Ada lebih dari satu juta kasus IMS setiap harinya di seluruh dunia, sebagian besar di antaranya tidak menunjukkan gejala. WHO menyebutkan bahwa ada 8 patogen terkait insidens IMS tersering, di mana 4 di antaranya dapat disembuhkan (sifilis, gonore, klamidia, dan trikomoniasis), sementara 4 lainnya merupakan infeksi virus yang tidak dapat disembuhkan tetapi bisa dikontrol (hepatitis B, herpes simpleks, HPV, dan HIV).1

Diskriminasi dari masyarakat dan tenaga medis terhadap orang dengan infeksi menular seksual (IMS) berdampak buruk terhadap kualitas hidup penderitanya, terutama yang berada dalam kelompok marginal. IMS memiliki berbagai komplikasi berbahaya, mulai dari infertilitas sampai kanker leher rahim (serviks). Beberapa jenis IMS juga dapat ditularkan dari ibu ke anak selama kehamilan, persalinan, dan menyusui. Padahal, penyebaran IMS sebenarnya bisa dicegah dan dikontrol, jika masyarakat umum dibekali edukasi seksualitas komprehensif.

Dalam Workshop Kelas Kespro 2.0 yang diselenggarakan oleh Sehatara bersama Dokter Tanpa Stigma dengan topik Sisi Medis dan Stigma Infeksi Menular Seksual (IMS), dr. Yudhan Triyana menjelaskan bahwa salah satu ancaman utama dalam upaya mengurangi beban IMS adalah resistensi obat. Hal ini dikarenakan banyak pasien IMS yang menggunakan obat-obatan dengan asal-asalan karena malu mencari pengobatan yang akurat di layanan kesehatan.1

Tonton diskusi lengkapnya di sini.

Pencegahan Penyebaran IMS Masih Terhambat Stigma

Ada berbagai macam IMS dengan ragam gejala serta komplikasi, tetapi yang terbanyak tidak menunjukkan gejala (asimptomatis). Oleh karena itu, cara untuk melakukan diagnosis pasti adalah pemeriksaan lab, agar infeksi semakin cepat diketahui dan semakin cepat diatasi untuk mencegah penularan dan komplikasi. Namun, screening dan testing dini belum bisa terlaksana optimal, dikarenakan stigma yang masih menghalangi.

Foto: Karolina Grabowska, Pexels

Selain stigma terhadap IMS itu sendiri, diskriminasi terhadap kelompok tertentu membuat akses kesehatan seksual rendah. Berbagai konteks sosial yang bisa memperberat marjinalisasi pasien dengan IMS antara lain kelas sosial, ras/etnis, status imigrasi, identitas gender, ekspresi gender, dan orientasi seksual.2

Bentuk-bentuk stigma dan diskriminasi yang dialami orang dengan IMS:

  • Penelantaran/ pengasingan karena dianggap sumber penularan
  • Status imigrasi menyebabkan kelompok tertentu tidak mendapatkan akses screening
  • Kriminalisasi pekerja seks yang menyebabkan enggan berobat
  • Pemeriksaan visum korban perkosaan sering menyebabkan trauma ulang, sehingga korban banyak yang takut memeriksakan diri atau melapor

Bahkan, stigma juga seringkali masuk ke ranah kesehatan masyarakat dan mempengaruhi proses pembuatan kebijakan. Contohnya, adanya Perda yang melarang aktivitas kelompok gender dan orientasi seks tertentu dengan dalih untuk menurunkan angka penularan HIV. Jadi, stigma yang mengakar di semua lapisan ini menyebabkan penderita IMS sering sekali menghadapi diskriminasi dan perlakuan tidak menyenangkan di fasilitas kesehatan.2

Padahal stigma, diskriminasi dan kriminalisasi kelompok masyarakat tertentu sejak dahulu kala tidak pernah terbukti berhasil menurunkan angka penularan IMS atau penyakit menular apa pun. Malah, ini akan membuat penyebaran IMS semakin tidak terkendali dan sulit dipantau karena masyarakat semakin tidak paham, semakin berusaha menutupi, dan semakin enggan mencari bantuan sementara terus memperluas penularan.

Kondisi Psikologis Penderita Ikut Terganggu!

Stigma terkait IMS bisa menimbulkan rasa malu yang mendalam, terutama pada usia remaja. Stigma dan rasa malu akan menurunkan upaya untuk melakukan testing lebih dini.3,4 Bahkan, efek negatif stigma terhadap perilaku remaja lebih berat terjadi pada remaja perempuan daripada laki-laki. Hal ini menyebabkan banyak remaja perempuan tidak berani mencari pertolongan ke layanan kesehatan.5

Dalam Workshop Kelas Kespro 2.0 tersebut, Asep Amin Koswara, M.Psi., Psikolog menjelaskan bahwa ada berbagai respons psikologis yang muncul saat seseorang mengalami IMS, di antaranya muncul penyangkalan, rasa sedih dan marah, serta rasa cemas dan khawatir. Diikuti dengan perasaan kehilangan kontrol serta hilangnya percaya diri, dan sikap menyalahkan diri sendiri dan orang-orang sekitar.

Ada berbagai akibat fisik dan mental dari permasalahan psikologis yang ditimbulkan oleh stigma:

  • Kepatuhan minum obat menurun, sehingga pengobatan tidak optimal
  • Aktivitas keseharian/sosial menjadi terganggu (karena menutup diri atau diasingkan oleh orang lain)
  • Kesehatan fisik secara umum memburuk dan kualitas hidup menurun
  • Ada risiko gangguan psikologis berat yang berakibat kematian, seperti depresi yang bisa berujung bunuh diri

Upayakan Pencegahan dan Pertolongan yang Bebas Stigma

Salah satu kendala utama dalam penanganan penyebaran IMS adalah kurangnya akses. Kelompok marginal seperti pekerja seks, LSL, pemakai narkoba suntik, narapidana, dan imigran masih kekurangan akses layanan kesehatan yang baik. Selain barrier akses yang secara fisik menghalangi, stigma dan kriminalisasi terhadap berbagai kelompok minoritas menyebabkan mereka enggan mencari pengobatan.

Stigma terhadap orang dengan IMS seringkali tercermin pada kebijakan kesehatan. Jadi, kita membutuhkan layanan kesehatan seksual yang bebas-stigma. Tenaga medis harus dilatih untuk memiliki empati dan tidak mendiskriminasi, diiringi upaya untuk meningkatkan screening, kapasitas laboratorium, dan suplai obat-obatan.1

Pencegahan utama penyebaran IMS adalah behavior change untuk menghentikan perilaku seksual yang berisiko dengan pendekatan A-B-C-D-E (abstinence, be faithful, condom, (no) drugs, education). Perubahan perilaku seksual yang sehat dan bertanggung jawab ini bisa dimulai dengan cara memberikan edukasi seksualitas yang komprehensif kepada masyarakat.

Lihat Juga: Edukasi Seks yang Bertanggung Jawab untuk Seluruh Lapisan Usia

Dalam menghadapi kekhawatiran tentang infeksi menular seksual, menurut Asep, yang harus dilakukan adalah belajar regulasi/ kontrol emosi, contohnya dengan cara terapi menulis ekspresif. Pasien juga diarahkan untuk membangun penerimaan diri, yaitu dengan cara meningkatkan keyakinan diri, menganggap diri berharga dan memiliki derajat yang sama, tidak menyalahkan diri sendiri, serta berani memikul tanggung jawab terhadap perilaku/ situasi yang dihadapi.

Stigma dapat dilawan dengan modifikasi dan adaptasi dari kebiasaan lama menuju pandangan baru yang lebih terbuka. Peran keluarga dan komunitas sangat penting sebagai support system bagi penderita IMS. Dengan adanya penerimaan dan pemahaman, mereka sudah cukup terbantu. Lebih baik lagi, keluarga dan komunitas bisa menjadi wadah yang melindungi dan memberikan bantuan kepada orang dengan IMS, mulai dari bantuan sosial sampai medis.

Dalam menghadapi kasus infeksi menular seksual, sebaiknya tenaga medis menggunakan pendekatan person-centered yang menekankan pada individualitas dan autonomi. Selain itu, kita juga harus menggalakkan komunitas-komunitas yang menaungi kelompok marginal sebagai medium untuk membantu layanan kesehatan terkait IMS.2 Semua manusia berada dalam lingkup seksualitas yang beragam, dan semua berhak mendapatkan akses kesehatan seksual yang memadai. Yang utama, kita harus menekankan komunikasi efektif dan empati terhadap setiap individu, tanpa membeda-bedakan, apalagi menghakimi.

Referensi:

  1. World Health Organization. Sexually Transmitted Infections (STIs). Geneva: World Health Organization; 2022. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/sexually-transmitted-infections-(stis)
  2. Garcia PJ, Miranda AE, Gupta S, Garland SM, Escobar ME, Fortenberry JD, et al. The Role of Sexually Transmitted Infections (STI) Prevention and Control Programs in Reducing Gender, Sexual and STI-Related Stigma. Journal of Clinical Medicine 2021 Mar; 33: 100764. https://www.thelancet.com/journals/eclinm/article/PIIS2589-5370(21)00044-4/fulltext
  3. Morris JL, Lippman SA, Philip S, Bernstein K, Neilands TB, Lightfoot M. Sexually Transmitted Infection Related Stigma and Shame Among African-American Male Youth: Implications for Testing Practices, Partner Notification, and Treatment. AIDS Patient Care and STDs 2014 Sep 1; 28 (9): 499-506. doi: 10.1089/apc.2013.0316 https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4135319/
  4. Cunningham SD, Kerrigan DL, Jennings JM, Ellen JM. Relationships Between Perceived STD-Related Stigma, STD-Related Shame and STD Screening Among a Household Sample of Adolescents. Perspectives on Sexual and Reproductive Health 2009 Dec; 41 (4): 225-30. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1363/4122509
  5. Cunningham SD, Tschann J, Gurvey JE, Fortenberry JD, Ellen JM. Attitudes About Sexual Disclosure and Perceptions of Stigma and Shame. Sexually Transmitted Infections, British Medical Journal 2002; 78 (5). https://sti.bmj.com/content/78/5/334

Tinggalkan komentar