Aktivitas

Pasca Keguguran, Jangan Lupakan Ayah!

Dalam proses berduka setelah kehilangan kehamilan, orang cenderung berfokus pada ibu saja, dan tidak memperhatikan kondisi mental ayah. Padahal, proses berduka tentunya dijalani bersama. Seringkali ayah tidak bisa mengungkapkan perasaannya dan akhirnya memaksakan diri untuk tampil tegar.5 Sosok suami yang memaksakan tegar ini tidaklah berakibat bagus, sebab istrinya akan merasa dirinya berjuang sendirian.

Keguguran adalah proses kehilangan yang seringkali diabaikan karena sudah dianggap lumrah. Efek psikologis pasca keguguran pun sering dipandang sebelah mata, terutama efeknya terhadap ayah. Padahal, kedua pihak mengalami proses berduka (grieving) yang sama, dan peristiwa kehilangan dapat menimbulkan trauma psikologis yang berkelanjutan.

Serba-serbi keguguran dan kaitannya dengan kesehatan jiwa sempat dibahas dalam diskusi online Dokter Tanpa Stigma bersama Depression Warriors Indonesia pada Agustus 2020 yang bertajuk Kesehatan Mental Ibu dan Ayah Pasca Keguguran, bersama dr. Dyana Safitri Velies, Sp.OG(K), M.Kes, dan Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Psi., Psikolog, yang kerap disapa Nina.

Risiko-Risiko Keguguran dan Proses Medisnya

Keguguran artinya terhentinya kehamilan di bawah usia 20 minggu atau dengan berat janin di bawah 500 gram. Secara teknis, keguguran merupakan abortus/aborsi spontan. Namun, di Indonesia istilah aborsi masih sering dihindari karena orang awam menganggap semua aborsi terjadi karena disengaja. Padahal, keguguran merupakan aborsi yang tidak disengaja.

Baca juga: Aborsi: Definisi, Legalitas, dan Kesulitan bagi Penyintas

Istilah miscarriage (keguguran) sering dikonotasikan berarti ibu melakukan suatu kesalahan saat mengandung (miscarry), padahal istilah ini juga tidak tepat. Sebagian besar peristiwa keguguran terjadi karena janin memang tidak berkembang sempurna, yang biasanya disebabkan oleh kelainan kromosom. Seringkali, kelainan kromosom bukan disebabkan karena diturunkan dari orangtua, namun merupakan error seiring proses pembelahan sel-sel embrio.1

Keguguran sebetulnya berbeda dengan kegagalan embrionik/ anembryonic pregnancy, atau yang kita kenal sebagai blighted ovum. Dalam kondisi ini, terjadi pembuahan dan implantasi, serta ada pertumbuhan kantung kehamilan, namun embrio tidak tumbuh.2 Kelainan kehamilan lain, seperti hamil anggur (mola hidatidosa/ hydatidiform mole), sebetulnya merupakan golongan tumor. Namun karena semua penyakit tersebut memiliki penatalaksanaan yang sama yaitu terminasi kehamilan, maka sering digolongkan sebagai keguguran juga.

Faktor risiko keguguran digolongkan menjadi tiga:

  • Faktor risiko fetal, adalah faktor risiko tersering, berupa kelainan kromosom seperti yang disebutkan di atas
  • Faktor risiko paternal, yaitu berupa faktor kromosom dari ayah
  • Faktor risiko maternal, selain faktor kromosom, ada juga faktor penyakit kronis (seperti diabetes, tiroid, malnutrisi, gangguan pembekuan darah), gaya hidup (merokok, NAPZA), hormonal (kekurangan hormon progesteron), okupasional (paparan radiasi atau zat kimia), imunologis (penolakan janin oleh sel-sel pertahanan tubuh, seperti pada antiphospholipid syndrome), atau anatomis (seperti kelainan bentuk rahim, kelainan endometrium, dll)

Secara medis, akan dilakukan berbagai pemeriksaan untuk memastikan keguguran, yaitu dengan USG, laboratorium, dan pemeriksaan dalam. Setelah dipastikan pasien mengalami keguguran, maka terapi medisnya adalah dikeluarkan dengan menggunakan obat-obatan maupun dengan kuretase. Idealnya terapi medis ini juga diikuti konseling psikologis.

Dampak Psikologis Pasca Keguguran

Seperti yang telah dijelaskan secara teknis di atas, secara kultural ada bermacam-macam ‘pemahaman’ masyarakat tentang keguguran. Terkadang keguguran juga disamakan dengan kematian bayi di usia yang sudah mendekati kelahiran atau kondisi lahir mati (stillbirth).

Sebab, terlepas dari berbagai definisi teknis, pengalaman yang dialami penyintas adalah sama: hilangnya kehamilan, atau hilangnya anak yang diharapkan.3 Bersamaan dengan itu, ada berbagai ekspektasi dan harapan yang ikut musnah, sehingga menimbulkan pengalaman yang traumatik.

Perasaan yang bisa muncul antara lain rasa bersalah, kecewa, marah, dan sedih. Semua perasaan ini bisa diikuti rasa tidak nyaman dengan tubuhnya, serta hilangnya kepercayaan diri. Penghargaan atas diri bisa terganggu dan timbul rasa tidak berdaya. Penyintas pun bisa menjadi lebih sensitif, seperti menjadi cepat sedih bila ada hal-hal yang mengingatkan akan bayinya, misalnya ketika melihat peralatan bayi atau melihat bayi orang lain.

Tekanan psikologis ini bisa berlanjut menjadi depresi dan gangguan cemas, yang akan menyebabkan menurunnya kualitas hidup, baik kualitas hidup pribadi seperti sulit tidur dan tidak mau makan, maupun kualitas hubungan sosial seperti sering bertengkar dengan suami atau keluarga lainnya. Komplikasi terburuk dari depresi yang bisa muncul adalah munculnya pikiran bunuh diri.

Semua dampak ini tidak hanya dialami oleh ibu, namun juga ayah dan anggota keluarga lain. Meskipun mereka tidak mengalami berbagai dampak fisik keguguran, tetapi dampak emosional terhadap mereka tetap signifikan. Pengaruhnya juga bisa berlanjut sampai menjadi kecemasan di kehamilan selanjutnya.4

Pada ayah, bisa muncul rasa frustrasi terhadap pasangannya. Pada kakek dan nenek pun gejala yang timbul bisa lebih berat, terkait fisik lansia. Anak-anak lain maupun saudara juga bisa kena imbasnya.

Anjuran untuk Tenaga Profesional

Ketika mengalami peristiwa keguguran, pasien akan bertemu dengan dokter spesialis kandungan serta didukung konselor atau psikolog. Selain dukungan psikologis, pasien juga akan diarahkan untuk melakukan perencanaan kehamilan berikutnya lewat konseling prakonsepsi. Di sini, pasien disarankan untuk menjarakkan kehamilan berikutnya minimal 3 bulan setelah keguguran. Meskipun sekitar 2 minggu setelah keguguran sudah bisa terjadi ovulasi, jarak 3 bulan disarankan mengingat kondisi psikologis mungkin belum stabil.

Beberapa saran cara berbicara dengan pasien/ klien yang menempuh peristiwa keguguran:

  • Bicara dengan raut wajah hangat dan intonasi rendah, lakukan tatapan mata dan tangan terbuka
  • Berikan edukasi dengan sabar dan gunakan bahasa yang mudah dimengerti
  • Berikan empati, ingat bahwa pasien sedang menempuh proses berduka
  • Berikan pertolongan informasi administratif
  • Ikut sertakan pasien dalam pembuatan keputusan (misalnya kapan melakukan induksi)
  • Berikan pilihan untuk melihat hasil kuretase, sebelumnya disampaikan dahulu bentuk jaringan yang keluar
  • Jika memang tidak diketahui penyebab keguguran, katakan sejujurnya bahwa tidak tahu
  • Berikan informasi mengenai apa yang bisa dilakukan untuk mencari penyebab dan mencegah keguguran berulang
  • Tekankan bahwa proses berkabung normal dijalani sebab proses keguguran artinya kehilangan sesosok manusia yang selama ini diharapkan, sehingga anak yang lahir berikutnya bukanlah ‘pengganti’ dari yang gugur

Perhatikan Kesehatan Mental Seluruh Anggota Keluarga

Meskipun secara statistik keguguran cukup lazim terjadi (sekitar 10-20% kehamilan),1 ini tidak membuat kita bisa mengabaikan peristiwa traumatik yang dihadapi. Keguguran tetaplah sebuah peristiwa kehilangan yang harus kita bantu untuk dilewati, sesuai tahap-tahap kedukaan (stages of grief) mulai dari fase penolakan, kemarahan, negosiasi, depresi, sampai akhirnya tiba pada fase penerimaan.

Ibu yang mengalami keguguran seringkali disalahkan oleh lingkungannya sebagai penyebab keguguran.3 Ini adalah miskonsepsi yang harus dicegah, karena penyebab tersering keguguran bukanlah berasal dari ibu. Pasangan, keluarga, dan rekan-rekan di sekitar ibu harus bisa menjadi support system yang aman, tidak menyalahkan ibu, dan tidak memberikan stigma.

Selain itu, perlu ditekankan bahwa dalam proses berduka setelah kehilangan kehamilan, orang cenderung berfokus pada ibu saja, dan tidak memperhatikan kondisi mental ayah. Padahal, proses berduka tentunya dijalani bersama. Seringkali ayah tidak bisa mengungkapkan perasaannya dan akhirnya memaksakan diri untuk tampil tegar.5 Sosok suami yang memaksakan tegar ini tidaklah berakibat bagus, sebab istrinya akan merasa dirinya berjuang sendirian.

Trauma psikologis memang sulit dinilai pada pria, apalagi secara kultural, pria selalu didorong untuk menyembunyikan perasaannya. Dengan demikian, konselor harus membantu agar ikut memvalidasi pengalaman ayah. Yang terbaik adalah, kedua individu saling membantu dalam melewati fase berduka, berdiskusi dan bertukar pikiran agar bisa berproses bersama dan mencapai penerimaan bersama pula.

Peristiwa keguguran tentunya sangat mempengaruhi ibu, namun kita tidak boleh melupakan orang-orang di sekitarnya. Sebab, proses kehilangan dialami oleh seluruh anggota keluarga, yang memiliki berbagai harapan atas kehamilan tersebut. Dengan memperhatikan kebutuhan emosional semua pihak yang terlibat, diharapkan proses berduka bisa berlalu dengan lebih cepat.

Referensi:

  1. Mayo Clinic Staff. Miscarriage. Mayo Foundation for Medical Education and Research (MFMER); 2021. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/pregnancy-loss-miscarriage/symptoms-causes/syc-20354298
  2. Chaudhry K, Tafti D, Siccardi MA. Anembryonic Pregnancy. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2022. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK499938/
  3. Purdie M. Why We Need To Talk About Losing a Baby. Geneva: World Health Organization; 2022. https://www.who.int/news-room/spotlight/why-we-need-to-talk-about-losing-a-baby
  4. Meaney S, Corcoran P, Spillane N, O’Donoghue K. Experience of Miscarriage: An Interpretative Phenomenological Analysis. BMJ Open 2017; 7: e011382. doi: 10.1136/bmjopen-2016-011382
  5. Reilly K. Emotional Trauma of Miscarriage of Men is Often Overlooked. The Washington Post; 2021. https://www.washingtonpost.com/health/miscarriage-men-grief/2021/07/02/f7d7f388-ceed-11eb-8014-2f3926ca24d9_story.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s