Aktivitas

Pentingnya Pendekatan Intersektionalitas di Dunia Kesehatan

“Of all the forms of inequality, injustice in health care is the most shocking and inhumane.”
—Martin Luther King, Jr.

Gejala-gejala medis seringkali merupakan puncak fenomena gunung es yang didasari oleh berbagai masalah psikososial. Tenaga kesehatan seharusnya tidak hanya memberikan perhatian kepada aspek biologis pasien saja, tetapi juga berbagai masalah sosial yang seringkali timbul di masyarakat secara sistematis dan membudaya. Sayangnya, saat ini tenaga medis masih sering lupa mempertimbangkan aspek-aspek multidimensi dari kehidupan pasien, terutama individu dari kelompok rentan.

Penelitian di Jakarta dan Jawa Barat menunjukkan bahwa pasien-pasien HIV, kusta, skizofrenia, dan diabetes masih sering mendapat stigma dari tenaga kesehatan.1 Stigma muncul karena ketidakpahaman dan bias, yang bila terus-menerus dipupuk akan menciptakan kesenjangan sosial yang semakin menimbulkan loss of power di kelompok rentan.

Tulisan: WE ALL BLEED THE SAME COLOR
Foto: Brett Sayles, Pexels

Faktor-Faktor Sosial yang Sering Terabaikan

Social determinant of health (SDH) atau determinan sosial kesehatan menurut WHO adalah faktor-faktor nonmedis yang mempengaruhi kesehatan kita, misalnya lokasi domisili, kebijakan politik lokal, etnis, gender, kelas sosial, dan sebagainya. Studi menunjukkan bahwa determinan-determinan sosial ini bisa mempengaruhi outcome kesehatan sekitar 30-55%.2 Artinya, dunia medis jelas sangat terkait erat dengan berbagai isu sosial. Salah satu faktor yang sangat mendasari kesehatan adalah konteks sosioekonomi dan politik.3

Berbagai social determinant yang mempengaruhi kehidupan kita antara lain:3,4

Faktor StrukturalStatus sosial, gender, ras/etnis, tingkat dan akses pendidikan, kerukunan antar masyarakat, suasana politik setempat, status imigrasi, angka kriminalitas, perubahan iklim, gejolak sosial (urbanisasi, permukiman kumuh, dll)
Faktor MaterialKualitas tempat tinggal dan lingkungan sekitar, akses makanan sehat dan pakaian, lingkungan fisik, pencegahan kecelakaan
Faktor PsikososialStresor psikososial, kualitas hidup, kualitas hubungan sosial, support system
Faktor KomersialAkses lapangan kerja, tingkat penghasilan, pengangguran, standar keamanan dan kesehatan kerja, kebijakan korporat, work-life balance, akses cuti yang layak, pajak, inflasi, hazard medis industri, dampak lingkungan dari industri (polusi, bencana alam, limbah, dll), dukungan perusahaan terhadap kesehatan pegawai (asuransi, penyuluhan, vaksin, tempat kerja yang ergonomis, dll)
Faktor Medis-BiologisFaktor genetik, status nutrisi, aktivitas fisik, disabilitas, seksualitas, konsumsi tembakau, alkohol, dan obat-obatan
Faktor Sistem KesehatanPaparan faktor risiko, kerentanan individu dan kelompok, akses layanan kesehatan, promotif dan preventif di lapangan, mortalitas dan morbiditas ibu-anak

Adanya berbagai ketidaksetaraan di atas akan memunculkan social gradient atau gradasi sosial, sebuah fenomena di mana kelompok yang kurang privileged berujung memiliki kualitas hidup dan status kesehatan yang lebih buruk daripada kelompok privileged.5

Pendekatan Intersectionality di Dunia Kesehatan

Untuk memahami marginalisasi sosial yang kemudian menciptakan stigma terkait kesehatan, kita bisa melihat masalah individu dari sudut pandang intersectionality.1

Intersectionality adalah sebuah cara pandang untuk melihat bagaimana berbagai aspek identitas sosial dan politik seseorang bisa mempengaruhi kehidupannya. Semua manusia memiliki keragamannya sendiri dari segi biopsikososial. Intersectionality bukan hanya menyoroti berbagai perbedaan sosial manusia seperti ras, gender, kelas ekonomi, status imigrasi, dan lain-lain; tetapi menjadikan kesenjangan kuasa sebagai faktor utama dalam ketidakadilan yang dialami kelompok-kelompok marginal.6

Dalam webinar kolaborasi antara Selaras Sehat, Indonesia Feminis, dan Dokter Tanpa Stigma dalam rangka International Women’s Day 2022, dr. Taufiq Asrul menyatakan bahwa intersectionality bisa mengungkap “beban berlapis” yang bisa melanda suatu individu atau kelompok. Sebagai contoh, kita mengenal populasi kunci HIV/AIDS menurut Kemenkes yaitu WPS (wanita pekerja seks), LSL (laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki), waria, dan penasun. Mereka dianggap populasi rentan karena perilaku-perilaku mereka yang berisiko sebetulnya berkelindan erat dengan konteks sosial. Banyak penyakit medis, salah satunya HIV/AIDS, didasari permasalahan sosial yang sudah demikian mengakar.

Menggunakan pendekatan intersectionality membantu nakes untuk berpikir ulang tentang berbagai bias dan asumsi yang mungkin sudah ada mengenai identitas atau kelompok tertentu. Pasien pun akan mendapatkan layanan kesehatan yang lebih empatik dan tidak terstigma. Kita bisa melihat lapis demi lapis faktor yang mempengaruhi kondisi kehidupan seseorang, sehingga individu bisa dilihat secara menyeluruh, bukan hanya aspek medisnya saja.7

Pendekatan intersectionality juga sangat bermanfaat dalam riset kesehatan, karena mendorong peneliti untuk menggali lebih dalam berbagai analisis masalah kesehatan, sehingga kita bisa lebih cepat menyoroti kesenjangan sosial yang menjadi fondasi berbagai isu medis. Equity analysis dalam penelitian akan bisa mendalami distributive justice (keadilan antara input dan outcome), procedural justice (pembuatan kebijakan/ hukum), dan interactional justice (hubungan antar masyarakat).6

Perlu diingat bahwa pandangan intersectionality bukan bertujuan untuk mengkotak-kotakkan orang menjadi label-label tertentu. Justru sebaliknya, berbagai identitas berbeda yang melekat pada diri seseorang akan menciptakan manusia-manusia yang tiap-tiapnya unik dan berbeda-beda pula, membentuk bagian dari diversitas.

Tenaga Medis di Akar Rumput Bisa Memulai!

Ilmu kedokteran adalah ilmu tentang kemanusiaan, yang memiliki berbagai permasalahan mendasar di ranah sosial. Oleh sebab itu, dokter, perawat, dan tenaga medis lainnya sangat dibutuhkan di dunia politik.

Dalam diskusi online kolaborasi Dokter Tanpa Stigma dengan Lingkar Studi Feminis (LSF) Tangerang pada Juni 2020, dr. Adinda Bunga Syafina, Sp.B menyatakan bahwa tenaga medis haruslah berwawasan luas, baik di dunia medis maupun di luar. Sejak zaman dulu, dokter sudah selalu terlibat dalam politik. Namun sekarang, dokter yang berkecimpung di politik jumlahnya masih sedikit, apalagi dokter perempuan. Padahal mereka adalah para pembuat kebijakan kesehatan.

Tentu, kita tidak harus menjadi penguasa dulu untuk bisa membuat perubahan! Malah, para nakes yang masih berkecimpung sehari-harinya di dunia kesehatan bisa memberi berbagai kontribusi skala kecil yang nantinya akan memperbaiki kualitas hidup bersama. Salah satu yang bisa kita upayakan adalah edukasi dan social awareness, baik untuk diri sendiri, untuk rekan-rekan sejawat, juga untuk para klien. Kita juga bisa bergabung dengan komunitas-komunitas sosial dan berkolaborasi dengan wadah kelompok marginal.8

Kita bisa mulai menggunakan kacamata intersectionality untuk menganalisis berbagai isu yang kita temui setiap hari, contoh-contohnya:6

  • Apakah aspek identitas (ras, gender, kelas, dll) seseorang mempengaruhi pengalaman pasien di fasilitas kesehatan?
  • Apa saja faktor sosial yang sering merugikan seseorang saat mencari layanan kesehatan?
  • Apakah ada pihak yang dirugikan dan diuntungkan dengan munculnya kebijakan hukum kesehatan tertentu?
  • Apa yang bisa saya lakukan sebagai individu nakes untuk membantu meringankan masalah-masalah ini?

Karena dunia kesehatan sudah dikomersialisasi dan aspek ketenagakerjaan juga merupakan social determinant yang penting, maka kita bisa mengupayakan perbaikan di bidang korporasi medis. Contohnya keamanan dan kesehatan kerja seperti perlindungan terhadap hazard di layanan kesehatan, yang berlaku tidak hanya bagi dokter tetapi juga semua kolaborator lain seperti perawat, pekerja lab, administrator, sanitasi, dan lain-lain. Pekerjaan di layanan kesehatan memang termasuk cukup meningkatkan stres fisik dan psikis, sehingga ada berbagai risiko seperti gangguan jiwa dan penyakit kardiovaskular.8

Kenyamanan pekerja di bidang medis memang masih perlu banyak dibenahi. Dalam diskusi di atas, ners Fen Budiman, S.Kep., Ns. menyatakan bahwa kita masih sangat membutuhkan perlindungan kerja terhadap nakes, karena nakes masih sering menghadapi kekerasan di dunia kerja. Demikian juga di bidang akademis medis, data menunjukkan bahwa lebih dari 50% perempuan di dunia akademis medis pernah mengalami pelecehan seksual. Pelecehan atas dasar ras juga masih tetap marak, terutama perempuan ras minoritas.9

Kesetaraan di dunia medis sangatlah penting, tetapi sayangnya masih banyak terjadi ketidaksetaraan di bidang kesehatan. Karena status kesehatan kita amat bergantung pada determinan sosial, maka kita sangat membutuhkan good governance dan pembuatan kebijakan yang mendukung kesehatan secara adil dan inklusif. Dibutuhkan wadah untuk mediasi seluruh tenaga medis untuk menghadapi berbagai isu sosial ini bersama-sama. Kita semua bisa langsung mulai membantu, mulai dari yang sekecil-kecilnya.

Referensi:

  1. Rai SS. Peters RMH, Syurina EV, Irwanto I, Naniche D, Zweekhorst MBM. Intersectionality and Health-Related Stigma: Insights from Experiences of People Living with Stigmatized Health Conditions in Indonesia. International Journal for Equity in Health 2020; 19 (206) https://doi.org/10.1186/s12939-020-01318-w https://equityhealthj.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12939-020-01318-w
  2. World Health Organization. Social Determinants of Health. Geneva: World Health Organization; 2022. https://www.who.int/health-topics/social-determinants-of-health
  3. Martinez R, Quintanilla GF, Gonzalez MA, de la Paz Ade M. Health Determinants and Inequalities. In: Health in the Americas, 2012 Edition: Regional Volume. Pan American Health Organization (PAHO); 2012. DOI:10.13140/2.1.3550.9447 https://www.paho.org/salud-en-las-americas-2012/dmdocuments/hia-2012-chapter-2.pdf
  4. World Health Organization. Commercial Determinants of Health. Geneva: World Health Organization; 2022. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/commercial-determinants-of-health
  5. Donkin AJM. Social Gradient. The Wiley Blackwell Encyclopedia of Health, Illness, Behavior, dan Society; 2014. https://doi.org/10.1002/9781118410868.wbehibs530 https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/9781118410868.wbehibs530
  6. Wolfe R, Molyneux S, Morgan R, Gilson L. Using Intersectionality to Better Understand Health System Resilience. Resilient & Responsive Health Systems (RESYST), UK Aid; 2017. https://resyst.lshtm.ac.uk/sites/resyst/files/content/attachments/2018-08-21/Resilience%20and%20intersectionality%20brief.pdf
  7. Wilson Y, White A, Jefferson A, Danis M. Intersectionality in Clinical Medicine: The Need for a Conceptual Framework. The American Journal of Bioethics 2019, 19(2), 8–19. doi:10.1080/15265161.2018.1557275 https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/15265161.2018.1557275
  8. Marmot M. The Health Gap: Doctors and the Social Determinants of Health. Scandinavian Journal of Public Health 2017, November 22. https://doi.org/10.1177/1403494817717448 https://journals.sagepub.com/doi/full/10.1177/1403494817717448
  9. Golden SH. The Perils of Intersectionality: Racial dan Sexual Harassment in Medicine. Journal of Clinical Investigation 2019; 129 (9): 3465-7. https://doi.org/10.1172/JCI130900 https://www.jci.org/articles/view/130900

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s