Aktivitas · Artikel

Pengalaman Laki-Laki Menstruasi

Menstruasi bukan milik satu gender dan bukan penentu identitas gender seseorang sebab ada laki-laki dan gender non biner yang pengalaman hidupnya mencatat bahwa ia pernah, sedang atau masih menstruasi, sementara di sisi lain ada banyak perempuan yang tak bisa menstruasi dengan berbagai alasan. Menstruasi adalah bagian dari proses biologis dalam tubuh, sedangkan identitas gender adalah bagian dari proses seseorang menghayati identitasnya sendiri. Dua hal yang berbeda ini seringkali dikaitkan karena konstruksi sosial yang masih terus digaungkan lewat perspektif cis-normativitas.

Aaron menghayati dirinya sebagai laki-laki meskipun ia dilahirkan dengan tubuh yang selama ini diasosiasikan dengan perempuan dan dibesarkan sebagai perempuan. Selama hidupnya ia dididik dengan konstruksi sosial yang menyatakan bahwa menstruasi dan penyertanya adalah milik perempuan. Ia sempat meyakini bahwa payudaranya tidak akan tumbuh dan ia tidak akan menstruasi. Ia mengira fisiknya akan tumbuh seperti ayah dan pamannya sehingga ia kaget saat muncul tanda-tanda seksual primer dan sekunder pada tubuhnya.

Hal ini membuat Aaron remaja selalu bertanya-tanya dalam hati ketika ia menstruasi, ketika ia melihat payudaranya membesar, ketika ia menyentuh pipinya yang halus tanpa jambang “Apa yang salah dengan diri saya? Apakah saya cukup laki-laki?”. Ia merasa tubuhnya mengkhianati dirinya. Sering ia menyalahkan Tuhan dan dirinya, mengapa ia masih menstruasi padahal ia laki-laki.

Menghadapi payudaranya yang makin membesar, terpaksa ia menggunakan bra dan mengakalinya dengan pakaian longgar dan jaket. Sempat ia membebat dadanya saat awal kuliah menggunakan korset dan berpengaruh tidak baik pada kesehatannya karena menghambat pernafasannya.

Setelah mempelajari tentang SOGIESC (Sex Orientation, Gender Identity and Expression and Sex Characteristic) barulah Aaron mulai menerima dirinya sendiri dengan seluruh keberadaannya di tengah penolakan dari masyarakat dan keluarga. Dibutuhkan waktu yang cukup lama sampai dirinya perlahan mampu mendekonstruksi pemikirannya yang telah tertanam sejak kecil, akhirnya ia menyadari bahwa karakter seks dengan identitas dan ekspresi gender adalah dua hal yang berbeda.

Sayangnya belum semua transpria bisa sampai pada penerimaan diri ini. Banyak transpria mengalami disforia gender yang makin parah ketika mereka sedang menstruasi. Menstruasi yang dikonstruksikan sebagai pengalaman perempuan semakin meyakinkan mereka ada yang salah dengan tubuh dan diri mereka.

Belum lagi ketika harus menghadapi tekanan-tekanan sosial yang masih sering mengucapkan candaan-candaan cis-normatif “Kamu masih mens, belum laki-laki dong..” atau “Laki-laki tuh gak pernah mens sih jadi gak tahu sakitnya kek gimana..” Terutama di masa pandemi ini ketika banyak individu transpria yang dirumahkan atau bekerja dari rumah dan mereka kembali dipanggil dengan nama lahir mereka dan harus bersikap sesuai penerimaan anggota rumah, yaitu sebagai perempuan, membuat stress sangat bertumpuk di dalam diri mereka.

Tidak jarang tekanan-tekanan ini menyebabkan individu transgender dengan gegabah memutuskan untuk melakukan HRT (Hormone Replacement Therapy) untuk menghentikan menstruasi mereka dan mengikuti konstruksi “menjadi laki-laki” Masalahnya untuk melakukan HRT dibutuhkan akses layanan kesehatan spesialistik, ada prosedur yang harus dilewati yaitu dengan konseling dan pemeriksaan fisik awal dan dibutuhkan kesiapan finansial yang tidak sedikit karena terapi ini tidak ditanggung BPJS dan harus disuntikkan secara rutin seumur hidup.

Padahal tidak jarang tenaga medis dan administratif di faskes memberikan stigma negatif bahkan sejak dari loket pendaftaran dengan tatapan menghakimi dan tetap memanggil dengan sebutan sesuai gender di kartu identitas. Meskipun saat ini sudah banyak tenaga medis yang mulai inklusif tapi jumlahnya masih jauh panggang dari api. Hal ini sering mengurungkan niat individu transpria untuk mencari pertolongan medis termasuk konsultasi tentang HRT dan menyebabkan banyak individu transpria lebih memilih membeli obat hormon di pasar gelap yang tentu saja berbahaya.

Sampai saat ini Aaron belum melakukan HRT sehingga ia masih merasakan menstruasi. Hal ini menyebabkan konflik dalam kehidupannya sehari-hari seperti ketika ia mengalami dismenorea (nyeri mens) ketika bekerja, ia menyampaikan kepada rekan kerjanya bahwa perutnya sedang bermasalah karena salah makan agar mendapat izin istirahat. Juga ketika ia hendak mengganti pembalutnya di toilet umum, serba salah ia hadapi, masuk toilet perempuan padahal ia laki-laki, masuk toilet laki-laki suara plastik pembalut yang dirobek bisa terdengar orang lain.

Menggunakan cawan menstruasi yang lebih “sunyi” tidak ia pilih karena melihat dan menyentuh area selangkangannya bisa memicu disforia dalam dirinya. Jangankan saat menstruasi, setiap kali buang air kecil saja ada rasa tidak nyaman berkecamuk kembali. Ia seperti diingatkan setiap waktu bahwa ia bukan laki-laki karena tidak ada penis di selangkangannya.

Tetapi Aaron pun menyadari bahwa ia tidak bisa mengendalikan perilaku dan perkataan orang lain maka ia bertekad mencintai dirinya sendiri lebih dulu agar apapun pandangan dan sikap orang lain tentang dirinya tidak mempengaruhi kehidupannya.

Saya adalah bukti keberagaman yang Tuhan ciptakan di dunia. Saya tidak lahir di tubuh yang salah. Tidak semua orang diberi kesempatan untuk menjadi beragam. Saya bangga dengan diri saya, menjadi contoh keberagaman manusia.

Kesadaran ini membuatnya pelan-pelan bisa memahami bahwa bukan hanya dirinya yang bertransisi tetapi juga keluarga dan masyarakat sekitarnya juga berproses berusaha memahami apa yang terjadi pada dirinya. Dan semuanya butuh waktu. Ia belajar mengapresiasi setiap kemajuan keluarganya dalam mendekonstruksi pemikiran yang sudah tertanam seumur hidup mereka dan belajar menerima setiap perasaan sebagai bagian dari proses indah yang harus dilalui.

Saat ini Aaron masih terus berproses berdasarkan linimasanya dan bertekad untuk belajar tentang dirinya sampai nanti ajal menjemput. Ia membangun komunitas Transmen Talk untuk memberikan ruang belajar bersama yang menyenangkan, aman dan membahagiakan bagi transpria dan allies.

Artikel ini adalah rangkuman dari Instagram Live Transmen Talk bersama Dokter Tanpa Stigma yang diadakan pada hari Minggu 7 Maret 2021.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s