Content Warning & Spoiler Alert: Artikel ini membahas kekerasan seksual yang dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman. Artikel ini juga membahas plot serial drama yang kemungkinan mengandung spoiler.

Usai pandemi COVID-19, kita dihadapkan pada ‘pandemi’ kasus kekerasan seksual. Berturut-turut, kita dibikin geram dengan kenyataan adanya pelecehan seksual yang dilakukan seorang profesor pada mahasiswanya, kasus kekerasan seksual oleh pejabat kepolisian, dan kasus pelecehan seksual oleh dokter spesialis kandungan. Dengan berbagai kasus yang muncul silih berganti, nggak kaget kalau Indonesia dilabeli darurat kekerasan seksual.

Gambar: Netflix

Serial terkenal Sex Education di musimnya yang kedua juga mengangkat isu serupa. Salah satu karakter di dalamnya, Aimee Gibbs, dikisahkan mengalami pengalaman tidak menyenangkan. Namun, serial ini bukannya menampilkan kisah Aimee sebagai sekelumit cerita ‘tambahan’ yang ujug-ujug selesai, melainkan mampu menunjukkan transformasi karakter Aimee mulai dari sebelum kejadian traumatis yang menimpanya hingga perjuangannya bangkit dari trauma.

Bagi saya sebagai penonton, konflik yang dialami Aimee di season 2 dan 3 menjadi salah satu isu penting dari keseluruhan serial ini. Hal ini juga membuka mata penonton bahwa apa yang terjadi kepada Aimee adalah gambaran realitas yang kerap terjadi di keseharian.  

#1: Kapan Pun, Di Mana Pun, oleh Siapa Pun

Pada hari ulang tahun sang sahabat, Aimee berusaha keras membuat kue ulang tahun. Ia membawa kue itu dan berangkat naik bis umum ke sekolahnya seperti biasa. Hari itu Aimee nggak sabar memberi kejutan untuk Maeve dan merayakannya bersama. Namun, mimpi buruk Aimee muncul seketika. Seorang lelaki nggak dikenal mendekatinya lalu melakukan pelecehan kepadanya.

Aimee mendapatkan pengalaman buruk itu dalam perjalanan di bis. Bis yang telah berkali-kali ia tumpangi. Perjalanan dalam rute ke sekolah yang ia tempuh berkali-kali. Semuanya serba tidak terprediksi dan menyakitkan.

Gambar: Collider

Siapa yang menyangka akan dilecehkan di rute yang sangat familier? Nggak seorang pun. Begitu juga, banyak perempuan dan laki-laki di luar sana yang mengalami kekerasan seksual pada waktu dan tempat yang tak diduga-duga. Kekerasan bisa terjadi di mana saja; di sekolah, universitas, tempat kerja, fasilitas pelayanan kesehatan, hingga lingkungan tempat tinggal.

#2: Reaksi Penyintas dan Orang Sekitar

Pelecehan seksual itu nyatanya sangatlah traumatik buat Aimee. Tadinya ia gadis periang, penuh semangat, dan humoris. Di dalam bus saat kejadian, Aimee berdiri sambil membawa kue, dan tersenyum kepada beberapa penumpang, termasuk si pelaku. Senyuman yang spontan terukir di wajahnya sebab ia sudah nggak sabar lagi mengejutkan Maeve dengan kue buatannya.

Ketika kejahatan itu terjadi, Aimee lantas kaget dan berteriak. Namun, para penumpang hanya melihatnya sekilas seolah tidak terjadi apa-apa. Aimee diliputi kebingungan dan memutuskan turun dari bis. Sejak saat itu, alih-alih naik bis, Aimee lebih memilih jalan kaki ke sekolah.

Selama kejadian, penumpang lain seakan tidak peduli pada apa yang Aimee alami. Hal itu ternyata mencetuskan respons Aimee berikutnya: enggan memperbesar masalah. Saat Maeve mengantarnya pergi melapor ke kantor polisi, sikap Aimee justru maju-mundur, seolah apa yang terjadi kepadanya adalah hal kecil yang tak perlu diperlebar urusannya. Seandainya saja para penumpang bereaksi berbeda, maka perasaan Aimee sebagai penyintas akan tervalidasi saat itu juga. Dan sang pelaku bakal mikir ribuan kali sebelum mengulangi kejahatannya lagi.

#3: Kebutuhan Support System

Perjuangan Aimee bangkit dari trauma sama sekali tidak mudah. Usai melapor ke kantor polisi, Aimee menangis di kamarnya tanpa bisa bercerita banyak kepada sang ibu. Efek lainnya, ia tidak mau dekat-dekat dengan lelaki, termasuk sang kekasih. Sebab yang terbayang-bayang hanyalah memori buruk dan wajah pelaku.

Suatu hari, Miss Emily, memberi hukuman pada beberapa siswi (Aimee, Maeve, Ola, Viv, Lily, dan Olivia) berupa presentasi tentang ‘apa persamaan di antara mereka’. Usai berdiskusi panjang-lebar, akhirnya mereka tiba pada satu kesimpulan: bahwa masing-masing dari mereka pernah mengalami sexual harassment ataupun ancaman seksual yang nggak diinginkan. Sad but true, right?

Aimee dilecehkan di atas bis. Maeve di-catcall beberapa lelaki, dibilang celananya terlalu pendek. Ola dibuntuti lelaki nggak dikenal ketika jalan kaki ke rumah. Olivia dilecehkan lelaki asing di keramaian. Dan Viv kecil yang malang bertemu pria eksibisionis di kolam renang.

Season 2 episode 7 diakhiri dengan adegan yang sangat powerful. Lima Moordale Girls menjemput Aimee dan menemaninya naik bis untuk kali pertama sejak peristiwa buruk itu. Suatu bentuk female bonding dan gambaran pertemanan sehat yang nyata.

Gambar: Yahoo Entertainment

#4: Seeking Help: Penting untuk Penyintas

Awalnya, Aimee mengira traumanya telah sembuh. Namun, season 3 menunjukkan sebaliknya. Sangat sulit bagi Aimee menjadi dirinya yang ‘dulu’, mencintai tubuhnya lagi, dan menjalin relasi seperti sediakala.

Akhirnya ia menemui Jean Milburn, seorang terapis, untuk berkonsultasi seputar traumanya. Tentu nggak mudah buat Aimee bercerita. Namun, perkataan Jean di adegan tersebut ini sangat menguatkan. Ia menyadarkan Aimee bahwa tidak apa-apa jika ia tidak bisa menjadi dirinya yang dulu, sebab setiap orang berubah seiring waktu. Yang terpenting adalah memproses trauma itu sendiri dan mengembalikan body image Aimee menjadi positif.

Jean juga merespon penyesalan Aimee yang tersenyum kepada pelaku sebelum kejadian. Jean lantas menekankan bahwa perbuatan pelaku tidak ada hubungannya dengan senyuman Aimee. Pun, tentu tidak ada hubungannya dengan apa yang Aimee lakukan. Melalui bantuan Jean, Aimee menyadari penyesalan irasionalnya.

Para penyintas butuh waktu yang tidak sebentar untuk bangkit dari trauma. Proses yang dilalui pun berbeda-beda. Selain itu, storyline Aimee menjadi pesan penting di serial ini. Alih-alih rekaan belaka, storyline itu didasarkan pada pengalaman sang kreator dan penulis, Laurie Nunn. Suatu pengalaman yang berhasil ditransformasikan dalam bahasa sinema supaya semakin banyak orang lebih ‘melek’ lagi pada isu penting ini.

Sebagai tenaga kesehatan, penting bagi kita untuk mengambil insight penting dari serial Sex Education di Netflix ini. Ketika kita menghadapi pasien yang merupakan penyintas kekerasan seksual, sebaiknya kita tak hanya berfokus pada aspek medisnya saja, tetapi juga menghormati perspektif penyintas dan memberikan empati atas pengalaman mereka. Sebab, penyintas dapat kelihatan ‘biasa-biasa saja’ dari luar, tetapi mengemban beban yang begitu berat di dalam. Sudah saatnya kita mulai melihat pasien sebagai manusia seutuhnya, serta memberikan ruang aman bagi mereka.

Artikel ini ditulis oleh Maria Monasias Nataliani, seorang full time doctor & part time writer.

Tinggalkan komentar