Masalah perundungan (bullying) dan pelecehan di dunia pendidikan kesehatan sebetulnya bukan barang baru. Isu ini sudah sejak lama hilang timbul; berbagai diskusi dan upaya dilakukan oleh pemangku kebijakan tetapi lingkungan kerja dan pendidikan yang toksik selalu bermunculan kembali. Sebuah penelitian meta-analisis tahun 2014 menunjukkan bahwa prevalensi harassment dan diskriminasi di kalangan peserta didik medis sangatlah tinggi, 59.4% peserta didik pernah mengalaminya, dengan verbal harrassment sebagai bentuk yang paling umum dan dokter konsultan sebagai pelaku paling dominan.

Photo by RDNE Stock project on Pexels.com

Tanpa perlu membandingkan dengan jurusan lain, angka tersebut termasuk sangat tinggi dan cukup mengejutkan, karena ternyata jurusan kedokteran yang seharusnya mengedepankan kemanusiaan justru menjadi tempat terjadinya kekerasan, dan pelakunya adalah sejawat sendiri. Masalahnya, perundungan kepada peserta didik kedokteran sering dipandang sebelah mata, bahkan dinormalisasi, dengan dalih menempa ketahanan diri para peserta didik. Kita sering lupa bahwa narasi “penempaan diri” ini telah berubah menjadi kekerasan (abuse) yang bisa membahayakan diri individu, baik secara fisik maupun mental.

Perundungan Terjadi dalam Berbagai Bentuk, Termasuk yang Sangat Halus

Perlu diperhatikan bahwa dengan panjangnya hierarki pendidikan dan karier kedokteran, bullying terjadi di semua lapisan, mulai dari mahasiswa, koas, residen, bahkan sampai lulus dokter spesialis baru, meskipun frekuensi dan intensitasnya berkurang seiring dengan naiknya posisi dalam hierarki. Bentuk mistreatment-nya pun bermacam-macam, mulai dari verbal abuse, diskriminasi sampai pelecehan seksual. Sebuah penelitian di AS menemukan enam area tematis yang teridentifikasi berpotensi memunculkan mistreatment. Keenam area tersebut antara lain:

  1. Verbal abuse (kekerasan verbal)
  2. Diskriminasi antarbidang spesialisasi
  3. Pemberian tugas-tugas non-edukatif
  4. Menolak mengajar peserta didik sebelum “dibayar” dengan sesuatu
  5. Penelantaran peserta didik atau learner’s neglect
  6. Diskriminasi gender dan rasisme

Banyak yang tidak menyadari tindakan-tindakan mistreatment ini, bahkan membiarkan mistreatment terus terjadi karena budaya normalisasi kekerasan berkedok “pendidikan” ini. Budaya semacam ini mengakibatkan perundungan tidak hanya terjadi di skala individu. Institusi pun juga kerap melakukan abuse of power seperti melarang tenaga medis untuk menjadi pengajar karena alasan politis, mempersulit izin praktik dokter junior, mematok biaya yang tinggi untuk rekomendasi/perizinan, dan lain-lain. Belum lagi ketika mistreatment berkembang menjadi pelecehan seksual. Jadi, kita bisa melihat bahwa bullying di dunia kedokteran bukanlah masalah personal atau oknum belaka, melainkan sudah menjadi masalah sistemik dan struktural.

“Perundungan Bagus untuk Menguatkan Mental!”

Sebuah penelitian di Australia menunjukkan bahwa kebanyakan perundungan yang terjadi di ranah pendidikan kedokteran disebabkan karena ada glorifikasi budaya self-sacrifice pada dokter. Ketika peserta pendidikan dokter semakin mengalami ketegangan atau tekanan di tempat kerjanya, hal tersebut dianggap suatu pengalaman yang “baik untuk pembentukan karakter” karena seorang dokter dituntut untuk selalu bekerja keras, tidak egois, kuat menanggung derita, dan selalu mendahulukan kepentingan orang lain.

Benar, pekerjaan sebagai dokter memang merupakan pekerjaan dengan tekanan dan tanggung jawab tinggi demi kesehatan pasien. Profesi ini pun selalu dikaitkan dengan sifat altruistik dan tidak self-centered. Namun, bukan berarti dokter (dan para calon dokter) boleh diperlakukan semena-mena dan digembleng secara berlebihan dalam proses pendidikannya dengan dalih “menguatkan mental” atau “menciptakan dokter yang unggul”.

“Ah, tapi saya dulu juga sering di-bully senior, buktinya sekarang saya sukses dan tangguh,” kata beberapa orang.

Hanya karena banyak penyintas bullying yang mengaku menjadi tangguh karena pernah mengalami bullying, bukan berarti bullying pasti membuat seseorang menjadi tangguh. Hanya ada korelasi di sana, tetapi bukan kausalitas. Malah, bullying terbukti dapat mengakibatkan depresi dan trauma psikis berat. Penyintas perundungan bisa menunjukkan perilaku agresif serta cenderung mengulangi perbuatan bullying kepada orang lain (perpetuating bullying behavior). Inilah yang menyebabkan rantai bullying di kedokteran sulit diputus.

Padahal, menciptakan seorang dokter yang tangguh dapat dilakukan dengan cara-cara yang positif tanpa kekerasan! Beberapa contoh pendidikan mental yang bisa dilakukan tanpa melibatkan kekerasan:

  • Menetapkan modul khusus untuk melatih empati dan keterampilan komunikasi nakes kepada pasien-pasien yang termarjinalkan, contoh: pasien dengan disabilitas, pasien dalam penjara, pengungsi, korban bencana alam, pasien dari populasi kunci, dan lain-lain.
  • Memperbesar porsi targeted social act (alias KKN) di mana dokter harus membuat program/kegiatan yang spesifik sesuai dengan kebutuhan target untuk melatih empati, creative thinking, leadership skill, dan sebagainya.
  • Menetapkan aturan yang ketat tentang jam kerja agar nakes tetap memiliki work-life balance dan bisa meningkatkan keterampilan/hobi lain di luar pekerjaannya.
  • Mendorong pertukaran pelajar/studi banding dengan FK negara lain dengan target tidak hanya belajar klinis tetapi juga ilmu non-klinis.

Sangat disayangkan, banyak tenaga kesehatan yang memiliki pandangan bahwa hanya karena dia adalah tenaga medis berarti tingkat moralnya pasti lebih tinggi dari orang lain. Hanya karena dia dulu diperlakukan demikian dan baik-baik saja (bahkan berhasil sukses) maka dia berhak memperlakukan juniornya dengan cara yang sama. Para calon dokter dituntut harus “tahan banting” dan mampu diberi ujian seberat-beratnya, termasuk bertahan menanggung pelecehan dan kekerasan.

Photo by Yan Krukau on Pexels.com

Bullying sudah pernah memakan korban, tidak hanya 1-2 korban saja; tidak hanya korban mental, tetapi juga korban nyawa! Padahal, sebagai manusia yang mengaku bekerja di bidang kemanusiaan, tanpa ada dampak-dampak negatif pun, bullying tetap tidak seharusnya dilakukan karena itu salah, tidak bermoral, dan tidak berperikemanusiaan. Jadi, mengapa budaya ini sulit sekali dihentikan? Mengapa terus bertahan pada budaya yang jelas-jelas merugikan ini? Di mana sisi kemanusiaan yang selama ini diagung-agungkan itu?

Ketimpangan Kuasa dan Budaya Senioritas di Dunia Medis adalah Kenyataan

Selain kondisi tersebut, kita juga perlu mengakui adanya power imbalance atau ketimpangan kuasa dan budaya senioritas yang kental di dunia kedokteran yang menyebabkan ada kelompok tertentu yang rentan menjadi korban. Contoh-contoh ketimpangan kuasa tersebut antara lain:

  • Relasi kuasa pengajar dan pelajar. Tingginya senioritas di budaya kedokteran menyebabkan pelajar berisiko diperlakukan dengan tidak baik dengan dalih “untuk mendidik”. Misalnya withholding information, di mana pengajar menolak membagikan ilmu sebelum pelajar melakukan sesuatu sesuai keinginannya, atau tidak memberikan nilai secara objektif, bahkan tidak meluluskan pelajar bila ada hal yang tidak berkenan; atau memberikan beban kerja berlebihan kepada pelajar, dan sebagainya. Tujuan membagikan edukasi tentunya sudah tidak menjadi prioritas lagi di sini.
  • Relasi kuasa dokter senior dan junior. Contohnya, betapa sulitnya dokter junior berpraktik di tempat yang sudah “dikuasai” oleh dokter senior; atau kalaupun diberi kesempatan berpraktik di tempat yang sama, dokter junior jarang mendapat pasien karena semua pasien dimonopoli oleh dokter senior.

Hierarki dalam pendidikan kedokteran, yang dimaksudkan untuk memastikan kualitas lulusan kedokteran, malah jadi membuka peluang ketimpangan relasi kuasa yang berlapis. Budaya menghormati guru dan sejawat senior disalahgunakan untuk mengeksploitasi junior-junior untuk melakukan hal-hal yang tidak berhubungan dengan pendidikan (seperti membelikan barang untuk senior/konsulen, membuatkan penelitian dengan seluruh kredit diambil oleh senior/konsulen, memperbaiki mobil senior/konsulen dengan uang sendiri, dan masih banyak lagi). Semuanya ditutup dengan alasan “merupakan bagian dari proses belajar”.

Jangan Memungkiri Adanya Rasisme, Seksisme, dan Diskriminasi Agama!

Selain itu sejak dulu dan masih sering terjadi sampai saat ini, sama seperti di lingkungan lainnya di negara kita, perlakuan rasis dan diskriminasi ras di dunia kedokteran masih merupakan hal yang lumrah. Namun hal ini sulit diidentifikasi, karena setiap kali kasus rasisme dikonfrontasi, sebagian besar pelaku akan mengelak dan mengeluarkan dalih bahwa tindakan tersebut dilakukan atas dasar kesalahan pribadi korban, bukan karena rasnya.

Kita juga pasti pernah mendengar rumor-rumor bahwa bidang studi spesialisasi tertentu cenderung menolak calon PPDS dari etnis dan agama tertentu. Namun, fenomena ini tidak pernah tercatat secara resmi dan tidak bisa diselidiki secara hukum karena sangat sulit dibuktikan juga. Jadi, rasisme di dunia kedokteran berakhir menjadi debat kusir tanpa pernah memiliki jalan keluar yang baik. Belum lagi soal seksisme. Berapa banyak candaan/ujaran seksis yang dilakukan oleh senior/sejawat laki-laki kepada mahasiswa/sejawat perempuan?

Bagaimana mendobrak budaya ini? Cara pertama yang paling mudah adalah dengan tidak memungkiri adanya rasisme, seksisme, dan diskriminasi agama ini. Hilangkan pola pikir self-centered seperti:

  • “Saya tidak merasa rasis, dan saya tidak melihat teman-teman saya rasis, jadi rasisme itu tidak ada.”
  • “Saya punya banyak teman dari etnis A, artinya saya tidak rasis. Saya bergaul dengan teman-teman dari agama B, saya tidak diskriminatif pada mereka. Seharusnya mereka tidak merasakan rasis dan diskriminasi agama itu.”
  • “Rasisme dan seksisme tidak pernah terjadi kepada saya, berarti orang lain tidak merasakan juga.”
  • “Di bidang kesehatan tidak ada rasisme, buktinya banyak dokter dari kelompok minoritas A, B, dan C!”

Hanya karena kita tidak melihat secara langsung, bukan berarti rasisme, seksisme dan diskriminasi agama ini tidak terjadi. Bila kalian berasal dari kelompok mayoritas, privileged, dan status quo, sangat mungkin kalian tidak terpapar dengan isu-isu ini. Bukan berarti isu ini tidak ada!

Dalam dunia kedokteran, diskriminasi sudah bersifat struktural dan sistematis. Tidak perlu merasa offended jika ada isu-isu ini diangkat tetapi kita tidak merasa pernah melakukan hal-hal negatif ini. This isn’t about you! This is about a toxic culture, budaya yang telah lama dipupuk, and you are a part of it. Meskipun “saya” tidak pernah berbuat jahat, bukan berarti budaya tersebut tidak ada, dan tidak memakan korban. Milikilah empati terhadap korban, bukannya memfokuskan narasi kepada diri sendiri atau kelompok sendiri.

Sudah saatnya kita mengalihkan cara pikir kita untuk tidak lagi terjebak dalam narasi senioritas dan penempaan mental peserta didik kedokteran. Pendidikan yang baik tidak menyertakan kekerasan dan pelecehan. Marilah lebih terbuka untuk mengangkat narasi perundungan di dunia medis dan mengakui bahwa masalah perundungan merupakan problem yang pelik serta sudah amat mengakar di dunia pendidikan Indonesia. Kami harap para calon dokter bisa memiliki ruang aman di dunia kerja dan dunia pendidikan, agar kualitas kerja membaik dan kesejahteraan pasien pun selalu terjaga.

Satu tanggapan untuk ““Kalau Tidak Kuat, Jangan Jadi Dokter!”: Menggali Akar Perundungan di Fakultas Kedokteran”

  1. Feodalisme dan Komersialisasi: Mengungkap Sisi Gelap Pendidikan Kedokteran di Indonesia – Dokter Tanpa Stigma Avatar

    […] Baca Juga: “Kalau Tidak Kuat, Jangan Jadi Dokter!”: Menggali Akar Perundungan di Fakultas Kedoktera… […]

    Suka

Tinggalkan komentar