Artikel

Transisi Hormonal: Efek, Risiko, dan Kontraindikasi

Artikel ini adalah bagian kedua dari seri Transisi Hormonal yang disusun oleh dr. Alegra Wolter.

Transisi hormonal adalah salah satu bentuk layanan kesehatan afirmasi gender (gender-affirming health care) sebagai salah satu pilihan untuk individu yang mengalami disforia gender (gender dysphoria). Terapi hormon bertujuan menekan karakteristik seks sekunder dan melakukan maskulinisasi atau feminisasi sesuai afirmasi gender individu tersebut.1

Proses transisi hormonal membutuhkan waktu yang cukup panjang dan persiapan yang matang, dengan beragam efek mulai dari fisik dan mental. Pemantauan pun harus dilakukan secara ketat karena banyak risiko dan efek samping yang harus diwaspadai. Oleh sebab itu, terapi hormonal sifatnya sangat individualistik. Pengawasan yang disarankan dalam terapi hormon jangka panjang terutama adalah pengawasan bone mineral density (BMD) dan kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah).1,2

Regimen Maskulinisasi dan Feminisasi

Durasi dan dosis terapi akan disesuaikan dengan kondisi kesehatan serta pilihan yang diinginkan pasien. Ada yang memilih terapi dosis optimal, ada pula yang memilih dosis rendah dalam jangka panjang sehingga prosesnya relatif lebih lambat. Namun ini bukan berarti bisa diberikan dosis setinggi-tingginya demi mempercepat proses, sebab tetap dibutuhkan waktu beberapa tahun sampai efek muncul seluruhnya.3

Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam menentukan durasi dan dosis antara lain faktor genetik, usia ketika memulai terapi, dan kondisi medis umum.3 Dosis titrasi pun disesuaikan dengan goal pasien, apakah menginginkan maskulinisasi atau feminisasi penuh, ataukah penampilan androgynous.

Pilihan regimen maskulinisasi:

  • Testosteron, pilihannya berupa suntik (intramuskular atau subkutan; mingguan, per 2 minggu, atau per 12 minggu); atau transdermal (gel atau patch). Untuk pilihan oral masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
  • Obat lain berupa progestin untuk membantu menekan menstruasi, atau finasteride bila muncul pola kebotakan

Pilihan regimen feminisasi:

  • Estrogen, pilihannya berupa tablet atau suntik intramuskular
  • Anti-androgen (testosterone blocker), misalnya spironolakton
  • Obat lain berupa progesteron (opsional, masih perlu penelitian lebih lanjut)

Efek Terapi Hormonal dan Pemantauannya

Karena transisi hormonal sifatnya individual, respons terapi dan pengalaman masing-masing individu pasti berbeda. Ada beberapa hal yang mempengaruhi variasi efek terapi, antara lain usia memulai terapi, dosis obat, waktu pemberian, dan genetik atau faktor biologis lain.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan selama proses terapi:

  • Terus pantau respons terapi serta berbagai efek yang diharapkan dan tidak diharapkan secara berkala
  • Perhatikan berbagai kondisi medis yang bisa dipengaruhi hormon, seperti penyakit autoimun atau migrain.3 Penyakit yang bisa mengalami eksaserbasi terkait estrogen misalnya batu empedu, hiperprolaktinemia, dan beberapa jenis kanker. Penyakit yang bisa mengalami eksaserbasi terkait testosteron misalnya gagal jantung kongestif dan gejala eritrositosis.2
  • Pemeriksaan berkala: kadar hormon-hormon dalam darah, prolaktin, profil lipid (kolesterol, trigliserida, dan seterusnya), darah lengkap khususnya hemoglobin dan hematokrit, fungsi ginjal dan elektrolit khususnya kalium (untuk yang menggunakan spironolakton), bone mineral density (BMD) terutama untuk yang di atas 60 tahun, dan skrining kanker payudara serta kanker prostat.4
  • Untuk membantu mencegah osteoporosis, hormon estrogen maupun testosteron dalam dosis rendah tetap disarankan untuk diberikan meskipun sudah dilakukan pengangkatan ovarium ataupun pengangkatan testis.3 Juga, pastikan konsumsi kalsium dan vitamin D cukup.
  • Jika efek yang diharapkan belum muncul maksimal setelah terapi hormon, bisa didiskusikan dengan nakes apakah diperlukan terapi lain, misalnya speech therapy.3 Operasi laring bisa menjadi opsi, tetapi efektivitasnya belum memiliki bukti ilmiah.2

Berbagai efek feminisasi dan maskulinisasi yang dapat muncul setelah terapi hormon:3,1

Feminisasi (Estrogen)Maskulinisasi (Testosteron)
Fisik
– Kulit lebih kering dan terasa lebih tipis
– Pita suara tidak berubah, dibutuhkan modifikasi suara seperti speech therapy jika diinginkan
– Rambut tubuh menipis dan sebarannya berkurang; mungkin diperlukan terapi lain seperti laser jika ingin menyingkirkan rambut wajah seluruhnya
– Dada mulai membesar dan kadang-kadang terasa nyeri
– Distribusi lemak lebih mengumpul di panggul, paha, dan dada; lemak wajah bertambah (jika ingin melakukan facial feminization surgery disarankan menunggu setidaknya 1 tahun sejak memulai estrogen)
– Massa otot dan kekuatan berkurang; otot di lengan dan tungkai lebih mengecil, bisa terjadi sedikit perubahan ukuran sepatu dan lain-lain
Fisik
– Kulit lebih berminyak dan berjerawat
– Pita suara menebal, suara lebih berat
– Rambut tubuh menebal dan lebih banyak di wajah, dada, punggung, dan lengan; mulai ada penipisan rambut kepala (pola kebotakan)
– Dada belum banyak berubah (jika ingin melakukan masculinizing chest surgery disarankan menunggu 6-12 bulan sejak memulai testosteron)
– Distribusi lemak berkurang di panggul dan paha, lebih banyak di perut; lemak wajah berkurang
– Massa otot dan kekuatan bertambah; pertumbuhan otot lebih banyak di lengan dan tungkai
– Indra taktil atau pengecap bisa terasa berbeda
Emosional
– Transisi hormonal bisa dianggap seperti “pubertas kedua” dengan berbagai gejolak emosi dalam range yang bervariasi, di antaranya bisa terjadi mood swing sampai depresi, atau kecemasan
Emosional
– Transisi hormonal bisa dianggap seperti “pubertas kedua” dengan berbagai gejolak emosi dalam range yang bervariasi, di antaranya bisa terjadi mood swing sampai depresi, atau kecemasan
Seksual & Reproduktif
– Perubahan libido, pengecilan penis dan kemampuan ereksi menurun
– Testis akan mengecil sampai lebih dari separuh ukuran awal
– Jumlah sperma menurun tapi masih ada kemungkinan memproduksi sperma
Seksual & Reproduktif
– Peningkatan libido, pembesaran klitoris, atrofi epitel vagina
– Menstruasi semakin sedikit dan durasinya semakin pendek sebelum akhirnya berhenti
– Kemungkinan hamil menurun tapi masih ada

Seberapa Signifikan Risiko-Risikonya?

Prinsipnya, efek samping dari terapi hormon sifatnya minimal dan jarang terjadi, bila kondisi kesehatan secara umum baik. Namun tentunya, perlu dilakukan monitoring berkala. Contoh risiko-risiko terapi:

  • Terapi estrogen: trombosis (bisa berakibat trombosis vena dalam/ DVT, stroke, emboli paru) dan gangguan fungsi hati. Bisa ada perlambatan aliran empedu, tapi risikonya kecil. Risiko-risiko ini lebih tinggi terutama jika memulai terapi di usia lebih dari 50 tahun, dan ditambah kebiasaan merokok (bisa mengakibatkan blood clot, stroke, dan serangan jantung);4 akan semakin diperburuk dengan obesitas dan gaya hidup sedentary.2
  • Terapi testosteron: polisitemia (produksi sel darah merah berlebih), ditandai dengan hematokrit tinggi, yang bisa menyebabkan stroke atau serangan jantung. Bahaya trombosis pada transpuan biasanya terjadi pada satu tahun pertama, terutama bila menggunakan hormon golongan ethinylestradiol. Data-data tentang risiko terkait kolesterol dan kanker masih perlu penelitian lebih lanjut.3

Ada beberapa kontraindikasi yang harus dipertimbangkan sebelum menjalankan terapi hormonal, antara lain:

  • Kontraindikasi estrogen: gangguan kardiovaskular iskemik tidak stabil, estrogen-dependent cancer, gagal hati, gangguan psikiatri yang membatasi kemampuan mengambil keputusan, dan alergi terhadap komponen obat.
  • Kontraindikasi testosteron: kehamilan (kontraindikasi absolut),2 sementara itu yang termasuk kontraindikasi relatif antara lain hipertensi berat, sleep apnea, dan polisitemia. Lain-lainnya, active sex hormone-sensitive cancer (misalnya kanker payudara atau endometrium), gangguan kardiovaskular iskemik tidak stabil, gangguan psikotik/ tendensi melukai orang lain (homicidal), gangguan psikiatrik lain yang membatasi kemampuan memberikan persetujuan, serta alergi pada komponen obat.

Salah satu yang sering ditanyakan adalah perihal penyesalan sesudah transisi. Dari data penelitian, jika proses transisi dijalankan dengan prosedur yang benar sesuai petunjuk medis, prevalensi penyesalan pasca transisi gender terhitung amat rendah, di bawah 1%.5Studi kohort di Belanda menunjukkan bahwa terjadinya penyesalan hanya sebesar 0.6% pada transpuan dan 0.3% pada transpria.6

Akses layanan kesehatan bagi kelompok-kelompok masyarakat marginal masih sangat terbatas, termasuk layanan kesehatan untuk individu trans. Terkadang, karena kurangnya akses, individu trans bisa beralih mencari terapi yang tidak memiliki dasar medis seperti herbal, silikon, atau filler payudara yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Layanan kesehatan seperti dukungan psikologis, terapi hormonal, sampai operasi afirmasi gender merupakan contoh-contoh akses yang secara signifikan meningkatkan kualitas hidup mereka.2 Dengan catatan, terapi haruslah dipantau ketat oleh penyedia jasa kesehatan profesional agar kualitas terapi optimal.

Referensi

  1. Unger CA. Hormone Therapy for Transgender Patients. Translational Andrology and Urology 2016; 5 (6). https://tau.amegroups.com/article/view/11807/13169
  2. T’Sjoen G, Arcelus J, Gooren L, Klink DT, Tangpricha V. Endocrinology of Transgender Medicine. Endocrine Reviews 2018: 40 (1); 97-117. https://academic.oup.com/edrv/article/40/1/97/5123979
  3. UCSF Transgender Care. Hormone Therapy. UCSF Gender Affirming Health Program; 2019. https://transcare.ucsf.edu/hormone-therapy
  4. Boston University School of Medicine. Practical Guidelines for Transgender Hormone Treatment. Boston University School of Medicine; 2013. https://www.bumc.bu.edu/endo/clinics/transgender-medicine/guidelines/
  5. Bustos VP, Bustos SS, Mascaro A, Del Corral G, Forte AJ, Ciudad P, et al. Regret after Gender-affirmation Surgery: A Systematic Review and Meta-analysis of Prevalence. Plastic and Reconstructive Surgery – Global Open 2021; 9 (3): 3477. https://journals.lww.com/prsgo/fulltext/2021/03000/regret_after_gender_affirmation_surgery__a.22.aspx
  6. Wiepjes CM, Nota NM, de Blok CJM, Klaver M, de Vries ALC, Wensing-Kruger SA, et al. The Amsterdam Cohort of Gender Dysphoria Study (1975-2015): Trends in Prevalence, Treatment, and Regrets. The Journal of Sexual Medicine 2018; 15 (4): 582-90. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/29463477/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s