Kontrasepsi selama ini masih selalu dianggap urusan perempuan, karena laki-laki dianggap tidak perlu memedulikan masalah kehamilan. Kehamilan yang tidak direncanakan (KTD) adalah masalah kesehatan global yang masih marak terjadi, dan bisa menciptakan efek domino yang mengganggu mulai dari tumbuh-kembang anak, tingkat pendidikan, keberhasilan ekonomi, sampai kesejahteraan keluarga dan kualitas hidup masyarakat. Sama seperti urusan KB, urusan KTD pun kini masih sering menjadi beban perempuan saja.

Tidak tersedianya kontrasepsi laki-laki ini disebabkan oleh berbagai faktor, terutama berangkat dari budaya patriarki yang menyebabkan investor farmasi enggan mengembangkan metode-metode baru. Padahal, sebetulnya kini dukungan masyarakat untuk diproduksinya KB laki-laki sudah mulai meningkat, seiring munculnya kesadaran bahwa tanggung jawab reproduksi bukan hanya terletak pada perempuan, tetapi juga pada kedua belah pihak.

Photo by cottonbro studio on Pexels.com

Hanya Ada Kondom, Vasektomi, dan Abstinensia

Sejauh ini pilihan kontrasepsi yang tersedia untuk laki-laki hanyalah kondom dan vasektomi. Pilihan ini sangat terbatas dibandingkan berbagai macam jenis kontrasepsi perempuan yang tersedia. Selain kedua metode tersebut, masih ada metode manual seperti abstinensia atau withdrawal, tapi efektivitasnya rendah dan laki-laki sering sulit diajak bekerja sama untuk mengaplikasikan metode-metode manual ini.

Kondom sebetulnya merupakan pilihan yang baik dengan benefit tambahan berupa pencegahan infeksi menular seksual, namun angka keberhasilan kondom bisa berkurang seiring kecilnya pengetahuan laki-laki tentang cara pemasangannya. Laki-laki juga masih sering enggan menggunakan kondom karena dianggap menurunkan kenikmatan, sehingga perempuan terpaksa menggunakan KB yang efek sampingnya jauh lebih banyak. Kondom juga termasuk jenis kontrasepsi jangka pendek, sementara ada yang lebih nyaman menggunakan KB jangka panjang.

Sementara itu, vasektomi masih termasuk prosedur permanen, dan operasi reversal vasektomi biayanya masih sangat mahal dan tingkat keberhasilannya tidak tinggi. Masih banyak juga mitos yang mengatakan bahwa vasektomi bisa “menurunkan kejantanan”. Saat ini, lebih banyak perempuan yang menjalani prosedur seperti ligasi tuba atau tubektomi, padahal prosedur perempuan ini jauh lebih invasif daripada prosedur vasektomi pada laki-laki.

Ragam Penelitian Kontrasepsi Laki-Laki yang Sedang Dikembangkan

Penelitian kontrasepsi laki-laki sebetulnya sudah dimulai sejak tahun 1970-an, tak lama setelah kontrasepsi perempuan juga dikembangkan. Namun, kontrasepsi perempuan segera sukses dikembangkan dan dipasarkan secara global, sementara kontrasepsi laki-laki tidak pernah maju ke tahap lanjut sampai sekarang.

Beberapa butir tablet dan kapsul
Foto: Pixabay, Pexels

Pilihan kontrasepsi yang tersedia antara lain hormonal dan non-hormonal. Namun, kontrasepsi hormonal (testosterone-blocker) sering menunjukkan efek samping berupa penurunan libido, peningkatan kolesterol LDL, peningkatan berat badan, hingga depresi. Kontrasepsi berisi dimethandrolone undecanoate (DMAU) memiliki efek menekan FSH dan LH untuk mengurasi produksi sperma, tetapi juga memiliki efek samping gangguan mood.

Salah satu poin ironis yang bisa kita highlight di sini adalah, kontrasepsi laki-laki sering dianggap ‘gagal’ ketika memiliki efek samping mood swing, penurunan libido, peningkatan berat badan, dan lain-lain. Akibatnya, penelitiannya tidak dilanjutkan, padahal semua kontrasepsi hormonal perempuan sejauh ini juga memiliki efek samping yang persis sama dan tetap dipasarkan ke masyarakat.

Sementara itu, salah satu contoh kontrasepsi non-hormonal yang sedang dikembangkan memiliki cara kerja memblokade protein yang terikat dengan retinoic acid, yang sejauh ini sukses di tahap uji di hewan. Contoh jenis kontrasepsi lain yang sedang diteliti adalah berbentuk gel yang berisi testosteron dan progestin. Progestin berperan untuk menekan produksi sperma, sementara testosteron bertujuan untuk mempertahankan libido normal. Tidak seperti pil KB perempuan, jika gel lupa dipakai sehari, efeknya tidak seketika menurun. Sejauh ini, penelitian kontrasepsi gel cukup menjanjikan, tetapi masih butuh waktu lama—sampai sepuluh tahun lagi—sebelum gel ini bisa beredar.

Pilihan lain yang tersedia untuk laki-laki adalah vasektomi reversibel, yang dikenal sebagai teknik “vas-oklusi”. Sejauh ini, metode inilah yang kemajuannya paling pesat, karena sudah diteliti selama lebih dari empat puluh tahun dan kini merupakan satu-satunya kontrasepsi laki-laki yang sudah masuk uji klinis Tahap 3. Studi pun menunjukkan bahwa teknik ini efektif dan reversibel, sehingga bisa dianggap kontrasepsi laki-laki jangka panjang.

Kenapa Belum Ada KB Laki-Laki yang Beredar?

Dengan banyaknya ragam kontrasepsi yang sedang dikembangkan, mengapa belum ada satu pun yang berhasil dipasarkan? Jawaban utamanya adalah, kurangnya sokongan dana. Dari sudut pandang industri farmaseutikal, kontrasepsi laki-laki menyebabkan penurunan fungsi reproduksi pada orang sehat. Hal ini dinilai berisiko tinggi dan tidak menguntungkan, sesuai model risk-benefit tradisional.

Dari sudut padang regulasi FDA juga ada perdebatan etis mengenai apakah wajar memberikan obat yang menyebabkan perubahan tubuh seseorang, tetapi efek yang diharapkan bukanlah pada diri orang tersebut, melainkan pada diri pasangannya?

Kita bisa melihat bahwa budaya patriarki yang seksis melingkupi sikap industri farmasi mengenai hal ini: kontrasepsi perempuan yang menyebabkan “gangguan reproduksi pada orang sehat” tetap banyak beredar, dan ada pandangan seolah-olah kita tidak bisa memakaikan kontrasepsi pada pihak yang tidak “menanggung akibatnya”, yaitu perempuan yang bisa hamil. Padahal, kehamilan adalah hasil perbuatan dua orang, bukan satu pihak saja.

Kontrasepsi laki-laki memang lebih tricky karena tidak seperti mencegah keluarnya satu-dua telur per bulan pada perempuan, laki-laki memproduksi jutaan sperma setiap harinya. Problema ini tentunya harus kita hadapi dengan semakin memperbanyak dan memperkuat penelitian akademik. Namun, industri farmasi masih cenderung memfokuskan perhatian pada isu infertilitas, karena infertilitas adalah sebuah “gangguan” yang harus disembuhkan, sementara kontrasepsi bukan untuk menyembuhkan “gangguan”.

Karena perusahaan farmasi masih belum tertarik mengembangkan kontrasepsi laki-laki, pihak yang meneliti hanyalah LSM dan pusat akademik, yang tidak memiliki sumber daya dan keuangan sekuat perusahaan farmasi. Keterbatasan SDM dan infrastruktur ini jugalah yang menghambat kemajuan penelitian.

Masyarakat Sudah Mulai Menerima KB Laki-Laki

Kehamilan, infeksi menular seksual, dan semua dampaknya adalah beban bersama, bukan beban perempuan saja. Alih-alih menggunakan model risk-benefit tradisional, seharusnya kini kita berfokus pada shared risk antara laki-laki dan perempuan. Riset pasar mengenai kontrasepsi laki-laki juga seharusnya digalakkan, karena seiring berjalannya waktu, persepsi dan pemahaman masyarakat tentang kesehatan reproduksi bisa terus berubah.

Di masa kini, untungnya, sudah mulai banyak laki-laki yang teredukasi dan memahami bahwa kontrasepsi bukan hanya urusan perempuan. Laki-laki juga sudah mulai berkeinginan untuk menggunakan kontrasepsi. Sebuah penelitian di Afrika menunjukkan bahwa dukungan laki-laki untuk dipasarkannya kontrasepsi laki-laki sudah cukup tinggi, untuk berbagai metode dan durasi kerja obat. Penelitian di Inggris dan Amerika juga mendapatkan hasil serupa. Jadi, akseptabilitas kontrasepsi laki-laki di masyarakat sebetulnya sudah semakin meningkat.

Inilah saatnya bagi para peneliti, pembuat kebijakan, dan pelaku industri untuk mulai memperkenalkan kontrasepsi laki-laki, agar variasi kontrasepsi semakin beragam dan kita semua punya pilihan. Keikutsertaan laki-laki dalam kontrasepsi memiliki dampak yang baik bagi kesehatan masyarakat, selain dengan cara membantu menurunkan angka KTD, juga dengan membuat laki-laki memiliki peran aktif dalam perencanaan keluarga; suatu peran yang selama ini hanya dibebankan kepada ibu.

Dengan demikian, beban kontrasepsi, kehamilan, dan mengurus anak tidak boleh hanya terletak pada perempuan, tetapi pada kedua pasangan yang terlibat. Kontrasepsi laki-laki akan meningkatkan gender equity sehingga tanggung jawab kontrasepsi menjadi adil.

Anda dapat membaca lebih lanjut tentang kompleksitas KB dan edukasinya dalam buku Bebaskan Kami Berkontrasepsi, Seri Gender dari Penerbit EA Books.

Satu tanggapan untuk “Mengapa Masih Sedikit Sekali Tersedia Kontrasepsi Laki-Laki?”

  1. Bapak-Bapak Jangan Malu ke Poli KB: Kontrasepsi Bukan Cuma Urusan Perempuan! – Dokter Tanpa Stigma Avatar

    […] Baca juga: Mengapa Masih Sedikit Sekali Tersedia Kontrasepsi Pria? […]

    Suka

Tinggalkan komentar