Kekerasan pasangan intim (intimate partner violence/IPV) adalah masalah sosial serta isu kesehatan masyarakat yang sangat meresahkan dan dapat mengenai siapa pun dari berbagai kalangan. IPV sendiri merupakan bagian dari kekerasan berbasis gender dan seksual (KBGS), meskipun kekerasan dapat terjadi kepada siapa pun, terlepas dari identitas gendernya. Tenaga medis memiliki peran penting dalam mengenali dan menangani IPV agar dapat memberikan layanan kesehatan terbaik bagi korban dan penyintas. Bagaimana peran penting tenaga kesehatan (nakes) dalam hal ini?

Kekerasan pasangan intim atau IPV merupakan perilaku pasangan atau mantan pasangan yang menyebabkan cedera fisik, seksual, ataupun psikologis. Yang termasuk IPV antara lain kekerasan fisik, pemaksaan seksual, kekerasan psikologis, dan perilaku manipulatif atau controlling. Mengenali IPV bisa jadi sangat sulit, karena kejadianna sering kali tersembunyi dan korban enggan mengungkapkan pengalaman mereka karena berbagai alasan.

Mengenali Tanda-Tanda IPV di Ranah Medis

Ketika menemukan pasien dengan temuan gejala-gejala dan hasil pemeriksaan berikut, penting bagi nakes untuk mempertimbangkan apakah pasien tersebut merupakan korban kekerasan pasangan intim. Hal-hal yang bisa ditemukan dalam riwayat ataupun pemeriksaan pasien antara lain:

Indikator Fisik

  • Cedera seperti memar yang tidak dapat dijelaskan, patah tulang, luka bakar, atau cedera lainnya. Pasien sering berobat ke fasilitas kesehatan karena sering cedera.
  • Kondisi kronis seperti sakit kepala berulang, gangguan gastrointestinal, nyeri panggul, dan infeksi menular seksual (IMS/STI).

Indikator Psikologis

  • Masalah kesehatan mental seperti gejala depresi, kecemasan, gangguan stres pasca trauma (PTSD), atau pikiran untuk bunuh diri.
  • Perubahan perilaku seperti menarik diri, harga diri rendah, ketakutan, dan perhatian berlebihan untuk menyenangkan pasangan.

Indikator Sosial

  • Isolasi diri berupa interaksi sosial yang terbatas, akses terbatas ke teman, keluarga, atau sumber daya dari komunitas.
  • Ketergantungan ekonomi akibat kontrol finansial oleh pasangan, kurangnya akses ke dana pribadi atau dilarang memiliki pekerjaan.
Photo by Pixabay on Pexels.com

Langkah-Langkah Menangani IPV Bagi Nakes

#1) Ciptakan Lingkungan yang Aman

Pastikan konsultasi dilakukan di tempat yang menjamin privasi, di mana korban/penyintas merasa aman dan nyaman serta kerahasiaannya terjaga. Berikan ruang aman bagi korban, serta berikan empati serta jangan menghakimi. Ciptakan lingkungan di mana mereka merasa nyaman untuk berbagi pengalaman mereka.

#2) Buat Assessment

Skrining IPV haruslah dilakukan secara rutin, terutama untuk pasien yang menunjukkan beberapa indikator kekerasan. Gunakan tipe pertanyaan langsung untuk mengawali assessment tentang IPV. Contoh-contoh pertanyaan langsung termasuk:

  • “Apakah Anda pernah disakiti secara fisik oleh pasangan Anda?”
  • “Apakah Anda merasa takut dengan pasangan Anda?”
  • “Apakah pasangan Anda pernah memaksa Anda melakukan aktivitas seksual?”

#3) Berikan Dukungan dan Sumber Daya

Lakukan first-line support alias dukungan lini pertama dengan cara menerapkan pendekatan LIVES (Listening, Inquiring about needs and concerns, Validating, Enhancing safety, Supporting). Dengarkan secara aktif, validasi pengalaman mereka, dan berikan dukungan tanpa menekan mereka untuk mengambil tindakan tertentu.

Baca Juga: Dukungan Lini Pertama Tenaga Medis untuk Korban Perkosaan dan KDRT

Berikan informasi tentang sumber daya yang tersedia seperti tempat penampungan, layanan konseling, dan bantuan hukum. Bantu korban dengan rujukan ke layanan-layanan ini sesuai kebutuhan mereka. Selain itu, bantulah mereka mengembangkan rencana keselamatan yang mencakup langkah-langkah praktis untuk melindungi diri mereka dari bahaya lebih lanjut, seperti mengidentifikasi tempat-tempat aman, mengatur transportasi, dan memiliki kontak darurat.

#4) Dokumentasi dan Pertimbangan Hukum

Dokumentasikan semua temuan termasuk riwayat penyintas, hasil pemeriksaan fisik, dan perawatan apa pun yang diberikan. Gunakan formulir dan piktogram standar seperti yang direkomendasikan dalam pedoman WHO. Jangan lupa lakukan informed consent sebelum melakukan prosedur apa pun dan sebelum membagikan informasi apa pun dengan pihak ketiga atau pihak otoritas. Jelaskan potensi implikasi dan pastikan penyintas memahami dan menyetujui tindakan tersebut.

Photo by Pixabay on Pexels.com

#5) Tindak Lanjut dan Perawatan Jangka Panjang

  • Jadwalkan follow up secara rutin untuk memantau kesejahteraan fisik dan emosional penyintas. Berikan dukungan berkelanjutan dan sesuaikan rencana perawatan sesuai kebutuhan.
  • Jangan lupakan masalah kesehatan mental. Rujuk ke layanan kesehatan mental untuk penilaian dan pengobatan lebih lanjut untuk kondisi seperti depresi, kecemasan, atau PTSD.
  • Dorong penyintas untuk membangun jaringan dukungan dari teman, keluarga, atau anggota komunitas. Berdayakan mereka untuk membuat keputusan yang tepat tentang hidup dan kesehatan mereka.
  • Lakukan advokasi untuk kebijakan dan program yang mendukung penyintas IPV dan edukasi komunitas tentang dampak IPV dan pentingnya mencari bantuan.

Kesimpulan

Mengenali dan menangani kekerasan dalam hubungan intim (IPV) adalah tanggung jawab penting bagi kita sebagai tenaga kesehatan. Selalu berikan empati dan pelayanan medis yang tidak menghakimi korban, serta ikuti prinsip untuk menciptakan ruang aman, melakukan skrining menyeluruh, menawarkan sumber daya yang mendukung, dan memastikan tindak lanjut yang berkelanjutan. Melalui upaya ini, para tenaga medis Indonesia diharapkan dapat memberikan dampak yang signifikan pada kehidupan penyintas dan berkontribusi pada keselamatan, kesehatan, dan pemberdayaan mereka.

Artikel ini adalah bagian kedua dari seri Manajemen Klinis Korban Perkosaan untuk Tenaga Kesehatan, rangkuman dari workshop Komunitas Dokter Tanpa Stigma bersama Yayasan IPAS Indonesia. Lihat Perpustakaan Dokter Tanpa Stigma untuk daftar panduan penanganan KBGS bagi nakes di sini.

2 tanggapan atas “Mengenali dan Menangani Intimate Partner Violence (IPV) bagi Nakes”

  1. Dokumentasi dan Pelaporan Hukum Korban Perkosaan dan KDRT: Panduan untuk Tenaga Medis – Dokter Tanpa Stigma Avatar

    […] Baca Juga: Menangani dan Mengenali Intimate Partner Violence (IPV) Bagi Nakes […]

    Suka

  2. Mengapa Femisida Bukan Sekadar Pembunuhan Biasa? – Dokter Tanpa Stigma Avatar

    […] Baca Juga: Mengenali dan Menangani Intimate Partner Violence (IPV) bagi Nakes […]

    Suka

Tinggalkan komentar