Artikel

Yuk, Kenalan dengan Layanan Kesehatan Afirmasi Gender!

Artikel ini adalah bagian pertama dari seri Transisi Hormonal yang disusun oleh dr. Alegra Wolter.

Pertama-tama, apakah kalian sudah tahu apa itu transisi gender? Kalau disforia gender, sudah pernah dengar? Bagaimana dengan transisi hormonal? Kita kupas satu per satu di artikel ini ya!

Transisi gender merupakan serangkaian proses yang bertujuan mengubah representasi gender seseorang, sehingga dapat menyeleraskan dengan identitas gendernya. Individu transgender amat rentan mengalami depresi sampai bunuh diri akibat stigmatisasi, marginalisasi, dan penghinaan sistemik,1,2 sehingga dibutuhkan akses pelayanan kesehatan yang inklusif dan bebas stigma. Terapi hormonal yang bersifat mengafirmasi gender (gender-affirming hormone therapy) secara signifikan mengurangi rasa tidak nyaman yang diakibatkan disforia gender (gender dysphoria).2

Disforia Gender Menurut Klasifikasi Terbaru

Dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM-5), diagnosis gender identity disorder sudah dihilangkan dan digantikan dengan gender dysphoria atau disforia gender, sebagai diagnosis untuk individu yang merasakan ketidaknyamanan akibat tidak cocoknya identitas gender dengan gender yang disematkan padanya sejak lahir (gender assigned at birth). Jadi, fokus terapi bukan terletak pada ‘menyembuhkan gangguan’ tapi memberikan kenyamanan yang mengafirmasi diversitas gender individu.3,4

International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems edisi kesebelas (ICD-11) juga telah mendefinisikan ulang kategori-kategori diagnostik sebelumnya, seperti transsexualism dan gender identity disorder menjadi gender incongruence. Inklusi gender incongruence dalam ICD-11 bertujuan untuk memastikan adanya akses untuk individu transgender terhadap pelayanan kesehatan mengafirmasi gender (gender-affirming health care) serta menghindarkan kelompok marjinal dari stigma.5

Mengenal Jenis-Jenis Transisi Gender

Mengalami disforia gender bukan berarti harus langsung melakukan transisi. Ada proses panjang mulai dari psikoedukasi gender dan seksualitas (sesuai usia), intervensi sosial, konseling dengan orangtua dan keluarga, sampai terapi medis.2 Jadi, pelayanan kesehatan mengafirmasi gender (gender-affirming health care) difokuskan sesuai kebutuhan individu spesifik (bersifat individualistik) dan bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan ketidaknyamanan akibat disforia gender yang dialami.

Beberapa macam transisi antara lain:

  • Transisi Sosial: Penggunaan nama dan pronoun/ sebutan yang dikehendaki, cara berpakaian dan berdandan, menggunakan fasilitas umum sesuai identitas gender, dan lain-lain. Umumnya ini bersifat reversibel. Intervensi sosial biasanya dilakukan secara bertahap, misalnya menggunakan nama/ sebutan/ penampilan yang mengafirmasi gender di rumah lebih dulu, kemudian pelan-pelan digunakan di ruang publik.2
  • Transisi Medis/ Biologis: Hormonal (berupa gender-affirming hormones atau pubertal suppression), atau operasi (vaginoplasti, feminisasi wajah, rekonstruksi dada, dan lain-lain).3
  • Transisi Legal/ Hukum: Perubahan nama dan penulisan jenis kelamin di dokumen-dokumen legal.

Siapa yang Bisa Mendapat Transisi Hormonal?

Transisi hormonal bertujuan untuk membuat seorang individu trans merasa nyaman, baik secara fisik dan psikologis. Seseorang yang merasa kurang nyaman dengan tampilan fisik maskulin, dapat difeminisasi dengan hormon estrogen. Sebaliknya, yang merasa kurang nyaman dengan fisik feminin dapat dimaskulinisasi dengan hormon testosteron. Terapi hormonal bersifat individualistik dengan dosis panduan yang disesuaikan dengan masing-masing orang.

Beberapa jarum suntik.
Foto: Karolina Grabowska, Pexels

Menurut World Professional Association for Transgender Health, syarat-syarat dilakukannya terapi hormonal antara lain:6

  • Usia di atas 18 tahun atau sesuai usia yang dianggap dewasa di negara setempat
  • Mampu memberikan persetujuan/ informed consent untuk terapi
  • Individu yang kurang nyaman dengan penampilan fisik yang tidak sesuai gender
  • Harus menunjukkan identitas gender yang persisten dan konsisten yang memenuhi kriteria disforia gender sesuai kategori DSM-5
  • Bila ada masalah kesehatan mental atau medis, harus dikontrol terlebih dahulu

Baca juga: Transisi Hormonal: Efek, Resiko dan Kontraindikasi

Persiapan Terapi Hormonal: Fisik, Mental, dan Sosial

Sebelum terapi hormon dilaksanakan, tentunya harus diawali pemeriksaan dokter, mulai dari wawancara, pemeriksaan fisik, hingga pemeriksaan penunjang. Beberapa pemeriksaan laboratorium yang dilakukan adalah lab darah lengkap, fungsi hati, kadar lemak/ kolesterol, fungsi ginjal, elektrolit, dan glukosa. Pemeriksaan lain yang bisa dilakukan adalah bone mineral density (BMD) atau kepadatan mineral tulang.

Tujuannya untuk pemantauan selama terapi, karena terapi estrogen memiliki risiko osteoporosis, penggumpalan darah, gangguan hati, dan stroke. Sementara itu terapi testosteron memiliki risiko osteoporosis, pengentalan darah, resistensi insulin (yang berlanjut menjadi diabetes tipe 2), penyakit jantung, dan stroke.7

Status kesehatan mental juga harus mulai dipantau sejak sebelum mulai terapi hormon, selain karena individu trans memang lebih berisiko tinggi mengalami stres, juga karena diperlukan pemantauan efek pasca terapi hormon. Efek yang diharapkan misalnya mood yang membaik setelah dilakukan afirmasi gender. Efek yang tidak diharapkan misalnya pada penerima terapi estrogen bisa terjadi peningkatan range emosi, dan penerima terapi testosteron bisa berakibat lebih reaktif secara emosional.8

Edukasi dan penyampaian informasi juga diberikan sebelum terapi hormonal dilaksanakan. Beberapa contoh informasi kesiapan terapi hormonal yang bisa diberikan:

  • Diskusi riwayat gender dan kesehatan mental/ fisik secara umum
  • Diskusi ekspektasi dari terapi
  • Pemberian informasi seputar rangkaian terapi
  • Efek yang diharapkan (feminisasi, maskulinisasi) dan tidak diharapkan (risiko, efek samping, infertilitas, dan lain-lain)
  • Informasikan gaya hidup sehat (interaksi rokok, alkohol, obat-obatan lain)
  • Sistem dukungan sosial (lingkup keluarga, teman, pendidikan, pekerjaan)

Transisi hormonal adalah proses panjang yang membutuhkan persiapan matang. Selain menjalani persiapan fisik dan mental, individu yang menjalani transisi juga membutuhkan dukungan sosial dari keluarga dan lingkungan di sekitarnya. Penerimaan dari keluarga bisa menurunkan angka depresi dan bunuh diri individu trans. Support system yang baik juga terbukti meningkatkan kualitas hidup individu trans, karena bisa membantu mereka menghadapi diskriminasi dan marginalisasi.8

Referensi

  1. Adam A. Jalan Panjang Transisi Gender. Tirto.id; 2016. https://tirto.id/jalan-panjang-transisi-gender-bQQk
  2. Matouk KM, Wald M. Gender-Affirming Care Saves Lives. Columbia University Department of Psychiatry; 2022. https://www.columbiapsychiatry.org/news/gender-affirming-care-saves-lives
  3. Turban J. What is Gender Dysphoria? American Psychiatric Association; 2020. https://psychiatry.org/patients-families/gender-dysphoria/what-is-gender-dysphoria
  4. Russo F. Where Transgender Is No Longer a Diagnosis. Scientific American; 2017. https://www.scientificamerican.com/article/where-transgender-is-no-longer-a-diagnosis/
  5. World Health Organization. Gender Incongruence and Transgender Health in the ICD. Geneva: World Health Organization; 2022. https://www.who.int/standards/classifications/frequently-asked-questions/gender-incongruence-and-transgender-health-in-the-icd
  6. World Professional Association for Transgender Health. Standards of Care for the Health of Transsexual, Transgender, and Gender Nonconforming People (Version 7, Revision). Illinois: World Professional Association for Transgender Health; 2011. https://www.wpath.org/media/cms/Documents/SOC%20v7/SOC%20V7_English.pdf
  7. Beilby J, Ed. Transgender Transition Testing. Pathology Tests Explained; 2022. https://pathologytestsexplained.org.au/learning/index-of-conditions/transgender-transition-testing
  8. American Psychological Association. Guidelines for Psychological Practice With Transgender and Gender Nonconforming People. American Psychological Association 2015: 70 (9), 832-864. http://dx.doi.org/10.1037/a0039906 https://www.apa.org/practice/guidelines/transgender.pdf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s