Aktivitas

Bisakah Mendeteksi Resiko Depresi Post Partum Sebelum Melahirkan?

“Sebentar lagi aku melahirkan. Tapi aku khawatir setelah menonton berita-berita ibu yang menyakiti anaknya karena depresi post partum. Apakah aku bisa jadi seperti itu juga?”

Fenomena baby blues, yang dikenal dengan nama lain postpartum blues dan maternity blues, sebetulnya adalah hal yang cukup lazim terjadi. Bahkan, diperkirakan sampai 80% ibu yang baru melahirkan sempat mengalami baby blues selama beberapa hari sampai dua minggu pasca melahirkan.1 Namun meskipun cukup lazim, stigma yang melekat pada masalah psikologis serta tuntutan sosial untuk menjadi ‘ibu yang sempurna’ membuat banyak ibu tidak berani mengungkapkan perasaan dan pengalaman mereka.

Padahal, jika baby blues tidak dihadapi dengan baik, ada risiko berkelanjutan menjadi depresi pasca persalinan (postpartum depression). Data di AS menyebutkan bahwa dalam selang waktu antara tahun 2000-2015, ada kenaikan yang cukup nyata terhadap jumlah kasus depresi pasca persalinan. Tentunya, ini perlu jadi perhatian kita bersama.

Hal ini pernah dibahas dalam diskusi online kolaborasi Dokter Tanpa Stigma dengan MotherHope Indonesia pada Juli 2020 bersama dr. Dyana Safitri Velies, Sp.OG(K), M.Kes, dan dr. Gina Anindyajati, Sp.KJ. Dari diskusi tersebut, dapat disimpulkan bahwa berbagai problema yang terjadi di masa perinatal memang patut diwaspadai, sebab tidak hanya berakibat fatal terhadap ibu, tetapi juga pasangan, orang-orang di sekitar, terutama anak.

Perubahan Fisik dan Mental pada Masa Perinatal

Selama proses kehamilan, persalinan, dan menyusui, tubuh ibu mengalami berbagai perubahan signifikan. Secara fisik, beban kerja tubuh saat hamil menjadi lebih berat dan jantung bekerja lebih keras. Selain itu juga ada perubahan neurotransmiter (penghantar saraf seperti dopamin, serotonin, dll) yang bisa menyebabkan mood swing.

Setelah persalinan, ibu juga mengalami berbagai perubahan fisik. Kelelahan berlebihan pasca bersalin, infeksi payudara, dan anemia—ketiga hal ini umum terjadi dan bisa menjadi faktor pemicu cemas ataupun depresi. Hormon estrogen dan progesteron yang berubah pun berpengaruh ke suasana perasaan ibu.

Riwayat sebelum hamil juga penting untuk diperhatikan. Pola kepribadian ibu sejak sebelum hamil akan mempengaruhi bagaimana ibu menghadapi tekanan mental. Jika sebelumnya pernah didiagnosis depresi klinis serta kecemasan, maka ada risiko untuk terkena lagi dalam fase perinatal. Juga, penting dilihat riwayat premenstrual syndrome (PMS) ataupun premenstrual dysphoric disorder (PDD) saat menstruasi.

Faktor lain yang penting selain fisik ialah faktor psikososial, yang menggambarkan hubungan dengan orang lain. Penting untuk dipertimbangkan apakah kehamilan direncanakan atau tidak, apakah ada pengaruh pengaturan hidup seperti pekerjaan dan ekonomi, apakah ada dukungan dari pasangan ataukah single mother, apakah ada riwayat penyalahgunaan zat adiktif atau riwayat KDRT.

Semua perubahan besar akan menyebabkan ibu harus melakukan adaptasi untuk bisa mengurus anak, belum lagi adanya budaya mom-shaming yang sering membuat ibu merasa kewalahan.

Gejala Baby Blues dan Depresi Pasca Persalinan

Tidak semua faktor risiko dan pemicu langsung bisa menyebabkan gangguan mental. Sebaliknya, jika tidak ada faktor risiko, belum tentu pula tidak mengalami gangguan mental. Kejadian gangguan mood atau gangguan suasana perasaan sifatnya multifaktorial dan harus dilihat secara kasus per kasus. Salah satu hal yang beragam di tiap-tiap manusia adalah reaksi stres.

Reaksi stres, atau respons stres, merupakan gangguan homeostasis tubuh yang diakibatkan suatu stimulus fisik maupun psikologis.3 Stimulus atau rangsangan di sini bisa kita sebut sebagai stresor. Stresor merupakan salah satu pemicu tersering terjadinya gangguan psikologis. Efek dari reaksi stres tidak hanya ada di alam pikiran maupun perasaan, tapi juga timbul sebagai gejala fisik seperti jantung berdebar atau nyeri lambung.

Ketika terjadi reaksi stres, yang tampak adalah tanda-tanda emosi yang intens seperti sering menangis atau marah-marah, serta cepat merasa sedih. Sebetulnya, reaksi stres dalam tahap akut bisa terlewati dengan baik jika seseorang punya resiliensi terhadap stres yang baik, terutama bila didukung kesehatan yang bugar dan kondisi psikologis yang adaptif serta rasional. Apabila reaksi stres ini berkelanjutan, akan ada berbagai gangguan mental yang bisa timbul.

Baby blues, atau peningkatan reaksi emosi mulai dari 2-3 hari pasca melahirkan sampai 1-2 minggu kemudian, ditandai dengan:4,5

  • Lonjakan emosi yang tidak seperti biasanya (cemas, takut, sedih)
  • Sering menangis tanpa sebab yang jelas
  • Marah terhadap bayi baru, terhadap anak lain, atau terhadap pasangan
  • Ibu mengucilkan diri dan merasa tak mampu mengurus anak
  • Sulit tidur, tidak nafsu makan, cepat lelah
  • Sulit berkonsentrasi, sulit mengambil keputusan
  • Berdampak terhadap anak karena ditelantarkan

Jika baby blues tidak diikuti proses koping yang baik atau tidak tertangani, maka akan berkelanjutan menjadi depresi pasca persalinan (setelah 1-3 minggu sampai 1 tahun pasca kelahiran), yang ditandai dengan kesedihan berlebihan, rasa putus asa, sampai ide-ide bunuh diri atau membunuh anak. Ketika gejala-gejala ini sudah bersifat disabling (hendaya) dan membahayakan diri serta orang sekitar, ibu harus dibantu mencari pengobatan.4,5

Perlu diperhatikan pula bahwa depresi perinatal tidak hanya bisa terjadi pada fase pasca persalinan, tetapi juga pada saat kehamilan, yang kita sebut depresi prenatal. Berbeda secara definisi dan onset, namun gejalanya secara umum sama. Ketika depresi terjadi saat hamil, bisa timbul banyak dampak negatif, salah satunya adalah antenatal care yang tidak rutin sehingga semakin menyulitkan diagnosis dan terapi.

Pentingnya Screening Gangguan Mental Bumil dan Pasangan

Identifikasi gangguan mental pada ibu hamil dan pasca bersalin memang sulit, karena pada dasarnya ibu hamil dan pasca bersalin memang mengalami berbagai perubahan perilaku. Malahan, perubahan psikologis yang muncul saat baby blues sering dianggap ‘biasa’. Tenaga medis sering mengabaikan kebutuhan psikis ibu, yang kemungkinan mengalami gejala-gejala baby blues namun bingung cara mengutarakannya atau merasa hal tersebut tidak pantas diutarakan.

Maka, sebaiknya gejala-gejala psikiatri harus termasuk yang di-screening dalam antenatal care (ANC) dan dilanjutkan sampai setelah persalinan. Bahkan, screening depresi juga sebaiknya dilakukan sejak sebelum menikah, dengan tujuan untuk menghilangkan stigma dan melakukan persiapan diri. Untuk pasca persalinan, screening yang umum dilakukan adalah EPDS.

Screening EPDS (Edinburgh Postnatal Depression Scale), ditinjau dengan pilihan ‘sangat setuju’ sampai ‘sangat tidak setuju’, dalam 7 hari terakhir:

  1. (Tidak) bisa tertawa dan mengenali hal yang lucu
  2. (Tidak) bersemangat menyongsong hal-hal menyenangkan
  3. Menyalahkan diri sendiri dengan berlebihan
  4. Merasa cemas atau khawatir tanpa alasan
  5. Merasa takut atau panik tanpa alasan
  6. Merasa kewalahan atas berbagai masalah hidup
  7. Tidur terganggu
  8. Merasa sedih atau penuh penderitaan
  9. Menangis tanpa sebab
  10. Ada pikiran melukai diri sendiri

Jika ibu mengalami baby blues maupun depresi pasca persalinan, yang terpenting adalah segera mencari bantuan profesional, seperti konselor, psikolog, atau psikiater. Boleh juga menghubungi dokter kandungan dan minta rujukan dari sana. Penting juga untuk mencari komunitas atau support group, terutama yang inklusif dan bisa mengikutsertakan pasangan.

Perubahan fisik, mental, dan pengaruh sosial pada ibu sangat penting untuk diperhatikan tenaga kesehatan, sebab dampaknya amat luas. Selain berdampak pada ibu sendiri, semua pihak pun akan merasakan dampaknya: termasuk pasangan, keluarga ibu, orang-orang terdekat, dan anak. Dibutuhkan support system yang kuat, tidak menstigma, juga solutif serta efektif, yang bisa menawarkan bantuan untuk ibu dalam menjalani proses-proses menyambut kelahiran anak.

Referensi:

  1. Fields L. Is It Postpartum Depression or ‘Baby Blues’? WebMD; 2021. https://www.webmd.com/depression/postpartum-depression/postpartum-depression-baby-blues
  2. Haight SC, Byatt NDO, Moore Simas TA, Robbins CL, Ko JY. Recorded Diagnoses of Depression During Delivery Hospitalizations in the United States, 2000-2015. Obstetrics & Gynecology, June 2019; 133 (6): 1216-1223. doi: 10.1097/AOG.0000000000003291. https://journals.lww.com/greenjournal/Abstract/2019/06000/Recorded_Diagnoses_of_Depression_During_Delivery.20.aspx
  3. Chu B, Marwaha K, Sanvictores T, Ayers D. Physiology, Stress Reaction. StatPearls; 2021. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK541120/
  4. Centers for Disease Control and Prevention. Depression During and After Pregnancy. U.S. Department of Health and Human Services; 2022. https://www.cdc.gov/reproductivehealth/features/maternal-depression/index.html
  5. National Institute of Mental Health. Perinatal Depression. U.S. Department of Health and Human Services. https://www.nimh.nih.gov/health/publications/perinatal-depression

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s