Tidak semua penyintas kekerasan berbasis gender dan seksual datang ke fasilitas kesehatan dengan kalimat, “Saya mengalami kekerasan.”

Sebagian datang seperti pasien lainnya: dengan luka yang disebut akibat “jatuh”, nyeri perut bawah, nyeri atau perdarahan saat buang air kecil, infeksi menular seksual yang berulang, kebutuhan kontrasepsi, kehamilan atau keluhan fisik lainnya.

Pengalaman kekerasan sering kali tidak langsung disebutkan di awal konsultasi. Bukan karena penyintas tidak membutuhkan bantuan, tetapi karena menceritakan kekerasan membutuhkan rasa aman. Penyintas mungkin belum siap, takut disalahkan, diancam oleh pelaku, khawatir informasinya tersebar, tidak ingin berurusan dengan aparat, atau bahkan belum menyadari bahwa pengalaman yang dialaminya termasuk bentuk kekerasan.

Di sinilah kehadiran ruang aman di fasilitas kesehatan menjadi sangat penting. Bagi banyak penyintas, faskes bisa menjadi pintu pertama menuju pertolongan. Namun, faskes juga bisa menjadi tempat penyintas kembali terluka jika layanan yang diterima tidak aman, tidak menjaga privasi, atau tidak berpihak pada korban.

Pada Sabtu, 23 Mei 2026, Dokter Tanpa Stigma menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Alur Layanan Klinis Penyintas Kekerasan Berbasis Gender dan Seksual (KBGS) secara daring. FGD ini merupakan kegiatan pertama dari rangkaian penyusunan alur layanan klinis untuk korban kekerasan berbasis gender dan seksual di fasilitas kesehatan, khususnya di layanan tingkat pertama.

Didukung oleh Ipas Indonesia, FGD ini mengundang tenaga kesehatan dari berbagai latar belakang untuk menggali pengalaman praktik secara lebih mendalam dan terstruktur. Temuan dari FGD ini kemudian akan digabungkan dengan diskusi lanjutan bersama pendamping penyintas dan aktor layanan lintas sektor.

Artikel ini akan membagikan sebagian hasil temuan dari FGD tersebut. Baca juga artikel lainnya tentang project ini.

Penyintas Sering Datang dengan Keluhan Medis, Bukan Pengakuan Kekerasan

Salah satu temuan penting dari diskusi tersebut adalah bahwa penyintas KBGS sering kali datang dengan keluhan yang tampak “umum” secara medis. Akibatnya, banyak kasus KBGS tidak berhasil teridentifikasi sejak awal.

Bila tenaga kesehatan hanya terpaku pada algoritma klinis biasa, pengalaman kekerasan dapat tidak terbaca. Tantangannya bukan hanya menemukan “data klinis”, tetapi juga membaca tanda-tanda yang lebih halus di antara keluhan medis, ekspresi, bahasa tubuh, relasi dengan pendamping, dan kondisi psikososial pasien.

  • Apakah pasien tampak tenang, cemas, atau ketakutan?
  • Apakah pasien cukup leluasa menjawab pertanyaan, atau jawabannya diambil alih oleh pendamping?
  • Apakah keluhan fisik yang disampaikan konsisten, atau berubah-ubah dan tidak sepenuhnya sesuai dengan penjelasan yang diberikan?
  • Apakah pasien tampak ragu, terburu-buru ingin pulang, atau terlalu sering melihat ke arah orang yang mendampinginya?

Kesadaran seluruh staf faskes terhadap kemungkinan ini menjadi sangat penting. Sebab, pengalaman kekerasan tidak selalu disampaikan secara gamblang oleh pasien. Kadang ia hadir dalam bentuk nyeri, diam, takut, atau kalimat yang terputus-putus.

Kontak Pertama Tidak Selalu Terjadi di Ruang Dokter

Mengapa seluruh staf faskes perlu memahami prinsip dasar layanan KBGS? Mengapa bukan dokter saja?

Artinya, tanggung jawab menciptakan layanan yang aman tidak hanya berada pada dokter, bidan, atau perawat. Semua orang yang mungkin berinteraksi dengan pasien perlu memahami prinsip dasar layanan KBGS.

Pada fase awal ini, penyintas membutuhkan beberapa hal mendasar: disambut dengan ramah, ditempatkan di ruang yang menjaga privasi, mendapatkan penjelasan yang sederhana, dan tidak dipaksa menceritakan semua detail kejadian. Psychological First Aid atau Dukungan Psikologis Awal (DPa) juga menjadi penting agar penyintas merasa didengar, dipercaya, dan tidak sendirian.

  • Sambutan yang kurang ramah oleh petugas keamanan dapat membuat pasien tidak yakin untuk melanjutkan layanan.
  • Pertanyaan yang terlalu keras di triase bisa membuat penyintas urung bercerita.
  • Informasi yang tidak jelas dari petugas administrasi bisa membuat pasien semakin cemas.

Petugas mungkin tidak berniat melukai. Namun, dalam situasi KBGS, hal-hal kecil pada kontak awal dapat sangat menentukan apakah penyintas merasa cukup aman untuk bertahan dalam layanan.

Kegagalan faskes mendeteksi dan memberikan ruang aman mungkin tidak selalu membuat pasien langsung pergi pada saat itu juga. Namun, pengalaman yang tidak nyaman dapat membuat penyintas kehilangan keyakinan bahwa faskes mampu menolong. Di masa depan, ia mungkin tidak lagi mencari bantuan ke fasilitas kesehatan.

Ini berarti faskes kehilangan kesempatan penting untuk menolong.

Karena itu, kontak awal harus dipahami sebagai bagian penting dari untuk mendeteksi kasus KBGS, bukan sekadar proses masuk ke fasilitas.

Ruang Aman Bukan Hanya Ruangan

Ketika membicarakan kebutuhan penyintas di faskes, “ruang aman” sering kali muncul sebagai kebutuhan utama. Namun, ruang aman tidak hanya berarti adanya ruangan tertutup.

  • Ruang aman berarti pasien tidak ditanya tentang pengalaman traumatis di tempat yang bisa didengar orang lain.
  • Ruang aman berarti pasien tidak diragukan, disalahkan, diinterogasi, dipojokkan, digosipkan, atau dilabeli.
  • Ruang aman berarti pasien dapat berbicara tanpa tekanan dari siapa pun, termasuk pendamping yang mungkin justru menjadi pelaku, keluarga yang mengantar, atau bahkan tenaga kesehatan yang terlalu mendesak.
  • Ruang aman juga berarti petugas tidak terburu-buru menarik kesimpulan. Petugas tidak langsung bertanya, “Kenapa baru datang sekarang?” atau “Apa buktinya?” atau “Kenapa tidak melapor?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mungkin terdengar biasa bagi petugas yang sedang mencari informasi. Namun, bagi penyintas, pertanyaan tersebut bisa terasa seperti tuduhan.

Sebaliknya, layanan yang aman dapat dimulai dari kalimat-kalimat sederhana:

  • “Kami akan membantu sesuai kebutuhan Anda.”
  • “Anda tidak harus menceritakan semuanya sekarang.”
  • “Saya akan menjelaskan dulu sebelum melakukan pemeriksaan.”
  • “Apakah Anda merasa aman jika pendamping tetap berada di ruangan ini?”
  • “Informasi yang Anda sampaikan akan kami jaga kerahasiaannya sesuai prosedur layanan.”

Kalimat-kalimat ini tidak menyelesaikan semua masalah. Namun, ia membuka pintu bagi relasi layanan yang lebih aman.

Mengapa Penyintas Bisa “Hilang” dari Layanan?

Kita perlu mengevaluasi ulang cara memandang pasien yang tidak kembali lagi ke layanan.

Dalam layanan kesehatan, kita sering berkata kepada pasien, “Semoga kita tidak bertemu lagi,” atau “Semoga kalau bertemu lagi, bukan di klinik ya.” Kalimat itu biasanya dimaksudkan sebagai harapan agar pasien sehat.

Namun, dalam konteks KBGS, pasien yang tidak kembali lagi tidak selalu berarti kebutuhannya selesai. Bisa jadi situasinya memburuk. Bisa jadi tekanan dari pelaku semakin kuat. Bisa jadi pasien semakin takut mencari bantuan. Bisa jadi ia kehilangan kepercayaan bahwa faskes dapat menolongnya.

Penyintas dapat “hilang” dari layanan bukan karena ia tidak membutuhkan bantuan, tetapi karena sistem terlalu sulit, terlalu tidak nyaman, terlalu menghakimi, atau terlalu melelahkan untuk dinavigasi.

Beberapa hambatan yang sering muncul adalah stigma sosial, kurangnya privasi, ketakutan berurusan dengan aparat, biaya yang tidak jelas, syarat administrasi yang sulit dipenuhi, dan rujukan yang tidak responsif. Dalam beberapa kasus, pasien tidak melanjutkan pemeriksaan setelah mengetahui bahwa layanan tertentu tidak ditanggung. Dalam kasus lain, pasien harus menjelaskan ulang pengalaman traumatis kepada banyak petugas atau institusi berbeda karena sistem dokumentasi dan rujukan belum terintegrasi.

Penyintas juga bisa mundur karena komentar yang menyalahkan. Misalnya, ketika petugas lebih banyak memberikan nasihat moral atau religius daripada merespons kebutuhan medis, psikologis, dan keselamatan pasien.

Bagi kelompok marginal, seperti penyintas transgender, pekerja seks, orang dengan HIV, penyandang disabilitas, atau orang dengan latar belakang sosial ekonomi rentan, ruang layanan bisa terasa semakin tidak aman ketika identitas mereka dipertanyakan atau dinilai.

Di titik ini, pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah sistem layanan cukup aman untuk membuat penyintas bertahan?

Tenaga Kesehatan Juga Sering Kebingungan

Dalam FGD, peserta tenaga kesehatan juga banyak menyampaikan kegelisahan mereka.

Banyak peserta merasa sedih dan kasihan pada korban. Namun, ketika berhadapan langsung dengan pasien dalam simulasi kasus, mereka juga merasakan ketidaknyamanan dan kebingungan. Pasien bisa sangat tertutup atau justru agitasi bahkan agresif. Waktu layanan terbatas. Antrian pasien lain semakin panjang. Ada pasien lain yang lebih gawat dan perlu segera ditangani. Pada saat yang sama, kasus KBGS membutuhkan pendekatan yang hati-hati, tidak terburu-buru, dan tidak menghakimi.

Sebagian tenaga kesehatan takut membuat pasien tersinggung. Sebagian khawatir pertanyaan mereka membuat pasien mengulang trauma. Sebagian tidak tahu harus mulai dari mana. Sebagian bingung membedakan mana pertanyaan yang dibutuhkan secara klinis dan mana yang berisiko terasa seperti interogasi. Sebagian lain khawatir pada aspek medikolegal, dokumentasi, visum et repertum, rujukan, dan batas kewenangan tindakan.

Dalam sesi roleplay, tantangan ini tampak nyata. Petugas bisa terlalu fokus pada data diagnosis, menjadi kaku, atau terdorong menggali kronologi terlalu dalam. Padahal, dalam kasus KBGS, keberhasilan layanan tidak hanya diukur dari lengkapnya anamnesis. Keberhasilan juga perlu dilihat dari apakah pasien merasa aman, apakah kebutuhan medis mendesak tertangani, apakah risiko keselamatan dinilai, dan apakah pasien terhubung dengan layanan lanjutan yang tepat.

Tenaga kesehatan membutuhkan lebih dari sekadar niat baik. Mereka membutuhkan panduan yang jelas, operasional, dan realistis dengan kondisi faskes. Mereka membutuhkan latihan keterampilan untuk menjalankan panduan tersebut.

Panduan itu perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan praktis:

  • Apa yang perlu dilakukan ketika petugas kesulitan menggali anamnesis pasien?
  • Bagaimana memisahkan pasien dari pendamping yang mengontrol tanpa memperburuk risiko?
  • Apa yang perlu ditanyakan, dan apa yang tidak perlu ditanyakan?
  • Bagaimana meminta consent dan menjelaskan kerahasiaan?
  • Bagaimana mendokumentasikan luka secara objektif dan aman?
  • Bagaimana menyusun visum et repertum, terutama bila kejadian sudah lewat lama?
  • Kapan perlu merujuk, ke mana harus merujuk, dan siapa yang harus dihubungi?

Tanpa panduan yang jelas, layanan KBGS akan terlalu bergantung pada sensitivitas individu. Jika bertemu petugas yang peka, penyintas mungkin tertolong. Jika tidak, penyintas berisiko kembali hilang dari layanan.

Layanan yang Aman Harus Dimulai Sejak Pintu Pertama

Dari pembelajaran ini, terlihat bahwa perbaikan layanan KBGS tidak bisa dimulai hanya dari ruang dokter. Ia harus dimulai sejak pintu pertama fasilitas kesehatan.

Setiap faskes perlu memiliki mekanisme untuk menerima penyintas secara aman, mengenali tanda awal KBGS, menjaga privasi, memberikan dukungan psikologis awal, meminta informed consent dengan jelas, melakukan asesmen risiko, dan menghubungkan pasien dengan layanan lanjutan.

Layanan yang baik bukan berarti semua fasilitas harus langsung memiliki layanan lengkap. Dalam fasilitas yang terbatas sekalipun, ada standar minimum yang tetap bisa diupayakan yaitu survivor centered atau berpusat pada penyintas yang artinya kesejahteraan penyintas menjadi keutamaan: 

  • Penyintas terlindungi secara fisik dan informasi pribadinya dijaga.
  • Penyintas diterima dengan komunikasi yang empatik dan tidak menghakimi
  • Temuan klinis dan kebutuhan penyintas didokumentasikan secara objektif dan seperlunya.
  • Penyintas tidak dibiarkan menavigasi sistem sendirian, tetapi dibantu mengakses layanan medis tingkat lanjut, psikologis, hukum, sosial, atau perlindungan sesuai kebutuhannya.

Penyintas KBGS tidak selalu datang dengan cerita yang lengkap. Kadang mereka datang dengan nyeri, diam, cemas, atau kalimat yang terputus-putus. Tugas layanan kesehatan bukan memaksa cerita itu keluar, tetapi menciptakan kondisi yang cukup aman agar kebutuhan pasien dapat dikenali dan ditangani.

Karena pada akhirnya, yang paling menentukan bukan hanya apakah faskes memiliki layanan, tetapi apakah penyintas merasa aman untuk tetap berada di dalamnya.

Tinggalkan komentar