1. Deskripsi Program

Program Edukasi Seks Bertanggung Jawab dari Komunitas Dokter Tanpa Stigma adalah inisiatif komprehensif yang dirancang untuk memberikan informasi yang akurat, inklusif, dan bebas stigma tentang kesehatan seksual dan reproduksi. Program ini mendorong budaya dialog terbuka dan aman dalam membahas isu-isu sensitif yang sering ditabukan, sehingga membangun pemahaman yang lebih sehat terkait seksualitas dan hak-hak reproduksi.

Misi Program:

  • Menyediakan pendidikan seks yang dapat diakses, bebas stigma, dan inklusif untuk para remaja agar mereka dapat membuat keputusan sadar tentang tubuh, hubungan, dan kesehatannya.
  • Membekali orang tua dan tenaga pendidik dengan pengetahuan dan pendekatan yang tepat untuk mendampingi remaja dalam masa pubertas dan pendidikan seksualitas.

2. Tujuan Utama

  • Meningkatkan Kesadaran: Menambah pemahaman seputar kesehatan seksual, reproduksi, dan hubungan secara terbuka tanpa menghakimi.
  • Mendorong Dialog Terbuka: Membuka ruang diskusi terhadap topik yang sering dianggap tabu.
  • Mendukung Keberagaman: Menjawab kebutuhan kesehatan seksual dari berbagai gender, orientasi seksual, dan latar budaya.
  • Mendorong Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab: Memberikan pemahaman mendalam agar peserta mampu membuat pilihan yang aman dan bijak.
  • Fokus pada Pencegahan: Menekankan edukasi untuk mencegah IMS, kehamilan tidak direncanakan, dan kekerasan seksual.

3. Sasaran Program

  • Utama: Pelajar usia 13–18 tahun (SMP dan SMA).
  • Sekunder: Pendidik, orang tua, dan pengasuh yang ingin memahami cara mendampingi remaja dalam isu seksualitas.

4. Komponen Program

4.1 Rangkaian Kurikulum

Kurikulum terdiri dari tujuh modul komprehensif yang masing-masing membahas aspek penting dalam kesehatan seksual dan reproduksi. Setiap sesi dirancang secara interaktif dan menarik, memastikan materi disampaikan sesuai kebutuhan peserta dalam lingkungan yang aman dan inklusif.

Modul 1: Pengantar Kesehatan Seksual dan Hak Reproduksi

  • Pemahaman anatomi manusia dan sistem reproduksi
  • Persetujuan (consent) dan otonomi tubuh
  • Gambaran umum hak dan tanggung jawab reproduksi
  • Privasi dan kerahasiaan dalam layanan kesehatan

Modul 2: Pubertas, Perubahan Tubuh, dan Kebersihan Genital

  • Perubahan fisik dan emosional selama masa pubertas
  • Hubungan antara pubertas, kesuburan, dan hormon
  • Perawatan diri saat masa pubertas

Modul 3: SOGIESC 101
(Orientasi Seksual, Identitas Gender, Ekspresi Gender, dan Karakteristik Seksual)

  • Identitas dan ekspresi gender
  • Menghargai keberagaman orientasi seksual
  • Mitos dan fakta seputar gender dan seksualitas
  • Pemahaman identitas non-biner dan transgender

Modul 4: Masturbasi dan Aktivitas Seksual yang Bertanggung Jawab

  • Memahami masturbasi sebagai bagian normal dari perkembangan seksual
  • Kebersihan dan kesehatan genital
  • Meluruskan mitos dan kesalahpahaman tentang masturbasi

Modul 5: Hubungan Sehat, Persetujuan, dan Pencegahan Kekerasan Seksual

  • Membangun relasi yang sehat dan saling menghargai
  • Komunikasi, batasan pribadi, dan rasa saling hormat
  • Pentingnya konsep persetujuan (consent)
  • Mengenali dan mencegah pelecehan serta kekerasan seksual

Modul 6: A–Z Kontrasepsi

  • Ragam metode kontrasepsi (barrier, hormonal, jangka panjang)
  • Pencegahan infeksi menular seksual (IMS)
  • Pentingnya pemeriksaan kesehatan dan perawatan kontrasepsi secara berkala

Modul 7: HIV dan IMS Lainnya

  • Cara penularan, pencegahan, dan pengobatan HIV
  • Jenis-jenis IMS, gejala, dan cara pencegahannya
  • Mengurangi stigma seputar tes HIV/IMS
  • Mengakses pengobatan dan dukungan untuk masalah kesehatan terkait IMS

4.2 Metode Pelaksanaan

Untuk menyesuaikan dengan berbagai kebutuhan dan lingkungan belajar, program ini disampaikan melalui dua metode utama:

  • Lokakarya Interaktif: Sesi tatap muka yang menarik dan melibatkan peserta melalui role-play, diskusi kelompok, dan sesi tanya jawab.
  • Seminar Daring: Webinar yang dilengkapi fitur interaktif seperti polling, kuis, breakout room, dan live chat untuk menjaga partisipasi peserta tetap aktif.

​​Dalam kedua metode pelaksanaan di atas, kami berpegang pada prinsip-prinsip berikut:

  • Bahasa yang Inklusif dan Akurat: Kurikulum menggunakan istilah yang tepat dan inklusif, menghindari asumsi berbasis gender serta disampaikan dengan bahasa yang tidak menghakimi.
  • Aksesibilitas: Program dirancang agar dapat diakses oleh peserta dengan disabilitas fisik maupun kognitif, dengan menyediakan layanan seperti juru bahasa isyarat dan pengetik real-time.
No alt text provided for this image

4.3 Kompetensi Pemateri

Program ini difasilitasi oleh tim profesional terlatih dari komunitas Dokter Tanpa Stigma, yang terdiri dari dokter, bidan, perawat, dan dokter gigi dengan pengalaman 3 hingga 10 tahun di bidang masing-masing. Hal ini memastikan peserta mendapatkan manfaat dari keahlian praktis tenaga kesehatan yang berpengalaman langsung dalam isu kesehatan seksual dan reproduksi.

Para pemateri juga telah mengikuti pelatihan khusus, baik di tingkat nasional maupun internasional, bersama organisasi seperti Jakarta Feminist, IPAS Indonesia, dan ISAY. Pelatihan yang diikuti antara lain:

  • Workshop Value Clarification and Attitude Transformation (VCAT)
  • Training of Facilitators untuk Workshop VCAT
  • Pelatihan Layanan Kesehatan Inklusif bagi Pasien dengan Kehamilan Tidak Direncanakan
  • SRHR 101 dan Kurikulum Aborsi
No alt text provided for this image

5. Capaian Program

Telah menjangkau lebih dari 500 pelajar di 7 sekolah/komunitas, antara lain:

  • St. Ursula BSD
  • Francis School BSD
  • France School Jakarta
  • Feminis Themis
  • ASAK St. Thomas Rasul Jakarta Barat
  • Sehatara Community
  • CIMSA (Center for Indonesian Medical Students’ Activities)