Sebagian besar dari kita pasti sudah pernah menonton adegan pemberian CPR (cardiopulmonary resuscitation) alias RJP (resusitasi jantung-paru) di film atau televisi. Namun, hanya dengan menonton TV saja, ini bukan berarti kita sudah paham dan bisa melakukannya dengan mudah! Resusitasi atau CPR hanyalah salah satu langkah dalam rangkaian proses pemberian bantuan hidup dasar, yang sebaiknya kita ketahui bersama untuk mencegah terjadinya perburukan situasi.

Akhir-akhir ini, semakin sering kita mendengar berita kematian massal di tempat umum seperti tragedi-tragedi di Kanjuruhan, Malang, ataupun di Itaewon, Korea Selatan. Dalam situasi seperti demikian, seringkali yang terjadi adalah kepanikan orang ramai yang diiringi terjadinya crowd crush atau kepadatan luar biasa dalam kondisi berdesak-desakan. Salah satu risiko tinggi yang bisa terjadi dalam crowd crush adalah asfiksia (kekurangan oksigen) yang berujung pada henti jantung. Kondisi yang amat fatal ini bisa cepat berujung pada kematian.

Dalam diskusi online Dokter Tanpa Stigma bersama dr. Dimas R. Balti, Sp.JP dalam rangka memperingati World Heart Day, telah dibahas pentingnya pengetahuan masyarakat tentang pertolongan pertama gawat darurat (PPGD) serta basic life support (BLS)/ bantuan hidup dasar (BHD). Sebaiknya, tidak hanya tenaga medis yang paham mengenai basic life support, tetapi juga semua orang di garda terdepan seperti petugas security, petugas damkar, dan lain-lain. Lebih baik lagi, seluruh masyarakat juga harus memiliki pengetahuan dalam memberikan pertolongan pertama.

Instagram Live Dokter Tanpa Stigma bersama dr. Dimas R. Balti, Sp.JP mengenai pentingnya awam berlatih penanganan gawat darurat.

Jangan Termakan Hoax dan Mitos

Masyarakat awam sering menganggap pemberian bantuan hidup dasar adalah kewajiban tenaga kesehatan belaka, sehingga pengetahuan penting ini sering disepelekan. Padahal, seharusnya kita semua memiliki kesiapan mandiri, sebab kita tidak pernah tahu kapan akan terjadi peristiwa gawat darurat yang mengancam nyawa, seperti henti jantung atau tersedak.

Terkadang, ada orang awam yang sudah memiliki niat untuk memberi pertolongan, tetapi tidak memiliki pengetahuan yang mumpuni dan masih memercayai berbagai misinformasi. Contoh yang masih sering ditemukan adalah mitos bahwa penanganan pertama yang harus dilakukan adalah menekuk-nekuk tangan, memijat-mijat korban, atau memberikan air minum ketika pasien sudah tidak sadar. Tentu saja hal ini keliru, bahkan bisa berakibat fatal!

Ada juga yang beranggapan bahwa pemberian basic life support adalah sesuatu yang mudah, karena sudah sering ditonton di tayangan televisi atau film. Padahal, seringkali teknik CPR yang kita lihat di TV tidak akurat, dan banyak melewati tahap-tahap penting. Lagi pula, pembelajaran BLS sebaiknya dilakukan dengan instruktur yang tersertifikasi agar semua poin edukasi bisa tersampaikan dengan maksimal.

Time-Saving = Life-Saving!

Ketika memberikan bantuan hidup dasar, waktu adalah aspek penting. Saat jantung berhenti memompa, artinya aliran oksigen menuju otak terhenti. Kemampuan jaringan otak manusia untuk bertahan hidup dalam kondisi tanpa oksigen hanya kurang-lebih empat menit. Jadi, semakin cepat kita memberikan penanganan kepada pasien henti jantung, maka angka keberhasilan semakin tinggi. Terlambat satu menit saja memberikan penanganan, kemungkinan keberhasilan pun menurun jauh.

Oleh karena itu, orang yang paling cepat memberikan bantuan bukanlah tenaga medis, melainkan orang-orang yang berada di dekat korban saat peristiwa terjadi, seperti keluarga atau kolega. Itulah sebabnya sangat penting untuk kita semua memiliki kesiapan untuk menghadapi kegawatan medis.

Pengumuman "No Lifeguard On Duty"
Foto: Jill Rose, Pexels

Ketika terjadi henti jantung, idealnya semua orang di sekitar korban bisa langsung merespons dan memulai langkah-langkah awal bantuan hidup dasar. Namun, karena kurangnya pengetahuan, yang sering terjadi adalah waktu menjadi terbuang karena dihabiskan untuk panik. Dengan mempelajari BLS/BHD, kita akan lebih paham tahap-tahap sederhana yang bisa kita realisasikan ketika terjadi peristiwa darurat.

Kunjungi Palang Merah Indonesia yang Ada di Sekitar Lokasimu

Di masa sekarang, sebetulnya ketertarikan masyarakat untuk belajar tentang pertolongan pertama gawat darurat (PPGD) sudah semakin meningkat. Namun, masih banyak yang belum mengetahui ke mana harus mencari pelatihan, atau sulit menunggu jadwal pelatihan karena masih terhitung jarang diadakan. Salah satu yang bisa kita lakukan adalah menghubungi PMI cabang setempat untuk meminta kelas pelatihan. Kalau bisa, kumpulkan juga rekan-rekan kita untuk mendapatkan kelas bersama.

Menurut dr. Dimas, Sp.JP, diharapkan masyarakat juga proaktif untuk mencari dan menghubungi lembaga-lembaga terkait, seperti PERKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia) yang memang sering membuka acara-acara pelatihan gratis di tempat umum untuk menjemput audiens yang lebih ramai. Saat ini, sudah banyak juga tenaga medis yang membuka pelatihan di platform daring kekinian seperti media sosial yang lebih banyak pesertanya.

Idealnya, masyarakat mengikuti pelatihan bersertifikat yang telah mendapat proses standardisasi dari PERKI. Pelatihan terstandar ini sudah disusun secara lengkap dengan bahasa sesederhana mungkin agar bisa dilakukan oleh semua orang awam, disertai sedikit teori landasan ilmiah yang dijabarkan dengan sederhana dan tetap bisa diterima masyarakat. Langkah-langkah diajarkan mulai dari awal sampai akhir, lengkap dengan praktik ke manekin (boneka).

Namun, apabila kamu belum bisa mengikuti pelatihan langsung dengan instruktur tersertifikasi, kamu boleh mengikuti dahulu sumber-sumber lain seperti video edukasi online atau pengajaran teknik BLS dari mahasiswa kedokteran. Pastikan kamu benar-benar mempraktikkan latihannya ya, agar benar-benar bisa menghayati gerakannya, bukan sekadar tahu secara teori. Sebab, kita harapkan semua orang memiliki pengetahuan dasar untuk memberikan pertolongan.

Ingat, kondisi pasien tidak sadar adalah kondisi genting yang tidak jarang membuat panik. Jadi kamu harus benar-benar terbiasa dengan langkah-langkah BLS dan gerakan CPR. Kamu bisa coba cara berikut agar bisa merasa lebih berdaya menghadapi situasi tersebut:

  • Sering-seringlah mensimulasikan dalam pikiran bagaimana bila terjadi kondisi gawat darurat dari orang tersayangmu.
  • Buat daftar langkah-langkah apa saja yang harus kamu lakukan.
  • Catat nomor-nomor telepon penting, lalu tempel di tempat yang mudah terlihat di rumah.

Silakan simak video workshop Dokter Tanpa Stigma tentang pertolongan pertama gawat darurat di bawah ini:

Workshop bantuan hidup dasar (BHD) untuk awam dari Dokter Tanpa Stigma

Bantuan hidup dasar (BHD) penting dilakukan oleh semua orang, karena kita tidak pernah tahu kapan kegawatdaruratan terjadi pada orang-orang yang kita cintai. Penting bagi kita untuk mengetahui bantuan hidup dasar yang baik dan benar demi keselamatan orang-orang terdekat kita, dengan pembelajaran yang adekuat dari sumber-sumber yang akurat. Dengan adanya pemberian pertolongan awal, diharapkan angka keberhasilan penyelamatan semakin baik, serta yang terburuk pun bisa kita cegah.

Tinggalkan komentar