Artikel

Mengenang Kegigihan Para Dokter Berjuang Bagi Bangsa

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya.”

Ir. Soekarno

Kalimat yang disampaikan oleh Bapak Pembangunan kita, Soekarno, sangat penting untuk kita, sebagai tenaga medis, hayati secara mendalam.

Dewasa ini mungkin banyak masyarakat mulai merasakan banyaknya tenaga medis yang kehilangan rasa nasionalismenya. Tenaga medis yang hanya berfokus pada memperkaya diri atau mengembalikan modal sekolahnya, yang berlomba mengejar prestasi tapi untuk diri sendiri, bukan untuk perkembangan masyarakat. Tenaga medis yang hanya berfokus pada masalah klinis dan seakan lupa pada masalah sosio-ekonomi-kultural dari pasien-pasiennya.

Tenaga medis yang mengabdikan diri pada rakyat dan negara semakin langka dan bila ditemukan seperti mutiara yang sangat berharga. Padahal seyogyanya, sebagai kelompok masyarakat berprivilese, tenaga medis seharusnya bisa menyadari kekuatan dan impact yang bisa kita berikan pada bangsa ini.

Prof. Hans Pol, penulis buku “Merawat Bangsa” menjelaskan peran dokter dalam sejarah pergerakan bangsa Indonesia dalam kajian online Kahin Lecture yang diadakan oleh Development Study Club tanggal 10 Mei 2022 lalu.

Beliau memaparkan bahwa ada hubungan yang erat antara kedokteran, kolonialisme dan dekonolisasi pada masa itu. Ilmu kedokteran awalnya dijadikan alat kolonialisme, antara lain untuk merawat prajurit, untuk mencegah penyebaran penyakit menular dari rakyat Indonesia ke petinggi Belanda, untuk menjaga kesehatan para pekerja perkebunan, dll. Tetapi kemudian para personil dokter ini justru bangkit dan giat melawan kolonialisme itu sendiri.

Di tahun 1900an, sebelum era kebangkitan nasional, rakyat Indonesia masih mengidentifikasi diri sesuai etnisnya, contoh: warga Jawa, warga Batak, dll. Kondisi ini pun terjadi pada mahasiswa kedokteran zaman itu. Para mahasiswa kedokteran datang dari berbagai daerah untuk belajar di STOVIA (saat ini FK Universitas Indonesia) dan NIAS (saat ini FK Universitas Airlangga) membawa kesukuannya masing-masing. Tetapi suasana pendidikan kedokteran zaman itu telah menyatukan visi mereka akan terwujudnya bangsa yang satu.

Pendidikan kedokteran zaman itu sangat lama, bisa sampai 10 tahun. Banyak dari mereka masuk sekolah kedokteran di usia yang sangat muda, bahkan ada yang mulai belajar dari usia 13 tahun. Selama pendidikan, mahasiswa harus berbicara dengan bahasa yang sama yaitu bahasa Belanda agar bisa memahami satu sama lain. Seringkali tidak memungkinkan bagi mereka untuk sering kembali ke kampung halaman karena jarak yang sangat jauh dan transportasi yang masih sulit.

Mahasiswa STOVIA berpakaian semi barat dengan aksen baju daerah masing-masing.
Ada yang mulai sekolah bahkan sejak usia 13 tahun.

Menghabiskan masa muda bersama-sama seperti inilah yang membuat mahasiswa kedokteran menjadi sangat guyub, disatukan melalui dunia sains yang saat itu sedang sangat berkembang. Banyak penemuan di dunia sains termasuk kesehatan saat itu, antara lain penemuan penyebab malaria, kolera, pes, penyakit-penyakit yang telah berulang kali mewabahi rakyat Indonesia.

Kondisi tersebut memberi harapan bagi mahasiswa kedokteran saat itu di tengah kelamnya diskriminasi dan ketidakadilan yang sehari-hari mereka hadapi. Dokter Indonesia dianggap lebih rendah dibanding dokter Belanda, dianggap dokter kelas dua. Sepintar apapun mereka, bahkan sekalipun mereka lulus dari FK di Belanda, gaji mereka lebih rendah dan mereka tidak diperlakukan setara dengan dokter-dokter Belanda.

Belajar Dari Dokter-dokter Pahlawan

Ada cukup banyak dokter atau mahasiswa kedokteran yang menjadi tokoh pergerakan nasional Indonesia, yang sangat vokal menyuarakan anti kolonialisme demi kesejahteraan rakyat Indonesia. Sayangnya cukup banyak juga yang seakan dihapus dari sejarah karena berbagai alasan.

Tirto Adi Surya, alias Minke yang kisahnya dituliskan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam tetralogi Buru, baru-baru ini diangkat ke layar lebar dengan judul Bumi Manusia. Beliau adalah jebolan mahasiswa STOVIA yang kemudian banting setir menjadi jurnalis. Melalui koran Medan Prijaji yang didirikannya, ia keras mengkritik pemerintah Belanda.

Abdul Rivai, lulusan STOVIA tahun 1895 dari Minangkabau, sangat geram dengan ketidaksetaraan dokter di Hindia Belanda. Dia memutuskan melanjutkan sekolah kedokteran ke Belanda dan lulus tahun 1908, hanya untuk menemukan kenyataan bahwa ia tetap tidak mendapat perlakuan yang sama dengan dokter-dokter Belanda. Dia kemudian mencalonkan diri dan menjadi anggota dewan tahun 1918-1924 untuk memperjuangkan investasi pemerintah di bidang kesehatan dan pendidikan di Indonesia.

Tokoh penting lainnya adalah dr. Radjiman atau lebih lengkapnya dr. Kanjeng Raden Tumenggung Radjiman Wedyodiningrat, dari Solo. Beliau adalah dokter dengan prinsip think global, act local. Beliau meyakini bahwa dokter Indonesia tidak perlu punya pemikiran yang 100% sama karena setiap dokter punya value dari kearifan budaya masing-masing tetapi yang terpenting dokter harus punya standar pola pikir yang sama yaitu berdasarkan sains dan punya keyakinan bahwa sebagai dokter punya tanggung jawab khusus untuk membangun negeri. Beliau aktif menggunakan metode barat untuk membangun kultur lokal termasuk dalam bidang pengobatan.

Tidak kalah penting, ada juga Abdul Rasyid. Dokter dari Minangkabau ini pernah menjabat sebagai anggota parlemen dan ketua Asosiasi Dokter Indonesia (saat itu masih bernama Vereniging Van Indonesische Genesjkundigen, cikal bakal IDI saat ini). Selama masa jabatannya beliau banyak membuat perubahan di dunia kesehatan Indonesia, antara lain menggolkan Rockefeller Initiatives yang berhasil mengubah sistem kesehatan dari hospital-based, dimana akses kesehatan masyarakat hanya bisa diperoleh di RS di kota-kota besar, menjadi berfokus pada klinik-klinik akar rumput yang berfokus pada common diseases dan kesehatan ibu dan anak.

With Great Power Comes Great Responsibility

Kehidupan dokter zaman itu seakan berada dalam dualisme yang begitu kontras. Di satu sisi, mereka dianggap sebagai kaum elitis, sering bergaul dengan bangsa Belanda, berpakaian seperti bangsa Belanda, bicara dengan bahasa Belanda. Sementara dalam praktek sehari-hari merawat pasien, mereka melihat kesengsaraan rakyat Indonesia yang miskin akibat eksploitasi oleh penjajah, bekerja dengan kondisi yang begitu buruk, contohnya para pekerja di pabrik gula dan perkebunan.

Dokter-dokter melihat begitu banyak masalah di Indonesia tetapi juga punya harapan akan solusi karena punya modal pengetahuan yang mumpuni. Dokter bisa melihat dengan holistik, tidak hanya masalah kesehatan individu tetapi juga kesehatan masyarakat, terkait akses air bersih, pengelolaan MCK, sanitasi, dll, masalah yang lebih struktural.

Ditambah lagi dengan kondisi sosial dimana terjadi ketidaksetaraan dan diskriminasi, dimana segala upaya menyetarakan diri dengan bangsa kulit putih selalu dibenturkan oleh persoalan warna kulit.

Kalau dilihat-lihat, sebenarnya secara fundamental, kondisinya tidak banyak berbeda dengan masa kini. Perbedaannya terletak pada siapa musuhnya. Dulu dokter berhadapan dengan bangsa penjajah, sekarang dokter harus berhadapan dengan bangsa sendiri. Diskriminasi dan ketidakadilan datang dari bangsa sendiri, masalah struktural terkait kesehatan masyarakat datang dari bangsa sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari, dokter masih dianggap kaum elitis sama seperti dulu dan dalam merawat pasien selalu disodorkan persoalan masyarakat pada umumnya.

Pertanyaannya adalah apakah kita mau membuka mata pada persoalan-persoalan ini? Apakah kita sudah puas dengan kemerdekaan yang sudah dalam genggaman saat ini? Atau kita mau juga ikut ambil bagian mempertahankan kemerdekaan ini? Maukah kita memperjuangkan bangsa ini lebih jauh dari ruang praktek kita? Bersediakah kita memanfaatkan privilese kita ini untuk bersuara bagi yang tidak bisa bersuara, bergerak bagi yang tidak mampu bergerak?

Jawabannya hanya ada di diri kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s