Aktivitas

Pendidikan Kespro Inklusif untuk Penyandang Disabilitas

Artikel ini adalah bagian kedua rangkuman workshop kolaborasi Dokter Tanpa Stigma dengan komunitas Sehatara dan Rutgers WPF pada Juli 2022, berjudul “Menjadi Edukator Kespro untuk Teman Tuli” yang didukung para kontributor: Amala Rahmah, country representative Rutgers Indonesia; Ati Ekawati Rifai, S.Pd., M.Pd., guru SLBN 1 Sukabumi; dan Eva Aryani, Teman Tuli, staf tim materi Sehatara.

Edukasi kespro adalah bagian dari Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) yang masih sering kurang terpenuhi bagi kelompok disabilitas. Gerakan reproductive justice menyatakan bahwa selain harus ada kebebasan memilih, kebebasan menjadi tidak bermakna bila tidak ada akses.1 Masih banyak individu disabilitas termasuk Teman Tuli yang belum mendapatkan akses edukasi kespro, karena pendidikan kespro yang ada sekarang dinilai masih kurang inklusif dan kurang komprehensif.

Masih banyak pula stigma yang menganggap kelompok disabilitas tidak butuh edukasi kespro. Individu disabilitas juga sering diberikan stigma hiperseksualisasi (dianggap memiliki libido berlebihan) atau deseksualisasi (dianggap tidak punya seksualitas), dan mitos-mitos seperti ini membuat mereka semakin rentan, terutama terhadap kekerasan seksual. Sebagaimana manusia lainnya, individu disabilitas juga memiliki seksualitas, sehingga juga berisiko menghadapi kehamilan yang tidak diinginkan dan penyakit menular seksual.1

Tantangan di Ranah Keluarga dan Hambatan Individu

Berbagai faktor yang menghambat edukasi bisa kita identifikasi di berbagai lapisan kehidupan. Di masyarakat, kita bisa melihat masih banyak tabu mengenai edukasi seksualitas serta marginalisasi yang menimpa kelompok disabilitas. Namun, ternyata di ranah keluarga pun, masih banyak orangtua ataupun pengasuh yang belum bisa memberikan edukasi komprehensif.

Seringkali, keluarga masih berpikir bahwa anak disabilitas tidak perlu diberikan pengetahuan kespro. Pada umumnya, memang masih banyak orangtua yang tidak mengerti cara berkomunikasi tentang seksualitas dan kespro dengan anak, baik anak disabilitas maupun anak lainnya. Selain menolak mengedukasi dan tidak tahu cara komunikasi, ilmu yang dimiliki orangtua tentang kespro juga masih kurang.2

Padahal, individu disabilitas sendiri sudah memiliki berbagai hambatan, misalnya hambatan kognisi atau intelektual, yang membuat mereka sulit memahami konsep-konsep abstrak seperti otonomi tubuh atau kepantasan berperilaku. Anak dengan disabilitas intelektual dan jenis disabilitas lainnya juga bisa mengalami hambatan komunikasi, sehingga kesenjangan pengetahuan akan semakin besar. Jadi, penerimaan keluarga dan orangtua atas edukasi kespro yang layak amatlah penting, sebab porsi besar pendidikan anak berasal dari orangtua.

Tantangan di Ranah Pendidikan: Kurikulum dan Tenaga Pendidik

Keterampilan dasar edukasi kespro sangat penting dimiliki tenaga pendidik. Saat ini, masih ada miskonsepsi di kalangan tenaga pendidik sehingga edukasi kespro masih sering disimplifikasi menjadi ‘belajar cara berhubungan seksual’. Ditambah lagi, kurikulum pendidikan guru masih belum mengakomodir HKSR, KBGS, dan pelajaran tentang gender. Ini semakin memperdalam mindset tabu di tenaga pendidik, yang seringkali menghindari pembahasan topik kespro meskipun sudah ada ketertarikan dan pertanyaan dari murid. Jadi, di bidang kespro, saat ini sistem pendidikan kita masih menggunakan pendekatan reaktif alih-alih pencegahan yang memadai, sehingga semakin memunculkan kesenjangan, terutama pada anak dan remaja penyandang disabilitas.

Masih banyak penyandang disabilitas yang masuk sekolah umum karena di daerah mereka tidak tersedia SLB. Namun, sekarang sudah mulai ada kurikulum pendidikan inklusif sehingga murid-murid bisa mulai terbantu. Mata pelajaran kespro sekarang masih digabungkan dengan program khusus pengembangan diri, dan diharapkan kurikulum khusus kespro bisa semakin disosialisasikan agar merata penggunaannya.

Baca Juga: Jalan Panjang Menuju Edukasi Kespro yang Baik di Indonesia

Dalam memberikan materi edukasi kespro, pendidik harus memiliki keluwesan dalam menggunakan berbagai metode pembelajaran agar bisa menyesuaikan dengan berbagai tantangan, karena bentuk-bentuk disabilitas dan berbagai hambatannya pada anak didik sangatlah beragam. Oleh karena itu, penting untuk disediakan alat bantu yang aksesibel untuk penyandang disabilitas seperti tulisan yang jelas, Braille, bahasa isyarat, dan lain-lain.3

Kerja Sama Pendidikan dengan Bidang Kesehatan

Sejak lama, memang ada paradigma tentang disabilitas dan anak-anak berkebutuhan khusus di ranah medis. Ketika nakes membuat diagnosis medis, maka dilakukan orientasi pada “kecacatan” individu yang kemudian menjadi “label” bagi dirinya, sehingga tercipta batasan. Paradigma seperti ini seharusnya dilengkapi dengan perspektif sosial, yang bukannya berorientasi pada kecacatan individu, tetapi mendukung lingkungan sekitarnya untuk memberikan kesempatan untuk penyandang disabilitas. Caranya adalah dengan melakukan assessment hambatan-hambatan yang dialami penyandang disabilitas, agar bisa ditentukan langkah selanjutnya yang dibutuhkan.

Jadi, tenaga medis sebetulnya memiliki peran yang sangat besar untuk membantu pemberdayaan penyandang disabilitas, termasuk anak dan remaja. Tenaga pendidik bisa bekerjasama dengan puskesmas setempat untuk memberikan edukasi kespro yang akurat, dengan demikian nakes pun bisa belajar cara menyampaikan edukasi kepada penyandang disabilitas. Nakes dari puskesmas juga bisa hadir langsung di tengah masyarakat untuk memberikan edukasi di tingkat desa atau dusun.4

Orang membaca tulisan Braille.
Foto: Eren Li, Pexels

Namun sistem kesehatan yang ramah disabilitas di Indonesia tentunya masih jauh dari sempurna. Layanan puskesmas seringkali masih mengandalkan suara, belum ada panduan visual atau penanda lain yang memudahkan Teman Tuli. Beberapa faskes sudah menyediakan ramp dan handrail, namun sarana KIE yang penting seperti Braille dan petugas berbahasa isyarat masih belum ada.4 Informasi dari nakes sering diajarkan dengan jargon-jargon yang rumit serta sulit dipahami, sehingga harus diatur format pengajaran yang menyertakan bahasa yang lebih mudah dipahami, disertai gambar dan alat bantu visual lainnya.3

Baca Juga: Edukasi Seks yang Bertanggung Jawab untuk Seluruh Lapisan Usia

Alur Pembelajaran Edukasi Kespro Individu Disabilitas

Setelah membuat assessment yang dibutuhkan, maka ada alur pembelajaran yang harus diikuti. Alur pembelajaran yang disusun oleh Ati Ekawati Rifai berikut ini mencakup beberapa poin:

  1. Dimulai dari diri sendiri: anak diajarkan untuk mengenali dirinya, melihat diri di cermin, lalu diajarkan bagian tubuh yang boleh/ tidak boleh dilihat orang lain
  2. Eksplorasi konsep: tentang pancaindra dan fungsi-fungsinya, rasa suka dan tidak suka, serta apa saja kaitannya dengan seksualitas dan proses pubertas
  3. Ruang kolaborasi: pendidikan berkolaborasi dengan orangtua dan lingkungan, karena tiap-tiap anak adalah individu yang unik berdasarkan hasil assessment yang berbeda
  4. Demonstrasi kontekstual: tenaga pendidik dan orangtua menyamakan persepsi agar yang didemonstrasikan di sekolah sama dengan di rumah, tujuannya agar ilmu bisa masuk berulang-ulang; bisa dibantu dengan alat-alat seperti manekin
  5. Elaborasi pemahaman: menguji yang sudah disampaikan untuk mengevaluasi pemahaman anak
  6. Koneksi antarmateri: pendidikan kespro dikoneksikan dengan mapel sekolah seperti IPA, IPS, dan Pancasila
  7. Aksi nyata: tercapai tujuan anak benar-benar memahami yang disampaikan serta mampu menghindari hal-hal yang tidak diinginkan

Dalam memberi materi, diharapkan pembicara harus lebih sabar dan tidak berbicara terlalu cepat. Juga, konten jangan terlalu panjang, tetapi ditonjolkan pada visual yang jelas. Hal ini terutama penting untuk Teman Tuli yang memiliki hambatan audio. Tentunya, harus disediakan alat bantu seperti juru bahasa isyarat, juru ketik, dan media peraga lainnya seperti video.

Dengan metode edukasi yang aksesibel dan empatik, diharapkan pengetahuan kespro bisa lebih tersampaikan. Contoh kurikulum dan panduan yang dibuat oleh NGO sudah ada, seperti dari Rutgers atau SAPDA. Buku terbitan SAPDA disusun berdasarkan pengalaman empiris dan interaksi orangtua dengan anak-anak serta remaja difabel.5 Adanya wadah diskusi dan sharing untuk remaja penyandang disabilitas juga amat penting.4

Selain memastikan adanya kurikulum edukasi kespro yang ramah disabilitas, tenaga pengajar juga harus dibekali pelatihan yang memadai. Para edukator juga sebaiknya bekerja sama dengan komunitas-komunitas disabilitas untuk membangun kepercayaan dan membenahi berbagai stigma dan mitos di masyarakat. Alangkah baiknya jika ini didukung pembuatan kebijakan hukum yang inklusif dan berbasis hak asasi manusia.1

Referensi:

  1. Mhatre N. Access, Autonomy, and Dignity: Comprehensive Sexuality Education for People with Disabilities. National Partnership for Women & Families, Autistic Self-Advocacy Network; 2021. https://www.nationalpartnership.org/our-work/resources/repro/repro-disability-sexed.pdf
  2. Kamaludin NN, Muhamad R, Yudin ZM, Zakaria R. Barriers and Concerns in Providing Sex Education among Children with Intellectual Disabilities: Experiences from Malay Mothers. International Journal of Environmental Research and Public Health 2022; 19 (3): 1070. doi: 10.3390/ijerph19031070
  3. World Health Organization. Disability and Health. Geneva: World Health Organization; 2021. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/disability-and-health
  4. Media SAPDA. Layanan Kespro Perlu Lebih Menjangkau Remaja Disabilitas. Sentra Advokasi Perempuan, Difabel dan Anak (SAPDA); 2021. https://sapdajogja.org/2021/06/layanan-kespro-perlu-lebih-menjangkau-remaja-disabilitas/
  5. Solider. SAPDA Luncurkan Buku Panduan Kesehatan Reproduksi untuk Pendamping dan Orangtua Remaja Difabel. Solider; 2016. https://www.solider.id/3095-sapda-luncurkan-buku-panduan-kesehatan-reproduksi-pendamping-orangtua-remaja-difabel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s