Aktivitas

Anak Tetangga Meninggal Karena Keselek Cilok

“Kalau anak saya yang keselek cilok, saya harus gimana ya?”

Amit-amit. Tapi pernahkah orang tua membayangkan seandainya anak kita berada dalam kondisi gawat misalkan tenggelam atau terbakar, apa yang bisa kita lakukan? Sementara puskesmas jaraknya jauh sekali, motor pun tidak punya.

Menurut Kang Mozza, koordinator nasional Safe Kids Indonesia, orang tua harus mempunyai mindset yang benar tentang menjaga keselamatan anak. Bahwa pertama-tama kita harus menciptakan lingkungan kehidupan yang aman bagi setiap anak.

Orang tua harus mampu memetakan setiap resiko kecelakaan yang dapat terjadi pada masing-masing anak sesuai dengan kondisi rumah dan aktivitas anak karena setiap anak punya resiko yang berbeda. Resiko anak usia 2 tahun tentu berbeda dengan resiko anak berusia 10 tahun meskipun mainan mereka sama. Contoh: mainan manik-manik tidak berbahaya bagi anak 10 tahun, sementara untuk anak 2 tahun yang baru melewati fase oral (memasukkan semua benda ke mulut untuk diexplorasi – berdasarkan Teori Psikoseksual Sigmund Freud) bisa sangat berbahaya, anak bisa memasukkan manik ke hidung atau menelan lalu tersedak. Atau anak yang tidak pernah berenang tentu tidak ada resiko tenggelam, dibanding anak-anak yang sehari-hari selalu main di sungai.

Dengan memetakan resiko, orang tua bisa lebih waspada dan mempersiapkan perlengkapan untuk pertolongan pertama seperti APAR (Alat Pemadam Api Ringan) atau kotak P3K. Selain menyediakan juga mempelajari bagaimana cara menggunakannya. Tentu mubazir kan kalau alatnya ada tapi ternyata tidak tahu cara penggunaannya.

Setelah peralatan sudah lengkap, orang tua tinggal melatih skill pertolongan pertamanya.

Anda bisa menonton video pengajaran lengkapnya di sini:

Kolaborasi Dokter Tanpa Stigma dengan Safe Kids Indonesia dalam kelas virtual sesi 3 “Pertolongan Pertama pada Anak”

Dengan resiko yang sudah terpetakan, peralatan yang lengkap dan skill yang mumpuni, niscaya ketika anak mengalami kondisi gawat darurat atau berpotensi gawat, orang tua tidak terlalu panik lagi, lebih mampu mengendalikan diri dan berespon cepat dan tepat.

Karena orang tua yang panik dan histeris tidak akan bisa membantu anaknya dengan maksimal, malah memberikan trauma dan ketakutan pada anak yang bisa berakibat buruk pada anak.

Selamat menjadi orang tua cerdas!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s