Aktivitas

Anak Dengan HIV, Pinggir dari Yang Terpinggirkan

Lima tahun bergelut dengan pendampingan anak dengan HIV (ADHIV) membuat Samsu Budiman atau lebih akrab dipanggil Om Budz menyadari bahwa permasalahan ADHIV di Indonesia bukan hanya kompleks tapi juga tidak diperhatikan.

Sejak tahun 2015, Om Budz mulai mendampingi ADHIV di wilayah Depok setelah sebelumnya hanya mendampingi ODHIV dewasa melalui LSM Kuldesak (Kumpulan dengan Segala Aksi Kemanusiaan). Pendampingan ADHIV membutuhkan pendekatan yang berbeda karena ADHIV memiliki masalah yang berbeda pula.

ADHIV sering mendapatkan stigma dan diskriminasi dari sekolah, terpaksa harus pindah-pindah sekolah, membuat mereka sulit membuka diri untuk bergaul dan membuat orang tua/ wali mereka juga trauma. Setiap kali ada ADHIV yang ditolak oleh sekolah Om Budz bersama tim Kuldesak akan mengajak pihak sekolah untuk berdiskusi, berbagi cerita, dengan membawa diri sebagai contoh nyata bahwa HIV tidak semudah itu menular, bahwa HIV tidak membuat anak tidak berdaya. Dengan pendekatan yang jujur dan terbuka, akhirnya ada saja pihak sekolah yang mau menerima.

Belum lagi tantangan bagaimana harus menjelaskan kepada ADHIV mengenai penyakit mereka, mengapa mereka harus minum obat setiap hari. Salah satu masalah juga adalah mengenai sediaan obat. Sampai saat ini masih belum ada sediaan ARV khusus anak di Indonesia. Beberapa waktu lalu sempat ada isu ada ARV bentuk sirup yang bisa lebih mudah dikonsumsi anak-anak tapi sayang sampai sekarang belum diketahui di mana keberadaan ARV sirup tersebut. ADHIV masih meminum ARV dewasa dengan cara dipotong-potong.

Permasalahan sediaan ini tentu adalah masalah besar karena dengan cara peminuman seperti ini besar potensi anak tidak mendapatkan dosis yang tepat, ada resiko kontaminasi obat juga dan kesulitan anak untuk menelan obat bentuk tablet.

Masih ditambah lagi persoalan lainnya karena banyak dari mereka yang sudah yatim/ piatu/ yatim piatu, dirawat oleh anggota keluarga lain yang masih mau menerima tapi tidak jarang dengan keterbatasan pula. Ada ADHIV dampingan Kuldesak yang dirawat oleh neneknya yang juga memiliki keterbatasan fisik. Hal ini tentu membawa konsekuensi ekonomi, membuat ADHIV hidup dalam keterbatasan ekonomi yang berujung pada sulitnya mendapatkan nutrisi yang penting untuk masa pertumbuhan mereka.

Bila semua kebutuhan dasar itu saja masih sulit terpenuhi, bagaimana dengan hak bermain mereka? Mereka tetap anak-anak yang punya hak bermain.

Dengarkan sharing Om Budz mengenai tantangan pendampingan ADHIV dan bagaimana upaya Kuldesak mengatasi semua tantangan tersebut di podcast berikut ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s