Artikel

Melawan Jargon “Dokter Harus Mengabdi”

Sebagai dokter yang pernah “mengabdi” pada negara dan masyarakat di daerah terpencil, saya merasa kompeten untuk meluruskan jargon “Dokter Harus Mengabdi”. Sebenarnya siapa yang pertama-tama membangun mitos seperti ini? Apakah karena dahulu kala banyak dokter yang mengabdikan diri untuk masyarakat kecil lalu muncul pemikiran bahwa semua dokter harus berbuat seperti itu?

Pengabdian itu pilihan.

Tidak ada satupun pihak yang berhak menuntut Anda untuk mengabdi kecuali bila pihak itu berkontribusi dalam proses Anda mencapai profesi itu.

Untuk sejawat yang sekolah dengan subsidi pemerintah, tentu wajar bila pemerintah menuntut pengabdian dokter tersebut untuk kebutuhan negara untuk jangka waktu yang wajar pula, dokter itu pun tidak boleh menolak karena pemerintah berperan dalam proses dia menjadi seorang dokter.

Atau untuk sejawat-sejawat yang bersekolah dengan dana beasiswa. Permintaan “mengabdi” untuk kebutuhan pihak pemberi beasiswa adalah hal yang wajar, ditulis dalam kontrak beasiswa.

Tapi tentu kondisi ini berbeda dengan sejawat-sejawat saya yang lulus dari universitas swasta, di mana tidak ada kontribusi pemerintah di sana.

Anehnya pemerintah memberlakukan aturan yang sama untuk semua lulusan dokter di Indonesia. Dokter lulusan universitas negeri dengan lulusan universitas swasta mendapatkan perlakuan yang sama. Di zaman ketika pemerintah mewajibkan dokter untuk PTT (Pegawai Tidak Tetap – istilah mudah bagi dokter yang mengabdi pada masyarakat/pemerintah), semua dokter lulusan universitas mana pun harus menjalankan PTT, ada atau tidak ada peran pemerintah dalam kelulusan dokter tersebut.

Sebaliknya di zaman ketika pemerintah sudah tidak mewajibkan lagi PTT, semua dokter pun mendapat kebebasan yang sama, ada atau tidak ada peran pemerintah dalam proses pendidikan dokter tersebut. Saya lulusan universitas negeri, masuk melalui jalur yang mendapat subsidi pemerintah tapi karena pada saat saya lulus sudah tidak ada lagi aturan kewajiban PTT maka saya bebas memilih bekerja di mana pun. saya menjalani PTT atas keputusan saya sendiri, saya melamar dan menjalani prosedur yang berlaku bersama dengan sejawat-sejawat lain yang lulus dari universitas swasta yang saat sekolah tidak mendapat subsidi pemerintah sama sekali.

Terjadi hal yang sama juga dengan dokter-dokter spesialis. Dokter-dokter spesialis sempat diwajibkan menjalani WKDS (Wajib Kerja Dokter Spesialis), di mana dokter spesialis yang baru lulus ditempatkan di daerah2 yang membutuhkan. Padahal sudah jadi rahasia umum, pendidikan dokter spesialis itu mahalnya minta ampun, pemerintah tidak berkontribusi secara merata di sana malah ada kecenderungan pungutan liar dari berbagai pihak.

Pengabdian itu pilihan. Berdasarkan KBBI, mengabdi artinya menghamba, berbakti.

Menurut saya, mengabdi artinya membaktikan diri pada suatu pihak tertentu berdasarkan keputusan bebasnya. Karena kalau tanpa keputusan bebas, namanya perbudakan.

Dan banyak orang salah mempersepsikan, pengabdian sebagai kerja tanpa dibayar. Menurut saya, pengabdian adalah kerja tanpa berharap dibayar. Artinya bila tidak dibayar atau dibayar kurang ya tidak apa-apa, contohnya untuk masyarakat miskin atau untuk korban2 perang atau kekerasan. Tapi orang yang berintegritas dan memiliki self-respect, tentu akan berupaya untuk “berterima kasih” atas jasa dan ekspertise yang telah dia manfaatkan, this is just common courtesy. Bahkan orang miskin pun banyak yang bila tidak mampu membayar dengan uang, membayar dengan apa yang bisa ia berikan, contohnya hasil ladangnya atau bila tidak ada hasil ladang, mereka berterima kasih dengan energi ketulusan yang tidak dapat dinilai dengan uang berapapun.

Tapi untuk orang atau pihak yang mampu membayar tentu Anda harus membayar, apalagi kalau sudah tercantum dalam perjanjian/ kontrak kerja, kecuali kalau Anda tidak punya integritas dan tidak punya self-respect sehingga Anda senang mengeksploitasi orang lain dan bangga bisa memanfaatkan jasa orang lain secara gratisan. Menjadi dokter itu butuh ilmu dan ketrampilan yang didapat lewat pendidikan dan pelatihan khusus. Ini tentu ada harganya dan menetapkan harga untuk keahlian kita tidak mengurangi nilai pengabdian kita.

Kalau semua pengabdi kerja tanpa dibayar, maka kita seharusnya tidak perlu bayar pajak untuk membayar gaji abdi-abdi negara, bukan? Pada saat saya jadi dokter PTT pun saya tetap dibayar layak oleh pemerintah.

Pengabdian itu pilihan. Tidak semua orang mau mengabdi dan itu adalah hak bebas seseorang. Anda tidak berhak memaksa seseorang untuk melakukan apapun dalam hidupnya termasuk mengabdi, apalagi menggunakan dalih ini hanya karena Anda tidak mau membayar jasa kami. Orang yang mendapat beasiswa saja berhak untuk mangkir asal membayar sejumlah penalti sesuai kesepakatan. Tidak mau membayar penalti pun adalah hak, asal bersedia dituntut ke jalur hukum.

Maka kalau pemerintah/masyarakat mengharapkan dokter mengabdi penuh pada masyarakat/negara, seharusnya pemerintah berkontribusi lebih banyak dalam pendidikan dokter-dokter dalam negeri. Berkontribusilah sampai kontribusi Anda memberi Anda hak untuk menuntut kewajiban dari seseorang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s