Aktivitas

Mom-Shaming: Fenomena Sosial-Kultural yang Membahayakan Ibu

Bun, sudah berapa kali dengar omongan-omongan nyinyir tentang anak yang terlalu kurus, ibu yang jadi gemuk, tentang makanan dan susu anak, tentang keinginan ibu bekerja lagi atau kuliah lagi, dll. Tahukah Anda bahwa perilaku tersebut justru paling sering datang dari saudara/ anggota keluarga? Miris ya..

Proses menjadi seorang ibu memiliki banyak dampak perubahan terhadap berbagai aspek kehidupan ibu dan orang-orang di sekitarnya, terutama ibu baru. Perubahan hidup memasuki masa motherhood ini tentunya butuh didukung kesiapan fisik, mental, dan sosial yang baik. Namun, kita sering melupakan kebutuhan sosial yang amat penting, yaitu support system yang tidak memberi stigma dan tidak melakukan mom-shaming. Apa itu mom-shaming?

Menurut dr. Dyana Safitri Velies, M.Kes.,Sp.OG(K) dalam sebuah sesi Instagram Live dengan dr. Sandra dari Dokter Tanpa Stigma, mom-shaming adalah perilaku merendahkan atau menghakimi ibu dalam membesarkan anak. Setidaknya 88% ibu milenial dan generasi Z di Indonesia pernah mengalami mom-shaming, dan paling sering mendapat perlakuan tersebut dari saudara/ anggota keluarga.1

Mom-Shaming: Pelakunya Sering Orang Terdekat

Pelaku tersering mom-shaming adalah orang-orang terdekat seperti keluarga dan teman-teman. Di keluarga, yang tersering melakukan mom-shaming adalah ibu mertua (49.15%), selanjutnya ibu sendiri (26%), lalu suami (18.64%). Sementara itu, di ruang publik, 86.11% mom-shaming dilakukan oleh orang asing, dan 13.89% dilakukan oleh tenaga kesehatan.2 Ini merupakan PR besar untuk para tenaga kesehatan, karena terkadang niat untuk memberikan nasihat bisa dipersepsikan sebagai usaha penghakiman.

Selain di komunitas terdekat, media juga menjadi ranah menjamurnya mom-shaming. Dewasa ini, media sosial seperti Instagram juga sering digunakan untuk berbagi pengalaman parenting yang sering menjurus pada mom-shaming, terutama di akun public figure atau selebritas.3

Ada macam-macam perkataan yang bersifat mom-shaming, di antaranya terkait ibu dan juga terkait anak. Beberapa contohnya:

Terkait AnakTerkait Ibu
– Pemilihan susu (ASI/ sufor)
– Makanan anak (kurang sehat, tidak organik, dll)
– Menggunakan jasa pengasuh anak/ tidak
– Tumbuh-kembang dan kesehatan anak
– Cara merawat anak (menyuapi, memandikan, memilihkan pakaian, menidurkan, dll)
– Prestasi anak di sekolah
– Perhatian terhadap anak – Kedisiplinan anak (kurang disiplin/ terlalu disiplin)
– Pemilihan metode kontrasepsi
– Pemilihan metode persalinan (pervaginam atau sectio)
– Ibu bekerja/ tidak bekerja
– Gaya hidup ibu (makanan, olahraga, aktivitas selama hamil/ sesudah melahirkan)
Body shaming (selama hamil kurang gendut/ sesudah melahirkan masih gendut)

Tuntutan Menjadi ‘Ibu yang Sempurna’

Sebetulnya, yang dimaksud dengan identitas keibuan (motherhood identity) merupakan konstruksi sosial yang dibentuk berdasarkan norma, nilai, dan budaya di suatu tempat dalam waktu tertentu.2 Di dunia yang sudah semakin global, berbagai konstruksi ini akan terus bergeser, sehingga menuntut ibu untuk menjadi ‘sesuai standar kesempurnaan’ tentunya mustahil. Alih-alih berpatokan pada masa lalu, tentu lebih baik kita berusaha adaptif dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Seringkali, ‘ibu yang sempurna’ dinilai dari hasil, bukan proses. Biasanya, anak adalah yang tersering digunakan sebagai alat penilaian ibu. Jika anak kurang sehat, atau mengalami gangguan perkembangan, atau kurang berprestasi di sekolah, ibunya akan dianggap bukan ibu yang baik. Padahal, kita tidak pernah tahu proses yang terjadi dalam kehidupan ibu dan bagaimana perjuangannya membesarkan anak.

Posisi perempuan dalam ketimpangan relasi kuasa membuat ibu menjadi rentan dihakimi masyarakat. Sebuah penelitian di Jawa Tengah menyebutkan bahwa normalisasi dan standarisasi di bidang kesehatan, psikologi, dan budaya membuat orang merasa harus terus ‘saling mengawasi’ agar tetap berada dalam batas normal, sesuai nilai dominan yang berlaku di masyarakat tersebut.4

Identitas gender pun sering dilekatkan dengan ibu. Perempuan yang kurang memunculkan ciri sosial feminin dianggap pastilah tidak bisa menjadi ibu yang baik. Bahayanya, identitas keibuan sering dilekatkan pada perempuan sampai menghilangkan bagian identitas dirinya yang lain, karena dianggap sudah tugas perempuan untuk melakukan intensive mothering.2 Singkatnya, jika ia bukan seorang ibu, maka ia bukan siapa-siapa.

Lebih jauh lagi, berbagai tuntutan ini banyak yang kontradiktif, misalnya anggapan tentang ibu bekerja. Ada yang beranggapan bahwa jika seorang ibu mengurus anak sambil bekerja, maka dikatakan ‘hebat’. Namun ada lagi yang mengatakan bahwa ibu yang baik seharusnya memberikan seluruh waktunya untuk mengurus anak di rumah dan tidak boleh bekerja.2

Jadi, kontradiksi-kontradiksi seperti ini hanya akan membingungkan ibu, padahal tidak ada dasar yang jelas untuk mengatakan mana yang lebih baik antara bekerja atau di rumah. Hanya tiap-tiap ibu sendirilah yang bisa menentukan, mana pilihan yang terbaik untuk dirinya dan anaknya, yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Menjadi Pemicu Tekanan Mental Sampai Depresi Post Partum

Budaya mom-shaming berakibat ibu jadi meragukan diri sendiri serta tidak percaya diri, juga bimbang dan tidak bisa mengambil keputusan dengan tegas. Kebimbangan ini pun akan berakibat membingungkan seluruh keluarga. Rasa insecure ini pun akan memunculkan banyak emosi negatif seperti marah pada diri sendiri atau anak, serta merasa iri atas pencapaian ibu lain. Ibu rentan merasa terisolir, merasa dirinya salah, dan tidak punya dukungan.1

Perilaku mom-shaming juga meningkatan kecemasan atau ansietas. Penelitian di Yogyakarta menunjukkan bahwa ibu muda yang mengalami mom-shaming memiliki rata-rata kecemasan lebih tinggi daripada yang tidak mengalami mom-shaming.5 Jika tekanan mental tersebut tidak diimbangi mekanisme koping yang baik, dapat berlanjut menjadi baby blues atau bahkan depresi pasca persalinan.

Ibu juga seringkali diberi stigma-stigma seperti, “Salah sendiri mau punya anak,” atau, “Memang jadi ibu itu berat, sudah biasa.” Ini termasuk perilaku mom-shaming yang berbahaya, karena ibu jadi merasa tidak berani mengungkapkan jika ada gangguan suasana perasaan atau pikiran-pikiran depresif, karena takut dikatakan ‘tidak normal’.

Selain itu, menurut dr. Dyana, ada dampaknya terhadap anak. Contohnya, karena takut dihakimi jika melahirkan dengan cara operasi, ibu memaksakan diri untuk lahir spontan. Atau memaksakan memberi ASI padahal ASI-nya kurang, sehingga berakibat anak menjadi dehidrasi. Dampak lain dalam kehidupan ibu contohnya adalah terpaksa berhenti bekerja karena tekanan sosial, padahal sebetulnya membutuhkan tambahan penghasilan.

Ciptakan Lingkungan Kondusif dan Support System

Mom-shaming kerap terjadi karena orang sering merasa pengalaman pribadi bisa diaplikasikan ke semua orang, sehingga mereka merasa bisa ‘menguliahi’ orang lain. Pada faktanya, pengalaman tiap-tiap ibu dan anak berbeda. Kita tidak boleh memaksakan value kita terhadap orang lain. Daripada mendengarkan opini pribadi, lebih baik ibu diarahkan untuk melakukan riset dan membaca sumber-sumber berdasarkan fakta, yang terpercaya dari ahlinya.

Ibu juga bisa dibantu untuk berpikir rasional sehingga tidak langsung percaya berbagai asumsi yang ada. Belajar membuat batasan (setting boundaries) juga salah satu cara yang baik untuk memilah waktu, memilah pengerjaan tugas rumah dan pekerjaan di kantor, dan memilah perkataan siapa yang boleh didengar. Seringkali, penghakiman dari orang lain tidak memiliki dasar rasional. Jika media sosial dirasa tidak kondusif, tidak ada asalnya istirahat sejenak dari Internet.

Tentu saja, bukan berarti kita tidak boleh memberi nasihat ataupun memberi koreksi jika ibu melakukan kekeliruan. Namun, kita harus sangat memperhatikan cara kita berkomunikasi dan memberikan empati sesuai kebutuhan. Menurut psikolog Grace Eugenia Sameve di artikel CNN Indonesia, mungkin kita tidak bermaksud jahat, tetapi seringkali pesan, cara penyampaian serta timing-nya yang tidak sesuai.6

Daripada mengkritisi sampai taraf menghakimi, lebih baik kita menawarkan bantuan yang lebih riil, seperti mencarikan solusi untuk masalah ibu, mengantarkan ibu konseling, ataupun sekadar meringankan beban ibu dengan cara membantu berbagai tugas rumah-tangga.

Kehamilan, persalinan, menyusui, dan proses membesarkan anak tentunya memberi banyak perubahan dalam kehidupan ibu. Perubahan terjadi mulai dari fisik, mental, dan kehidupan sosial. Tidak hanya ibu yang menjalani, namun juga seluruh anggota keluarga yang terlibat, serta teman-teman dan komunitas di sekitar ibu. Jadi, alangkah baiknya jika semua orang di sekitar ibu bisa menjadi support system yang kuat, solutif, bisa menjadi ruang diskusi yang aman, bisa memvalidasi perasaan ibu, dan selalu mendukung tanpa menghakimi.

Mari kita menjadi lebih mindful dalam bersikap terhadap ibu. Hati-hati, terkadang kita bisa melakukan mom-shaming tanpa kita sadari!

Referensi:

  1. Putri AW. Penyebab Mom-Shaming dan Contoh Mom-Shaming. Tirto.id; 2021. https://tirto.id/penyebab-mom-shaming-dan-contoh-mom-shaming-glqn
  2. Türe D. Mother-Shaming Memories: The Role of Maternal Self-Discrepancy on Negative Emotions and Shaming Experiences of Mothers. Doctoral Dissertation, Middle East Technical University; 2021. https://open.metu.edu.tr/bitstream/handle/11511/91460/10364041.pdf
  3. Hasna N, Bachari AD, Nurhadi J. Praktik Mom-Shaming dalam Media Sosial Instagram. Jurnal Bahtera Sastra Indonesia, 2021: 3 (2). https://ejournal.upi.edu/index.php/BS_Antologi_Ind/article/view/41060
  4. Adiyanto W, Afiati AI. Mekanisme Kuasa dalam Fenomena Mom-Shaming pada Peran Perempuan sebagai Ibu. Lontar: Jurnal Ilmu Komunikasi, 2020: 8 (1). https://doi.org/10.30656/lontar.v8i1.2173
  5. Sawitri N, Nurjaman TA. Perbedaan Kecemasan pada Ibu Muda antara yang Pernah dan Tidak Pernah Mendapatkan Mom-Shaming. Disertasi Doktoral, Universitas Teknologi Yogyakarta; 2020. http://eprints.uty.ac.id/5517/1/10.%20ABSTRAK_5151111009_NANI%20SAWITRI_PSI.pdf
  6. CNN Indonesia. 3 Cara Sehat Menghadapi ‘Mom-Shaming’ Menurut Psikolog. CNN Indonesia; 2022. https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20220309061907-289-768557/3-cara-sehat-menghadapi-mom-shaming-menurut-psikolog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s