Dunia kesehatan seksual dan transisi hormonal untuk transgender memang masih sering dikuasai tabu. Namun, masih ada dokter Indonesia yang bersikap terbuka dan menghargai perbedaan. Kali ini kita akan berkenalan dengan dr. I Made Oka Negara, S.Ked, M.Biomed, FIAS yang berkecimpung di bidang seksologi dan sexual health serta merupakan salah satu dokter yang direkomendasikan sebagai tenaga medis yang bebas stigma.
Dokter kelahiran Maret 1975 ini memiliki segudang prestasi dan berkecimpung di berbagai kegiatan komunitas, lho! Beliau adalah penerima Pfizer Award for Sexology (2008), Aspire Pfizer Award (2010), PKBI Award (2008), dan Emvee Award (2013). Saat ini beliau juga berkegiatan sebagai host acara talk show bertema kesehatan seksual OK-Doc di MAGTV. Bagaimana kisah hidup beliau dan perjalanan beliau hingga menjadi seperti sekarang? Yuk, simak profil berikut ini!
Lahir dan Tumbuh Dewasa dalam Pluralisme
Meskipun beretnis asli Bali, dr. Oka lahir dan melewatkan masa kecilnya di Bogor karena ayah beliau merupakan anggota aparatur negara. Tumbuh besar di asrama polisi yang terbesar di Indonesia di mana solidaritas adalah keutamaan telah mengajarkan dr. Oka makna kebersamaan dalam keberagaman. Meskipun selama tinggal di wilayah Ibukota, beliau dikenal dengan sebutan “anak kolong” karena sangat nakal tapi kenakalan tersebut selalu berlandaskan solidaritas dalam pertemanan. Dr. Oka sejak kecil terbiasa mengingatkan teman-teman Muslim untuk sholat dan berpuasa, begitu juga dengan teman-teman Kristen. Dr. Oka bahkan cukup mahir berbahasa Arab dan hafal Al-Fatihah.
“I am lucky I was born in pluralism,” terang beliau saat diwawancara oleh tim Dokter Tanpa Stigma. Berbagai pengalaman keberagaman semasa kecil ini mengajarkan dr. Oka bahwa semua orang, meskipun agamanya berbeda-beda, tetap bisa saling bersahabat dan saling mendukung. Tetapi semakin bertambahnya usia, dr. Oka semakin menyadari, bahwa kondisi di asrama berbeda dengan lingkungan luar.
Saat bergaul dengan teman-teman dari luar asrama, dr. Oka mulai memperhatikan ada perbedaan-perbedaan yang ditonjolkan, yang dijadikan sekat untuk memperlakukan orang secara berbeda. Beliau memberi contoh, ketika ada temannya dari Ambon berjualan ke luar asrama, dia diolok-olok karena memiliki penampilan fisik yang berbeda. Dalam situasi seperti itu, dr. Oka kecil sudah terdorong untuk membela dan menolongnya.
Kehidupan berjalan dan dr. Oka remaja harus pindah ke Bali. Di Bali inilah, dr. Oka kembali mendapat banyak pelajaran yang membentuk karakternya. Anak-anak Bali sangat ramah, santun dan terbiasa dengan perbedaan. Dr. Oka yang terbiasa nakal di Ibukota, belajar budi pekerti dan kehalusan tata krama di Bali. Meskipun ada sistem kasta yang terasa tidak adil, tetapi semua saling menghargai, semua orang tahu menempatkan diri. Lewat suasana kehidupan di Bali inilah, dr. Oka melihat sisi lain kehidupan. Perilaku nakal tidak bisa diterima di sini, maka ia harus menonjol secara prestasi agar tidak merepotkan dan mencemarkan nama baik orang tuanya.
Ketertarikan pada Seksologi dan Kehidupan Remaja
Ketertarikan beliau dengan jurusan kedokteran muncul di masa SMA setelah membaca buku-buku ayahnya yang sempat bertugas sebagai aparat di bidang pemberantasan narkoba remaja. Ditambah dengan pergaulan semasa remaja, di mana beliau sering menyaksikan kenakalan remaja yang tidak jarang menghasilkan penularan infeksi menular seksual (IMS). Gabungan dari kedua situasi inilah yang memunculkan ketertarikan beliau pada sisi ilmiah terkait seksologi.
Saat beliau SMA kelas 2 pada tahun 1991, sebagai ketua kelompok ilmiah sekolah, beliau mengadakan seminar seksologi remaja, sesuatu yang belum pernah dilakukan siapa pun sebelumnya. Ternyata, seminar yang diampu oleh Prof. Dr. dr. Wimpie Ishak Pangkahila, Sp.And (K) dan Prof. Dr. dr. I Nyoman Mangku Karmaya, M.Repro, PA (K) tersebut sangat banyak peminatnya dan sponsornya pun banyak sekali. Seminar tersebut sempat hendak dibatalkan oleh dinas kesehatan setempat, akan tetapi karena peminatnya yang demikian banyak, the show must go on.
Itulah kondisi yang disadari dr. Oka sejak lama, betapa sulitnya menjadi edukator kesehatan seksual dan reproduksi, yang masih sering diberikan stigma dan pandangan negatif. Kesulitan ini pun masih terus terjadi hingga hari ini. Akan tetapi dr. Oka mengaku bahwa inspirasi dan semangat dari Prof. Wimpie dan Prof. Mangku telah membuatnya semakin menyadari passion-nya di bidang ini, dan beliau terus bertekad untuk menekuni bidang seksologi dan sexual health.
Pandangan negatif masyarakat tidak membuat dr. Oka berhenti berjuang. Ia terus melanjutkan pendidikan profesi dokter, menjalani pendidikan intensif seksologi (level basic dan advanced) hingga mendapatkan gelar master bidang reproductive medicine (kesemuanya di Universitas Udayana), dan juga Fellow Indonesia Association of Sexology. Selain itu beliau juga menjalani pendidikan Men’s Health Certified Education di Hang Tuah University, Andrology Short Certified Education di Academy of Men’s Health, Singapore, serta Diploma Preceptorship on Hormone in ART, Medical Education Academy.
Hobi Traveling dan Berkecimpung dalam Berbagai Komunitas serta NGO
Sejak masih menjalani perkuliahan S1, dr. Oka sudah aktif berkecimpung dalam kegiatan-kegiatan terkait sexual health dan bekerja sama dengan PKBI. Bahkan, saat masih berstatus sebagai mahasiswa, beliau ikut mendirikan youth center Kita Sayang Remaja (Kisara), yang sampai hari ini masih eksis dan aktif mengampanyekan dan mengadvokasi penyediaan pendidikan dan layanan kesehatan reproduksi dan seksual bagi remaja di Bali.
Beliau menyatakan bahwa memang tidak berminat untuk menjadi spesialis karena lebih menyukai traveling dan berkegiatan di berbagai NGO yang bekerja sama dengan berbagai relawan serta organisasi. Pekerjaan di NGO dirasa lebih menyenangkan karena cenderung tidak banyak berhierarki dan tidak membudayakan senioritas. Selain itu, beliau juga bekerja sebagai tenaga pengajar di FK Udayana di samping berbagai NGO lainnya, terutama PKBI Bali.
Selain menjadi staf Departemen Andrologi dan Seksologi FK Udayana, beliau juga berkecimpung di organisasi-organisasi sebagai berikut:
- Sekretaris II Dewan Pengurus Nasional Asosiasi Seksologi Indonesia
- Ketua Asosiasi Seksologi Indonesia cabang Denpasar
- Ketua Forum Peduli AIDS Bali
- Koordinator Monitoring dan Evaluasi Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Bali
- Vice Secretary of Indonesian Center for Anti-Aging Medicine (INCAAM)
- Senior Team of Youth Sexual and Health Reproductive Information and Counseling Center PKBI Bali
- Ketua Bidang Humas dan Kemitraan IDI cabang Denpasar
- Wakil Ketua Yayasan Kanker Indonesia cabang Bali
- Dewan Pengawas Utama Sloka Institute
Meskipun beliau amat sibuk dengan berbagai kegiatan di berbagai tempat berbeda, dr. Oka mengaku justru merasa sangat senang dan menikmati pekerjaannya, karena semuanya didasarkan dari passion dan keinginannya untuk memberikan edukasi serta layanan terbaik untuk pasien.
Selalu Berusaha Berada di Sisi Orang-Orang yang Termarjinalkan
Sebuah testimoni anonim di peta Dokter Tanpa Stigma menjelaskan bahwa dr. Oka adalah dokter yang sangat menghormati rekan-rekan transgender dan bersedia memberikan hormone replacement therapy (HRT). Bahkan, banyak rekan-rekan transgender yang rela jauh-jauh datang ke Bali untuk bertemu beliau, termasuk kalangan artis dan selebritas. Ini merupakan hal yang masih jarang kita temukan, mengingat masih banyak dokter yang keberatan menangani pasien transgender, atau bahkan menolak pasien tersebut.
Beliau menjabarkan bahwa dirinya selalu ingin berada di sisi orang-orang yang termarjinalkan. Ia merasa bahwa masih banyak kelompok individu yang dipandang sebelah mata di masyarakat, misalnya ODHIV. Kelompok marjinal ini masih berada dalam posisi rentan di tengah masyarakat yang diskriminatif, sehingga beliau merasa bahwa mereka sangat membutuhkan perlindungan dan juga keberpihakan kita untuk membela hak asasi mereka.
Dr. Oka menyatakan bahwa tidak ada masalah memberikan HRT kepada rekan-rekan transgender, dengan satu syarat yaitu harus lulus screening dari psikiater, yang menunjukkan bahwa kondisi mental dan emosional mereka sudah layak diberikan HRT atau melanjutkan proses transisi lainnya. Namun, dr. Oka mengakui bahwa ia lebih menyarankan jenis terapi yang reversible, agar jika suatu saat ingin menjalani re-transisi masih dimungkinkan.
Beliau juga mengutarakan bahwa memang di Indonesia masih belum ada kejelasan tentang kompetensi dokter yang memberikan HRT, dan belum ada SOP yang jelas mengenai hal tersebut. Akan tetapi, beliau merasa wajib untuk tetap melayani rekan-rekan trans, sebab jika tidak, siapa lagi yang bisa menolong mereka? Tugas sebagai dokter ketika menghadapi pasien trans ialah memberikan konseling terlebih dahulu dan memberikan panduan yang akurat agar mereka bisa menjalani proses terapi dengan baik, juga memberikan pendampingan psikososial.
Menghargai Perbedaan, Tugas Kita Sebagai Tenaga Kesehatan
Di masa sekarang ini, beliau menyayangkan bahwa masih ada beberapa dokter atau tenaga ahli lainnya yang justru setelah mencapai gelar expert, maka kemudian menutup diri dari perubahan, informasi, dan kebenaran lain di luar sana. Menurut beliau, jika ada orang yang sudah menjalani pendidikan tinggi, tetapi masih terbiasa merendahkan orang lain, maka bisa dibilang pendidikannya tersebut gagal. Orang yang telah mencapai tingkat-tingkat seperti guru besar atau doktor justru harus lebih banyak memberi, lebih bijak, dan lebih menghargai sesama.
Pesan dr. Oka untuk rekan-rekan sejawat dokter ialah, ingatlah bahwa kita semua memang terlahir berbeda sebagai ciptaan Tuhan. Kita tidak boleh berfokus kepada stigma yang menyertai kelompok marjinal, yang biasanya hanya berdasarkan mitos, misalnya mitos bahwa homoseksualitas bisa menular, dan lain sebagainya. Jika ada orang dari kelompok marjinal yang melakukan tindak kriminal, maka kita harus menyelesaikan masalah tersebut secara hukum, tetapi bukan menyerang identitas individunya.
Sebagai penutup, berikut adalah kata-kata mutiara dari dr. Oka untuk kita semua:
“Seseorang baru berarti sebagai manusia, bukan dari apa yang dia dapat, bukan dari apa yang dia miliki (jabatan, gelar, harta). Seseorang baru berarti sebagai manusia, dilihat dari apa yang sanggup dia berikan buat orang banyak, termasuk menghargai perbedaan.”
Yuk, baca buku-buku karya dr. Oka yang lainnya:
- Sexual Health
- 5 Hal Yang Harus Diketahui Tentang AIDS
- Menguak Kesehatan Reproduksi
- Aku Tahu! Tentang AIDS
- Buku Pedoman Siswa dan Guru tentang Kelompok Siswa Peduli AIDS
- Seni dan Strategi Merancang Media Promosi Kesehatan Online
- Bunga Rampai Sehat dan Bahagia Selama Menjalani Isolasi Mandiri COVID-19
Tinggalkan komentar