Artikel ini adalah bagian 1 dari 4 refleksi dari pelatihan VCAT KBGS untuk tenaga kesehatan di Palu yang diadakan oleh Yayasan Pribudaya, Komunitas Dokter Tanpa Stigma, dan Yayasan Philia, dengan dukungan dari Ipas Collaborative Action Fund FY25.

Kota Palu, Sulawesi Tengah, telah tercatat sebagai wilayah dengan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak tertinggi. Data tahun 2023 menunjukkan bahwa Palu menghadapi tantangan serius terkait kekerasan berbasis gender, dengan ketidakstabilan pascabencana, ketegangan sosial, dan ketidakamanan ekonomi yang memperparah peningkatan kasus.

Photo by RDNE Stock project on Pexels.com

Menurut data statistik tahun 2023, Palu mencatat 77 kasus, Buol 54 kasus, dan Sigi 50 kasus. Angka ini menunjukkan peningkatan drastis kekerasan terhadap perempuan dan anak. Faktor utama penyebab kekerasan ini antara lain kemiskinan, terbatasnya akses pendidikan, dan ketimpangan gender. Bentuk kekerasan yang paling dominan di Sulawesi Tengah adalah kekerasan seksual, terutama terhadap anak-anak, yang meningkat tajam pasca bencana dan menempatkan wilayah ini dalam situasi darurat.

Pada tanggal 11–12 Mei 2025, telah dilaksanakan kegiatan Pelatihan Values Clarification for Action and Transformation (VCAT) tentang Kekerasan Berbasis Gender dan Seksual untuk tenaga kesehatan di Palu, Sulawesi Tengah. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Yayasan Pribudaya, Komunitas Dokter Tanpa Stigma, dan Yayasan Philia, dengan dukungan dari Ipas Collaborative Action Fund FY25.

Tenaga Kesehatan Perlu Pelatihan KBGS

Sebagai organisasi yang memberikan layanan konseling harian dan dukungan langsung bagi penyintas KGBS, Yayasan Pribudaya dan Philia kerap menghadapi tantangan dalam merujuk penyintas ke tenaga medis yang bebas stigma dan inklusif. Banyak tenaga kesehatan yang belum memahami pendekatan trauma-informed care, sehingga kerap merespons dengan penilaian moral, skeptisisme, bahkan menghakimi—hal ini memperburuk trauma dan menghambat penyintas untuk mencari pertolongan medis.

Saat ini, meskipun telah disahkan undang-undang baru yang menjamin akses layanan medis bagi penyintas, layanan medis standar belum terintegrasi dalam penanganan KGBS. Akibatnya, banyak tenaga kesehatan belum memiliki perspektif dan pelatihan yang berpusat pada penyintas. Hal ini mengakibatkan:

  • Re-traumatisasi penyintas akibat sikap menghakimi dan meremehkan dari tenaga kesehatan.
  • Respon klinis yang tidak memadai, dokumentasi kasus yang buruk, dan rujukan penyintas yang tidak efektif.
  • Penolakan untuk memberikan layanan penting, termasuk kontrasepsi darurat, post-exposure prophylaxis (PEP), dan pengumpulan bukti forensik.

Oleh karena itu pelatihan ini dirancang untuk membantu tenaga kesehatan menggali, memahami, dan merefleksikan nilai-nilai pribadi yang dapat memengaruhi cara mereka memberikan layanan—terutama dalam kasus-kasus kesehatan reproduksi dan kekerasan berbasis gender. Diharapkan kegiatan ini dapat menjadi ruang pembelajaran kolektif, penguatan kapasitas, serta kolaborasi berkelanjutan dalam wadah Community of Practice (CoP).

Kegiatan ini juga akan mendukung upaya Komunitas Dokter Tanpa Stigma dalam memperkuat basisnya di kawasan timur Indonesia dengan meningkatkan jumlah tenaga kesehatan non-stigmatis di area-area rentan.

Pelatihan ini diikuti oleh 28 peserta yang berasal dari berbagai latar belakang kesehatan: psikolog klinis, bidan, perawat, dan petugas lapangan dari Puskesmas, rumah sakit, lembaga pendamping, dan organisasi layanan di Kota Palu. Kegiatan ini difasilitasi oleh Beth Resistia dan Emir Jayaringga, gabungan tim Yayasan Pilar Harapan Mulia Indonesia (PHILIA) dan Komunitas Dokter Tanpa Stigma, yang merupakan certified trainer untuk pelatihan VCAT.

Hope & Hesitation: Membuka Pelatihan dengan Kejujuran

Pelatihan diawali dengan sesi “Do’s & Don’ts + Trigger Warning” di mana peserta menyusun aturan kelas bersama, mengenali kemungkinan pemicu trauma, serta diperkenalkan pada grounding corner—ruang pemulihan emosional bagi peserta yang merasa kewalahan selama sesi berlangsung.

Baca Juga: Kontrasepsi, Consent, dan Peran Laki-Laki: Membongkar Narasi Reproduksi dalam Rumah Tangga

Dilanjutkan dengan sesi “Hope & Hesitation”, di mana peserta diminta menuliskan harapan dan keraguan mereka secara anonim. Ini menjadi potret awal dari kondisi batin peserta.

Beberapa harapan yang disampaikan peserta, antara lain:

  • Ingin lebih paham soal perspektif korban
  • Ingin tahu bagaimana sikap profesional seharusnya saat menghadapi kasus sensitif
  • Ingin membuka pikiran dan belajar tanpa menghakimi

Sementara, keraguan yang muncul antara lain:

  • Takut nilai agama dan pribadi bertentangan dengan isi pelatihan
  • Takut tidak nyaman membahas isu seperti aborsi dan kekerasan seksual
  • Cemas membuka pengalaman pribadi yang traumatis

Setiap sesi utama dalam VCAT dirancang dengan pendekatan partisipatif dan bertahap membangun rasa aman serta kepercayaan antar peserta, antara lain Reasons Why, Cross the Line, Four Corners, dan Why X Die.

🟩 Reasons Why: Belajar Memahami Konteks

Peserta dibagi dalam kelompok dan mendiskusikan penyebab mendalam dari berbagai fenomena seperti penggunaan kontrasepsi, kehamilan tidak diinginkan, aborsi, dan kekerasan. Tujuannya adalah mengenali bahwa setiap tindakan memiliki konteks sosial dan struktural, bukan semata-mata keputusan individual.

Dalam sesi ini, peserta diajak merefleksikan alasan-alasan di balik pengambilan maupun penolakan sebuah pilihan. Isu-isu yang dibahas sangat berkaitan erat dengan nilai-nilai pribadi, pengalaman hidup, serta pengalaman klinis para peserta yang berprofesi sebagai tenaga kesehatan. Meski begitu, peserta yang bukan tenaga kesehatan juga turut berkontribusi dengan sudut pandang awam yang justru memperkaya diskusi. 

Setiap kelompok diberikan empat pertanyaan untuk didiskusikan bersama. Pertanyaannya sederhana, tapi cukup menantang nilai, seperti, “Mengapa perempuan berhubungan seks?” atau “Mengapa perempuan atau orang hamil lainnya berupaya menghentikan kehamilannya?” Pertanyaan-pertanyaan ini sering kali terasa mengganggu, karena bisa bertabrakan langsung dengan nilai-nilai pribadi, keyakinan moral, atau norma sosial yang selama ini diyakini peserta.

Photo by Tima Miroshnichenko on Pexels.com

Namun justru di sinilah letak pentingnya sesi ini: peserta tidak diminta untuk menyetujui tindakan tersebut, melainkan untuk mencoba memahami alasan di baliknya. Mengapa seseorang memilih untuk melakukan sesuatu yang bagi sebagian orang dianggap “salah”? Apa konteks, kebutuhan, atau tekanan yang melatarbelakanginya? Dalam ruang diskusi ini, peserta belajar untuk menahan penghakiman, dan mulai melihat bahwa di balik setiap keputusan, bahkan yang sulit diterima, ada cerita, pengalaman, dan kondisi yang tidak selalu hitam-putih.

Baca Juga: Ketika Sistem yang Membunuh, Bukan Perempuan: Menilik Isu Aborsi di VCAT

Sesi ini memaksa peserta untuk menggali lebih dalam: apakah kita benar-benar paham alasan seseorang mengambil keputusan? Atau kita hanya bereaksi berdasarkan nilai yang sudah otomatis tertanam dalam diri? Di titik inilah dialog menjadi ruang transformasi. Ketika peserta mulai mengartikulasikan alasan-alasan yang sebelumnya mungkin enggan diucapkan, diskusi berubah menjadi proses refleksi, bukan hanya tentang “orang lain”, tapi juga tentang diri sendiri dan cara kita memandang dunia.

🟦 Cross the Line: Menanggapi Pertanyaan Sensitif

Ini adalah sesi reflektif di mana peserta berdiri atau tetap di tempat untuk merespons pernyataan-pernyataan sensitif seperti: “Saya percaya korban kekerasan harus diberi akses aborsi aman”. Respons yang terlihat dalam bentuk gerakan fisik ini menciptakan ruang tanpa debat verbal namun penuh makna emosional.

Sesi Cross the Line merupakan sesi yang cukup ringan namun tetap efektif dalam memantik diskusi seputar isu-isu yang diangkat. Setiap nilai atau perspektif yang disampaikan peserta kemudian diklarifikasi oleh fasilitator. Tak jarang, dalam prosesnya, beberapa peserta mengubah pendapat mereka terhadap suatu pernyataan. Hal ini sangat wajar dan bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kurangnya pemahaman terhadap pernyataan awal, atau karena merasa lebih ‘relate’ setelah mendapatkan klarifikasi dari fasilitator.

Sebagai contoh, saat muncul pernyataan “Perempuan mengalami kekerasan seksual karena berada di waktu dan tempat yang salah,” respons peserta pun beragam. Beberapa yang merasa ‘relate’ langsung melintas batas, sementara yang lain memilih tetap di tempat. Namun, setelah fasilitator menjelaskan bahwa frasa “waktu dan tempat yang salah” bisa dimaknai secara harfiah—misalnya larut malam, tempat gelap, atau lokasi yang rawan kekerasan—maupun secara tidak harfiah, seperti situasi relasi yang tidak setara atau dinamika kuasa dalam hubungan, beberapa peserta pun mulai mempertimbangkan ulang posisi mereka. Ada yang melintas batas setelah mendapatkan pemahaman baru, dan ada pula yang justru kembali ke posisi awal karena menyadari makna pernyataan dari sudut pandang yang berbeda.

Sesi Cross the Line juga sangat cocok digunakan di awal sesi VCAT, karena membantu fasilitator untuk mengamati homogenitas maupun keragaman nilai-nilai yang masih melekat pada peserta. Melalui pengamatan terhadap respons peserta atas berbagai pernyataan, fasilitator dapat menyesuaikan pendekatan, alur, dan dinamika sesi selanjutnya agar lebih relevan dan responsif terhadap kondisi kelompok. Dengan begitu, diskusi yang terbentuk menjadi lebih kontekstual, bermakna, dan transformatif.

🟨 Four Corners: Melihat Berbagai Sudut Pandang

Di sesi ini, peserta diminta memilih posisi terhadap pernyataan kontroversial, misalnya: “Aborsi adalah tindakan membunuh janin.” Perbedaan pendapat tidak dihindari, melainkan dijadikan peluang untuk saling belajar, dengan fasilitator menjaga ruang diskusi agar tetap empatik.

Sesi Four Corners mengajak peserta untuk melangkah lebih jauh dalam memahami alasan di balik sebuah keputusan. Bukan dari sudut pandang pribadi, melainkan dengan mencoba melihatnya dari perspektif orang lain. Dalam sesi ini, peserta tidak memilih posisi terhadap suatu pernyataan, melainkan diminta memposisikan diri mereka sesuai dengan jawaban orang lain, dan mencoba mengartikulasikan alasan mengapa orang tersebut mungkin membuat pilihan tersebut.

Sesi ini terdiri dari dua bagian utama: refleksi personal dan kegiatan kelompok.

  • Pada bagian refleksi personal, peserta mengisi dua lembar kerja. Lembar Kerja A diisi berdasarkan sudut pandang orang lain, tanpa mencantumkan nama. Lembar Kerja B kemudian diisi berdasarkan sudut pandang pribadi untuk isu yang sama. Setelah kedua lembar selesai diisi, peserta diminta mengamati kesamaan dan perbedaan di antara keduanya. Proses ini mendorong peserta untuk merefleksikan kemungkinan adanya standar ganda dalam menilai suatu situasi.
  • Selanjutnya dalam kegiatan kelompok, lembar kerja B diremas menjadi bola kertas dan dikumpulkan secara acak. Setiap peserta akan menerima salah satu bola kertas tersebut, lalu diminta memosisikan diri sebagai pemiliknya. Peserta mencoba memahami dan menjelaskan alasan di balik pilihan yang tertulis, seolah-olah itu adalah pandangan mereka sendiri. Proses ini menjadi latihan empati yang penting karena menantang peserta untuk memahami keputusan yang mungkin sangat berbeda dengan keyakinan pribadi mereka.
Photo by cottonbro studio on Pexels.com

Inilah inti dari sesi Four Corners. Peserta diajak untuk sejenak melepaskan nilai-nilai yang diyakininya dan membuka diri terhadap cara pandang yang mungkin sangat berbeda. Fokusnya bukan lagi pada menilai sebuah pilihan sebagai benar atau salah, melainkan memahami konteks yang melatarbelakangi pilihan tersebut. Bisa jadi keputusan itu dipengaruhi tekanan, keterbatasan, pengalaman hidup, atau keyakinan bahwa itulah pilihan terbaik yang tersedia bagi seseorang.

Baca Juga: Mengapa Perempuan Penyintas Tidak Lapor Kekerasan? Sebuah Refleksi dari VCAT KBGS

Melalui proses ini, peserta belajar bahwa empati bukan hanya soal merasakan, tetapi juga memahami. Ini tentang keberanian untuk mendengarkan tanpa menghakimi dan kesediaan untuk masuk ke dalam cara pandang orang lain, meskipun sangat berbeda dari keyakinan pribadi. Dalam konteks pelayanan kesehatan, kemampuan ini menjadi dasar penting untuk menciptakan layanan yang lebih inklusif dan manusiawi. Layanan yang tidak hanya berfokus pada kondisi medis, tetapi juga mempertimbangkan pengalaman hidup, latar belakang, serta nilai-nilai setiap individu. Pendekatan seperti ini membantu membangun ruang yang aman dan bebas stigma, tempat di mana setiap orang merasa didengar, dihargai, dan diperlakukan dengan bermartabat.

🟥 Why X Die: Membangun Empati Mendalam

Sesi paling menyentuh secara emosional. Peserta diajak merenungkan penyebab kematian perempuan akibat kehamilan tidak diinginkan, dan menyadari bahwa sistem tertutuplah—bukan aborsi—yang membunuh perempuan seperti “X”. Diskusi ini menggugah banyak peserta untuk melihat ulang peran sistem kesehatan dan sikap tenaga medis dalam membatasi atau membuka akses hidup yang bermartabat.

“Sudah jatuh, tertimpa tangga pula.” Peribahasa ini mungkin paling tepat menggambarkan kisah dalam sesi Why X Die yang mengangkat cerita Rina, seorang perempuan muda yang mengalami kehamilan tidak direncanakan (KTD) dari kekasihnya yang ternyata masih berstatus suami orang.

Dalam perjalanannya mencari dukungan dan keadilan, Rina justru diusir oleh keluarga dan orang-orang terdekat. Tanpa pilihan lain, ia tinggal bersama sahabat dan adik laki-lakinya. Namun, di tempat yang seharusnya menjadi ruang aman, ia kembali menjadi korban. Ia mengalami pelecehan dan direkam secara diam-diam saat mandi. Saat harapan hampir habis, Rina meminta bantuan kepada laki-laki yang menyebabkan kehamilan tersebut untuk mencarikan tempat aborsi. Sayangnya, dalam proses itu, ia kehilangan nyawa.

Meskipun kisah ini fiktif, pengalaman seperti Rina bukanlah hal yang asing dalam kehidupan nyata. Banyak perempuan menjadi korban berulang kali karena kurangnya dukungan dari keluarga, masyarakat, pemerintah, dan bahkan tenaga kesehatan.

Photo by Pixabay on Pexels.com

Sesi ini juga menjadi penutup yang sangat emosional bagi peserta. Banyak dari mereka membutuhkan waktu sejenak untuk dapat kembali terhubung dengan sekitarnya setelah membaca skenario Rina. Reaksi ini menunjukkan bahwa kisah tersebut bukan sekadar cerita fiksi, melainkan sesuatu yang sangat dekat dengan realitas yang pernah mereka saksikan, dengar, atau bahkan alami. Ada keheningan yang tidak hanya mencerminkan kesedihan, tetapi juga kesadaran mendalam bahwa dalam banyak kasus, kita semua bisa saja, secara tidak langsung, menjadi bagian dari sistem yang gagal melindungi.

Sesi Why X Die penting karena membawa peserta pada konfrontasi langsung dengan dampak nyata dari ketidakpedulian, stigma, dan absennya sistem pendukung. Kisah Rina menjadi cermin bagi peserta untuk merefleksikan sejauh mana nilai-nilai pribadi, bias, dan sikap diam dapat membiarkan ketidakadilan terus terjadi. Bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk membangkitkan kesadaran dan tanggung jawab kolektif.

Efektivitas sesi ini terletak pada kemampuannya membongkar lapisan-lapisan emosional dan moral peserta. Tidak hanya menyentuh aspek rasional, tetapi juga menggugah empati, rasa bersalah, dan kemauan untuk berubah. Dengan membawa peserta ke dalam pengalaman emosional yang mendalam, sesi ini membuka ruang refleksi yang jujur dan mendorong komitmen untuk membangun sistem yang lebih adil, khususnya dalam pelayanan kesehatan yang seharusnya bebas stigma dan berpihak pada mereka yang paling rentan.

Melalui sesi ini, peserta belajar bahwa mencegah kematian yang dapat dihindari bukan hanya soal prosedur medis atau regulasi, tetapi soal keberanian untuk hadir, mendengar, dan mendampingi tanpa menghakimi. Karena pada akhirnya, keadilan dalam layanan kesehatan tidak akan terwujud hanya dengan pengetahuan, tetapi juga dengan empati dan tindakan nyata.

Respons Peserta: Dari Kesadaran Pribadi hingga Transformasi Perspektif

Selama dua hari pelatihan, banyak peserta yang mengalami perubahan cara pandang. Beberapa menyadari bahwa mereka pernah menjadi korban kekerasan tapi belum pernah memaknai itu sebagai bentuk pelanggaran hak.

“Saya baru sadar, pengalaman saya selama ini adalah kekerasan, dan saya belum pernah memproses itu.”Nurul

“Saya sadar, kadang sebagai nakes, saya menilai pasien dari nilai saya sendiri. Pelatihan ini bikin saya berhenti dan berpikir ulang.”Juju

Penutup: Menanam Benih Transformasi di Layanan Kesehatan

Pelatihan VCAT di Palu menunjukkan bahwa tenaga kesehatan—ketika diberi ruang aman dan pendekatan yang tepat—dapat melakukan refleksi nilai yang mendalam dan siap berubah. Ini bukan soal mencari keseragaman pandangan, tetapi membangun kesadaran kritis dan empati kolektif dalam menangani isu-isu reproduksi dan kekerasan.

Untuk di kemudian hari, tim penyelenggara berkomitmen untuk:

  • Menyusun dokumentasi pembelajaran untuk disebarluaskan
  • Menyediakan sesi penguatan lanjutan bagi peserta yang tertarik menjadi fasilitator atau role model di lingkup kerja mereka

VCAT bukan hanya pelatihan, tapi langkah awal membangun budaya layanan yang adil, empatik, dan berpihak pada hak hidup yang bermartabat.

Tinggalkan komentar