Apa yang pertama kali terlintas di pikiran Anda ketika mendengar kata “pelayanan kesehatan”?

Bagi sebagian orang, mungkin kata tersebut identik dengan pertolongan, perawatan atau kesembuhan. Namun bagi para peserta Workshop Orang Muda Kupang: Menggali Hambatan dan Solusi dalam Mengakses Layanan Kesehatan Seksual dan Reproduksi, kata yang muncul justru berbeda: “galak”, “judes”, “tukang gosip”, “takut”, hingga “privasi tersebar”.

Temuan ini muncul dalam workshop pertama yang merupakan bagian dari program You(th) CARE: Contraceptive Access and Reproductive Empowerment yang dilaksanakan secara daring pada 25 April 2026 dan melibatkan 19 orang muda di Kupang. Kegiatan ini merupakan initiatif dari Equity Initiatives Fellows cohort 2025 dari Indonesia, Timor Leste, dan Republik Rakyat Tiongkok. Dengan dukungan China Medical Board, program ini dilaksanakan di Kota Kupang sebagai pilot project yang bertujuan untuk meningkatkan akses dan penerimaan layanan HKSR (Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi) melalui pendekatan kolaboratif lintas stakeholder.

You(th) CARE mengintegrasikan tiga kelompok utama, yaitu:

  • Orang muda
  • Tenaga kesehatan
  • Local leaders (orang tua, guru, dan tokoh agama)

Melalui pendekatan ini, program bertujuan untuk:

  • Mengidentifikasi tantangan dari perspektif masing-masing kelompok
  • Mengembangkan solusi berbasis komunitas
  • Meningkatkan ruang partisipasi dan suara anak muda
  • Membangun kolaborasi lintas sektor
  • Mengembangkan model yang dapat direplikasi di wilayah lain

Ketika Informasi Bukan Lagi Hambatan Utama

Sesi pertama diawali dengan kuesioner daring untuk menggali persepsi orang muda terkait kemudahan akses layanan kesehatan seksual dan reproduksi.

Menariknya, sebagian besar peserta menyampaikan bahwa mereka relatif mudah menemukan informasi tentang kesehatan seksual dan reproduksi. Mereka juga merasa cukup nyaman membicarakan topik tersebut dengan orang-orang terdekat mereka. Namun kemudahan memperoleh informasi ternyata tidak otomatis berbanding lurus dengan kemudahan mengakses layanan.

Bagi banyak peserta, hambatan terbesar justru muncul ketika mereka membutuhkan bantuan nyata.

Ketakutan terhadap stigma, kekhawatiran menjadi bahan gosip, serta pengalaman buruk dengan tenaga kesehatan muncul berulang kali dalam berbagai diskusi. Selain itu, faktor administratif, lokasi layanan yang jauh, serta jam layanan yang tidak ramah bagi remaja juga menjadi hambatan yang sering disebutkan.

Temuan ini menunjukkan bahwa persoalan akses tidak selalu berkaitan dengan kurangnya pengetahuan. Dalam banyak kasus, remaja sudah tahu ke mana harus mencari bantuan. Pertanyaannya adalah: apakah mereka merasa aman untuk datang?

Kata-Kata yang Mengungkap Realitas

Di sesi tersebut, kuesioner juga menggunakan metode asosiasi kata. Peserta diminta menyebutkan kata pertama yang muncul ketika mendengar istilah tertentu.

Hasilnya memberikan gambaran yang cukup kuat tentang bagaimana remaja memaknai isu-isu kesehatan seksual dan reproduksi.

Ketika mendengar kata “menstruasi”, peserta menyebutkan kata-kata seperti “malu”, “aib”, “takut tembus”, dan “darah kotor”. Pada kata “kontrasepsi”, muncul respons seperti “bahaya”, “takut”, “harus menikah dulu”, dan “hanya untuk perempuan”. Sementara ketika mendengar kata “infeksi menular seksual”, banyak peserta mengaitkannya dengan “nakal”, “jorok”, “gonta-ganti pasangan”, dan “aib”.

Respons-respons tersebut menunjukkan bahwa stigma masih sangat melekat pada berbagai isu kesehatan seksual dan reproduksi.

Yang menarik, kata “consent” atau persetujuan justru memunculkan banyak asosiasi positif seperti “hak”, “prioritas”, “kesepakatan”, dan “ruang aman”. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian remaja telah memiliki pemahaman awal yang baik mengenai pentingnya persetujuan dalam relasi.

Kehamilan dan Aborsi Masih Dikelilingi Ketakutan

Dua topik yang memunculkan respons paling emosional adalah kehamilan dan aborsi.

Kehamilan sering dikaitkan dengan kata-kata seperti “aib”, “beban”, “kesalahan”, “diusir dari rumah”, dan “tidak cantik lagi”. Sementara pada topik aborsi, peserta menunjukkan respons yang sangat beragam dan bahkan bertolak belakang. Di satu sisi muncul kata-kata seperti “hak”, “pilihan”, “privasi”, dan “pertolongan medis”. Di sisi lain muncul istilah “dosa”, “kriminal”, “jahat”, dan “membunuh”.

Temuan ini menunjukkan bahwa banyak remaja hidup di antara dua narasi yang berbeda. Mereka berusaha memahami hak atas tubuh dan kesehatan mereka, namun pada saat yang sama juga berhadapan dengan norma sosial, budaya, dan agama yang kuat.

Yang Dibutuhkan Remaja: Ruang Aman

Sesi kemudian dilanjutkan dengan diskusi kelompok, di mana peserta membahas berbagai skenario yang berkaitan dengan menstruasi, relasi sehat, identitas gender, kekerasan, dan kehamilan tidak direncanakan.

Meski topik yang dibahas berbeda-beda, solusi yang muncul ternyata memiliki benang merah yang sama.

Remaja membutuhkan:

  • Orang dewasa yang mau mendengar tanpa menghakimi
  • Informasi yang akurat dan mudah dipahami
  • Privasi yang dihormati
  • Tenaga kesehatan yang empatik
  • Layanan yang berpihak pada remaja
  • Ruang aman untuk bertanya dan mencari bantuan

Bagi peserta, layanan yang ramah bukan hanya soal tersedianya fasilitas kesehatan. Layanan yang ramah adalah layanan yang membuat mereka merasa aman, dipercaya, dan dihargai sebagai manusia.

Belajar Mendengar Sebelum Memberi Jawaban

Salah satu pelajaran penting dari workshop ini adalah bahwa remaja tidak selalu membutuhkan jawaban yang sempurna.

Sering kali mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengar tanpa langsung menghakimi, menasihati, atau menyalahkan.

Ketika remaja merasa aman untuk bertanya, mereka lebih mungkin mencari informasi yang benar, meminta pertolongan saat mengalami masalah, dan mengambil keputusan yang lebih sehat untuk dirinya sendiri.

Membangun layanan kesehatan yang ramah remaja tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan. Orang tua, guru, tokoh agama, teman sebaya, dan komunitas juga memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang memungkinkan remaja tumbuh, belajar, dan mencari bantuan tanpa rasa takut.

Karena pada akhirnya, akses terhadap kesehatan tidak hanya soal tersedia atau tidaknya layanan. Akses juga tentang apakah seseorang merasa cukup aman untuk datang dan meminta bantuan.

Tinggalkan komentar