Artikel

Saya Dokter Gigi, Saya ODHIV

Stigma ODHA dari dan kepada tenaga medis.

Memproklamirkan status HIV saya ke masyarakat ? Itulah yang saya lakukan di awal-awal kebangkitan saya. Pendapat banyak orang sih, saya termasuk berani mengambil resiko yang akan saya dihadapi dengan mengungkapkan status HIV-nya ke masyarakat.

Profesi saya yang dokter pasti membuat orang bertanya-tanya bagaimana saya bisa terinfeksi. Bukankah sebagai tenaga medis seharusnya orang yang paling mengerti menjaga diri agar tidak tertular?.

Terlepas dari bagaimana saya bisa tertular, dengan pengakuan saya seperti ini membuat  banyak orang berpikir, jangan-jangan ada tenaga-tenaga medis lain yang juga ada yang HIV positif, hanya saja mereka tidak terbuka dikarenakan alasan-alasan tertentu.

Pengakuan saya ini juga diikuti resiko, mulai dari terganggunya hubungan pertemanan, keluarga bahkan hingga lingkup pekerjaan saya dan hal-hal lain. Misalnya, saya dijauhi kawan, dianggap seseorang yang tidak BERMORAL oleh masyarakat (terkait stigma) sampai gesekan antar teman sejawat yang keberatan punya rekan sekerja yang HIV positif.

Diskriminasi adalah buah dari STIGMA.

Ketika masyarakat keberatan berada disekitar orang yang positif HIV, masih bisa dimengerti dikarenakan KETIDAKTAHUAN yang komplit (setengah-setengah) pada apa & bagaimana penularan virus ini ke tubuh saya.

Namun jika perlakuan diskriminatif itu datang dari dunia medis, ini menunjukkan bahwa masih belum meratanya kualitas tenaga medis YANG SEHARUSNYA SUDAH SANGAT PAHAM DENGAN STIGMA DAN DISKRIMINASI terkait virus satu ini.

Pertanyaan saya sekarang, bukankah tugas paramedis adalah memberikan informasi komprehensif pada masyarakat ? dan bukankah sudah ada SOP (Standart Operational Procedure) atau UP (Universal Precaution) yang diatur dan harus dipakai sebagai acuan ketika sedang melaksanakan/menjalankan tugas?

Karena sebuah PEMAHAMAN tidak selalu diikuti dengan perubahan cara MEMPERLAKUKAN.

Terkadang perlakuan-perlakuan khusus yang diberikan pada ODHIV seperti saya adalah kamuflase dari pengucilan atau penyingkiran alih-alih sebuah dukungan.

ODHIV seperti saya disudutkan dengan halus agar tidak keluar dari “kotaknya” hingga perlu semua fasilitas untuk keperluan saya disediakan dalam satu tempat untuk mencegah terjadinya interaksi dengan non-ODHIV dengan alasan kenyamanan untuk pihak-pihak lain.

Apapun tujuannya, secara implisit itu semua adalah sebuah PEMBATASAN bagi saya.

Semoga saja hal ini mengubah cara pikir semua yang terkait untuk tidak lagi menyematkan stigma dan tulus mendukung agar saya dan para ODHIV lainnya punya kesempatan setara untuk meraih harapan dan impian.

Saya Maruli, saya dokter gigi dan juga seorang ODHIV.  Pekerjaan saya sekarang adalah dokter gigi yang bekerja di POKJA HIV sebagai konsultan untuk masalah HIV.

Setiap kali saya melewati poli gigi, saya merasa menjadi dokter gigi yang gagal. Dan saat menatap ijazah saya, saya merasa telah berkhianat pada proses yang saya perjuangkan untuk lulus menjadi seorang dokter gigi.

POKJA bukan tempat yang pas untuk IJAZAH yang saya punya. Saya senang menjadi konsultan disana, karena masih ada benang merahnya dengan profesi saya yang dokter. Tetapi saya ini dokter gigi. Namun di POKJA tidak ada fasilitas bagi saya menjadi seorang dokter gigi. Apakah perjuangan awal saya harus terhenti karena saya terinfeksi HIV, hingga POKJA dianggap adalah tempat yang tepat dan ideal bagi saya.

Sama sekali diluar bayangan saya bahwa seorang dokter gigi yang terinfeksi HIV tidak memiliki kesempatan untuk berkarya menyalurkan keahliannya dan kemudian harus bertugas menjadi konsultan untuk masalah-masalah HIV.

SAYA INI SEORANG DOKTER GIGI…. yang terinfeksi HIV…. yang  bisa menjadi konsultan untuk isu HIV. Tidak bisakah ODHIV yang juga menjadi konsultan untuk masalah HIV menjadi seorang dokter gigi? Masih adakah tempat bagi saya untuk berprofesi sesuai degan ijazah saya ?

Terinfeksi virus HIV adalah fakta medis, sama sekali bukan AIB.

Saya ODHIV (Orang Dengan HIV), Viral Load/ Jumlah Virus Undetectable (tidak terdeteksi), yang artinya saya tidak dapat menularkan HIV ke pasangan saya.

Saya sehat secara fungsional.

Saya tidak dapat memberi anda virus HIV.

I can’t give you HIV.

Menebar Edukasi mengurai Stigma

Stigma adalah sikap merendahkan yang mendiskreditkan seseorang atau suatu kelompok.

Kita sudah terbiasa membaca singkatan HIV/AIDS sehingga di dalam benak kita muncul persepsi bahwa HIV adalah AIDS dan AIDS pun ya HIV. Demikian pula dengan singkatan ODHA yang berarti Orang Dengan HIV dan AIDS. Sementara ODHIV adalah Orang Dengan HIV.

Bagi banyak orang dan pihak keduanya sepintas terdengar sama dan sebetulnya  tidak perlu menjadi permasalahan yang besar. Namun,  Saat terjadi stigma terhadap ODHIV dan kita mulai pusing membongkar serta mencari akar permasalahannya, maka akan lebih mudah bila dirunut dari pemahaman dasar mengapa terjadi stigma.

Orang awam berpendapat bahwa HIV adalah AIDS dan akan berakhir dengan kematian mengenaskan karena AIDS. Akibatnya, orang akan lebih takut dengan kata AIDS daripada HIV itu sendiri.

Saat kita selalu berulang menyebut HIV/AIDS bersamaan (ODHA), maka pemikiran di atas terus berlanjut.

Sementara kita tahu, bahwa HIV tidak sama dengan AIDS dan Orang Dengan HIV (ODHIV) tidak harus berakhir dengan AIDS. Bahkan menurut penelitian terakhir Orang Dengan HIV (ODHIV) yang Viral-load (Jumlah Virus) tidak terdeteksi sudah tidak lagi dapat menularkan virus HIV secara seksual sekalipun melakukan hubungan seks tanpa kondom.

Di luar negeri dalam semua penulisan artikel kesehatan semua tulisan PLHIVA (ODHA) sudah diganti dengan PLHIV (ODHIV) karena penyebutan AIDS yang dianggap stigmatis.

Pada akhirnya semua orang dengan kondisi AIDS juga hidup dengan HIV, lalu mengapa kita harus membedakan ODHIV dan ODHA seolah membenarkan bahwa AIDS memang mengerikan?

AIDS memang masih dipergunakan dalam bahasa program, tetapi untuk penyebutan kondisi pasien disebut dengan HIV stadium 3.

Kalau di luar negeri sekalipun dalam bahasa program, semua istilah yang dipergunakan oleh website kesehatan dan pemerintah resmi semua sudah menggunakan PLHIV (ODHIV) tidak lagi PLHIVA (ODHA) dalam kondisi apa pun. Karena yang membuat seram dan stigmatis adalah Kata “AIDS”.

Sementara yang masih kondisi AIDS juga hidup dengan HIV, lalu mengapa kita harus mengecilkan arti perjuangan mereka menuju sehat dengan membedakan penyebutan ODHA?

Sudah saatnya kita memotivasi mereka agar tetap berjuang patuh ARV dan sembuh dari kondisi AIDS tanpa harus diberi label AIDS yang memang sangat stigmatis dan membuat down pasiennya.

Sebutlah semua orang yang hidup dengan HIV sebagai ODHIV apa pun kondisi dan stadiumnya. Saatnya kita bergerak yang sama dengan gerakan global melawan stigma, Jangan lagi kita ambigu. Satu kaki ikutan kampanye Nol Diskriminasi tapi kaki lain  masih menyebut ODHIV dan ODHA yang bernuansa stigma.

Kalau masih ada dari kita menerima penyebutan ODHA berarti masih layak dan jangan marah kalau kemudian disebut juga penderita.

Di awal edukasi memang kita memisahkan ODHIV dan ODHA, seiring berjalannya waktu sudah selayaknya melangkah ke step berikutnya menyebut semua orang dengan HIV, sekalipun stadium  AIDS, tetaplah menyebut mereka dengan ODHIV.

Waria, sekalipun ada transpuan dan transpria tetap disebut transgender. Kenapa orang dengan HIV, sekalipun masih AIDS tidak disebut ODHIV saja?

Yuk, kita mengikuti gerakan global yang sudah mulai berjalan dan bukan membuat gerakan baru yang menentang arus.

Sekalipun ini hanya masalah penyebutan, tetapi besar artinya dalam bentuk meretas dan memangkas stigma.


Artikel ini ditulis oleh drg. Maruli Togatorop, dokter gigi ODHIV, penerima Howard University Award.


Anda bisa mendengarkan sharing lebih lengkap dari drg. Maruli Togatorop melalui video berikut:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s