Aktivitas

Tenaga Medis Masih Sering Menstigma Perempuan!

Sebagai sains, ilmu medis seharusnya memiliki dasar ilmiah tanpa bias dan tidak memihak. Namun, ilmu kedokteran juga adalah ilmu yang sangat dekat dengan kemanusiaan. Oleh sebab itu, berbagai perkembangan ilmu medis seringkali terkait dengan budaya dan norma sosial sesuai keadaan zaman kala itu. Ini menyebabkan masih banyak aspek kedokteran yang masih berpegangan pada budaya lama yang perlu diperbarui sesuai perkembangan zaman.

Tenaga medis yang masih memiliki bias gender masih sering menstigma perempuan. Akibatnya, banyak perempuan yang menghindari layanan kesehatan karena takut diberikan stigma dari nakes. Menurut dr. Sandra Suryadana dari Dokter Tanpa Stigma dalam webinar kolaborasi antara Selaras Sehat, Indonesia Feminis, dan Dokter Tanpa Stigma dalam rangka International Women’s Day 2022 yang mengangkat tema Perlunya Sensitivitas Gender di Dunia Kesehatan, stigma pada dasarnya adalah stereotipe negatif yang dapat berkembang menjadi diskriminasi akibat ketidakpedulian, kurangnya informasi, dan budaya negatif.

Marginalisasi dan stigmatisasi perempuan oleh nakes ini sering menjadi bentuk medical gaslighting yang harus kita hindari.1 Akibatnya bisa berujung fatal karena perempuan yang berobat lebih sering underdiagnosed dan undertreated.2

Perempuan Sudah Dilekati Stigma Sejak Lahir

Perempuan bersedih
Foto: Karolina Grabowska, Pexels

Sejak zaman dahulu, budaya patriarki selalu menekankan bahwa perempuan adalah “makhluk kedua” yang statusnya tidak setara dengan laki-laki. Gender laki-laki dianggap lebih superior dari gender lainnya. Kecerdasan dan kemampuan perempuan juga selalu dianggap rendah, dan fungsi perempuan terletak pada satu poin saja, yaitu reproduksi. Banyak budaya yang menganggap anak perempuan adalah beban. Berikut beberapa stigma yang masih terus menghantui perempuan di berbagai ranah kehidupan:

  • Stigma peran gender: anak perempuan harus main boneka atau masak-masakan
  • Stigma seksualitas: ekspresi seksualitas perempuan dianggap negatif
  • Stigma menstruasi: perempuan menstruasi sering dikucilkan dan dianggap kotor
  • Stigma pernikahan: perempuan menikah lambat distigma tidak laku
  • Stigma hamil, melahirkan, menyusui: menunda hamil distigma mandul, tidak ingin memiliki anak dianggap egois, jika operasi Caesar belum menjadi “perempuan sempurna”, stigma jika ASI kurang
  • Stigma karier: kondisi dilematis harus memilih berkarier atau menjadi ibu rumah tangga, pekerjaan ibu rumah tangga dianggap gampang
  • Stigma janda dan ibu tunggal: distigma pasti “pelakor” dan bukan perempuan baik-baik
  • Stigma penampilan: perempuan harus berambut panjang, tidak boleh banyak bulu, kritik atas pilihan pakaian dan makeup; perempuan obesitas lebih sering mendapat stigma dari nakes daripada laki-laki obesitas3
  • Stigma penyintas kekerasan: “Salah sendiri pulang malam!” “Kamu pakai baju apa?” “Kenapa tidak melawan?”

Semua stigma di atas amat berkaitan erat dengan kesehatan, karena semuanya menentukan nasib perempuan mulai dari akses layanan kesehatan, edukasi perempuan untuk mengenali dirinya sendiri, otonomi tubuh perempuan, sampai pemilihan metode diagnostik dan terapi medis.

Bahayanya jika stigma-stigma ini terus dipupuk adalah perempuan akan melakukan self-stigma terjebak dalam lingkaran setan kesakitan seperti enggan berobat, tidak jujur saat berobat, dan merasa isolated; yang berakibat enggan pula memulai terapi atau melanjutkan dan menuntaskan terapinya. Tentunya ini berpotensi berakibat fatal seperti menularkan penyakit ke orang lain atau sampai berakibat kematian. Risiko stigma juga akan meningkat pada kelompok perempuan marginal, seperti PSK, perempuan dengan HIV/AIDS, perempuan di penjara, transpuan, dan perempuan ras minoritas serta kelompok lainnya.

Undertested, Underdiagnosed, Undertreated”

Budaya patriarki menciptakan personal bias dan cultural bias yang sulit dihilangkan. Stigma ini masih terus langgeng dan mempengaruhi cara berpikir nakes yang juga beranggapan bahwa semua keluhan perempuan pastilah berasal dari hormonal. Selain itu, ada juga stigma bahwa perempuan kurang cerdas dibandingkan laki-laki, dan keluhan perempuan sering tidak dipercaya atau dianggap berlebihan.

Keluhan pasien perempuan seringkali tidak dianggap serius.1 Ini juga merupakan hasil dari kurangnya uji klinis dan penelitian yang menggunakan subjek perempuan, karena ada stigma bahwa perempuan memiliki “kekacauan hormon” yang akan mengganggu penelitian. Akibatnya, gambaran penyakit pada perempuan sering tidak tercatat, dan bentuk khas penyakit-penyakit yang kita kenal seperti serangan jantung atau diabetes masih merupakan hasil temuan yang sering terjadi pada laki-laki. Sementara, gambaran serangan jantung pada perempuan sering tidak khas atau atipikal.

Manajemen nyeri pada perempuan juga masih sangat kurang adekuat dibandingkan laki-laki. Survei tahun 2018 menunjukkan bahwa masih banyak dokter maupun dokter gigi yang memiliki pandangan bahwa gejala nyeri perempuan biasanya “dilebih-lebihkan” karena mereka “emosional”, dan ada pula anggapan bahwa keluhan nyeri perempuan pastilah berasal dari psikis dan bukan fisik.4

Ini menyebabkan banyak sumber keluhan nyeri pada perempuan tidak diselidiki lebih lanjut (undertesting), karena gejala nyeri sering di-dismiss sebagai keluhan psikologis belaka.5 Dengan demikian, fenomena ini pun berlanjut menjadi underdiagnosis yang berujung pada undertreatment.

Stigma yang kemudian diserap menjadi self-stigma pada diri perempuan sendiri akan menyebabkan perempuan mempertanyakan dirinya sendiri, “Apakah saya cuma berlebihan? Apakah gejala saya memang cuma psikis saja?”

Padahal, manajemen nyeri dan early diagnosis sangat penting. Ada beberapa penyakit yang lebih meningkat risikonya pada perempuan. Misalnya, rheumatoid arthritis dan multiple sclerosis. Secara umum, dari seluruh penyakit autoimun, 78% yang terdampak adalah perempuan. Perempuan juga lebih banyak menderita demensia Alzheimer dan berbagai kondisi nyeri kronis seperti fibromyalgia dan chronic fatigue syndrome.2

Beberapa penelitian terkait kanker dan tumor otak juga menunjukkan bahwa kejadian tumor dan kanker pada perempuan lebih sering terlambat didiagnosis karena keluhan-keluhan tidak spesifik yang sering dianggap “psikologis” belaka. Sekitar 40 ribu hingga 80 orang di AS meninggal akibat kesalahan diagnosis.6 Diagnosis diabetes pada perempuan juga cenderung lebih terlambat dibandingkan laki-laki.1

Perempuan Selalu Melekat dengan Isu Kespro

Sejak zaman dahulu, perempuan sudah selalu direduksi maknanya menjadi sekadar individu untuk melangsungkan tugas reproduksi. Oleh sebab itu, seiring berkembangnya zaman, ilmu kedokteran masih tetap menganggap perempuan hanya perlu dilihat dari aspek ginekologis, sementara aspek-aspek lainnya terlupakan. Perempuan jadi tidak pernah dilibatkan dalam akademik sains atau berbagai penelitian medis.7

Not So Fun Fact. Dulu ada diagnosis histeria yang menggambarkan gangguan mental akibat rahim yang “berkelana” (wandering womb). Dan istilah “histeria” sendiri berasal dari bahasa Yunani, uterus yang artinya rahim.

Dalam webinar “Menjadi Tenaga Medis Berperspektif Gender” yang diadakan oleh Dokter Tanap Stigma, Eva Nurcahyani, Amd.Keb menyatakan bahwa masalah kespro sangat erat dengan perempuan karena terkait dengan tubuhnya, sebab adanya edukasi kespro bertujuan memberi perempuan kesempatan untuk memutuskan hak reproduksinya sendiri.

Lihat juga: https://doktertanpastigma.id/2022/06/25/jalan-panjang-menuju-edukasi-kespro-yang-baik-di-indonesia/

Masalah kespro dapat terjadi di sepanjang hidup manusia, dan yang lebih rentan menjadi korbannya adalah perempuan. Dalam berbagai isu kespro, mulai dari aborsi, kehamilan yang tidak diinginkan (KTD), sampai menopause, perempuan selalu menjadi pihak yang disalahkan. Masih banyak terjadi pemaksaan sunat perempuan (female genital mutilation/FGM).

Pemaksaan kontrasepsi pada perempuan juga masih marak terjadi. Kontrasepsi selalu diidentikkan sebagai urusan perempuan. Data BKKBN 2018 menunjukkan bahwa 94.38% pengguna KB aktif adalah perempuan. Sementara itu, pengetahuan laki-laki tentang KB sangat terbatas, dan layanan kesehatan masih kurang berminat menyediakan KB laki-laki. Informasi kespro yang amat rendah ini juga didorong karena status dan posisi perempuan dianggap rendah di masyarakat, sehingga tidak memiliki bargaining power.

Edukasi kespro yang baik seharusnya mencakup berbagai aspek baik fisik dan sosial, juga merangkul semua usia mulai dari remaja sampai lansia. Salah satu yang kita harapkan adalah keberhasilan safe motherhood, karena derajat kesehatan ibu dan bayi baru lahir sangat dipengaruhi oleh kesadaran perawatan dan pengasuhan anak dari kedua pihak (perempuan dan laki-laki).

Sudah ada beberapa upaya yang dilaksanakan di ranah hukum untuk melindungi isu kespro, seperti UU TPKS, UU Kesehatan dan Kesehatan Jiwa, revisi UU tentang usia perkawinan anak, dan lain-lain. Namun situasi ini masih jauh dari sempurna, dan pelaksanaannya di lapangan pun belum maksimal. Kita bisa memulai usaha dari diri sendiri dan lingkungan sekitar, dimulai dengan apa yang kita bisa. Segeralah mulai dari sekarang!

Perempuan harus dipandang sebagai manusia seutuhnya, bukan hanya sebagai individu penanggung reproduksi. Di saat bersamaan, tenaga medis tentunya harus menyadari bahwa ada diversitas ciri individu yang membuat semua orang memiliki keunikannya masing-masing, sehingga kita bisa memandang semua manusia dengan setara dan holistik. Sudah saatnya berbagai bentuk bias dan stigma dihapuskan, terutama di layanan kesehatan.

Referensi:

  1. Goyeneche R. Just Your Imagination? The Dangerous Gender Bias in Women’s Healthcare. Forbes Women; 2021. https://www.forbes.com/sites/womensmedia/2021/09/21/just-your-imagination-the-dangerous-gender-bias-in-womens-healthcare/?sh=e5c8bca3e541
  2. Burrowes K. Gender Bias in Medicine and Medical Research is Still Putting Women’s Health at Risk. The Conversation; 2021. https://theconversation.com/gender-bias-in-medicine-and-medical-research-is-still-putting-womens-health-at-risk-156495
  3. Sattler KM, Deane FP, Tapsell L, Kelly PJ. Gender Differences in the Relationship of Weight-Based Stigmatisation with Motivation to Exercise and Physical Activity in Overweight Individuals. Health Psychology Open 2018 Jan-Jun; 5 (1): 2055102918759691. doi: 10.1177/2055102918759691 https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5846936/
  4. Villines Z. What To Know About Gender Bias in Healthcare. Medical News Today; 2021. https://www.medicalnewstoday.com/articles/gender-bias-in-medical-diagnosis
  5. Cleghorn E. Medical Myths About Gender Roles Go Back to Ancient Greece – Women Are Still Paying the Price Today. Time; 2021. https://time.com/6074224/gender-medicine-history/
  6. Dusenbery M. ‘Everybody Was Telling Me There Was Nothing Wrong’. BBC Future; 2018. https://www.bbc.com/future/article/20180523-how-gender-bias-affects-your-healthcare
  7. Jackson G. The Female Problem: How Male Bias in Medical Trials Ruined Women’s Health. The Guardian; 2019. https://www.theguardian.com/lifeandstyle/2019/nov/13/the-female-problem-male-bias-in-medical-trials

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s