Artikel

Bisakah Telekonsultasi Menjadi Solusi Pemerataan Akses Layanan Kesehatan?

Sejak memasuki era pandemi, kita dihadapkan pada perkembangan-perkembangan teknologi baru di berbagai aspek kehidupan; mulai dari pendidikan, pekerjaan, administrasi, sampai ke ranah medis dan psikologis. Kita mulai mengenal telekonsultasi, alias proses konsultasi yang dilakukan secara jarak jauh antara tenaga profesional dengan klien yang membutuhkan jasa mereka. Apa saja keuntungan dan kerugian yang bisa terjadi dengan adanya telekonsultasi, dan apakah telekonsultasi bisa menjadi solusi di masa depan?

Dokter Sandra Suryadana dari Dokter Tanpa Stigma pernah membicarakan topik hangat ini di Instagram Live bersama Mario Carl Joseph, seorang psikolog klinis yang sudah menjadi konselor adiksi sejak 2008 dan berkecimpung sebagai psikolog klinis sejak 2018. Berdasarkan pengalaman pribadi dr. Sandra dan Mario di bidang telekonsultasi sebagai dokter dan psikolog, ada beberapa perbedaan yang bisa kita temukan antara telekonsultasi yang sifatnya relatif baru dengan konsultasi tatap muka biasa. 

Pengganti Pertemuan Tatap Muka

Telekonsultasi mulai marak di Indonesia sejak tahun 2019, ketika banyak penyedia layanan kesehatan yang menciptakan berbagai aplikasi untuk menjangkau masyarakat. Ketika itulah Mario dan para psikolog lain juga mulai bergabung untuk memberikan jasa telekonsultasi. Awalnya, telekonsultasi hanya bisa berupa chat, namun semakin lama semakin berkembang menjadi telepon audio maupun video.

Memang, konsultasi psikologis yang ideal tetap sebaiknya dengan tatap muka, namun adanya telekonsultasi diharapkan bisa menjangkau lebih banyak orang yang membutuhkan. Sebagai psikolog, pelayanan yang bisa diberikan via telekonsultasi biasanya hanya sebatas konsultasi kasus ringan, ataupun untuk skrining penyakit yang lebih berat. Setelahnya, tetap dibutuhkan sesi lanjutan yang sebisa mungkin diusahakan untuk tatap muka, terutama jika klien tersebut berdomisili di kota besar dan bisa mengakses layanan psikologi lebih lanjut. Sebab, masih banyak pemeriksaan dan terapi psikologis yang harus dilakukan secara langsung, misalnya psikotes.

Semua orang berisiko mengalami masalah kejiwaan, misalnya stres. Stres adalah masalah umum yang sering kita temui sehari-hari. Skalanya berbeda-beda, bisa ringan dan bisa berat. Namun, stres yang ringan pun bisa saja memburuk apabila tidak ditangani dengan cepat. Maka, dengan adanya telekonsultasi, psikolog bisa memberikan psychological first aid atau pertolongan pertama psikologis untuk membantu mencegah perburukan. Aplikasi yang memungkinan video call juga semakin meningkatkan kualitas konsultasi, sehingga psikolog bisa mengajarkan teknik relaksasi, stabilisasi emosi, dan lain-lain. Selanjutnya, klien bisa dirujuk untuk mencari tatalaksana lebih lanjut.

Baca juga : Telekonsultasi VS Konsultasi Japri

Di bidang medis, dr. Sandra juga memiliki pengalaman serupa. Seperti di bidang psikologi di mana video call bisa membantu observasi perilaku dan validasi emosi, dokter juga bisa memanfaatkan video call untuk menilai ekspresi wajah pasien. Namun, video call masih dianggap kurang bisa menyokong pekerjaan dokter, sebab di dunia medis masih sangat penting dilakukan pemeriksaan fisik secara langsung. Ada keterbatasan prosedural, seperti dokter tidak bisa mengukur suhu secara langsung dan melakukan pemeriksaan lainnya. Intonasi dan bahasa tubuh pasien pun kadang masing sulit dinilai meskipun sudah menggunakan video. Malah, beberapa aplikasi telekonsultasi hanya menyediakan sarana chat dan maksimal pengiriman gambar saja. Pemberian resep obat juga menjadi terkendala karena informasi pemeriksaan yang kurang memadai ini. Sementara itu, berkebalikan dari psychological first aid yang bisa dilakukan secara virtual, penanganan gawat darurat medis justru harus dilakukan langsung di lapangan dan tidak bisa via telekonsultasi.

Telekonsultasi dengan panggilan video di laptop
Foto oleh Karolina Grabowska, Pexels

Disambut Baik di Masyarakat

Di mata masyarakat sendiri, telekonsultasi dianggap pembaruan yang cukup luas diterima. Sebab, banyak yang merasa lebih nyaman mencari layanan kesehatan yang sederhana tanpa perlu antre dan tanpa perlu malu dilihat orang (terutama untuk yang memiliki masalah psikologis). Ada pula yang ingin menanyakan hal-hal sensitif tapi malu kalau disampaikan dengan tatap muka. Banyak yang lebih nyaman bertanya secara anonim. Psikolog yang banyak memberi pranala artikel berisi pengetahuan informatif juga sangat disukai masyarakat. Faktor lainnya yang sangat berpengaruh adalah biaya, karena telekonsultasi biayanya sering jauh lebih murah daripada tatap muka.

Namun, tetap ada banyak kendala baru. Semisal, klien di telekonsultasi cenderung lebih luas dalam bertanya sehingga sesi konsultasinya jadi tidak terfokus. Jadi, psikolog ataupun dokter harus banyak memberi arahan agar sesi berlangsung kondusif di tengah banyak keterbatasan. Banyak pula klien yang kurang kooperatif dengan memutus chat sebelum selesai diberikan edukasi, atau menolak menyalakan fitur video sehingga menurunkan kualitas konsultasi. Identitas pasien pun belum tentu akurat, karena banyak yang tidak jujur dalam memberikan identitas seperti umur dan jenis kelamin, sehingga bisa menyulitkan diagnosis. Belum lagi masalah pelecehan seksual terhadap dokter di telekonsultasi.

Permasalahan teknologi seperti ini memang di luar kendali kita. Tenaga profesional harus tetap bersikap profesional. Jika ada pemalsuan data, dokter hanya bisa melakukan intervensi medis sesuai dengan data yang ada. Klien yang menolak menyalakan video call juga tidak bisa dipaksa. Lalu, banyak perusahaan yang sudah memiliki kebijakan sendiri-sendiri mengenai pelecehan seksual terhadap dokter. Data user dan riwayat chat bisa diajukan menjadi barang bukti. Bila user melakukan pelanggaran atas guideline perusahaan, user juga bisa di-ban dari platform. Dokter dan psikolog bisa bersikap asertif dan memberitahu klien bahwa konsultasi mereka memiliki jejak digital, dan klien yang berlaku tidak sopan atau melecehkan bisa dilaporkan.

Semakin Dicari Kala Pandemi

Sejak dimulainya pandemi COVID-19, minat masyarakat terhadap jasa telekonsultasi meningkat pesat. Tahun 2019, minat konsumen terhadap telekonsultasi hanya sebesar 11%, namun di tahun 2020 melonjak drastis ke 76%. Pada tahun 2020 aplikasi e-health Halodoc melaporkan lonjakan 600% jumlah penggunanya, yang terutama membutuhkan akses digital terkait COVID-19 seperti pemeriksaan PCR dan home care.1 Pengguna aplikasi telekonsultasi memang lebih banyak berada pada kalangan usia muda, yaitu remaja akhir (18-25 tahun) dan dewasa muda (26-35 tahun).2 Dari segi kepuasan pelanggan, yang paling disukai konsumen adalah kualitas dan akurasi konten kesehatan yang ditawarkan.1 Sementara itu, selain kualitas layanan, yang dianggap penting oleh konsumen juga adalah efisiensi dan efektivitas aplikasinya sendiri.3

Telekonsultasi, meskipun praktis, sebetulnya juga menimbulkan polemik baru seperti dalam aspek etika medis, aspek legal, dan aspek sosioteknologi4. Namun, untuk sementara, karena kita kini berada di era pandemi, mau tidak mau telekonsultasi menjadi salah satu pilihan teratas. Apalagi, di masa-masa sulit ini, meningkat pula jumlah orang yang mengalami permasalahan psikis. Himpunan Psikologi Indonesia telah melakukan pertemuan dengan Presiden Joko Widodo untuk menekankan bahwa masyarakat harus lebih memperhatikan kesehatan mental masing-masing, terutama di era pandemi. Sebab, kondisi stres akan menyebabkan kekebalan tubuh menurun, sehingga berpotensi terinfeksi virus. Ada pula kelompok rentan seperti ibu hamil, lansia, anak anak, dan penyandang disabilitas yang membutuhkan segala bentuk layanan yang mudah diakses. Jadi, telekonsultasi memang merupakan salah satu solusi yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk melalui masa-masa krisis ini, setidaknya agar lebih cepat mendapat penanganan awal.

Lalu bagaimana nanti seusai pandemi, apakah telekonsultasi akan semakin dicari ataukah semakin hilang? Menurut Mario, di masa depan telekonsultasi akan mengalami tren yang positif. “Pandemi ini merubah tatanan kehidupan manusia,” ujar beliau, sehingga kita akan secara cepat membutuhkan banyak bantuan teknologi. Sementara itu, menurut dr. Sandra, di bidang kedokteran, tetap saja telemedicine hanya bisa menjadi support bagi pasien yang tidak dapat terlayani di sesi tatap muka, terutama pasien-pasien di daerah yang jauh dari kota; atau pasien yang hanya ingin menanyakan hal-hal yang jarang mereka tanyakan langsung kepada dokter di faskes, seperti soal pola makan, pola tidur, dan gaya hidup yang lain.

Telekonsultasi masih jauh dari sempurna dan membutuhkan banyak sekali perbaikan, namun tetap bisa menjadi salah satu solusi yang ditawarkan untuk memperluas akses kesehatan. Kini, telekonsultasi selain menjadi solusi, juga menjadi kebutuhan. Pertemuan tatap muka dan telekonsultasi memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Edukasi agar masyarakat lebih cerdas mencari tenaga profesional penting, sementara layanan yang sifatnya praktis juga tetap penting. Harapannya, semoga di masa depan telekonsultasi jadi lebih baik dan ada pemerataan di Indonesia dalam segi akses telekomunikasi, ponsel, dan sinyal internet, sehingga telekonsultasi bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Dan semua hal ini perlu dilandasi dan dipayungi oleh tatanan hukum menjamin kenyamanan dan keamanan pasien dan tenaga medis.

Referensi:

  1. Izzati VA, Firmanto Y. Analisis Kepuasan Pengguna Aplikasi Kesehatan Halodoc Melalui Model End User Computing Satisfaction Selama Masa Pandemi COVID-19. Jurnal Ilmiah Mahasiswa FEB Universitas Brawijaya. 2020; 9 (2). https://jimfeb.ub.ac.id/index.php/jimfeb/article/view/7139 
  2. Fransiska C, Bernarto I. Pengaruh Kualitas Layanan terhadap Kepuasan Pelanggan dan Keberlanjutan Penggunaan pada Pengguna Aplikasi Kesehatan. Jurnal Administrasi Bisnis. 2021; 11 (2): 132-42. https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/jab/article/view/35577/33299 
  3. Dwiputra D. Systematic Literature Review Penggunaan Layanan Telemedicine di Indonesia. OSF Preprints. 2022. https://osf.io/sm3yx 
  4. Mawuntu AHP, Limato R. Telekonsultasi Medis Meningkat Pesat Saat Pandemi COVID-19, Tapi Muncul Tiga Masalah Baru. Jakarta: The Conversation. 2020. https://theconversation.com/telekonsultasi-medis-meningkat-pesat-saat-pandemi-covid-19-tapi-muncul-tiga-masalah-baru-140228

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s