Artikel

Telekonsultasi VS Konsultasi Japri

Sejak Dokter Tanpa Stigma dimulai dan banyak mendapat respon positif dari masyarakat, admin cukup banyak mendapat DM sekedar ingin berdiskusi atau merespon story/ feed yang baru dipost. Cukup menyenangkan bisa berkenalan dengan banyak orang baru.

Tetapi seiring dengan makin bertambahnya follower DTS, DM yang masuk makin beragam juga termasuk yang ingin berkonsultasi medis. Awal-awal, rata-rata cukup sopan, mereka bertanya dulu, apakah boleh berkonsultasi lewat DM. Admin selalu menjawab dengan template yang sudah disiapkan “Silakan bertanya untuk pertanyaan general ya..Kalau konsultasi pribadi, mohon maaf, bisa konsultasi di tempat yang lebih kondusif.”

Dengan respon seperti ini, ada yang langsung membatalkan, ada juga yang tetap lanjut konsultasi pribadi (mungkin tidak tahu perbedaan antara pertanyaan general dengan konsultasi pribadi) tapi ada juga yang masih berusaha membalut konsultasi pribadinya sebagai pertanyaan general.

Contoh pertanyaan general:

  • Dok, gejala Covid apa saja sih?
  • Dok, untuk keputihan apakah harus pakai antibiotik?
  • Dok, apakah minum jamu bisa menyebabkan sakit mag?

Contoh konsultasi pribadi:

  • Dok, saya demam dan batuk, apakah saya terkena Covid?
  • Dok, keputihan saya kuning gatal dan berbau, apakah saya harus pakai antibiotik?
  • Dok, saya ada sakit mag, bolehkah saya minum jamu?

Tapi level ini masih bisa diatasi dengan baik. Masalahnya ada saja orang yang tidak punya manner, selain memaksa juga langsung pergi tanpa pamit setelah konsultasinya ditolak. Rupa-rupa netizen.

Suatu hari ada yang mempertanyakan kenapa admin tidak mau menerima konsultasi via DM padahal di era teknologi dan disrupsi bahkan selama pandemi ini banyak yang memanfaatkan telekonsultasi.

Bukankah sama saja berkonsultasi via DM dengan telekonsultasi?

Tentu saja tidak, Fernando.

Konsultasi via DM dengan telekonsultasi adalah dua hal yang sangat berbeda di dua dunia yang berbeda pula. Hanya karena sama-sama tidak bertatap muka, DM atau Whatsapp atau media sosial lainnya tidak bisa menjadi platform telekonsultasi, karena memang bukan itu tujuan dari media sosial. Namanya saja media sosial, bukan media konsultasi.

Bagi Anda yang sudah pernah menggunakan layanan telekonsultasi akan merasa bahwa telekonsultasi itu layaknya chat dengan si dokter. Nyaman sekali, pasien bisa anonim, tidak perlu bertatap muka langsung dengan dokternya, bisa bertanya apapun yang biasanya enggan ditanyakan saat bertatap muka langsung.

Itu yang Anda rasakan sebagai user alias pasien telekonsultasi.

Tapi mungkin Anda tidak tahu, yang dokter rasakan sebagai dokter telekonsultasi sama sekali berbeda, tidak terasa seperti chat biasa.

Karena telekonsultasi adalah suatu sistem terintegrasi yang dibuat semirip mungkin dengan format fasilitas kesehatan. Artinya, dengan sistem yang dibuat, dokter bisa menginput gejala-gejala yang disebut, menentukan kode diagnosa pasien, mengecek ketersediaan obat di apotek rekanan terdekat dan merekomendasi obatnya, dokter bisa merujuk ke dokter spesialis rekanan atau laboratorium terdekat. Dokter bahkan bisa membaca riwayat konsultasi sebelumnya meskipun sebelumnya berkonsultasi dengan dokter lain.

Tentu semua fitur itu tidak dimiliki oleh Whatsapp atau DM Instagram.

Dan perlu diingat juga pentingnya keikhlasan dan kesiapan tenaga medis dalam menerima konsultasi. Dokter yang bekerja di industri telemedisin pun mengikuti jadwal kerja yang telah disepakati. Dokter hanya akan praktek di jam-jam tertentu saja di aplikasi tersebut. Artinya, si dokter menyediakan waktu dan seluruh dirinya untuk melayani pasien hanya di jam itu. Silakan pasien berkonsultasi di jam tersebut.

Bila dokter sedang tidak praktek di aplikasi tentu tidak bisa langsung cari nomor WA si dokter lalu konsultasi via WA. Atau merasa konsultasi di aplikasi belum selesai lalu disambung via DM IG.

Ini bukan masalah bisnis atau dokter khawatir honornya akan berkurang kalau tidak konsultasi via aplikasi tapi memang sama sekali tidak kondusif dan tidak sesuai etika kerja jika berkonsultasi via medsos. Sekali lagi, media sosial itu untuk bersosialisasi, orang termasuk tenaga medis membuka medsos di waktu-waktu yang tidak tentu, seringkali di saat-saat sedang santai dengan durasi yang tidak bisa ditentukan juga.

Sementara mantanmu saja bisa nge-read doang tapi gak bales, apakah menurutmu itu platform yang tepat untuk berkonsultasi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s