Aktivitas

Bias Gender dalam Penelitian Medis dan Imbasnya terhadap Perempuan

Penelitian medis ternyata masih belum sepenuhnya bebas bias! Dalam sejarah kedokteran, perempuan seringkali menjadi pihak yang tereksklusikan karena statusnya sebagai warga kelas dua. Keluhan dan gejala-gejala perempuan seringkali tidak dianggap serius, dan situasi hormonal perempuan selalu dianggap menyulitkan riset. Akibatnya, proses diagnostik dan terapi pada pasien perempuan masih belum maksimal, bahkan perlu menjadi perhatian khusus.

Bias gender adalah kondisi yang memihak atau merugikan salah satu jenis kelamin. Dalam webinar kolaborasi antara Selaras Sehat, Indonesia Feminis, dan Dokter Tanpa Stigma dalam rangka International Women’s Day 2022 bertemakan Perlunya Sensitivitas Gender di Dunia Kesehatan, drg. Dea Safira, M.Sos menjelaskan bahwa ada hegemoni patriarki yang menyebabkan patriarki dianggap sudah alamiah, sehingga tertanam secara sistemik, mengakar, dan terlembaga. Inilah salah satu faktor yang terus memupuk bias gender.

Dampak dari melembaganya bias gender adalah timbulnya macam-macam stereotipe gender, minimnya pelibatan perempuan dan perspektif gender dalam penelitian, terutama mengakibatkan hilangnya perempuan sebagai subjek.

Berbagai bentuk bias gender yang saling berkontradiksi dalam riset ilmiah antara lain:1,2

  • Tubuh laki-laki adalah standar yang “superior” dibandingkan tubuh perempuan
  • Tubuh laki-laki dan perempuan sama saja, sehingga kepada perempuan tidak perlu diujikan lagi
  • Tubuh perempuan hanya penting di ranah reproduksi
  • Fluktuasi hormonal perempuan akan mengacaukan hasil riset

Pengenalan Gejala dan Pemberian Terapi yang Tidak Berperspektif Gender

Perkembangan ilmu medis yang selalu beriringan dengan kondisi sosial pada zamannya, menghasilkan kondisi akademik yang tidak ramah perempuan. Karena perempuan memiliki kemampuan bereproduksi, maka perempuan sering hanya dikaitkan dengan fungsi reproduksinya saja, tidak lebih.3 Perempuan sering tidak dianggap “manusia seutuhnya” yang layak dihormati berikut beragam keunikannya. Akhirnya pendanaan penelitian untuk kesehatan perempuan juga masih sangat kurang.

Perempuan sering tidak diikutsertakan dalam uji klinis karena ada anggapan bahwa siklus hormonal perempuan akan “menambah rumit” hasil penelitian. Pada tahun 1970-an, FDA melarang mengikutsertakan perempuan dalam uji klinis karena ditakutkan bisa membahayakan sel-sel ovum dalam tubuhnya, sementara sel sperma dianggap lebih “tahan”. Jadi, efek uji klinis pada perempuan seringkali tidak diketahui. Akibatnya, sempat terjadi skandal besar obat thalidomide pada tahun 1980-an yang menyebabkan kecatatan bayi.3,4

Karena perempuan sering dieksklusikan dalam penelitian medis, akibatnya banyak efek samping obat pada perempuan tidak tercatat. Pada tahun 2013 di AS ditemukan 2 juta kasus adverse effect obat pada perempuan, jauh lebih tinggi daripada laki-laki yang hanya 1.3 juta kasus.4 Padahal beberapa jenis obat, seperti obat-obatan non-benzodiazepine, memiliki farmakodinamika yang berbeda antara perempuan dan laki-laki. Dengan demikian, uji klinis yang mengikutsertakan perempuan tentunya menjadi amat krusial.1 Fakta bahwa lebih banyak perempuan yang menggunakan kontrasepsi pun menjadi sering terabaikan, sementara banyak efek interaksi obat-obatan dengan kontrasepsi hormonal.5

Berbagai penelitian mengenai gejala penyakit juga seringkali tidak melibatkan perempuan, sehingga tampilan gejala penyakit pada perempuan yang berbeda dari laki-laki sering diabaikan. Misalnya, gejala khas serangan jantung pada laki-laki yaitu nyeri dada, jarang muncul pada perempuan. Serangan jantung pada perempuan lebih sering muncul dalam bentuk mual-muntah, nyeri punggung, atau sesak napas. Inilah yang menyebabkan perempuan sering mengalami delayed diagnosis atau bahkan misdiagnosis.4 Padahal, penyakit jantung pada perempuan terutama lansia memiliki morbiditas dan mortalitas yang lebih signifikan.5

Alih-alih menghargai keunikan individu dan menilai berbagai perbedaan biologis laki-laki dan perempuan secara ilmiah tanpa bias, perempuan hanya dipandang sebagai “sama saja dengan laki-laki” atau “pasti selalu lebih hormonal daripada laki-laki”, tanpa ada jalur tengah yang mengakomodasi semuanya.

Perspektif Perempuan Hilang dari Semua Ranah Kehidupan

Selain di ranah medis dan obat-obatan, ternyata perempuan juga dieksklusikan di bidang industri dan teknologi lainnya. Produk-produk teknologi seperti car safety, AC, permainan virtual reality, dan desain infrastruktur seperti toilet belum melibatkan subjek perempuan.

Perempuan berkacamata membaca di laptop
Foto: Andrea Piacquadio, Pexels

Di dunia kerja, banyak penelitian yang bisa berakibat fatal bagi perempuan. Penentuan standard metabolic rate untuk pegawai kantor belum mengikutsertakan perempuan. Akibatnya, desain ruangan yang disesuaikan dengan suhu optimal serta pemasangan AC belum sesuai dengan tubuh perempuan dan akan terasa lebih dingin.6 Selain itu, sistem imun dan ukuran tubuh perempuan menyerap toksin dan zat hazard industri lebih banyak, yang dapat menyebabkan berbagai penyakit kronis seperti kanker di kemudian hari.7

Produksi alat pelindung diri (APD) dan safety harness juga masih belum sepenuhnya disesuaikan dengan ukuran dan bentuk tubuh perempuan. Hal yang sama juga terjadi pada desain mobil. Akibatnya insidens kecelakaan pada perempuan menjadi lebih tinggi. Dunia teknologi juga belum sepenuhnya ramah perempuan. Permainan virtual reality terbukti lebih sering menimbulkan efek samping seperti mual-muntah pada perempuan, dan voice recognition software lebih akurat mengenali suara laki-laki daripada perempuan.7,8

Ini semua bisa terjadi karena perspektif perempuan hilang dari semua ranah kehidupan, dan terciptalah dunia yang didesain hanya untuk mengikuti standar kenyamanan laki-laki saja. Baru sejak tahun 1990-an mulai ada kebijakan di AS yang mengharuskan berbagai penelitian harus menginklusikan berbagai ras, gender, usia, dan faktor-faktor lainnya.5 Perkembangan baru ini pun masih merupakan tantangan besar untuk kita semua.

Dampak dari dunia yang tidak ramah perempuan tentunya banyak sekali dan bisa berakibat fatal, mulai dari munculnya stres dan tekanan darah tinggi sampai gangguan mental. Karena sering dikenai stigma, perempuan jadi sering menekan berbagai keluhan yang dirasakan sehingga berbagai efek permasalahan ini menjadi tidak tersampaikan ataupun tidak terdeteksi.

Kita harus mempertanyakan kembali berbagai standar yang telah ditentukan di dunia medis, industri, teknologi, dan lain-lain. Sebab, kita masih membutuhkan perspektif gender dalam penelitian serta pendidikan kedokteran dan kedokteran gigi. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah melibatkan lebih banyak subjek perempuan dalam penelitian medis dan keilmuan-keilmuan lainnya.

Tubuh perempuan dan laki-laki berbeda secara biologis dengan keunikannya masing-masing. Namun, berbeda bukan berarti ada yang lebih superior dibandingkan yang lain. Sudah saatnya kita menghargai diversitas biologis dan menghormati semua manusia tanpa terkecuali. Diharapkan, status reproduksi perempuan dan pertimbangan hormonal bisa diinklusikan dalam penelitian, tetapi juga tanpa mereduksi makna perempuan menjadi sekadar pabrik reproduksi belaka.

Referensi:

  1. Liu KA, Mager NAD. Women’s Involvement in Clinical Trials: Historical Perspective and Future Implications. Pharmacy Practice (Granada) 2016; 14 (1): 708. doi: 10.18549/PharmPract.2016.01.708 https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4800017/
  2. Cleghorn E. Medical Myths About Gender Roles Go Back to Ancient Greece – Women Are Still Paying the Price Today. Time; 2021. https://time.com/6074224/gender-medicine-history/
  3. Jackson G. The Female Problem: How Male Bias in Medical Trials Ruined Women’s Health. The Guardian; 2019. https://www.theguardian.com/lifeandstyle/2019/nov/13/the-female-problem-male-bias-in-medical-trials
  4. Burrowes K. Gender Bias in Medicine and Medical Research is Still Putting Women’s Health at Risk. The Conversation; 2021. https://theconversation.com/gender-bias-in-medicine-and-medical-research-is-still-putting-womens-health-at-risk-156495
  5. Holdcroft A. Gender Bias in Research: How Does It Affect Evidence-Based Medicine? Journal of the Royal Society of Medicine 2007; 100 (1): 2-3. doi: 10.1258/jrsm.100.1.2 https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1761670/
  6. Kingma B, Lichtenbelt WVM. Energy Consumption in Buildings and Female Thermal Demand. Nature Climate Change 2015; 5: 1054-6. https://www.nature.com/articles/nclimate2741
  7. Perez CC. The Deadly Truth About a World Built for Men – From Stab Vests to Car Crashes. The Guardian; 2019. https://www.theguardian.com/lifeandstyle/2019/feb/23/truth-world-built-for-men-car-crashes
  8. Stanney K, Fidopiastis C, Foster L. Virtual Reality Is Sexist: But It Does Not Have to Be. Frontiers in Robotics and AI 2020 Jan. https://doi.org/10.3389/frobt.2020.0000 https://www.frontiersin.org/articles/10.3389/frobt.2020.00004/full

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s