Aktivitas

Kesetaraan Dalam Bervaksinasi

Beberapa bulan terakhir ini, seluruh dunia harap-harap cemas menunggu vaksin Covid 19 yang telah mengubah tatanan kehidupan kita selama hampir 1 tahun terakhir. Ada secercah harapan yang muncul bahwa dengan vaksin ini, pandemi akan segera berakhir.

Indonesia pun sudah ancang-ancang, giat meneliti vaksin ini dan sudah mulai dilakukan uji coba ke manusia. Pemerintah menjanjikan awal tahun 2021 vaksin Covid di Indonesia sudah bisa siap diedarkan. Tidak lama lagi.

Sambil menunggu, mari kita refleksikan sistem vaksin di Indonesia selama ini.

Indonesia sudah sejak lama dipelototi oleh WHO karena cakupan imunisasi anak-anak kita yang sangat rendah. Tahun 2013 hanya 59,2% anak Indonesia yang diimunisasi sangat lengkap. Ini tidak bergerak jauh bahkan lebih rendah dibanding cakupan tahun 1990an yang sekitar 60-65%. Ini termasuk dalam 10 besar negara dengan cakupan imunisasi terendah di dunia.

Tahun 2017, Indonesia gelagapan karena terjadi wabah campak di Kabupaten Asmat, Papua. Campak menginfeksi lebih dari 800 anak dan 72 anak meninggal. Setelah kejadian itu, pemerintah segera membuat kampanye vaksin MR untuk seluruh anak di Indonesia. Terbukti berhasil, kampanye tersebut meningkatkan cakupan imunisasi MR anak Indonesia menjadi 95%. Luar biasa.

Sayang belum diikuti oleh prestasi vaksinasi lainnya.

Berdasarkan penelitian, ada banyak sekali faktor yang mempengaruhi rendahnya cakupan imunisasi anak ini, antara lain:

  • Faktor geografis – area Maluku dan Papua menjadi area dengan cakupan imunisasi paling rendah. Sementara pulau Jawa cakupannya paling tinggi. (Sudah kuduga…)
  • Urutan anak – semakin belakangan anak itu lahir, semakin kecil kemungkinannya ia diimunisasi
  • Tingkat pendidikan ibu – tentu saja, anak-anak dari ibu yang tidak sekolah atau lulusan SD kecil kemungkinannya untuk diimunisasi
  • Pekerjaan ayah – ayah yang memiliki waktu kerja yang lebih panjang mengecilkan kemungkinan anaknya diimunisasi
  • Perawatan antenatal ibu – ibu yang tidak mendapatkan perawatan antenatal yang lengkap cenderung tidak mengimunisasi anaknya
  • Lokasi melahirkan – anak-anak yang dilahirkan tidak di fasilitas kesehatan cenderung tidak mendapatkan imunisasi.
  • tingkat ekonomi keluarga, besar kecilnya keluarga, dll

Kita baru bicara tentang imunisasi anak. Imunisasi dewasa punya masalahnya sendiri, apalagi karena banyak imunisasi dewasa yang tidak masuk dalam program pemerintah, artinya murni mengandalkan kesadaran masyarakat dan masyarakat harus membayar biayanya.

Imunisasi dewasa yang saat ini sedang tren adalah vaksin HPV. Dengan semakin seringnya pemberitaan tentang kanker servix, terutama bila mengenai selebritis tanah air, vaksin HPV segera mendapat perhatian khusus bagi perempuan.

Vaksin ini dipromosikan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kesehatan perempuan dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas perempuan. Produk yang sangat baik untuk kesetaraan perempuan.

Tetapi banyak yang lupa bahwa vaksin ini berbayar dan harganya tidak murah. Artinya perempuan harus mengeluarkan biaya untuk mencapai kesetaraan yang dijanjikan. Artinya, hanya perempuan-perempuan dengan sumber daya ekonomi saja yang bisa mengakses vaksin ini. Sementara perempuan-perempuan miskin tidak. Di mana kesetaraannya?

Setelah beberapa tahun vaksin ini beredar pun, orang-orang (terutama perusahaan) mulai menyadari, kenapa hanya perempuan saja yang jadi target market mereka. Memang betul kanker servix adalah kanker kedua terbanyak dari seluruh kanker yang dapat diderita wanita. Setiap 1jam ada 2 orang perempuan Indonesia yang meninggal karena kanker serviks. Tapi bukan berarti laki-laki tidak membutuhkan vaksin ini.

HPV juga dapat menginfeksi laki-laki dan menyebabkan kutil kelamin, kanker penis dan kanker anus. Maka barulah sekarang perlahan-lahan promosi vaksin ini mulai direvisi. Semoga laki-laki tidak terlanjur cuek. Maklum sekali lagi, harganya tidak murah dan harus diulang 3x.

Itu baru bicara tentang vaksin HPV yang promosikan sangat biner, belum bicara tentang gender lainnya.

Karena sejujurnya, kalau kita benar-benar adil dan inklusif dari pikiran seharusnya vaksin ini diperuntukkan untuk gender apapun karena selama seseorang aktif berhubungan seksual beresiko, kutil kelamin dapat terjadi pada gender apapun, kanker serviks dapat terjadi pada gender apapun yang memiliki rahim , kanker penis dapat terjadi pada gender apapun yang memiliki penis.

Dengarkan obrolan lebih lengkap tentang kesetaraan dalam bervaksinasi bersama dr. Airindya Bella berikut ini.

Referensi:

https://www.thelancet.com/journals/lanplh/article/PIIS2542-5196(18)30287-0/fulltext

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5770960/

https://www.who.int/bulletin/volumes/83/5/384.pdf?ua=1

https://www.who.int/docs/default-source/gho-documents/health-equity/state-of-inequality/12-dec-final-final-17220-state-of-health-inequality-in-indonesia-for-web.pdf?sfvrsn=54ae73ea_2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s