Artikel

Safira Maulida, Calon Dokter Gigi Spesialis dengan Hard of Hearing

Halo! Perkenalkan nama saya Nurul Safira Maulida, lebih akrab dipanggil Safira atau Fira. Saya adalah seseorang dengan hard of hearing, dimana keadaan tersebut mengharuskan saya untuk menggunakan hearing aid atau alat bantu dengar (ABD) untuk menunjang kegiatan sehari-hari saya. Saya masih berusia 9 tahun saat dokter mendiagnosa saya mengalami gangguan pendengaran skala berat. Saya terdeteksi hanya dapat mendengar dengan batas ambang pendengaran 90-100 desibel (dB) pada kedua telinga saya. (Pendengaran normal seseorang adalah 25dB ke bawah)

Safira Maulida, Calon Dokter Gigi Spesialis Prostodonsia dengan Hard of Hearing

Sewaktu balita, saya seperti balita pada umumnya tapi sewaktu duduk di kelas 4 SD saya mulai merasa ada yang berbeda. Saya selalu harus duduk di kursi paling depan agar bisa mendengar penjelasan guru dengan baik. Meskipun demikian saya tetap tidak mengerti penjelasan guru saya karena saya masih kurang jelas mendengarkan apa yang disampaikannya. Hal ini membuat saya sering dibully oleh teman-teman.

Tapi hal itu tidak mengurungkan niat saya untuk dapat sekolah seperti teman-teman lainnya. Saya mencoba untuk memulai pembicaraan dan inisiatif bertanya pada guru-guru saya. Untungnya guru saya pun selalu sabar mengajari setiap mata pelajaran tersebut hingga saya bisa benar-benar memahaminya. 

Dalam keseharian, saya mengalami beberapa kendala yang cukup menyulitkan saat berkomunikasi dengan orang banyak karena keterbatasan kosa kata dan struktur Bahasa Indonesia yang saya miliki. Seiring berjalannya waktu, saya mulai belajar membaca, mendengar dan berbicara melalui tempat kursus. Dari situ, kemampuan membaca dan kosakata saya pun berkembang pesat.

Setelah SD, saya pindah sekolah ke SMP Islam Athirah Makassar. Hal ini dilakukan oleh orang tua saya agar tidak ada lagi teman-teman sekelas yang mem-bully saya seperti saat di SD dahulu.  Tapi nyatanya saya masih mengalami perundungan di sekolah baru akibat pola ucap yang terlalu cepat, dan banyak teman yang mengatai saya cadel.

Cadel adalah kondisi dimana seseorang mengalami kesulitan dalam melafalkan beberapa huruf atau kata tertentu dengan benar. Dalam kasus saya, saat itu saya kesulitan melafalkan huruf S, X, dan Z. Akhirnya setelah belajar dengan keras, saya pun berhasil mengeluarkan seluruh artikulasi konsonan Bahasa Indonesia dengan tepat, meskipun awalnya sangat kesulitan. Saya belajar beberapa huruf, mengeja kata berulang-ulang di depan cermin untuk memastikan pelafalannya benar. Orang tua dan keluarga terdekat saya juga selalu memberi masukan dan mengoreksi kalau ada kesalahan lafal pengucapan. 

Sepanjang SMP, saya jadi merasa tidak percaya diri dan menjadi pribadi yang tertutup. Saya kesulitan bersosialisasi dengan orang baru, akibat trauma akan perundungan yang saya alami saat SD.

Perjuangan Jadi Dokter Gigi

Perlahan namun pasti saya kembali merengkuh kepercayaan diri dan menemukan semangat untuk mengejar mimpi-mimpi saya. Saya yakin bahwa keunikan yang ada pada diri saya tidak seharusnya membuat saya patah semangat, malah seharusnya bisa menjadi pecutan untuk menjadi versi terbaik diri. Melihat teman-teman saya yang berhasil menyelesaikan sekolah dengan baik menjadi penyemangat sendiri untuk saya menyelesaikan pendidikan saya. 

“Kita boleh terbatas fisik, tapi kita tidak boleh terbatas pikiran. Jangan pernah menyerah jika kamu masih ingin mencoba.”

Saya bercita-cita menjadi seorang dokter gigi karena sewaktu kecil saya melihat dokter yang mengerjakan pasien dengan sangat teliti dan penuh empati. Saya ingin dapat membantu semua pasien saya seperti itu juga nantinya, terutama yang berkebutuhan khusus.

Saya berharap dapat mengajak semua orang terutama teman-teman disabilitas, untuk lebih sadar akan pentingnya menjaga kebersihan gigi dan mulut. Karena menurut pengalaman saya selama ini ketika bertemu dengan teman-teman disabilitas lainnya, masih banyak yang kurang terpapar edukasi kesehatan gigi dan mulut, serta menyadari akan pentingnya menjaga kesehatan kesehatan gigi dan mulut.

Perjuangan saya dalam menggapai cita-cita itu dimulai saat memasuki kuliah pendidikan dokter gigi. Adaptasi dengan orang yang baru dan lingkungan yang sangat berbeda, ditambah tantangan kuliah bidang kedokteran yang banyak melibatkan hafalan, membuat saya harus berjuang lebih keras. Penggunaan alat bantu dengar dalam kesehariannya menjadi tantangan tersendiri saat berkuliah. Saya selalu memilih untuk duduk di kursi paling depan, (paling tidak kursi baris kedua atau ketiga), agar dapat mendengar materi kuliah yang disampaikan dosen dengan lebih jelas. Perjuangan yang hanya dapat dimengerti oleh orang-orang dengan kesulitan pendengaran. 

Saya menempuh pendidikan dokter gigi selama 3 tahun (6 semester) dengan nilai cukup baik. Setelah menyelesaikan masa preklinik, saya melanjutkan perjuangannya untuk mendapatkan titel “drg” melalui kepaniteraan klinik atau koas. Banyak suka dan duka yang dilewati pada tahap ini, seperti kendala dalam memenuhi requirement (kewajiban untuk mengerjakan sejumlah requirement tertentu sebelum diuji dan dinyatakan lulus dalam stase tertentu). 

Saya harus bertemu banyak orang (pasien, dokter jaga) yang belum tahu kalau saya memakai alat bantu dengar. Sewaktu mengerjakan pasien, saya selalu berusaha mengkomunikasikan keadaan saya terlebih dahulu kepada pasien agar tidak miskomunikasi. Selain itu, saya juga meminta pasien untuk berbicara pelan-pelan agar dapat mudah dimengerti. Tak lupa juga meminta pasien mengkomunikasikan hal-hal yang tidak dipahami atau perlu dijelaskan kembali. 

Untuk meningkatkan kenyamanan pasien selain menggunakan komunikasi verbal, saya meminta pasien untuk dapat mengkomunikasikan rasa sakit/ tidak nyamannya secara non-verbal seperti mengangkat tangan atau menepuk tangannya. Syukurlah selama ini pasien tidak mempermasalahkan perihal penggunaan alat bantu dengar tersebut. 

Terlepas dari berbagai tantangan tersebut, tentunya banyak cerita suka yang saya temukan selama koas. Menurut saya koas adalah gerbang awal menuju dunia kerja, dimana saya akan bertemu lagi dengan orang-orang baru yang akan saya hadapi secara profesional. Dari situ saya bisa mengukur sejauh apa kemampuan komunikasi interpersonal yang  saya miliki, trust yang dapat diberikan kepada pasien, dan skill dalam menghandle masalah kesehatan gigi pasien.

Pandemi dan Diskriminasi Hampir Membuat Saya Menyerah

Namun, cobaan kembali datang di pertengahan masa koas. Fakultas tempat saya mengenyam pendidikan, mengeluarkan peraturan baru yang terkait adanya pandemi COVID-19 di tahun 2020. Saya diharuskan mengikuti pembelajaran klinis secara daring, hal ini tentunya merupakan tantangan berat untuk saya.

Adanya kebijakan untuk memakai masker mengakibatkan saya kesulitan untuk mendengar lawan bicara, karena selama ini saya terbiasa melihat gerak bibir lawan bicaranya (oral). Mengikuti pembelajaran klinis secara online juga jadi sangat sulit akibat adanya hambatan komunikasi.

Tetapi lagi-lagi saya tidak ingin menyerah, saya mencari jalan keluar dengan menggunakan aplikasi teks atau subtitle untuk dapat memahami apa yang disampaikan oleh dokter selama mengikuti kuliah online.

Dengan kerja keras dan dibantu doa orang-orang terkasih, saya akhirnya lulus tepat waktu. Namun lagi-lagi mendekati akhir usaha tersebut, saya mengalami diskriminasi oleh salah satu dokter melalui tindakan audism. Audism merupakan bentuk perlakuan diskriminatif seseorang yang mengganggap orang yang dapat mendengar lebih superior dibanding dengan orang Tuli atau Hard of Hearing Hal ini terjadi akibat adanya miskomunikasi saat dokter tersebut menggunakan masker N95 saat sedang berbicara dengannya dan mengakibatkan suara yang dikeluarkan tidak jelas. 

“Kualitas pendidikan inklusi di Indonesia masih jauh dari harapan. Harapan saya semoga kedepannya Indonesia bisa membuka hati dan mata bahwa tidak semua orang berkebutuhan khusus tidak bisa melakukan sesuatu. Mereka punya kelebihan masing-masing walaupun ada kekurangan. Dan semoga Indonesia ke depannya mau mendukung, serta memberikan fasilitas yaitu akses untuk anak berkebutuhan khusus agar mereka nyaman”

Saat itu, saya sempat terpikir untuk menyerah menyelesaikan koas. Namun adanya dukungan dari kedua orang tua membuat saya  memutuskan untuk berjuang, dan akhirnya saya mampu menyelesaikan tahap akhir untuk memperoleh gelar dokter gigi.

Setelah lulus dokter gigi, saya memutuskan untuk menempuh pendidikan lagi yaitu sekolah spesialis (PPDGS Prostodonsia) di tempat yang sama yaitu FKG Universitas Hasanuddin.

Harapan saya saat ini sangat sederhana. Saya rindu adanya lingkungan yang inklusif dan ramah buat teman-teman berkebutuhan khusus lainnya. Selain itu, saya juga ingin mengajak semua orang untuk tak mudah patah semangat, putus asa, apalagi sampai memutuskan mengakhiri hidup akibat ketidaksempurnaan yang dimiliki.

“Teruntuk teman-teman diluar sana yang memiliki kekurangan, jangan takut untuk mencoba hal baru. Jangan mudah menyerah kalau kamu gagal. Down boleh tapi bangkit harus.”

“Kualitas pendidikan inklusi di Indonesia masih jauh dari harapan. Harapan saya semoga kedepannya Indonesia bisa membuka hati dan mata bahwa tidak semua orang berkebutuhan khusus tidak bisa melakukan sesuatu. Mereka punya kelebihan masing-masing walaupun ada kekurangan. Dan semoga Indonesia ke depannya mau mendukung, serta memberikan fasilitas yaitu akses untuk anak berkebutuhan khusus agar mereka nyaman”

Artikel ini ditulis oleh Nurul Safira Maulida, perempuan sederhana dan optimis.

Satu tanggapan untuk “Safira Maulida, Calon Dokter Gigi Spesialis dengan Hard of Hearing

  1. MasyaAllah luar biasa, semoga menginspirasi semua generasi muda Indonesia, tdk hanya saudaraku disabilitas tapi jg yg non seharusnya menjadi cambuk utk terus bersemangat !!!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s