Perdagangan manusia termasuk masalah kesehatan yang membutuhkan perhatian kita bersama. Seringkali, satu-satunya tenaga profesional yang bertemu dengan korban human trafficking adalah tenaga medis, karena mereka kebanyakan berada dalam penyekapan.1 Karena itu, kemampuan nakes untuk membuat assessment, wawancara, dan identifikasi haruslah dilatih agar lebih siap menghadapi pasien dan klien suspek korban.
Sekitar 87% korban perdagangan manusia pernah berobat ke tenaga kesehatan dan tidak teridentifikasi, mayoritas di antara mereka berobat ke layanan gawat darurat.2 Studi di AS menunjukkan bahwa kurang dari 50% tenaga medis yang terdiri atas dokter, perawat, dan nakes lainnya yang pernah menjalani pelatihan untuk mengenali korban perdagangan manusia, padahal sebetulnya hampir seluruh tenaga medis berpendapat bahwa pelatihan tersebut haruslah ada.3 Sebuah studi lain menunjukkan hanya 13% personel yang bekerja di instalasi gawat darurat bisa secara yakin mengenali korban perdagangan manusia.4
Mulai untuk Peduli dan Berhenti Memberi Stigma!

Dewasa ini, tenaga medis masih sering memberikan stigma terhadap pekerja seks atau pecandu narkoba. Kebanyakan mereka dipandang sebelah mata, dianggap menjijikkan, atau dibicarakan di belakang. Padahal, mereka adalah kelompok rentan yang bisa saja merupakan korban perdagangan manusia! Seharusnya, nakes bisa memberikan empati. Sebagai tenaga profesional, kita tidak boleh mendiskriminasi dan menghakimi, justru nakes harus rajin memberikan edukasi. Juga, fasilitas kesehatan seharusnya bisa menjadi support system bagi kelompok-kelompok marginal.
Empat hal yang bisa diupayakan oleh tenaga medis dalam membantu korban TPPO:
- Pendataan dan Pelaporan – tenaga medis bisa membantu mengidentifikasi korban perdagangan manusia dan melaporkan ke pihak berwajib
- Layanan Kesehatan Bebas Stigma – stop memberi stigma pada PSK, pengguna narkoba, perempuan korban kekerasan seksual, atau pasien-pasien lain yang bisa jadi merupakan korban perdagangan manusia
- Sistem Dukungan Paripurna – menjadi support system dari penyintas perdagangan manusia khususnya di bidang kesehatan mental dan efek gangguan kesehatan fisik jangka panjang
- Edukasi – pelajari dan pahami tentang perdagangan manusia agar bisa membantu persebaran informasi dan edukasi bagi tenaga medis lain atau masyarakat awam
Peran Nakes dalam Identifikasi dan Rehabilitasi Korban
Perdagangan manusia melibatkan berbagai proses, mulai dari rekrutmen, penculikan atau penipuan, transportasi, pemindahan orang, penyekapan atau penyanderaan, transaksi jual-beli, sampai eksploitasi. Sepanjang proses tersebut, korban bisa mengalami penganiayaan fisik maupun seksual, pemaksaan penggunaan alkohol dan obat-obatan, restriksi sosial dan manipulasi emosional, eksploitasi finansial dan jeratan utang, serta permasalahan hukum.5 Nakes bisa menemukan korban di tahap mana pun, sehingga kita harus bisa mengenali berbagai tanda-tandanya.
Ketika menemukan dan menangani korban TPPO di fasilitas kesehatan, ingatlah sepuluh prinsip dasar berikut:6
- DO NO HARM
- Lakukan assessment risiko
- Siapkan daftar kontak rujukan (jangan memberi janji-janji manis kepada korban)
- Siapkan orang-orang yang membantu tindakan (paramedis, penerjemah, dll)
- Pastikan anonimitas dan kerahasiaan data terjaga
- Buat informed consent
- Dengarkan dan hormati semua cerita dan kondisi korban (termasuk ketakutan mereka akan berbagai risiko)
- Jangan melakukan trauma ulang (retraumatisasi)
- Persiapkan intervensi emergensi
- Kumpulkan berbagai informasi tambahan
Wawancara harus dilakukan dengan menyeluruh dan terarah kepada berbagai keluhan dan gejala terkait penyakit-penyakit yang sering timbul pada korban TPPO. Pemeriksaan fisik yang dilakukan juga harus komprehensif (head-to-toe examination) sebab bisa saja ada gejala yang belum tersampaikan, sementara kondisi fisik korban biasanya akan diliputi berbagai penyakit kronis multipel.6
Tanda-tanda ketika wawancara/ anamnesis yang menunjukkan pasien mungkin korban TPPO:
- Ketidakcocokan riwayat penyakit dengan pemeriksaan fisik, misal pasien mengatakan dirinya terjatuh di jalanan berbatu sehingga kulitnya robek, tetapi lukanya cukup bersih dan berupa vulnus scissum; mengaku terjatuh ke arah kiri tetapi luka-luka banyak ditemukan di sisi kanan; atau pasien kesulitan menjawab dengan cerita yang konsisten
- Riwayat penyakit terdengar seperti cerita yang dihafal, seringkali pasien tidak bisa berbicara dengan bahasa setempat4
- Pendamping pasien menunjukkan kontrol yang berlebihan, mayoritas pertanyaan dijawab oleh pendamping, bahkan dokumen-dokumen penting seperti KTP, kartu asuransi kesehatan, paspor, dan sebagainya dipegang oleh pendamping
- Ada tato/inisial yang menunjukkan kepemilikan
- Pasien tampak ketakutan, cemas, depresif, bersikap tunduk, waspada berlebihan, paranoid
- Pasien khawatir akan ditangkap atau dipenjara
- Pasien mengkhawatirkan keselamatan keluarga
- Pasien jadi tidak kooperatif di ruang periksa, kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti identitas diri atau alamat tempat tinggalnya; tampak kebingungan, tidak tenang, agitated, memaksa ingin segera menyelesaikan pemeriksaan dan segera pulang
Tanda-tanda klinis yang bisa ditemukan dalam pemeriksaan fisik pasien suspek korban TPPO:1,5,6
- Kondisi klinis menunjukkan perawatan sekarang maupun sebelumnya tidak adekuat
- Kondisi klinis menunjukkan masalah kesehatan kronis multipel
- Luka/penyakit akibat kerja atau yang berhubungan dengan pekerjaan, seperti kebersihan yang buruk, paparan suhu ekstrem, paparan bahan-bahan atau limbah berbahaya, dehidrasi, cedera, masalah kulit dan pernapasan
- Ada tanda-tanda jelas kekerasan fisik dan penyiksaan seperti patah tulang, kontusio dan trauma kepala serta wajah, kehilangan gigi, luka sundutan rokok
- Tanda-tanda deprivasi kebutuhan dasar berupa malnutrisi, insomnia, stres ekstrem, defisiensi vitamin; malnutrisi pada anak bisa memiliki efek gangguan tumbuh-kembang
- Ada keluhan/gejala terkait eksploitasi seksual, seperti luka kekerasan, kehamilan yang tidak diinginkan (KTD), penyakit menular seksual (STD), tanda-tanda aborsi tidak aman (dengan komplikasi multipel)
- Gejala-gejala gangguan mental seperti PTSD, depresi, kecemasan; bisa ditemukan trauma psikologis berat, emosi tidak stabil, menutup diri, ide bunuh diri, ketakutan ekstrem, dan lain-lain

Jika tenaga kesehatan menemukan pasien yang dicurigai sebagai korban perdagangan manusia, hal terpenting pertama adalah memisahkan suspek korban dengan pengantarnya. Sebaiknya, tersedia tenaga psikolog atau konselor yang disertai dengan penerjemah (selain pendamping pasien).1,6
Kemudian, pemeriksa bisa mencari tahu lebih lanjut dengan cara menanyakan beberapa pertanyaan sensitif, seperti:4
- Di mana Anda bekerja, dan apakah Anda boleh berhenti bekerja?
- Seperti apa kondisi tempat Anda bekerja?
- Saat sedang tidak bekerja, apakah Anda bisa bebas bepergian?
- Di mana Anda bertempat tinggal, bagaimana Anda makan dan tidur?
- Apakah Anda dikurung di suatu tempat dan tidak boleh keluar tanpa izin?
- Apakah di tempat tersebut Anda harus minta izin untuk melakukan kebutuhan dasar seperti makan, tidur, atau ke kamar mandi?
- Apakah Anda diancam jika berniat kabur?
- Apakah keluarga Anda menerima ancaman?
Jangan lupa untuk selalu bersikap empatik dan mendengar aktif, karena korban TPPO biasanya berada dalam kondisi trauma. Perlu diingat bahwa tenaga kesehatan tidak bisa langsung memaksa korban untuk melapor, karena bisa saja nyawa korban atau keluarga korban terancam jika melapor. Tenaga medis bisa membantu memberikan nomor kontak pihak berwajib.1 Jangan melapor sebelum mendapatkan persetujuan korban.
Pastikan kita mengutamakan keamanan diri kita sendiri sebelum menolong korban. Berhati-hatilah ketika memberikan nomor kontak pribadi atau institusi kepada korban. Jangan menawarkan bantuan pribadi tanpa keikutsertaan pihak berwajib! Kita bisa membantu semampu kita untuk memastikan korban terpenuhi kebutuhan dasarnya serta akses kesehatan yang layak, juga memberikan edukasi pada korban mengenai kesehatannya dan cara-cara mencari bantuan.6
Tenaga kesehatan seperti dokter, perawat, bidan, dan lain-lain memiliki posisi unik mulai dari mengidentifikasi korban perdagangan manusia, sampai memberikan perawatan kesehatan fisik dan mental selama dan setelah penyelamatan.1 Jika tenaga medis dan paramedis memiliki pengetahuan tentang cara penanganan dan identifikasi korban, diharapkan kita bisa membantu menyelamatkan lebih banyak lagi korban yang sedang berada dalam penyekapan atau eksploitasi. Mari kita tingkatkan pengetahuan kita sembari menghilangkan stigma terhadap kelompok marginal.
Artikel ini adalah bagian kedua dari Seri Peran Tenaga Medis Membantu Korban Perdagangan Manusia
Referensi:
- Dovydaitis T. Human Trafficking: The Role of the Health Care Provider. Journal of Midwifery & Women’s Health 2010 Sept-Oct; 55 (5): 462-7. doi: 10.1016/j.jmwh.2009.12.017 https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3125713/
- Reap VJ. Sex Trafficking: A Concept Analysis for Health Care Providers. Advanced Emergency Nursing Journal 2019 Apr-Jun; 41 (2): 183-8. doi: 10.1097/TME.0000000000000236 https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/31033666/
- McAmis NE, Mirabella AC, McCarthy EM, Cama CA, Fogarasi MC, Thomas LA, et al. Assessing Healthcare Provider Knowledge of Human Trafficking. PLOS ONE 2022; 17(3): e0264338. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0264338 https://journals.plos.org/plosone/article/metrics?id=10.1371/journal.pone.0264338
- Barrows J, Finger R. Human Trafficking and the Healthcare Professional. Southern Medical Journal 2008 May; 101 (5): 521-4. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/18414161/
- Zimmerman C, Stöckl H. Human Trafficking. In: Understanding and Addressing Violence Against Women. Geneva: World Health Organization; 2012. https://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/77394/WHO_RHR_12.42_eng.pdf
- Zimmerman C, Borland R, editors. Caring for Trafficked Persons: Guidance for Health Providers. Geneva: International Organization for Migration; 2009. https://publications.iom.int/books/caring-trafficked-persons-guidance-health-providers

Tinggalkan komentar