (Mendengarkan): Dengarkan korban/penyintas dengan empati dan tanpa menghakimi.
  • Inquiring about needs and concerns (Menanyakan kebutuhan dan kekhawatiran): Menilai dan merespons kebutuhan serta kekhawatiran korban, termasuk kebutuhan emosional, fisik, sosial, dan praktikal.
  • Validating (Memvalidasi): Tunjukkan bahwa Anda memahami dan mempercayai korban, yakinkan mereka bahwa kekerasan yang mereka alami bukan salah mereka.
  • Enhancing safety (Memastikan keamanan): Diskusikan rencana untuk melindungi korban dari bahaya lebih lanjut.
  • Supporting (Mendukung): Bantu mereka mengakses informasi, layanan, dan dukungan sosial.

Langkah 1: Menyediakan Lingkungan dan Privasi yang Aman

Langkah pertama dalam memberikan first-line support adalah memastikan bahwa korban atau penyintas berada di lingkungan yang aman dan memiliki privasi; bebas dari gangguan dan tidak terlihat atau tidak dapat diakses oleh publik atau pasien lain. Ruang konsultasi pribadi di klinik adalah salah satu tempat ideal yang bisa kita pilih. Pastikan tiga hal penting berikut terpenuhi:

  • Privasi: Pastikan percakapan tidak dapat didengar oleh orang lain. Jika perlu, gunakan tirai atau layar untuk memberikan privasi tambahan.
  • Keselamatan: Pastikan lingkungan aman dan terjamin. Jika ada kekhawatiran tentang keselamatan penyintas, seperti keberadaan pelaku di dekatnya, ambil tindakan segera untuk mengatasinya.
  • Kenyamanan: Ciptakan suasana yang nyaman. Tawarkan tempat duduk, air minum, dan tisu jika diperlukan.

Langkah 2: Mendengarkan dan Menanyakan Kebutuhan Serta Kekhawatiran Korban

Mendengarkan cerita korban/penyintas adalah bagian terpenting dari first-line support. Dengan cara ini, mereka akan memiliki kesempatan untuk mengekspresikan cerita, perasaan, dan kebutuhan mereka dalam ruang aman yang suportif bagi mereka. Saat mendengarkan, ingatlah prinsip-prinsip berikut:

  • Mendengarkan Aktif: Dengarkan dengan saksama tanpa menginterupsi. Gunakan isyarat verbal dan non-verbal untuk menunjukkan bahwa Anda mengerti dan berempati. Hindari membuat asumsi atau penilaian tentang pengalaman korban.
  • Pertanyaan Terbuka: Ajukan pertanyaan terbuka untuk mendorong korban berbicara tentang kebutuhan dan kekhawatiran mereka. Contoh pertanyaan terbuka: “Bagaimana saya bisa membantu Anda hari ini?” atau “Apa yang paling Anda khawatirkan saat ini?”
  • Merefleksikan dan Merangkum Kembali: Refleksikan kembali apa yang diceritakan korban untuk menunjukkan bahwa Anda memahaminya. Misalnya, “Sepertinya Anda merasa sangat takut dan kewalahan.” Rangkum kembali poin-poin utama dalam percakapan untuk memastikan bahwa Anda mengerti.
Photo by SHVETS production on Pexels.com

Langkah 3: Memvalidasi Perasaan dan Pengalaman Korban

Validasi sangat penting untuk membantu korban merasa didengar dan dipahami. Memberikan validasi salah satunya bisa berupa pengakuan terhadap perasaan dan pengalaman korban tanpa menghakimi. Contoh-contoh cara memvalidasi pengalaman korban antara lain:

  • Menunjukkan Rasa Percaya: Yakinkan korban bahwa Anda mempercayai mereka. Hal-hal yang bisa dikatakan antara lain: “Saya percaya Anda,” dan “Apa yang terjadi pada Anda bukan salah Anda.” Perkataan seperti ini bisa sangat menenangkan korban.
  • Menormalisasi Perasaan Korban: Beritahu korban bahwa yang mereka rasakan normal dan valid. Misalnya, “Sangat bisa dimengerti untuk merasa seperti ini setelah apa yang Anda alami.”
  • Menggunakan Bahasa yang Tidak Menghakimi: Hindari bahasa yang dapat menyiratkan stigma atau judgment. Fokus untuk mendukung korban dan menegaskan hak mereka untuk merasakan dan mengekspresikan emosi mereka.

Langkah 4: Memastikan Keselamatan/Keamanan Korban

Meningkatkan keselamatan penyintas melibatkan menilai situasi saat ini dan membantu mereka mengembangkan rencana untuk melindungi diri dari bahaya lebih lanjut.

  • Menilai Keamanan Saat Ini: Tanyakan kepada korban apakah mereka merasa aman saat ini atau apakah ada ancaman langsung terhadap keselamatan mereka. Jika ada, ambil langkah yang sesuai untuk mengatasi ancaman yang ada, seperti menghubungi pihak berwenang atau mengatur rumah aman bagi korban.
  • Rencana Keselamatan: Bekerjasama dengan korban untuk mengembangkan rencana keselamatan, yang mencakup langkah-langkah praktis yang dapat mereka ambil untuk melindungi diri, seperti mengidentifikasi tempat aman, mengatur transportasi, dan memiliki kontak darurat.
  • Jaringan Dukungan: Dorong korban/penyintas untuk mengidentifikasi dan menjangkau teman, anggota keluarga, atau sumber daya komunitas yang bisa mendukung mereka. Tawarkan bantuan untuk menghubungkan mereka dengan kelompok dukungan jika diperlukan.

Langkah 5: Memberikan Dukungan Praktis dan Rujukan

Sering kali, korban atau penyintas dalam kasus perkosaan dan KDRT memiliki berbagai kebutuhan selain perawatan medis segera. Memberikan dukungan praktis dan rujukan adalah bagian penting dari first-line support. Jenis-jenis dukungan praktis tersebut antara lain:

  • Informasi dan Sumber Daya: Berikan informasi kepada korban tentang sumber daya dan layanan yang tersedia, seperti tempat penampungan, bantuan hukum, dan layanan konseling. Pastikan informasi tersebut mudah diakses dan relevan dengan kebutuhan mereka.
  • Perawatan Medis: Tangani kebutuhan medis segera seperti cedera, infeksi menular seksual (IMS), dan kontrasepsi darurat. Ikuti pedoman klinis untuk manajemen medis sesuai ketentuan yang ada.
  • Tindak Lanjut: Atur tindak lanjut (follow-up) untuk memantau kesejahteraan fisik dan emosional korban. Jadwalkan janji tindak lanjut dengan korban serta berikan informasi kontak untuk dukungan darurat.
Photo by SHVETS production on Pexels.com

Langkah 6: Dokumentasi dan Kerahasiaan

Dokumentasi yang tepat dan menjaga kerahasiaan korban adalah aspek penting. Dokumentasi yang baik serta keamanan kerahasiaan akan sangat mendukung mereka, juga akan memastikan keselamatan serta menghormati martabat mereka. Hal-hal yang bisa dilakukan oleh tenaga medis ialah:

  • Dokumentasi Akurat: Dokumentasikan riwayat, temuan pemeriksaan fisik, dan perawatan yang diberikan kepada korban dengan jelas dan akurat. Gunakan formulir standar dan piktogram sebagaimana direkomendasikan dalam pedoman WHO.
  • Kerahasiaan: Pastikan semua informasi dijaga kerahasiaannya dan hanya dibagikan dengan persetujuan penyintas. Simpan catatan dengan aman dan gunakan sistem pengkodean untuk menganonimkan informasi jika perlu.
  • Persetujuan Tindakan: Pastikan ada informed consent dari penyintas sebelum melakukan pemeriksaan, perawatan, atau berbagi informasi dengan pihak ketiga. Jelaskan tujuan dan proses setiap langkah dengan jelas dan pastikan penyintas memahami serta setuju atas tindakan tersebut.

First-Line Support Haruslah Dipahami Semua Nakes

Memberikan dukungan lini pertama kepada korban dan penyintas perkosaan dan kekerasan dalam rumah tangga adalah tanggung jawab penting semua tenaga medis. Pastikan bahwa korban mendapatkan pelayanan kesehatan yang efektif, non-diskriminatif, serta inklusif. Ingatlah untuk mendengarkan secara aktif, memvalidasi pengalaman korban, dan memberikan mereka ruang aman. Sebagai tenaga medis, Anda dapat membuat perbedaan signifikan dalam kehidupan korban dan berkontribusi pada pemulihan serta kesejahteraan mereka.

Artikel ini adalah bagian pertama dari seri Manajemen Klinis Korban Perkosaan untuk Tenaga Kesehatan, rangkuman dari workshop Komunitas Dokter Tanpa Stigma bersama Yayasan IPAS Indonesia. Lihat Perpustakaan Dokter Tanpa Stigma untuk daftar panduan penanganan KBGS bagi nakes di sini.

Satu tanggapan untuk “Dukungan Lini Pertama Tenaga Medis untuk Korban Perkosaan dan KDRT”

  1. Mengenali dan Menangani Intimate Partner Violence (IPV) bagi Nakes – Dokter Tanpa Stigma Avatar

    […] Baca Juga: Dukungan Lini Pertama Tenaga Medis untuk Korban Perkosaan dan KDRT […]

    Suka

Tinggalkan komentar