Kontrasepsi atau program KB (Keluarga Berencana) seringkali masih dianggap urusan perempuan belaka, sehingga banyak laki-laki yang tidak tahu-menahu tentang berbagai metode kontrasepsi. Rekan-rekan tenaga medis di poliklinik KB puskesmas juga masih sering menemukan ibu-ibu saja yang hadir untuk menghadiri penyuluhan atau melakukan pemilihan metode KB, tanpa ditemani bapak-bapak. Padahal, kontrasepsi untuk laki-laki biasanya lebih mudah diakses dan mudah dilakukan (misalnya kondom pria dan vasektomi) dan efek sampingnya sedikit dibandingkan kontrasepsi perempuan.

Dalam workshop kelas kespro kerja sama antara Sehatara dengan Dokter Tanpa Stigma bertema Serba-Serbi KB, Grace Kurniadi, M.Psi., Psikolog menyebut bahwa perempuan lebih sering menanggung stres mengenai keputusan kontrasepsi. Padahal, seharusnya kontrasepsi adalah tanggung jawab bersama, agar mengurangi beban yang perlu ditanggung kedua belah pihak. Mengikutsertakan kedua pihak juga bertujuan untuk memastikan hubungan seksual yang bertanggung jawab serta membantu mencegah risiko yang tidak diinginkan, seperti infeksi menular seksual (IMS) atau kehamilan yang tidak direncanakan (KTD).

Kontrasepsi Dianggap ‘Bukan Urusan Laki-Laki’

Dalam workshop tersebut, dr. Indri Hutami melaporkan hasil Survei Kinerja dan Akuntabilitas Program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (SKAP) 2018 yang menunjukkan bahwa 96.7% peserta program KB adalah perempuan, sementara laki-laki hanya 3.3%. Peran serta laki-laki masih rendah bukan hanya di aspek kontrasepsi saja, tetapi juga saat kehamilan, kelahiran, dan mengurus anak.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan laki-laki mengenai kontrasepsi juga masih rendah, dan kebanyakan laki-laki masih sering salah mengerti mengenai berbagai mitos seputar kontrasepsi laki-laki. Misalnya, masih ada mitos bahwa metode sterilisasi seperti vasektomi akan menyebabkan impotensi. Kondom juga dianggap akan mengurangi kenikmatan seksual.

Memang, jenis-jenis kontrasepsi untuk laki-laki masih lebih sedikit dibandingkan metode-metode yang tersedia untuk perempuan. The Washington Post menerangkan bahwa budaya patriarki menjadi salah satu penyebab mengapa kontrasepsi laki-laki masih jarang diteliti, sehingga industri farmasi dan alkes juga enggan berinvestesi dalam menciptakan jenis-jenis kontrasepsi laki-laki seperti pil, gel hormon, dan lain-lain.

Baca juga: Mengapa Masih Sedikit Sekali Tersedia Kontrasepsi Laki-Laki?

Kebanyakan orang masih berpikir bahwa kontrasepsi adalah tugas untuk perempuan saja, karena laki-laki tidak punya sense of urgency untuk menghindari kehamilan yang tidak direncanakan. Ada juga pemikiran bahwa jika laki-laki menjalani prosedur vasektomi, maka ia menjadi ‘bebas’ dan ‘tidak bisa menahan diri’ untuk berganti-ganti pasangan. Ini pandangan yang amat keliru, karena perilaku seksual haruslah dilakukan dengan tanggung jawab, bukan atas dasar egoisme pribadi saja.

Pregnancy tests
Foto: Nataliya Vaitkevich, Pexels

Ragam Efek Psikologis KB Perempuan

Kontrasepsi laki-laki seperti kondom dan vasektomi tidak terlalu diminati, dibandingkan dengan kontrasepsi perempuan seperti pil dan suntik KB, padahal kontrasepsi laki-laki relatif lebih aman dari segi efek samping, dan lebih efektif. Kondom juga memiliki manfaat tambahan mencegah IMS. Kontrasepsi perempuan, terutama yang mengandung hormon, memiliki berbagai efek samping sistemik mulai dari efek kardiovaskular, endokrin, sampai psikologis.

Berbagai efek samping psikologis bisa muncul saat mengonsumsi kontrasepsi hormonal. Menurut Grace, efek yang bisa muncul antara lain menjadi lebih irritable, lebih mudah stres, lebih sering menangis, sampai kelelahan. Namun, efek psikologis yang timbul saat mengonsumsi kontrasepsi hormonal bisa sangat berbeda dari satu orang dengan orang lainnya, sehingga belum ada data yang pasti mengenai dampak hormonal terhadap psikologis. Di satu individu, mungkin saja bisa muncul gejala mood swing, tetapi di kasus lain, kontrasepsi hormonal justru bisa membantu menyeimbangkan mood di saat mengalami PMS (premenstrual syndrome) atau bahkan membantu meredakan gejala PDD (premenstrual dysphoric disorder).

Oleh sebab itu, individu yang menggunakan kontrasepsi hormonal sebaiknya bisa memantau efek obat sendiri sehari-hari agar bisa dilakukan penyesuaian dengan dokternya. Tentu saja, pemantauan gejala ini sebaiknya dilakukan tidak hanya oleh perempuan saja, tetapi dibantu juga oleh pasangannya, sehingga kedua belah pihak sama-sama paham dan aware mengenai efek kontrasepsi yang dipilih atau perubahan selanjutnya.

Kedua Pasangan Harus Ikut Berperan!

Idealnya, kedua pasangan tidak hanya berperan dalam proses pemantauan obat, tetapi sudah ikut serta sejak awal. Mulai dari pemilihan metode kontrasepsi, mempelajari cara pemasangan/ konsumsi, sampai rencana-rencana selanjutnya. Memilih kontrasepsi bukan hanya tentang menunda kehamilan di satu saat hubungan seks saja, tetapi terkait erat dengan rencana kehidupan kedua belah pihak selanjutnya.

Beberapa hal yang menjadi pertimbangan saat memilih metode kontrasepsi:

  • Apakah ada rencana memiliki anak?
  • Kapan ingin memiliki anak?
  • Ingin menjarakkan hamil berapa lama?
  • Apakah memiliki riwayat penyakit tertentu? (IMS, hipertensi, dll)
  • Berapa pasangan seksual Anda?
  • Apakah Anda rentan/ berisiko tinggi IMS dan HIV?
  • Bagaimana efektivitas metode yang dipilih?
  • Apa saja efek samping yang akan muncul?
  • Apakah merasa mampu berkomitmen dan konsisten jangka panjang?

Mulai dari pemilihan metode sampai menjalankan pilihan tersebut, pasangan harus saling mendukung satu sama lain agar bisa mengambil keputusan yang terbaik untuk bersama. Pasangan memiliki peran untuk mengingatkan atau menemani pasangannya dalam mengonsumsi kontrasepsi harian atau melakukan pemasangan, sehingga bisa mengurangi beban pasangannya. Juga, kedua belah pihak memiliki tanggung jawab untuk secara aktif menghindari infeksi menular seksual dan perilaku seksual yang tidak bertanggung jawab.

Lihat juga: Edukasi Seksual Komprehensif dan Perilaku Seksual yang Bertanggung Jawab

Dengan komunikasi dan diskusi yang baik antar pasangan, tiap-tiap orang bisa menjadi support system bagi pasangannya. Kedua pihak dapat belajar untuk saling menghargai dan saling mengingatkan, agar bisa membangun hubungan yang bertanggung jawab. Jadi, bapak-bapak jangan malu lagi menemani ibu-ibu ke poli KB, ya! Bapak-bapak pun bisa ber-KB, karena urusan kontrasepsi adalah urusan kita bersama, bukan cuma urusan perempuan saja.

Anda dapat membaca lebih lanjut tentang kompleksitas KB dan edukasinya dalam buku Bebaskan Kami Berkontrasepsi, Seri Gender dari Penerbit EA Books.

Satu tanggapan untuk “Bapak-Bapak Jangan Malu ke Poli KB: Kontrasepsi Bukan Cuma Urusan Perempuan!”

  1. Perempuan Indonesia, Yuk Gunakan Otoritasmu untuk Berkontrasepsi! – Dokter Tanpa Stigma Avatar

    […] Baca Juga: Bapak-Bapak Jangan Malu ke Poli KB: Kontrasepsi Bukan Cuma Urusan Perempuan! […]

    Suka

Tinggalkan komentar