“Kami ingin membantu remaja. Mereka butuh bantuan. Tetapi di antara kami ada banyak hambatan yang sering tidak terlihat.”

Artikel ini adalah artikel kedua dari rangkaian kegiatan You(th) CARE. Baca artikel pertama di sini.

Kalimat tersebut mungkin menjadi salah satu rangkuman paling tepat dari Workshop Tenaga Kesehatan Kupang: Refleksi dan Penguatan Layanan HKSR Ramah Remaja di Kupang yang diselenggarakan melalui program You(th) CARE secara online pada 9 Mei 2026.

Program You(th) CARE: Contraceptive Access and Reproductive Empowerment merupakan initiatif dari Equity Initiatives Fellows cohort 2025 dari Indonesia, Timor Leste, dan Republik Rakyat Tiongkok. Dengan dukungan China Medical Board, program ini dilaksanakan di Kota Kupang sebagai pilot project yang bertujuan untuk meningkatkan akses dan penerimaan layanan HKSR (Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi) melalui pendekatan kolaboratif lintas stakeholder.

Setelah mendengar langsung suara orang muda dalam workshop sebelumnya, kali ini para tenaga kesehatan diajak untuk merefleksikan tantangan yang mereka hadapi ketika memberikan layanan kesehatan seksual dan reproduksi (KSR) kepada remaja. Hasilnya menunjukkan bahwa persoalan akses layanan bukan hanya tentang remaja yang enggan datang berobat, tetapi juga tentang berbagai hambatan yang dihadapi tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan yang benar-benar aman dan ramah bagi mereka.

Remaja dan Tenaga Kesehatan Sebenarnya Memiliki Tujuan yang Sama

Sesi diawali dengan kuesioner untuk menggali persepsi tenaga kesehatan terhadap kemudahan layanan KSR bagi remaja.

Hampir 70% peserta menyatakan nyaman bahkan sangat nyaman untuk membicarakan isu kesehatan seksual dan reproduksi dengan remaja maupun orang muda. Jumlah yang hampir sama menyatakan cukup bahkan sangat percaya diri dalam memberikan layanan KSR bagi remaja dan orang muda.

Namun niat baik, keterampilan klinis dan kepercayaan diri saja ternyata belum cukup.

Lebih dari 70% peserta menyatakan bahwa fasilitas kesehatan tempat mereka bekerja saat ini masih belum bahkan sangat tidak ramah terhadap remaja.

Sesi kemudian dilanjutkan dengan diskusi kelompok. Dalam diskusi kemudian tergali bahwa dalam praktik sehari-hari, tenaga kesehatan tidak bekerja di ruang hampa. Tenaga kesehatan harus berhadapan dengan berbagai batasan dan keterbatasan, mulai dari prosedur administrasi, aturan institusi, keterbatasan ruang layanan, ketersediaan obat, hingga norma sosial yang masih menganggap isu kesehatan reproduksi sebagai sesuatu yang tabu. Akibatnya, apa yang dipersepsikan tenaga kesehatan sebagai “menjalankan prosedur atau bekerja secara profesional” sering kali diterima oleh remaja sebagai bentuk ketidakramahan layanan.

Privasi Menjadi Kekhawatiran Bersama

Menariknya, isu yang paling banyak muncul hampir di semua kelompok diskusi adalah privasi.

Dalam workshop pertama, remaja menyampaikan kekhawatiran bahwa informasi pribadi mereka dapat tersebar ketika mengakses layanan kesehatan. Pada workshop kedua ini, tenaga kesehatan justru merasa bahwa secara pribadi mereka telah berusaha menjaga kerahasiaan pasien dengan baik.

Perbedaan persepsi ini membuka pertanyaan penting: mengapa remaja masih merasa tidak aman?

Diskusi kelompok menunjukkan bahwa persoalannya tidak sesederhana niat individu. Banyak fasilitas kesehatan tidak memiliki ruang konsultasi yang privat, prosedur administrasi yang mengharuskan pencatatan identitas dan keharusan meminta persetujuan dari orang tua/ wali untuk pasien remaja, hingga tidak adanya ketegasan untuk kebiasaan bergosip di lingkungan kerja menjadi faktor yang dapat mengurangi rasa aman remaja.

Stigma Tidak Hanya Dihadapi Remaja

Ketika membahas berbagai skenario kasus, peserta berulang kali menyoroti bagaimana stigma memengaruhi proses pelayanan.

Perempuan yang belum menikah dan meminta kontrasepsi masih dianggap tidak sesuai norma. Korban kekerasan seksual sering datang terlambat karena takut disalahkan. Individu transgender enggan mencari bantuan medis karena pengalaman diskriminasi sebelumnya. Bahkan remaja yang ingin melakukan tes infeksi menular seksual merasa takut identitasnya diketahui oleh orang lain.

Namun menariknya, stigma tidak hanya berdampak pada remaja.

Tenaga kesehatan juga mengaku menghadapi tekanan dari lingkungan kerja, atasan, maupun masyarakat ketika memberikan layanan yang dianggap sensitif.

Tantangan Terbesar Ternyata Bukan Pengetahuan Nakes

Banyak diskusi mengarah pada satu kesimpulan yang sama: tantangan terbesar dalam memberikan layanan kesehatan reproduksi kepada remaja sering kali bukan terletak pada kurangnya pengetahuan medis.

Yang lebih sulit adalah menghadapi situasi-situasi kompleks di mana tenaga kesehatan harus menyeimbangkan kebutuhan pasien, aturan hukum, norma sosial, nilai agama, dan keterbatasan sistem yang ada.

Hal ini terlihat jelas dalam salah satu skenario yang dibahas peserta, yaitu seorang remaja berusia 16 tahun dengan kehamilan tidak direncanakan yang datang bersama anggota keluarganya untuk meminta bantuan mengakhiri kehamilan. Dalam situasi tersebut, tenaga kesehatan mengaku berada dalam posisi yang tidak mudah. Di satu sisi, mereka merasakan empati terhadap kondisi remaja yang sedang mengalami tekanan psikologis dan sosial yang berat. Namun di sisi lain, mereka juga terikat oleh ketentuan hukum, kebijakan layanan, serta nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.

Dalam kondisi seperti ini, tenaga kesehatan sering kali merasa bahwa pilihan yang tersedia sangat terbatas. Banyak peserta menyampaikan bahwa pendekatan yang paling mungkin dilakukan adalah memberikan pendampingan, edukasi dan dukungan untuk remaja dan keluarganya menjalani kehamilan dengan lebih aman.

Diskusi ini menunjukkan bahwa tantangan pelayanan tidak selalu berkaitan dengan kemampuan klinis. Sering kali yang lebih sulit adalah bagaimana menyampaikan keterbatasan tersebut secara empatik, tanpa menghakimi, dan tetap memastikan bahwa remaja merasa didengar, dihargai, dan didampingi dalam situasi yang sangat rentan.

Pada akhirnya, komunikasi menjadi sama pentingnya dengan kompetensi medis itu sendiri. Cara tenaga kesehatan mendengarkan, merespons, dan mendampingi pasien dapat menentukan apakah seorang remaja merasa aman untuk mencari bantuan atau justru memilih menghadapi masalahnya sendirian.

Perubahan Kecil yang Bisa Dimulai Hari Ini

Di akhir workshop, peserta diminta menyebutkan satu hal yang bisa mereka lakukan dalam waktu dekat untuk memperbaiki layanan bagi remaja.

Jawaban yang muncul beragam. Ada yang ingin memperbaiki cara berkomunikasi dengan pasien remaja. Ada yang ingin menyediakan ruang yang lebih nyaman untuk konsultasi. Ada pula yang ingin lebih aktif terlibat dalam kegiatan remaja di komunitasnya. Namun satu komitmen yang paling banyak disepakati adalah menjaga kerahasiaan pasien dengan lebih baik.

Bagi para peserta, langkah pertama yang paling realistis adalah berhenti menjadikan cerita pasien sebagai bahan percakapan informal di tempat kerja, serta berani mengingatkan rekan kerja ketika praktik tersebut terjadi.

Membangun Layanan Ramah Remaja Adalah Tanggung Jawab Bersama

Pembelajaran dari workshop ini menunjukkan bahwa menciptakan layanan ramah remaja bukan hanya soal meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan. Banyak hambatan yang muncul justru berasal dari lingkungan yang lebih luas: keluarga, sekolah, komunitas, hingga norma sosial yang berlaku.

Remaja membutuhkan layanan yang aman. Tenaga kesehatan ingin memberikan layanan yang aman. Namun keduanya tidak bisa berjalan sendiri.

Karena itu, upaya membangun layanan yang benar-benar ramah remaja membutuhkan keterlibatan semua pihak—orang tua, guru, tokoh agama, pembuat kebijakan, dan masyarakat secara luas.

Sebab pada akhirnya, layanan kesehatan yang baik bukan hanya tentang diagnosis dan pengobatan. Layanan yang baik adalah layanan yang membuat seseorang merasa cukup aman untuk datang, bertanya, dan meminta bantuan ketika mereka membutuhkannya.

Tinggalkan komentar