Artikel ini adalah bagian 4 dari 4 refleksi dari pelatihan VCAT KBGS untuk tenaga kesehatan di Palu yang diadakan oleh Yayasan Pribudaya, Komunitas Dokter Tanpa Stigma, dan Yayasan Philia, dengan dukungan dari Ipas Collaborative Action Fund FY25.
Dalam perdebatan publik, isu aborsi terlalu sering direduksi menjadi sekadar pertarungan moral. Apakah ini tindakan benar atau salah? Apakah ini dosa atau bukan? Padahal di balik setiap keputusan untuk mengakhiri kehamilan, ada realitas yang jauh lebih kompleks, lebih sunyi, dan lebih manusiawi.
Selama pelatihan VCAT (Values Clarification for Action and Transformation) untuk tenaga kesehatan di Palu pada 11 hingga 12 Mei 2025, para peserta diajak untuk keluar dari kerangka penghakiman yang sempit, dan mulai mendekat pada kenyataan hidup yang kerap tak terwakili dalam wacana publik. Mereka diajak untuk melihat bahwa aborsi bukan hanya soal pilihan moral, tetapi juga soal akses, soal keselamatan, soal ketimpangan, dan sering kali—soal bertahan hidup.
Baca Juga: Pelatihan VCAT untuk Tenaga Kesehatan di Palu: Refleksi Nilai dalam Layanan Kesehatan Reproduksi
Tugas Tenaga Kesehatan adalah Mendampingi, Bukan Menghakimi
Dalam ruang yang aman dan setara, diskusi berlangsung tanpa saling menyalahkan. Para tenaga kesehatan diajak merefleksikan bagaimana nilai-nilai pribadi mereka terbentuk, dan bagaimana nilai itu bisa mempengaruhi cara mereka melayani pasien. Bukan untuk menyeragamkan pandangan, tetapi agar mereka sadar bahwa di balik setiap keputusan medis, ada manusia dengan cerita, ketakutan, harapan, dan keterbatasannya sendiri.
VCAT tidak meminta peserta untuk setuju dengan aborsi. Tapi pelatihan ini mengajak mereka untuk melihat bahwa tugas seorang tenaga kesehatan bukanlah menghakimi, melainkan mendampingi. Bahwa empati dan etika profesional harus berjalan seiring, agar setiap perempuan yang datang tidak perlu lagi merasa sendirian, disalahkan, atau ditinggalkan.
Aborsi bukan sekadar isu medis atau moral. Ia adalah cermin dari bagaimana kita, sebagai sistem, memperlakukan perempuan yang sedang berada dalam kondisi paling rentan. Dan VCAT menjadi salah satu ruang di mana cermin itu dihadirkan, agar kita bisa mulai bertanya—bukan apa yang pantas dihukum, tetapi apa yang perlu dipahami.

Sesi Reasons Why: Memahami Sebab dari Perspektif Korban
Sesi pertama dalam pelatihan VCAT yang berjudul Reasons Why menjadi pintu masuk bagi para peserta untuk memasuki ranah refleksi yang mendalam—sebuah ruang yang tidak menawarkan jawaban benar atau salah, melainkan membuka kemungkinan untuk memahami. Peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok berdasarkan isu: aborsi, kontrasepsi, kekerasan berbasis gender, dan asuhan pasca keguguran. Di antara semua, kelompok yang membahas aborsi memunculkan diskusi yang paling kompleks secara emosional.
Empat pertanyaan utama diajukan kepada mereka:
- Mengapa perempuan berhubungan seks?
- Mengapa perempuan hamil?
- Mengapa perempuan dan/atau orang hamil berupaya menghentikan kehamilannya?
- Mengapa perempuan dan/atau orang hamil meneruskan kehamilan yang tidak diinginkan?
Jawaban yang muncul beragam, menyentuh spektrum alasan biologis, psikologis, sosial, dan struktural. Ada yang menyebut relasi cinta, tapi banyak juga yang menyinggung soal kekerasan seksual, relasi tanpa kuasa, tekanan ekonomi, dan ketakutan akan stigma. Diskusi ini mengungkap bahwa keputusan untuk menghentikan kehamilan jarang datang dari ruang yang tenang dan bebas. Sebaliknya, banyak yang diambil dari ruang keterdesakan—ruang di mana waktu, akses, dan rasa takut saling bertabrakan.
“Perempuan tidak serta merta memilih aborsi. Sering kali karena terpaksa oleh situasi,” ujar S, salah satu peserta. Kalimat ini menggambarkan dengan jujur kenyataan yang selama ini sering disederhanakan dalam wacana publik.

Namun, diskusi juga menunjukkan sisi lain dari spektrum pengalaman. Ada peserta yang menyampaikan bahwa beberapa perempuan tetap memilih melanjutkan kehamilan yang tidak direncanakan. Alasannya beragam; karena rasa berdosa, karena percobaan aborsi yang gagal, atau karena mendapatkan dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar.
Apa yang tampak dari diskusi ini bukan hanya tentang “aborsi sebagai pilihan”, tetapi tentang bagaimana setiap keputusan yang diambil selalu berada dalam jaringan nilai, rasa bersalah, ketakutan, harapan, dan kadang, cinta. Keputusan untuk melanjutkan atau menghentikan kehamilan bukan soal moralitas semata, tetapi soal konteks—dan konteks itu sering kali rapuh, rumit, dan penuh tekanan.
Sesi Reasons Why tidak menawarkan kesimpulan akhir. Sebaliknya, ia membuka kesadaran baru: bahwa setiap perempuan membawa cerita yang unik, dan tugas tenaga kesehatan bukanlah untuk menilai, melainkan untuk memahami.

Sesi Cross the Line: Ketika Kita Sendiri Pernah Menjadi Korban atau Menghakimi Korban
Diskusi berlanjut dalam sesi Cross the Line—salah satu momen paling reflektif dalam pelatihan VCAT. Lewat pernyataan-pernyataan yang memantik keberanian, peserta diajak untuk menyelami keyakinan dan pengalaman mereka sendiri, sambil membuka telinga dan hati terhadap pandangan orang lain.
Baca Juga: Mengapa Perempuan Penyintas Tidak Lapor Kekerasan? Sebuah Refleksi dari VCAT KBGS
Salah satu pernyataan yang memicu diskusi mendalam berbunyi: “Perempuan korban kekerasan atau pemerkosaan yang mengalami kehamilan perlu dibantu untuk mengakses aborsi aman.”
Sebanyak 11 peserta maju menyatakan setuju. Namun diskusi yang muncul jauh dari sekadar angka persetujuan. Justru di sinilah tampak bahwa isu aborsi, khususnya dalam konteks kekerasan, menyentuh lapisan terdalam nilai, pengalaman, dan keraguan setiap peserta.

S, misalnya, dengan tenang menyampaikan bahwa keputusan aborsi bukanlah cerminan dari ideologi semata. “Bukan hanya perempuan dengan pandangan pembebasan yang mempertimbangkan aborsi, tetapi juga mereka yang berada dalam situasi pribadi yang sangat kompleks—yang terdesak oleh rasa takut, tekanan, dan tidak adanya dukungan,” tuturnya.
W, peserta lain, menambahkan sudut pandang yang jarang diangkat dalam diskusi publik: kekerasan seksual dalam pernikahan. “Pemerkosaan bisa terjadi di rumah. Suami yang memaksa berhubungan saat istri belum pulih setelah nifas, itu kekerasan. Konsen tetap penting, bahkan dalam pernikahan,” katanya, dengan suara pelan namun tegas.
Namun tidak semua peserta menyambut pernyataan tersebut dengan keyakinan yang sama. Beberapa mengungkap kekhawatiran tentang kemungkinan manipulasi atau penyalahgunaan layanan. Di sinilah muncul ketegangan antara dua pendekatan: yang satu menekankan hak dan empati, dan yang lain dilandasi kekhawatiran akan kontrol sosial dan moralitas.
Fasilitator lalu mengingatkan bahwa diskusi tentang aborsi bukan untuk mencari satu jawaban seragam. Fokusnya adalah bagaimana sistem kesehatan dapat menciptakan ruang yang aman—tempat perempuan dapat berbicara tanpa takut dihakimi, dan membuat keputusan berdasarkan kebutuhan serta keselamatan mereka, bukan tekanan.
VCAT mengajarkan bahwa keberpihakan pada korban tidak harus berarti meninggalkan nilai pribadi, tetapi memperluas empati agar nilai itu tidak melukai orang lain. Dan bahwa mendukung bukan berarti setuju sepenuhnya, tapi cukup sadar untuk tidak menghalangi.
Sesi Four Corners: Di Antara Keyakinan, Keraguan, dan Konteks Sosial
Isu aborsi kembali diangkat dalam sesi Four Corners, di mana peserta diminta memilih posisi (sangat setuju, setuju, tidak yakin, tidak setuju, sangat tidak setuju) terhadap pernyataan: “Semua perempuan dan orang hamil yang melakukan aborsi berarti mengakhiri sebuah kehidupan janin.”
Respons peserta terbagi—dan justru itulah yang menjadi nilai utama dari sesi ini. Mereka mengungkapkan pandangan yang dipengaruhi oleh:
- Lingkungan sosial yang menganggap aborsi sebagai pembunuhan
- Kurangnya pemahaman tentang fase kehidupan janin
- Alasan medis dan keselamatan ibu
- Pandangan agama dan nilai pribadi
- Keinginan untuk tetap melanjutkan kehamilan meski dalam kondisi sulit
Fasilitator menyoroti bahwa pernyataan ini membuka ruang untuk menyadari ambiguitas dan ambivalensi dalam diri sendiri, dan bahwa wajar bagi seseorang untuk tidak memiliki sikap yang tegas ketika informasi dan konteks masih minim.
Sesi Why X Die: Saat Sistem Menutup Akses, Perempuan Kehilangan Nyawa
Sesi Why X Die menjadi titik emosional dalam pelatihan VCAT—sebuah ruang reflektif yang hening, dalam, dan menyentuh. Peserta diajak merenungkan satu sosok imajiner, “X”, seorang perempuan yang hamil di luar keinginan, dan akhirnya meninggal dunia. Pertanyaan utama dari fasilitator adalah: Mengapa X meninggal?
Banyak jawaban langsung yang muncul: karena X tidak pakai kontrasepsi, karena X tidak bertanggung jawab, karena X aborsi sembarangan. Tapi fasilitator tidak membiarkan diskusi berhenti di permukaan. Ia mendorong peserta untuk menggali lebih jauh—melihat struktur, bukan hanya individu.
Dari situ muncul jawaban-jawaban yang lebih jujur dan sistemik:
- Karena X tidak tahu harus ke mana.
- Karena layanan kesehatan tidak tersedia.
- Karena X takut dihakimi oleh tenaga kesehatan.
- Karena hukum tidak membolehkannya mendapatkan layanan aman.
- Karena X tidak punya uang untuk pergi ke tempat yang aman.
- Karena X tidak tahu bahwa tubuhnya punya hak.
Diskusi ini membuka mata banyak peserta, bahwa sering kali perempuan tidak mati karena pilihan yang buruk, tapi karena sistem tidak memberi mereka pilihan sama sekali.
“Sebenarnya X tidak ingin mati. Tapi ia hanya tidak tahu harus ke mana. Kalau sistem tertutup, kita tidak bisa menyalahkan dia.” — Refleksi fasilitator
Beberapa peserta tampak menangis dalam diam. Yang lain menggenggam tangan mereka sendiri. Ada rasa bersalah yang menyusup—karena mungkin, mereka pernah menjadi bagian dari sistem yang menyulitkan “X”.
Sesi Why X Die menjadi titik balik emosional sekaligus intelektual dalam pelatihan VCAT. Melalui kisah imajiner tentang seorang perempuan yang meninggal akibat kehamilan tak diinginkan, peserta diajak melepaskan lensa penghakiman dan mulai melihat akar masalah yang lebih dalam—struktur sosial, hukum, dan layanan yang tidak berpihak pada korban.
Diskusi ini mengungkap satu kebenaran menyakitkan: banyak perempuan tidak meninggal karena kesalahan pribadi, tetapi karena sistem yang menutup akses, membungkam suara, dan gagal memberikan perlindungan. Ketika perempuan seperti “X” tidak tahu harus ke mana, tidak punya uang, tidak punya dukungan, dan takut dihakimi, maka kematian bukanlah akibat pilihan bebas—melainkan hasil dari ketiadaan pilihan.
Baca Juga: Kontrasepsi, Consent, dan Peran Laki-Laki: Membongkar Narasi Reproduksi dalam Rumah Tangga
Sesi ini meninggalkan jejak yang dalam bagi peserta. Ia tidak hanya mengubah cara berpikir, tetapi juga menyentuh nurani. Ia memunculkan kesadaran bahwa perubahan bukan dimulai dari perempuan seperti X, tetapi dari kita—para penyedia layanan, pembuat kebijakan, dan sesama manusia yang memutuskan apakah akan membuka pintu atau membiarkannya tetap tertutup.
Menutup dengan Refleksi: Bukan Soal Setuju atau Tidak, Tapi Apakah Kita Mau Mendengarkan
Pelatihan ini ditutup dengan satu pesan penting: VCAT bukan ruang untuk menyamakan pendapat, tapi untuk menguatkan empati. Di ruang ini, tidak semua peserta sepakat soal aborsi. Tidak semua nyaman menyebut diri sebagai pendukung hak tubuh. Tapi semua belajar untuk mendengarkan.
Mendengarkan bukan berarti setuju. Tapi mendengarkan membuka ruang untuk memahami—bahwa di balik keputusan seseorang, ada sejarah panjang ketidakadilan, ada ketakutan, ada rasa tidak aman yang tak kita alami sendiri.
“Saya tidak pernah berpikir aborsi bisa jadi hak. Tapi setelah mendengar cerita X, saya sadar, saya juga pernah menutup mata terhadap realitas perempuan.” — A, peserta pelatihan
Fasilitator menutup dengan mengingatkan: “Kita tidak bisa menolong korban jika kita tidak bisa duduk bersama mereka—tanpa penghakiman. Jika tenaga kesehatan hanya memberi layanan kepada yang dianggap “benar”, maka layanan itu bukan lagi berbasis hak, melainkan berbasis nilai pribadi.”
Maka dari itu, pertanyaannya bukan lagi: “Apakah saya setuju dengan aborsi atau tidak?” Tapi: “Apakah saya bersedia mendengarkan cerita mereka, memahami kompleksitas mereka, dan memberi mereka ruang untuk hidup dengan aman dan bermartabat?”
Karena pada akhirnya, hak kesehatan reproduksi bukan soal setuju atau tidak—melainkan soal keberanian untuk melihat manusia secara utuh, dan tidak membiarkan mereka mati dalam kesunyian.

Tinggalkan komentar