Aktivitas

Nakes dan Infodemik: Are We Part of The Problem?

Di zaman digital, kita semakin sering menemukan hoax dan fake news di antara aliran deras informasi. Tentunya, ini membuat masyarakat awam rentan mendapatkan misinformasi dan disinformasi. Edukasi yang keliru ini bisa berakibat fatal dan mengancam kesejahteraan masyarakat luas, sehingga baik nakes maupun audiens harus ekstra berhati-hati dalam menyikapi berbagai konten edukatif di media sosial.

Karena pasien serta masyarakat awam kini semakin sadar untuk menjadi partisipatif, maka tenaga medis pun harus bisa memberikan pengetahuan yang akurat dan khususnya inklusif, agar edukasi bisa mencapai seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Edukasi yang inklusif haruslah bebas stigma dan bias, serta disertai empati dengan berlandaskan keadilan.

Orang memegang smartphone
Foto: Cottonbro, Pexels

Edukasi Sangat Krusial tetapi Sering Diremehkan

Dalam webinar kolaborasi antara Selaras Sehat, Indonesia Feminis, dan Dokter Tanpa Stigma dalam rangka International Women’s Day 2022, dr. Taufiq Asrul menyebut bahwa relasi dokter-pasien yang di masa lalu berbentuk paternalistik kini sudah bergeser menjadi model mutual participation. Jadi, dokter yang dulu dianggap “paling tahu” segalanya tentang pasien kini haruslah mengedepankan otonomi pasien, memberikan penjelasan kepada pasien serta memberikan hak kepada pasien untuk memilih sendiri.

Dengan demikian, dokter haruslah memiliki kemampuan edukasi yang baik agar bisa memberi kesempatan kepada pasien untuk betul-betul memahami penyakit dan terapi yang diberikan. Edukasi yang berupa pilihan sarana diagnostik atau terapi harus disampaikan dengan sejelas-jelasnya sesuai kemampuan pemahaman pasien, karena sangat mempengaruhi pembuatan keputusan yang diambil oleh pasien. Jadi, kemampuan berkomunikasi seorang dokter sangatlah penting.

Menurut dr. Sandra Suryadana dari Dokter Tanpa Stigma dalam materi Edukasi Kesehatan Tanpa Bias, tenaga medis di masa kini terlalu banyak berfokus pada aspek kuratif, tetapi kurang memberi fokus pada aspek preventif. Padahal dengan memberi porsi lebih banyak di preventif, maka kita bisa memperkecil jumlah orang yang membutuhkan penanganan kuratif. Selain itu, dr. Sandra juga menyebut bahwa edukasi medis lebih banyak menyoroti masalah klinis saja, tanpa memiliki perspektif sosial. Jadi, kita sangat membutuhkan edukasi medis yang baik, terutama yang sejalan dengan berbagai problema sosial.

Melawan Hoax dan Fake News

Penggunaan media sosial yang menjamur di mana-mana membuat informasi tersebar dengan supercepat. Masalahnya, banyak oknum yang memanfaatkan laju peredaran informasi untuk kepentingan pribadi, sehingga tidak semua informasi daring yang kita temukan memiliki dasar ilmiah. Di era digital yang banjir informasi, kita semua rentan terpapar misinformasi, disinformasi, dan malinformasi. Perbedaan antara ketiganya adalah:1

  • Misinformasi: Penyebaran informasi tidak akurat oleh orang yang tidak mengetahui akurasinya
  • Disinformasi: Penyebaran informasi palsu dengan sengaja untuk menimbulkan kericuhan
  • Malinformasi: Penyebaran informasi yang masih berdasarkan fakta akurat tetapi dibubuhi “bumbu-bumbu” tertentu

Bahkan, WHO menyebut terlalu banyaknya informasi palsu yang beredar ini sebagai “infodemic” karena berisiko tinggi menyebabkan kekacauan massal. Kita bisa melihat dampaknya saat pandemi, ketika informasi palsu yang menyebar luas bisa memperparah penyebaran pandemi, perilaku masyarakat, dan kualitas hidup pasien pasien.2,3 Meskipun paling efektif melawan hoax dan fake news dengan kebijakan informatika yang mumpuni dan kemampuan deteksi misinformasi dengan algoritma dari tiap-tiap platform digital, kita juga bisa berupaya melakukan infodemic management.1,2

Infodemik ini bisa kita lawan bersama-sama dengan cara melatih berpikir kritis, mengutamakan penyuluhan dari orang yang ahli di bidangnya, serta memberdayakan komunitas.2 Sebagai tenaga kesehatan, ini menjadi salah satu poin krusial dalam memberikan edukasi kepada masyarakat awam yang rentan, yaitu membangun kepercayaan dan kredibilitas serta mengarahkan masyarakat untuk mencari sumber-sumber kredibel dari jurnal ilmiah terpercaya.4

Namun masyarakat juga harus berhati-hati untuk tidak mendewakan selebritas nakes sebagai sumber pengetahuan, karena sebagai manusia, nakes pun bisa membuat kesalahan. Selain mengutamakan sumber pakar expert, masyarakat juga sebaiknya memahami cara membaca jurnal akademik dan berpikir kritis dengan metode ilmiah. Jadi, semua orang bisa melakukan analisis kritis secara mandiri tanpa perlu terlalu bergantung pada orang lain. Nakes juga harus berhati-hati dalam menggunakan media sosial untuk mencegah penyampaian informasi yang keliru.

Perhatikan poin-poin berikut ketika menyampaikan edukasi medis:

  • Gunakan bahasa yang inklusif (tidak mendiskriminasi orang dari segi ras, gender, usia, seksualitas, status ability, atau tingkat sosioekonomi).5,6
  • Hindari memakai kata-kata atau gambar yang bersifat terlalu menggeneralisir
  • Hindari memakai istilah berkonotasi negatif atau stigma buruk terhadap kelompok tertentu
  • Perhatikan latar belakang audiens (usia, latar budaya, status sosial, dll) karena cara penyampaian edukasi akan berbeda, mulai dari bahasa sampai sarana alat edukasi yang digunakan
  • Dengarkan audiens dan berikan kesempatan mereka untuk bertanya
  • Jangan merasa diri selalu benar; katakan tidak tahu jika memang tidak tahu
  • Sering-sering berlatih agar terbiasa memberikan edukasi inklusif yang empatik

Edukasi kesehatan tanpa bias penting demi kenyamanan audiens nonmedis, selain itu juga penting digunakan dalam pendidikan kedokteran. Bahkan, kurikulum pendidikan kedokteran pun sudah mulai banyak yang mengadopsi kurikulum inklusif.5,6 Pendidikan kedokteran dan edukasi masyarakat awam harus mengutamakan empati dan bersifat adil, supaya kita bisa membangun kepercayaan dengan audiens tanpa menihilkan kelompok marjinal.

Referensi:

  1. Cacciatore MA. Misinformation and Public Opinion of Science and Health: Approaches, Findings, and Future Directions. Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America (PNAS) 2021 April 9; 118 (15): e1912437117 https://doi.org/10.1073/pnas.1912437117 https://www.pnas.org/doi/10.1073/pnas.1912437117
  2. World Health Organization. Infodemic. World Health Organization; 2022. https://www.who.int/health-topics/infodemic
  3. Harvey A. Combatting Health Misinformation and Disinformation: Building An Evidence Base. Health Affairs Forefront; 2021 November 23. DOI: 10.1377/hblog20211118.932213 https://www.healthaffairs.org/do/10.1377/forefront.20211118.932213/
  4. Krisberg K. Health Misinformation A ‘Threat to Public Health’—Leaders Call Out Sources of Disinformation, Social Media Sites. The Nation’s Health 2022 February/March; 52 (1): 1-11. https://www.thenationshealth.org/content/52/1/1.1
  5. Campbell M, Wilkinson L. Inclusive Language for Medical & Health Education: An Evolving Guide. Rosh Review; 2022. https://www.roshreview.com/blog/inclusive-language-for-medical-education-and-qbanks-an-evolving-guide/
  6. Northwestern University. Inclusive & Bias-Free Curriculum Checklist. Northwestern University, Feinberg School of Medicine; 2022. https://www.feinberg.northwestern.edu/md-education/learning-environment/checklist.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s