Artikel

Stigma Aborsi Membunuh Perempuan Rentan

Suatu hari yang tidak istimewa, di tengah kesibukan saya bekerja melayani pasien Covid yang makin meningkat akhir-akhir ini dalam gelombang Omicron, seorang rekan saya membagikan sebuah konten video Tiktok via grup Whatsapp. Dia mempertanyakan “Beginikah edukasi kesehatan reproduksi?”

Saya kemudian membuka video tersebut dan segera kecewa. Video itu menampilkan seorang perempuan dengan baju operasi bermasker duduk menghadap kamera. Ada tulisan terpampang di dekat wajahnya “Dok saya minta gugurin aja ya.. Banyak banget alasan untuk saya tidak bisa menerima kehamilan ini.” Dokter itu tidak berkata apa-apa, tapi kemudian dia menggerak-gerakkan tangan kanannya dengan gerakan seperti memainkan boneka tangan, ke kanan ke kiri mengikuti irama lagu hiphop yang menjadi latar, seperti gerakan sedang menyindir seseorang yang terlalu banyak bicara.

Videonya hanya 13 detik. Tapi sudah cukup untuk menyakiti perempuan yang mengalami kehamilan tidak diinginkan.

Tercantum nama akun Tiktok di video tersebut dan saya segera menelusuri. Beliau ternyata adalah seorang dokter spesialis obsgyn, bukan orang yang menggunakan kostum dokter-dokteran. Dokter sungguhan dengan gelar yang valid, berpraktek sehari-hari melayani pasien-pasien kandungan.

Suara Ariel NOAH sayup-sayup terdengar di dalam kepala saya “Dan terjadi lagi…”  

Ya, karena ini bukanlah insiden pertama terkait masalah obsgyn yang memancing emosi warganet. Dan saya yakin bukan satu-satunya saat ini dan bukan yang terakhir. Dokter yang bersangkutan dan kontennya kemudian sudah dilaporkan ke POGI (Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia). Dalam kurang dari 24 jam setelah reaksi warganet beliau pun sudah mengklarifikasi, meminta maaf dan menghapus video tersebut.

Sayangnya saya pribadi tidak puas dengan penjelasan dan permintaan maaf beliau. Entah warganet yang lain. Sepertinya beliau belum memahami kompleksitas kehamilan tidak direncanakan. Atau belum mau paham? Ah entahlah, masalah ini bukan hanya ada di beliau saja. Hanya kebetulan beliau yang terekspos akibat konten yang beliau buat sendiri.

Mungkin saya sendiri juga belum paham penuh. Saya hanya pernah membaca suatu laporan penelitian yang dibuat oleh Guttmacher Institute tentang situasi aborsi di Indonesia. Laporan ini sudah sangat lama, tahun 2008. Untuk digunakan sebagai referensi sebenarnya sudah tidak memenuhi syarat tapi saya belum menemukan laporan terbaru yang sama komprehensifnya. Mengapa? Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang.

Dalam laporan tersebut ditemukan bahwa 66% pasien yang meminta aborsi sudah menikah. 47% berusia di atas 30 tahun dan hampir separuh dari perempuan-perempuan tersebut sudah memiliki paling sedikit dua anak. 33% dari mereka sudah pernah menggunakan kontrasepsi bahkan 18% sedang menggunakan kontrasepsi ketika kehamilan terjadi.

Salah satu alasan yang sering diungkapkan oleh perempuan yang mengupayakan aborsi adalah bahwa mereka sudah mencapai jumlah anak yang diinginkan. Selain itu banyak dari perempuan yang belum menikah melakukan aborsi karena mereka ingin meneruskan pendidikannya sebelum mereka menikah.

Miris bila tenaga medis tidak mau melihat data ini dan menutup mata pada beragam masalah seputar kehamilan tidak direncanakan yang menempatkan perempuan dalam posisi rentan. Lalu memelihara stigma yang sama dengan masyarakat awam bahwa perempuan yang meminta aborsi adalah perempuan nakal yang melakukan seks bebas.

Dari 4,5 juta kelahiran yang terjadi setiap tahunnya di Indonesia sekitar 17% di antaranya adalah kelahiran dari kehamilan yang tidak direncanakan. Persoalan kehamilan tidak direncanakan jauh lebih kompleks daripada soal perilaku seks saja. Data dari Guttmacher Institute sudah terang benderang menyatakan bahwa sebagian besar kehamilan tidak direncanakan terjadi akibat kegagalan kontrasepsi, yang bisa terjadi pada siapa saja karena memang tidak ada kontrasepsi yang 100% bisa mencegah kehamilan.

Tingginya angka kehamilan tidak direncanakan dan kebutuhan aborsi di negara kita juga erat kaitannya dengan rendahnya edukasi seks pada anak dan remaja (yang sebagian juga adalah tanggung jawab tenaga medis untuk melakukannya), sulitnya akses kontrasepsi bagi perempuan yang belum menikah (masih terlalu tinggi stigma pada perempuan belum menikah yang meminta kontrasepsi), tingginya angka perkawinan anak dan banyak remaja perempuan yang harus putus sekolah karena kehamilan remaja (sementara pasangan yang menghamilinya tetap bisa melanjutkan sekolahnya, padahal banyak remaja perempuan yang bercita-cita sekolah tinggi).

“Seperti di negara-negara berkembang lainnya yang terdapat stigma dan pembatasan yang ketat terhadap aborsi, perempuan Indonesia sering kali mencari bantuan untuk aborsi melalui tenaga nonmedis, dengan cara meminum ramuan-ramuan berbahaya dan melakukan pemijatan pengguguran kandungan yang membahayakan”

(Dhewy, Guttmacher)

Di Indonesia, diperkirakan angka tahunan aborsi sebesar 37 aborsi untuk setiap 1,000 perempuan usia reproduksi (15-49 tahun). Lebih tinggi dibanding negara Asia lainnya yaitu 29 aborsi untuk 1000 perempuan usia reproduksi.

Bila aborsinya gagal atau kehamilannya akhirnya dilanjutkan, kerentanan sang ibu dapat menyebabkan berat badan lahir rendah dan kelahiran prematur. Kemungkinan besar karena ibunya kesulitan mengakses layanan kesehatan untuk pemeriksaan antenatal dan asuhan persalinannya.

Bayangkan bila sang ibu adalah perempuan yang sudah punya 3 orang anak dalam kondisi ekonomi yang sulit. Dia sudah rutin suntik KB setiap 1 bulan, hanya saja yang terakhir sempat terlewat jadwalnya karena kerepotan mengurus anaknya. Kehamilan yang kali ini tidak didukung oleh sang suami karena dianggap memberatkan ekonomi keluarga. Sang ibu harus rutin memeriksakan kehamilannya ke faskes terdekat, yang jaraknya tidak dekat-dekat amat sehingga butuh biaya untuk menuju ke sana. Dan karena ini sudah anak keempat, BPJS sudah tidak menanggung biaya-biayanya lagi.

Ibu ini kemudian dengan kesederhaan pikirannya datang ke dokter untuk minta aborsi, berharap bila aborsi dilakukan oleh ahlinya bisa lebih aman bagi nyawanya, mengingat dia masih punya 3 anak yang masih butuh ibu. Tapi kemudian dia justru berhadapan dengan dokter yang menghakimi, menghina, merendahkan, menghitung dosa-dosanya dan ternyata tidak bisa membantu juga.

Permasalahan si ibu tidak selesai malah bertambah sakit hati dan hilang kepercayaan pada tenaga medis. Akhirnya dia memutuskan untuk minta bantuan pada dukun pijat setempat.

Bagaimana nasib ibu itu selanjutnya? Entah.

Data dari WHO, setiap tahunnya, 4,7-13,2% kematian ibu disebabkan oleh aborsi tidak aman. Di negara berkembang, 220 kematian setiap 100.000 aborsi tidak aman. Sejak tahun 2012, di negara berkembang saja, diperkirakan 7 juta perempuan setiap tahunnya dirawat di RS akibat komplikasi aborsi tidak aman. Di Asia Tenggara, sekitar 3 dari 1.000 perempuan usia subur (15-44 tahun) dirawat di rumah sakit setiap tahun karena komplikasi terkait aborsi. Komplikasi aborsi yang paling sering terjadi adalah pendarahan parah. Juga bisa terjadi infeksi dan keracunan dan bahan yang digunakan untuk peluruh kandungan.

Apakah ibu tersebut masuk menjadi salah satu data dalam angka ini atau cukup beruntung bisa lolos dari maut? Apakah tenaga medis yang menstigma sang ibu dapat diminta pertanggungjawabannya bila si ibu kemudian meninggal, baik pertanggungjawaban di dunia maupun di akherat? Adakah kontribusi dari tenaga medis yang melarang aborsi dengan gaya makhluk Tuhan yang paling suci untuk menghidupi sang bayi?

Sulit untuk diam saja melihat perlakuan tenaga medis pada pasien-pasien rentan seperti ini karena kelihatannya jauh lebih cepat kita bisa menyakiti bahkan membunuh pasien ketimbang menolong dan menyelamatkan mereka.

13 detik untuk menyakiti pasien, seumur hidup untuk menolong mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s