Dewasa ini, berita-berita dunia didominasi oleh peningkatan suhu global, fenomena cuaca ekstrem, dan krisis lingkungan. Ketika menghadapi krisis iklim, kita cenderung mengabaikan krisis lain yang terkesan remeh namun sebenarnya sama pentingnya, yaitu pengaruh perubahan iklim terhadap kesejahteraan mental kita. Dampak dari kondisi bumi yang kini tengah bergejolak ini tentunya dapat mempengaruhi kesehatan mental kita, sehingga menimbulkan berbagai tantangan emosional serta psikologis.

Mulai dari munculnya kecemasan tentang kehancuran lingkungan serta tekanan yang ditimbulkan oleh bencana alam, hingga stres berat jangka panjang yang disebabkan oleh perubahan iklim; dampak-dampak yang awalnya dianggap remeh ini pun semakin nyata. Krisis iklim memiliki efek yang signifikan dan bisa memperburuk kesehatan jiwa kita semua.

Photo by Markus Spiske on Pexels.com

Cuaca Panas yang Bisa Berakibat Fatal, Secara Fisik dan Mental

Dampak nyata dari perubahan iklim lebih dari sekadar perubahan terhadap lingkungan; juga terdapat konsekuensi buruk bagi kesehatan fisik manusia (dan hewan) yang tinggal di dalamnya. Pemanasan global alias global warming membawa masuk era baru penyakit-penyakit fisik, terutama penyakit-penyakit terkait cuaca panas, yang disebabkan oleh gelombang panas atau heat wave yang semakin sering dan juga semakin parah. Paparan panas ekstrem dalam waktu lama tidak hanya membahayakan kesehatan fisik, tetapi juga berdampak buruk pada kondisi mental.

Kondisi seperti heat stroke, kelelahan akibat panas, dan dehidrasi, yang disebabkan oleh suhu tinggi, dapat menyebabkan disorientasi, kebingungan, dan dalam kasus yang parah, bahkan psikosis. Berbagai manifestasi fisik tersebut, ditambah ketidaknyamanan dan kegelisahan terus-menerus terkait dengan panas ekstrem, dapat memperburuk masalah kesehatan mental yang sudah ada sebelumnya, misalnya kecemasan dan depresi.

Hubungan antara Gangguan Fisik dengan Kesehatan Mental di Era Global Warming

Selain dampak yang cepat terlihat seperti heat stroke, akan berkembang pula berbagai penyakit yang ditularkan melalui vektor (vector-borne disease) seperti virus Zika, virus West Nile, dan penyakit Lyme, yang disebabkan oleh semakin meluasnya habitat panas untuk serangga-serangga pembawa penyakit. Ini tentunya akan mempertebal lapisan penderitaan fisik dan emosional kita.

Kekhawatiran masyarakat mengenai potensi penularan penyakit-penyakit tropis ini, yang disertai ketakutan akan berbagai komplikasi yang akan ditimbulkan, tentunya dapat meningkatkan tingkat kecemasan dan stres, sehingga semakin memperparah beban kesehatan mental yang dihadapi oleh individu dan komunitas yang sejak awal sudah menghadapi tantangan rumit yang ditimbulkan oleh perubahan iklim. Dapat disimpulkan dari interaksi rumit antara bahaya kesehatan lingkungan dan fisik ini, bahwa kesejahteraan mental dan emosional kita tentunya terkait erat dengan global warming dan perubahan iklim.

Hidup dengan Eco-Anxiety: Meningkatnya Stres dan Kegelisahan Batin

Perubahan iklim, yang kini merupakan krisis global, tentu menimbulkan kekhawatiran dan stres yang menyelimuti kehidupan sehari-hari masyarakat luas. Kekhawatiran ini disebabkan oleh berbagai hal seperti ketidakpastian tentang masa depan, perubahan cuaca ekstrem, naiknya permukaan air laut, sampai perubahan ekologi drastis. Karena saat ini semakin sering terjadi pencairan lapisan es di kutub yang berulang-ulang, kebakaran hutan dahsyat, dan frekuensi angin topan serta badai yang terus meningkat, sangat wajar jika kekhawatiran kita dipicu oleh pikiran-pikiran tentang potensi konsekuensi dari perubahan lingkungan ini.

Hampir semua orang menjadi khawatir mengenai ketersediaan sumber daya, ketahanan pangan, dan kelayakhunian wilayah yang terkena dampak bencana iklim. Ini semua tentunya sangat bisa memicu tekanan mental, mulai dari tingkat individu hingga masyarakat secara kolektif. Banyak orang yang dilanda rasa takut; takut kehabisan sumber daya, takut tertimpa bencana alam yang masif, dan juga takut kehilangan eksistensi kita di planet biru ini.

Photo by Andrew Neel on Pexels.com

Ketegangan mental yang subtil tetapi bertahan lama ini dikenal dengan istilah kecemasan lingkungan alias eco-anxiety. Eco-anxiety mewakili fenomena masa kini yang berasal dari kesadaran bahwa perubahan iklim akan memberikan pengaruh dahsyat kepada setiap aspek kehidupan kita. Hilangnya harapan akan adanya perubahan baik di masa depan, yang disertai dengan perasaan tidak berdaya, bisa berpotensi meningkatkan tingkat kecemasan dan stres, yang pada akhirnya akan memengaruhi kesejahteraan mental dan menumbuhkan kegelisahan batin mengenai masa depan planet kita.

Menyadari beban emosional kolektif ini, serta mengambil tindakan untuk menghadapinya bersama-sama tentunya menjadi sangat penting, terutama ketika individu modern sekarang menghadapi berbagai tantangan tanpa henti yang disebabkan oleh perubahan iklim ekstrem. Kita harus ingat bahwa semua ini dirasakan bersama-sama, dan kita tidak sendirian.

Luka Emosional akibat Pengungsian dan Bencana Alam, serta Trauma Akibat Perubahan Iklim

Konsekuensi emosional dari pengungsian dan trauma akibat peristiwa-peristiwa yang disebabkan oleh perubahan iklim, seperti angin topan, kebakaran hutan, dan banjir, memberikan beban yang sangat besar kepada individu dan masyarakat luas. Ketika tempat tinggal kita dirusak, harta benda lenyap, dan kehidupan dilanda kekacauan akibat bencana alam yang tak henti-hentinya, luka emosional yang ditimbulkan tentunya semakin mendalam.

Bagi orang-orang yang terpaksa meninggalkan rumah mereka karena terjadi badai atau mengungsi saat kebakaran hutan meluas, pengalaman mengungsi dan kehilangan menyertai bisa terasa sangat menyedihkan. Perasaan disorientasi berat, ditambah dengan kesedihan atas harta benda dan keluarga yang ditinggalkan, sering kali menimbulkan rangkaian beban emosional kompleks, dan bisa memicu kecemasan, depresi, dan hingga stres pasca-trauma.

Selama masa-masa kritis bencana ini, masyarakat juga bisa memikul beban trauma bersama selagi mereka bersatu untuk saling mendukung rekan-rekan yang tertimpa kemalangan. Jadi, meskipun saling berbagi pengalaman di tengah reruntuhan pasca bencana bisa membangkitkan harapan baru, serta menumbuhkan semangat ketahanan kolektif, tetapi hal ini juga dapat menimbulkan trauma komunal.

Sangat penting bagi kita untuk memvalidasi cobaan emosional yang dihadapi oleh para korban yang terkena dampak krisis iklim dan memberikan dukungan penting yang diperlukan untuk memfasilitasi pemulihan dan penyembuhan individu dan komunitas. Trauma psikis akibat krisis iklim tidak boleh diabaikan. Bersama-sama, diharapkan kita bisa bangkit lagi dan siap menghadapi tantangan baru.

Dampak Krisis Iklim Lebih Berat Bagi Anak dan Remaja Kelompok Rentan

Kelompok demografis yang paling rentan dan mudah terpengaruh, yaitu anak-anak dan remaja, sering kali merasakan dampak terburuk perubahan iklim terhadap kesehatan mental. Mereka memang tumbuh dewasa di era di mana kepedulian terhadap ekologi semakin menonjol, sehingga pada saat bersamaan, mereka juga mengalami kecemasan sedari dini. Ketidakpastian akan masa depan yang suram, ditambah dengan banyaknya berita-berita yang mengecewakan mengenai krisis iklim, dapat mengakibatkan meningkatnya kecemasan.

Beban ini terutama dirasakan oleh generasi muda yang mempunyai keterbatasan ekonomi. Kelompok-kelompok ini umumnya tinggal di wilayah yang paling rentan terhadap risiko lingkungan dan sering terhambat dalam mengakses bantuan serta layanan kesehatan mental yang dapat meringankan kesulitan emosional tersebut. Faktor stres yang mereka hadapi, seperti ketidakstabilan pangan dan keamanan tempat tinggal, yang diperparah oleh dampak perubahan iklim, akan meningkatkan kerentanan mereka terhadap berbagai masalah kesehatan mental.

Bencana alam yang disebabkan oleh perubahan iklim, seperti angin topan, kebakaran hutan, dan banjir, berpotensi menimbulkan trauma mendalam bagi generasi muda. Pergolakan, ketakutan, dan kehancuran yang diakibatkan oleh bencana alam dapat mengakibatkan luka emosional berkepanjangan. Anak-anak yang berasal dari kelompok ekonomi rendah seringkali menderita trauma yang lebih berat, karena mereka kekurangan sumber daya yang diperlukan untuk pemulihan dari krisis.

Selain itu, pengungsian dan kegelisahan yang disebabkan oleh krisis iklim dapat menimbulkan masalah kesehatan mental berkepanjangan, yang dimulai sejak masa kanak-kanak dan remaja, lalu bertahan hingga dewasa. Bagi para generasi muda ini, sayangnya, masa-masa tumbuh-kembang mereka dikuasai bayang-bayang pergolakan lingkungan dan kekecewaan berat, ditambah lagi adanya kesenjangan sistemik yang menjadikan mereka lebih rentan.

Photo by Ahmed Akacha on Pexels.com

Kerentanan anak-anak dan remaja terhadap dampak perubahan iklim terhadap kesehatan mental ini diperkuat oleh konsep interseksionalitas. Kelompok rentan, termasuk komunitas marginal, perempuan, individu kulit berwarna, dan masyarakat adat, sering kali terpaksa menghadapi berbagai bentuk diskriminasi dan kesulitan hidup.

Interseksionalitas ini tentunya semakin memperparah beban emosional yang diakibatkan oleh perubahan iklim. Sebagai ilustrasi, anak-anak perempuan dari komunitas yang terpinggirkan bisa menghadapi serangkaian hambatan yang berbeda, karena mereka secara bersamaan menghadapi beberapa masalah sekaligus, mulai dari diskriminasi berbasis gender, kesenjangan ekonomi, hingga bahaya lingkungan.

Mengatasi tantangan kesehatan mental pada anak-anak dan remaja yang dipicu oleh perubahan iklim memerlukan pengakuan dan dekonstruksi kesenjangan sistemik yang berdampak tidak merata pada kelompok-kelompok tersebut. Ini artinya, kita harus berusaha mencegah beban dari dampak yang tidak semestinya terkait krisis iklim, yang ditanggung oleh kelompok masyarakat yang paling rentan.

Memberdayakan Komunitas dan Mengambil Tindakan Kolektif Demi Ketahanan Iklim

Tantangan-tantangan ini tentunya harus menginspirasi kita untuk menggarisbawahi pentingnya penerapan segera sistem dukungan kesehatan mental yang luas dan strategi ketahanan iklim, yang harus dirancang khusus untuk menjaga kesejahteraan emosional anak-anak dan remaja dari latar belakang marginal yang selama ini terpinggirkan, sebagai kelompok yang paling menderita akibat dampak krisis ini.

Saat ini, sangatlah penting untuk menyadari bahwa saat kita menyesuaikan diri dengan perubahan iklim, kita juga harus mengubah pendekatan kita terhadap kesehatan mental. Selama ini kita menganggap cuaca sebagai sesuatu yang tidak penting; padahal, perubahan iklim kini menjadi salah satu faktor yang memicu tekanan psikologis di dalam diri kita.

Mengingat dampak perubahan iklim yang amat berat terhadap kesehatan mental ini, seharusnya kini kita mulai menyadari hubungan rumit antara transformasi lingkungan dan kesejahteraan emosional kita. Mulai dari kecemasan lingkungan hingga trauma emosional yang ditimbulkan oleh bencana alam terkait iklim, perpaduan mengerikan antara perubahan iklim dan kesehatan mental merupakan masalah yang semakin mendesak.

Selagi kita sama-sama beradaptasi terhadap perubahan iklim, sangatlah penting untuk menjaga kesehatan mental kita, karena bahwa tantangan yang kita hadapi tidak hanya terbatas pada perubahan iklim belaka, tetapi juga pada pikiran dan emosi orang-orang yang terkena dampaknya. Semoga cepat hadir solusi untuk mengakomodasi semuanya.

Artikel ini adalah saduran bebas dari tulisan Miranda Malonka di publikasi Medium Stay Sane, Society!, Oktober 2023.

Satu tanggapan untuk “Dampak Kesehatan Mental, Yang Terlupakan dari Krisis Iklim”

  1. Mengatasi Perubahan Iklim Melalui Lensa Kesetaraan Gender: Berkaca pada Kasus Wadas dan Kendeng | Dokter Tanpa Stigma Avatar

    […] Baca Juga: Dampak Kesehatan Mental, Yang Terlupakan dari Krisis Iklim […]

    Suka

Tinggalkan komentar