Aspek kesehatan merupakan salah satu yang paling terancam oleh krisis iklim. Selain munculnya dampak langsung climate change seperti gelombang panas, ada banyak sekali dampak tidak langsung perubahan iklim terhadap kesehatan, misalnya penyakit infeksi dan kualitas fasilitas kesehatan. Tapi di sisi lain, fasilitas kesehatan juga menjadi salah satu penyumbang emisi karbon yang cukup besar. Sayangnya, belum ada tindakan nyata untuk mempersiapkan fasilitas kesehatan, terutama faskes primer, untuk berkontribusi nyata dalam permasalahan iklim ini.

Pada tanggal 13-14 November lalu, Dokter Tanpa Stigma menghadiri PHC (Primary Health Care) Forum 2023 yang diselenggarakan oleh CISDI bekerja sama dengan Chatham House di Shangri-La Hotel, Jakarta dengan judul Towards Health Equity and Resilient Communities. Kami mengikuti diskusi panel bertema Preparing the Global South/LMICs for the Fight Against Climate Change sebagai salah satu rangkaian kegiatan. Dalam sesi diskusi ini, Nadya Daulay, peneliti dari CSIS Indonesia, menyampaikan hasil penelitiannya terkait perubahan iklim dan korelasinya dengan layanan kesehatan primer.
Berdasarkan penelitian, ditemukan beberapa masalah sistem kesehatan berikut:
Masalah #1: Informasi kesehatan di Indonesia masih belum sepenuhnya terdigitalisasi dan terintegrasi
Saat ini, memetakan kondisi kesehatan Indonesia masih merupakan tugas yang sulit. Kondisi persebaran data yang tidak terkumpul dalam satu platform menyulitkan pembuatan kebijakan untuk melihat big data permasalahan kesehatan bangsa. Ini akan memperlambat pengambilan keputusan karena prosedur pengumpulan data yang masih panjang dan berbelit-belit. Kondisi ini pun berisiko menyebabkan banyaknya ketidakakuratan data akibat perpindahan data dari satu media ke media lainnya, juga dari satu personel ke personel lainnya.
Padahal, digitalisasi sangatlah penting tidak hanya untuk membuat rekam medis, untuk pasien yang membutuhkan bantuan medis, dan untuk tenaga kesehatan sendiri, tetapi juga penting untuk meningkatkan literasi kesehatan semua orang. Meskipun literasi medis masyarakat Indonesia saat ini masih tergolong rendah, tetapi adanya sumber-sumber informatif yang tersedia secara online bisa sangat membantu meningkatkan pengetahuan bersama. Ini semua sangat bisa ditingkatkan lewat perbaikan teknologi dan literasi digital.
Masalah #2: Belum terintegrasinya faskes primer dengan lembaga-lembaga bencana seperti BMKG dan BNPB
Indonesia merupakan negara rentan bencana alam, mulai dari banjir hingga gempa bumi. Akan tetapi, sektor kesehatan seharusnya bisa lebih ikut berperan untuk mengurangi jumlah korban. Nadia menemukan bahwa peran puskesmas sebagai fasilitas kesehatan primer sebetulnya masih sangat bisa ditingkatkan dalam situasi kedaruratan bencana.

Puskesmas perlu menjadi salah satu kolaborator utama dalam penanganan bencana di negara kita, yang cukup akrab dengan bencana setiap tahunnya. Setiap puskesmas di setiap daerah harus dimampukan untuk menjadi garda perlindungan pertama bagi masyarakat bila terjadi bencana.
Sayangnya, saat ini belum ada sistem koordinasi yang mengintegrasikan puskesmas dengan BMKG dan BNPB sehingga penanggulangan bencana masih banyak mengandalkan kedua lembaga ini saja. Padahal, demi keselamatan masyarakat, kita butuh sebanyak-banyaknya pihak setempat yang mampu membantu dalam masa-masa krisis alih-alih menunggu bantuan dari luar daerah yang seringkali terhambat karena akses yang terputus.
Masalah #3: Fasilitas kesehatan masih menjadi salah satu entitas yang menyumbang emisi karbon cukup besar
Jika dilihat secara big picture, industri kesehatan merupakan industri berskala masif yang melibatkan banyak sekali pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dunia healthcare masih secara mayoritas menggunakan bahan bakar fosil untuk menunjang keberlangsungannya sehari-hari, mulai dari listrik, pemasokan barang, hingga transportasi. Selain itu, penanganan pembuangan limbah medis serta limbah farmasi yang belum baik juga akan berakibat fatal terhadap lingkungan.
Kita membutuhkan revolusi sustainability di dunia kesehatan, mulai dari bangunan fisik yang lebih ramah lingkungan, sistem digitalisasi untuk memperkecil emisi karbon akibat traveling, produksi obat dan peralatan medis yang lebih bertanggung jawab terhadap iklim, hingga pemantauan aktivitas manusia yang terlibat di dalamnya, yang turut andil terhadap perubahan iklim.
Masalah #4: Banyaknya penyakit infeksi baru atau terjadinya perubahan karakter penyakit infeksi lama sebagai akibat dari perubahan iklim
Krisis iklim memiliki andil besar memperparah penyakit infeksi, karena mengakibatkan perubahan habitat spesies-spesies pembawa penyakit. Kondisi ini menjadi momok baru bagi tenaga kesehatan, yang berpotensi membuat tenaga kesehatan kewalahan bila tidak segera dimitigasi.
Berkaca dari kondisi pandemi COVID-19 yang lalu, karena jumlah nakes yang terbatas serta kesiapan yang minim, kita banyak kehilangan tenaga kesehatan akibat sistem yang tidak siap menghadapi situasi krisis. Kondisi ini semakin memperburuk layanan kesehatan ke masyarakat. Kita tidak boleh membiarkan kondisi tersebut terulang lagi dan kehilangan lebih banyak lagi tenaga medis akibat penyakit-penyakit baru yang akan muncul seiring meningkatnya dampak perubahan iklim.
Masalah #5: Belum kuatnya kesadaran akan perubahan iklim yang tercermin dari sedikitnya kebijakan kesehatan yang menyentuh isu iklim
Pembangunan berketahanan iklim memang telah menjadi salah satu prioritas nasional keenam dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024 di Indonesia. Akan tetapi, isu iklim belum ikut menyentuh sektor kesehatan. Sebagai contoh, di antara enam pilar tranformasi kesehatan yang digaungkan oleh Kementerian Kesehatan, belum tercantum concern tentang isu perubahan iklim. Kebijakan-kebijakan yang tidak menyentuh isu iklim ini akan mengalihkan fokus pelaksana kebijakan di lapangan yaitu tim tenaga medis di faskes primer, membuat mereka juga berpikiran bahwa isu iklim tidak cukup penting untuk di-address.

Sudah saatnya kita sebagai tenaga medis semakin peduli kepada isu-isu iklim, karena isu iklim sebetulnya sangat berkaitan erat dengan sektor kesehatan. Ada demikian banyak masalah kesehatan yang timbul akibat krisis iklim, mulai dari krisis air, kualitas udara, hingga berbagai environmental hazard yang bisa mengancam nyawa. Dampaknya bukan hanya akan terjadi di skala nasional, tetapi juga global.
Berdasarkan masalah-masalah di atas, berikut adalah beberapa rekomendasi kebijakan yang dapat diupayakan:
Rekomendasi #1: Digitalisasi dan Integrasi Data Kesehatan
Polemik kesehatan digital terus memanas akhir-akhir ini. Digitalisasi sering dituding sebagai momok menakutkan karena dikabarkan akan mengambil alih profesi tenaga kesehatan dengan artificial intelligence. Padahal, optimalisasi teknologi di sini bertujuan untuk mendukung kinerja dan efisiensi tenaga kesehatan, bukannya menggantikan kerja mereka. Jadi, diharapkan, kontribusi digitalisasi sistem kesehatan ini bisa semakin memberdayakan semua orang yang terlibat di dalamnya, bukannya mengalienasi mereka. Digitalisasi dan integrasi data kesehatan penting untuk pengumpulan data skala besar agar dapat melihat konteks masalah secara komprehensif, dalam hal ini keterkaitan krisis iklim dengan tren kesehatan nasional.
Saat ini, pemerintah Indonesia sudah menyediakan program SATU SEHAT, sebuah platform pertukaran data yang sifatnya near real-time. Platform ini penting untuk semua sumber daya kesehatan untuk memiliki visibility akan setiap pergerakan program kesehatan dan bergotong royong menjalankan program-program secara berkesinambungan. Masalah lain yang juga harus kita pantau ialah data security atau keamanan data, yang masih sering menjadi masalah di Indonesia. Adanya sebuah platform besar yang menaungi gabungan data medis ratusan juta rakyat secara keseluruhan merupakan tantangan tersendiri dan bisa disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Seiring dengan semakin meningkatnya digitalisasi sistem kesehatan, keamanan data dan privasi juga harus semakin ditingkatkan.
Digitalisasi juga akan berdampak pada meningkatnya penggunaan gadget teknologi secara umum serta kebutuhan akses Internet yang meningkat. Jadi, perbaikan teknologi kesehatan harus diimbangi dengan perbaikan akses informasi. Selain itu, literasi digital yang baik juga dibutuhkan oleh semua orang yang bisa mengakses jutaan informasi di dunia maya agar tidak mudah termakan hoaks.

Rekomendasi #2: Peningkatan Pemanfaatan Data Terkait Penyakit Infeksi yang Climate Change-Induced
Integrasi data tanpa pemanfaatan data seperti membiarkan emas berserakan di jalanan. Sungguh sia-sia. Maka data yang dikumpulkan di platform SATU SEHAT atau dengan cara lainnya harus mampu diolah dan dianalisa untuk menjadi informasi yang bermanfaat sampai pada akhirnya bisa memberi insight untuk kebijakan yang tepat sasaran.

Di Indonesia, masalah lemahnya surveillance system terhadap penyakit infeksi masih menyebabkan sulitnya deteksi dini dan penatalaksanaan awal penyakit. Hal ini masih diiringi terhambatnya proses reporting, sehingga terjadi underreporting yang menyebabkan rendahnya kualitas data yang ada.
Perbaikan efisiensi data ini membutuhkan tanggung jawab dan koordinasi penuh dari instansi pemerintahan terkait, yang seharusnya bisa membuat regulatory framework yang adekuat untuk menanggulangi masalah ini. Tentunya, perbaikan sistem data ini haruslah mencapai semua sektor dan semua isu kesehatan masyarakat, tak hanya penyakit infeksi saja.
Rekomendasi #3: Peningkatan Kapasitas Puskesmas dalam Disaster Management
Sebagai ujung tombak kesehatan bangsa, puskesmas memegang peranan yang amat penting dan harus menjadi yang paling cepat tanggap ketika diharuskan, misalnya ketika terjadi wabah ataupun bencana alam. Salah satu yang bisa dilakukan adalah mengintegrasikan dunia kesehatan dengan lembaga-lembaga tanggap bencana lainnya agar bisa saling membantu mencegah kerusakan lebih lanjut.
Contohnya, kerja sama bisa dikembangkan lewat kolaborasi antara puskesmas dengan BNPB dan BMKG. Caranya adalah lewat komunikasi intensif, pembagian data, dan sistem alert yang memampukan puskesmas untuk bisa siap siaga menghadapi krisis bencana setelah mendapat data prediksi serta peringatan dari BMKG. Selain itu, bisa juga dilakukan disaster management training secara rutin untuk tim nakes puskesmas.
Rekomendasi #4: Perbaikan atau Adaptasi Infrastruktur Puskesmas
Sektor kesehatan memang ironisnya masih merupakan salah satu penyumbang emisi karbon terbesar. Jadi, salah satu solusi yang bisa kita terapkan adalah membangun infrastruktur kesehatan yang bersifat low carbon emission agar kita tidak lagi terus-menerus berkontribusi dalam krisis iklim. Selain itu, bangunan-bangunan faskes haruslah menjadi tahan bencana, mengikuti keadaan di Indonesia yang rentan bencana alam. Penting untuk faskes primer menjadi bangunan yang bisa bertahan pasca bencana di saat bangunan-bangunan lain rusak, bukan malah ikut ambruk bersama sekian banyak sumber daya yang seharusnya dapat digunakan untuk menolong warga.
Peningkatan kualitas infrastruktur ini tentunya harus berjalan beriringan dengan perbaikan sumber daya manusia dan pembaruan sistem kesehatan yang sustainable dan inklusif.
Rekomendasi #5: Peningkatan Kebijakan yang Peduli Climate Change
Saat ini, baru 50% negara di dunia ini yang memiliki kebijakan kesehatan terkait strategi penanggulangan perubahan iklim, dan dari semua negara tersebut, implementasinya pun belum terlalu baik secara merata. Menurut program COP26 Adaptation and Resilience dari WHO, pemerintah bisa memulai dengan cara membuat assessment atas faktor-faktor kerentanan yang ada terkait krisis iklim di negara masing-masing, kemudian menentukan strategi adaptasi selanjutnya.
Peran faskes pertama juga tentunya amat penting terkait masalah perubahan iklim. Saat ini, puskesmas masih berfokus pada aspek kuratif dan belum memaksimalkan aspek promotif serta preventif. Dalam hal ini, kita bisa memulai perubahan dengan menambah porsi dan peran serta puskesmas di bidang preventif dan edukasi terkait dampak perubahan iklim.
Rekomendasi #6: Penguatan Kolaborasi dengan Masyarakat Adat untuk People-Oriented Solution
Eksistensi masyarakat adat di dunia modern kini semakin tergerus dan terus terpinggirkan. Padahal, kita seharusnya bisa merangkul mereka dan melepaskan stigma bahwa masyarakat adat merupakan kelompok masyarakat ‘tertinggal’. Alih-alih melupakan mereka, kita bisa bekerja sama dengan masyarakat adat dalam memanfaatkan alam dengan cara yang sustainable serta belajar dari kearifan lokal mereka.
Dalam hal ini, digitalisasi dan teknologi juga bisa membantu meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat adat yang hidup di daerah terpencil, agar edukasi dan informasi bisa disebarkan di area yang sulit dijangkau, atau juga dengan cara menyediakan layanan telemedicine untuk mereka.
Baca Juga: Kolaborasi Nakes dan Masyarakat Adat untuk Resiliensi Kesehatan Komunitas

Krisis akibat perubahan iklim sudah di depan mata, dan dampak buruknya sudah mulai kita rasakan. Tanpa adanya perubahan serius yang diupayakan para penentu kebijakan, bahaya krisis iklim akan semakin pelik dan memakan lebih banyak lagi korban jiwa. Sudah saatnya kita sama-sama berjuang untuk mempersiapkan diri menghadapi bencana global ini.
Usaha mitigasi bencana tidak akan maksimal tanpa kerja sama lintas sektoral, dan utamanya harus melibatkan sektor kesehatan. Sebab, sektor kesehatan juga menjadi titik penyokong keselamatan kita semua ketika terjadi bencana, mulai dari bencana alam, keresahan sosial, wabah, dan berbagai ancaman lainnya. Untuk para pemangku kebijakan di dunia kesehatan, ayo berfokus di isu iklim sebelum terlambat!
Referensi:
- Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI). White Paper: Indonesia’s Health Sector Development (2024-2034). Jakarta: CISDI; 2023. https://cisdi.org/en/white-paper
- Litbang Kompas. Kebijakan Indonesia Terkait Perubahan Iklim dan Lingkungan. Kompas; 2023. https://www.kompas.id/baca/humaniora/2023/06/05/kebijakan-indonesia-terkait-perubahan-iklim-dan-lingkungan
- Rodriguez-Jimenez L, Romero-Martin M, Spruell T, Steley Z, Gomez-Salgado J. The carbon footprint of healthcare settings: A systematic review. Journal of Advanced Nursing 2023 May 17; 79 (8): 2830-44. https://doi.org/10.1111/jan.15671
- Romanello M, di Napoli C, Green C, Kennard H, Lampard P, Scamman D, et al. The 2023 report of the Lancet Countdown on health and climate change: the imperative for a health-centred response in a world facing irreversible harms. The Lancet; 2023. DOI: https://doi.org/10.1016/S0140-6736(23)01859-7
- World Health Organization. COP26 Health Programme: Country Commitments to Build Climate Resilient and Sustainable Health Systems. WHO; 2022. https://www.who.int/initiatives/alliance-for-transformative-action-on-climate-and-health/cop26-health-programme
Tinggalkan komentar