Artikel

Alasan Medis Mengapa Rehabilitasi Psikis Harus Lebih Utama Ketimbang Kebiri Kimia

Apa sih yang membuat manusia bisa melakukan sesuatu? Jawabannya sederhana, otak.

Semua tindakan tubuh manusia dari yang sederhana seperti berkedip dan menggaruk hidung sampai tindakan rumit seperti bermain musik dan mengendarai kendaraan berpusat di otak. Bahkan tindakan yang tidak bisa dikendalikan manusia secara sadar sepert detak jantung untuk memompa darah, gerakan usus besar untuk mengeluarkan kotoran, atau sekresi keringat pun juga dikendalikan oleh otak.

Selain untuk memerintahkan fungsi tubuh, otak juga berfungsi untuk melakukan fungsi-fungsi luhur antara lain logical reasoning (hubungan sebab akibat), moral judgement (pertimbangan nilai moral), proses pengambilan keputusan dan impulse control (pengendalian diri). Bagian otak yang berperan untuk fungsi ini terdapat pada bagian depan otak yang disebut dengan prefrontal cortex.

Pada pelaku kekerasan seksual, gangguan fungsi luhur pada otak inilah yang memegang peran sangat besar. Banyak faktor yang menjadi penyebab. Ada faktor fisik seperti tumor, stroke atau gangguan hormon dan faktor psikis seperti pola asuh, trauma, pengalaman langsung maupun tidak langsung lainnya yang terekam dalam memori otak.

Mari kita perhatikan dua contoh kasus berikut ini.

Contoh 1:

Ada 2 orang, sebut saja A dan B, sama – sama melihat seseorang dengan pakaian seksi. Lalu terjadi peningkatan birahi pada A dan juga B. Namun, A hanya  memandang dan mengagumi saja sedangkan B mengambil tindakan memerkosa orang tersebut. Meskipun terpapar oleh stimulus yang sama (melihat figur yang sama) tetapi ada perbedaan tindakan antara A dan B. Hal ini dikarenakan ada perbedaan dari fungsi luhur otak mereka. Dalam otak A, pemerkosaan adalah salah sehingga ia tidak melakukannya atau dia sebenarnya juga ingin memerkosa tapi control dirinya sangat kuat atau dia takut masuk penjara (logical reasoning) sehingga dia tidak melakukannya. Sementara dalam otak B ada logical reasoning yang salah, moral judgement yang error, decision making yang kacau dan terutama impulse control yang nihil. Mungkin B berpikir bahwa sah-sah saja memerkosa seseorang karena mereka yang berpakaian seksi dan mengundang syahwat, mungkin B berpikir asalkan orang tersebut bisa diancam maka tidak apa bila dia memerkosa.

Dari contoh ini kita bisa menulis beberapa catatan:

  • Stimulus/ input yang sama bisa menimbulkan output tindakan yang berbeda, tergantung proses berpikir dari masing-masing orang
  • Keinginan/hasrat yang sama bisa menimbulkan output tindakan yang berbeda tergantung kontrol diri dari masing-masing

Contoh 2:

Ada 2 orang, sebut saja C dan D, sedang makan donat bersama-sama. Tiba-tiba C merasakan gejolak birahi besar pada dirinya. Padahal D tidak merasakan apa-apa, mereka hanya sedang makan bersama. C sangat ingin menyalurkan birahinya pada D, tapi karena satu dan lain hal, C tidak berani menyampaikannya pada D. Segera D berpamitan pulang pada D lalu memerkosa anak tetangganya.

Dari contoh ini kita bisa menyimpulkan beberapa hal:

  • Seseorang yang memiliki kesulitan menahan hasrat seksualnya dapat terpicu oleh hal yang sederhana
  • Kekerasan seksual adalah soal kontrol diri dan relasi kuasa yang dapat di-enhance oleh masalah hormonal. Masalah hormonal saja tidak cukup membuat seseorang melakukan kekerasan seksual, ada masalah utama di fungsi luhur pada orang tersebut yang perlu jadi perhatian.
  • Predator anak belum tentu pedofilia. Pedofilia adalah seseorang dengan preferensi seksual anak-anak, sementara predator anak belum tentu melakukan kekerasan seksual pada anak karena dia berhasrat seksual pada anak-anak. Bisa jadi seperti contoh di atas, karena tidak mampu melampiaskan hasrat seksual pada orang yang ia sukai, ia memangsa anak-anak karena ia mampu memanipulasi anak. Pedofilia ada yang menjadi predator anak, ada yang tidak. Predator anak ada yang pedofilia, ada yang tidak.

Dari kedua contoh yang sudah disederhanakan ini, kita bisa menyimpulkan bahwa gerbang pembatas antara seseorang melakukan kekerasan seksual atau tidak, adalah di fungsi luhur otaknya yaitu impulse control. Stimulus bisa ada, hasrat bisa ada, gangguan hormon bisa ada, tapi kalau impulse control ada, maka kekerasan seksual tidak akan dilakukan.

Maka yang seharusnya yang diperbaiki terlebih dahulu adalah fungsi luhur otaknya melalui rehabilitasi psikis atau psikoterapi. Sementara untuk masalah hormonalnya bisa dilakukan terapi hormonal/ kebiri kimia dalam konteks tertentu sesuai kebutuhan sebagai tambahan atau pendukung psikoterapinya.

Kebiri kimia atau terapi hormon ini dapat menjadi katalis keberhasilan psikoterapi karena diharapkan dengan mengatasi masalah hormonalnya, orang tersebut bisa menjadi lebih tenang, lebih fokus dan lebih reseptif terhadap program rehabilitasi psikoterapi yang sedang berjalan.

Kita semua khususnya para pembuat kebijakan harus memahami patofisiologi ini dulu agar bisa melihat kekerasan seksual dengan perspektif sains berdasarkan fakta dan data, bukan berdasarkan emosi dan keinginan popular saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s