Bagi tenaga medis, dokumentasi dan pelaporan hukum adalah salah satu komponen penting dalam manajemen klinis korban perkosaan dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Dokumentasi yang tepat haruslah berisikan catatan medis dan hukum yang komprehensif, karena amat penting untuk perawatan kesehatan korban dan proses hukum selanjutnya. Berikut ialah panduan rinci untuk tenaga kesehatan (nakes) tentang proses dokumentasi dan pelaporan hukum berdasarkan pedoman dari dokumen WHO tentang manajemen klinis korban perkosaan dan KDRT.

Dokumentasi yang akurat berisikan dua hal penting, yaitu catatan rekam medis serta bukti-bukti hukum. Catatan rekam medis berisikan catatan komprehensif tentang kondisi fisik dan psikologis korban dari hasil pemeriksaan dokter, sebagai dasar perawatan medis lanjutan. Rekam medis yang baik juga akan bisa memastikan korban/penyintas mendapatkan tindak lanjut yang baik di kemudian hari. Sementara itu, dokumentasi bukti hukum juga sangat penting dan dapat mendukung korban dalam proses hukum.

Photo by RDNE Stock project on Pexels.com

Langkah-Langkah Dokumentasi yang Efektif Bagi Nakes

Penilaian Awal dan Anamnesis

1. Informasi Umum:

  • Catat identitas lengkap korban mulai dari nama lengkap, usia, jenis kelamin, informasi kontak, hingga tanggal serta waktu pemeriksaan.
  • Dokumentasikan nama dan peran penyedia layanan kesehatan yang bertugas serta personel pendukung yang hadir selama pemeriksaan.

2. Riwayat Medis:

  • Lakukan anamnesis riwayat medis dengan terperinci, termasuk kondisi atau penyakit penyerta lain yang ada, obat-obatan yang dikonsumsi saat ini, riwayat alergi, dan riwayat keluarga, dan riwayat operasi sebelumnya.
  • Tanyakan tentang riwayat kesehatan seksual dan reproduksi korban, termasuk detail siklus menstruasi, penggunaan kontrasepsi, dan riwayat infeksi menular seksual (IMS).

3. Detail Insiden:

  • Dokumentasikan penuturan korban tentang insiden dalam kata-kata mereka sendiri, termasuk juga tanggal, waktu, lokasi, dan jenis kekerasan yang terjadi.
  • Tanyakan tindakan yang diambil oleh korban pasca insiden, seperti mandi, buang air kecil, atau mengganti pakaian yang dapat mempengaruhi pengumpulan bukti forensik.

Baca Juga: Menangani dan Mengenali Intimate Partner Violence (IPV) Bagi Nakes

Pemeriksaan Fisik dan Status Mental

1. Pemeriksaan Umum:

  • Lakukan pemeriksaan fisik yang menyeluruh. Dokumentasikan setiap cedera yang terlihat, bersama dengan ukuran, bentuk, lokasi, dan warna lesi. Gunakan diagram medis atau piktogram untuk menunjukkan lokasi cedera secara tepat.
  • Catat tanda-tanda cedera defensif seperti memar, luka, atau abrasi pada lengan, kaki, atau tangan.

2. Pemeriksaan Genital dan Anal:

  • Lakukan pemeriksaan rinci pada area genital dan anal. Dokumentasikan tanda-tanda trauma, pendarahan, cairan, atau infeksi. Gunakan terminologi yang tepat dan diagram anatomis untuk akurasi.
  • Kumpulkan sampel forensik sesuai dengan protokol lokal, serta pastikan pelabelan dan penanganan sampel yang tepat untuk menjaga rantai pengawasan.

3. Penilaian Kesehatan Mental:

  • Lakukan penilaian keadaan mental korban; catat tanda-tanda distress, kecemasan, depresi, atau gangguan stres pasca-trauma (PTSD).
  • Dokumentasikan setiap dukungan psikologis yang diberikan, lalu rujuk korban ke layanan kesehatan mental untuk penilaian dan perawatan lebih lanjut.
Photo by Pixabay on Pexels.com

Pelaporan Hukum yang Penting Diketahui Nakes

1. Memulai dengan Informed Consent

Sebelum memulai tindakan apa pun, jabarkan sejelas-jelasnya proses dokumentasi dan pelaporan hukum kepada korban, termasuk tujuan dan potensi penggunaan catatan dalam proses hukum. Dapatkan informed consent sebelum melakukan pemeriksaan, mengumpulkan sampel forensik, mengambil foto, atau membagikan informasi dengan otoritas hukum. Gunakan formulir persetujuan yang mencakup detail setiap langkah proses.

2. Kenali Kasus Wajib Lapor

Kenali hukum dan regulasi lokal mengenai pelaporan wajib kasus perkosaan dan KDRT. Ini mungkin termasuk persyaratan untuk melaporkan ke penegak hukum, layanan sosial, atau otoritas lainnya. Patuhi protokol pelaporan wajib dan pastikan bahwa korban diberitahu tentang persyaratan pelaporan serta potensi implikasi keselamatan dan kasus hukum mereka.

Baca Juga: Ruang Aman Membangun Keberpihakan Tenaga Medis pada Korban Kekerasan Seksual

3. Pengumpulan Bukti Forensik

Pastikan semua bukti forensik dikumpulkan, dilabeli, dan disimpan sesuai dengan protokol yang berlaku untuk menjaga rantai pengawasan, termasuk menggunakan kemasan yang tahan terhadap kerusakan dan mendokumentasikan setiap proses transfer barang bukti. Simpan catatan rinci tentang semua sampel forensik yang dikumpulkan, termasuk tanggal, waktu, dan metode pengumpulan serta nama personel yang terlibat dalam penanganan bukti.

4. Penulisan Laporan Medikolegal

Ketika menuliskan visum yang diminta oleh aparat hukum, pastikan mengikuti aturan yang berlaku tentang visum et repertum. Pencatatan laporan lainnya juga harus mengikuti kaidah-kaidah seperti:

  • Gunakan format terstruktur untuk laporan medikolegal termasuk bagian informasi umum, riwayat medis, detail insiden, temuan pemeriksaan fisik, dan bukti forensik yang dikumpulkan.
  • Gunakan bahasa yang objektif dan tidak menghakimi untuk menggambarkan temuan. Hindari membuat asumsi atau menarik kesimpulan tentang insiden.
  • Pastikan bahwa laporan jelas, ringkas, dan bebas dari jargon medis. Sertakan ringkasan temuan utama dan potensi implikasi medis serta hukum yang ada.

5. Kesaksian di Pengadilan

Dalam kasus kekerasan seksual atau KDRT, tenaga medis dapat diundang ke persidangan sebagai saksi ahli. Lakukan kesaksian yang baik dengan cara-cara berikut:

  • Persiapkan diri dengan baik sebelum memberikan kesaksian di pengadilan. Tinjau catatan medis, bukti forensik, dan setiap pernyataan sebelumnya yang dibuat.
  • Pertahankan sikap profesional di pengadilan, berikan kesaksian yang jelas dan akurat berdasarkan temuan yang didokumentasikan.
  • Tetap berpegang pada pernyataan faktual dan hindari memberikan pendapat pribadi atau berspekulasi tentang insiden.
Photo by Towfiqu barbhuiya on Pexels.com

Menjadi Tenaga Medis yang Empatik terhadap Korban

Dalam proses kasus kekerasan berbasis gender, tenaga medis memiliki peran yang sangat penting dan juga sensitif. Maka dari itu, nakes harus menciptakan lingkungan yang mendukung berupa ruang aman bagi korban. Pastikan semua konsultasi dan pemeriksaan dilakukan di tempat yang privasi dan rahasia. Jaga kerahasiaan catatan medis dan dokumen hukum. Lakukan pendekatan dengan empati dan sensitivitas, memvalidasi trauma mereka dan memberikan jaminan serta dukungan moral kepada korban.

Jangan lupa untuk selalu melakukan update prosedur hukum terbaru serta belajar meningkatkan empati untuk memastikan bahwa korban menerima dukungan dan keadilan yang pantas mereka dapatkan. Melalui upaya maksimal dalam proses hukum, tenaga medis dapat memberikan dampak yang signifikan pada kehidupan korban dan berkontribusi pada keselamatan, kesehatan, dan pemberdayaan mereka.

Artikel ini adalah bagian ketiga dari seri Manajemen Klinis Korban Perkosaan untuk Tenaga Kesehatan, rangkuman dari workshop Komunitas Dokter Tanpa Stigma bersama Yayasan IPAS Indonesia. Lihat Perpustakaan Dokter Tanpa Stigma untuk daftar panduan penanganan KBGS bagi nakes di sini.

Tinggalkan komentar