Dewasa ini, kita sudah mulai paham bahwa kesehatan mental merupakan bagian dari aspek holistik kesehatan manusia, yang terdiri dari aspek fisik, kejiwaan, dan kehidupan sosial. Akan tetapi, kita masih sering mengabaikan masalah-masalah yang secara spesifik dialami oleh perempuan saja yang menyebabkan perempuan memiliki kompleksitas dan dimensi yang berbeda terkait kesehatannya termasuk kesehatan mental.

Pada tanggal 25 November 2023, tim Dokter Tanpa Stigma mengikuti Persidangan Perempuan yang digagas oleh Perkumpulan Lintas Feminis Jakarta. Persidangan ini adalah pre-event menuju Panggung Perempuan Merdeka yang akan diadakan tanggal 9-10 Desember 2023 di Yogyakarta. Persidangan Perempuan merupakan upaya kolektif dalam memberikan ruang aman bagi setiap korban dan penyintas opresi atau diskriminasi yang perempuan dan kelompok rentan alami. Di sini, di Persidangan Perempuan, kita bersuara dan menyerukan tuntutan kita, perempuan, kepada berbagai pemegang kebijakan di Indonesia. Tim Dokter Tanpa Stigma berpartipasi sebagai penanggap dalam kluster kesehatan mental.
Dari sesi diskusi yang dilaksanakan, kita menyoroti beberapa masalah umum terkait kesehatan mental perempuan yang sangat kompleks dan sering kita abaikan, sehingga mempengaruhi status kesehatan jiwa perempuan secara luas.
Keterkaitan Kesehatan Fisik dan Mental Masih Sering Terlupakan
Sampai saat ini, masih banyak masyarakat yang belum memahami kesatuan antara kesehatan fisik dan kesehatan mental. Padahal, tidak ada kesehatan tanpa kesehatan mental! Seseorang baru bisa dianggap sehat seutuhnya, bukan hanya sehat fisik saja, tetapi juga sehat mental. Ada keterkaitan yang sangat erat dan tidak bisa dipisahkan antara kesehatan fisik dan mental. Masalah kesehatan fisik dapat mempengaruhi kesehatan mental, dan begitu pula sebaliknya.
Kompleksitas isu ini harus dipikirkan sebagai satu kesatuan yang kesemuanya saling terkait. Perempuan yang memiliki gangguan fisik sekaligus menghadapi dinamika kehidupan di lingkungan yang patriarkis akan memiliki kerentanan tersendiri terhadap masalah kesehatan mental. Berbagai faktor fisik dan sosial ini bisa secara bersamaan memicu timbulnya masalah-masalah psikologis.
Individu yang memiliki organ reproduksi perempuan juga tentunya berisiko mengalami perubahan mood akibat pengaruh hormonal, misalnya pada saat kehamilan, saat pasca persalinan, saat menjelang menstruasi, atau saat ovulasi. Akan tetapi, hal ini masih sering dianggap remeh oleh masyarakat yang menganggap bahwa ‘perempuan memang emosional’. Padahal, jika keadaan ini berkembang menjadi gangguan mood serius seperti premenstrual dysphoric disorder (PDD) atau post-partum depression, tentunya akan sangat berbahaya.
Baca Juga: Bisakah Mendeteksi Risiko Depresi Post-Partum Sebelum Melahirkan?
Perlu dipahami bersama bahwa permasalahan mental sering muncul tanpa disadari karena kita tidak terbiasa untuk melakukan deteksi dini. Bahkan, sering kali masalah-masalah kejiwaan muncul sejak usia remaja. Sayangnya, hal ini terkadang hanya dianggap sebagai konflik personal remaja saja, bukan sebagai sesuatu yang memiliki urgensi untuk diselesaikan segera, sekaligus untuk membongkar akar masalahnya. Akan tetapi, masalah kejiwaan remaja perempuan memang masih sering terabaikan.
Masalah kesehatan mental perempuan yang tidak di-address dan diatasi secara tepat akan berpengaruh besar pada kesejahteraan perempuan secara keseluruhan, karena akan mempengaruhi kesehatan fisik dan keberfungsiannya dalam hidup sehari-hari. Padahal kedua hal ini adalah hal yang sangat krusial bagi perempuan untuk memenuhi berbagai tuntutan yang harus dihadapinya sehari-hari.
Dekatnya Kesehatan Mental Perempuan dengan Kekerasan
Serupa dengan keterkaitan antara kesehatan fisik dengan kesehatan mental, ada keterkaitan yang sangat erat pula antara kesehatan mental perempuan dengan kekerasan. Kekerasan tentunya dapat berdampak buruk pada kesehatan mental perempuan, tetapi kita juga harus memahami fakta sebaliknya, bahwa masalah kesehatan mental perempuan juga dapat menyebabkan perempuan menerima kekerasan. Contoh: remaja perempuan dengan kecanduan napza dihajar karena dianggap nakal, ibu dengan depresi post partum dimaki-maki karena dianggap tidak sayang anak, tidak becus jadi ibu.

Faktanya ada banyak sekali faktor yang membuat perempuan lebih rentan mengalami gangguan kesehatan mental, antara lain stigma, diskriminasi, beban multipel, ketidakadilan sistemik, dan serta budaya kekerasan yang secara meluas dinormalisasi oleh masyarakat termasuk oleh perempuan sendiri. Tentunya ini akan berdampak langsung kepada kesehatan mental perempuan, karena merasa tidak ada tempat aman yang mampu memberikan perlindungan.
Perempuan dan Beban Ekonomi Sekaligus Rumah-Tangga
Masyarakat masih sering menuntut perempuan untuk ‘bertangan banyak’ alias bertanggung jawab merawat keluarga tetapi juga tidak jarang harus berkontribusi secara ekonomi bahkan menjadi tulang punggung. Beban yang secara proporsional hampir tidak pernah diberikan kepada laki-laki, yang biasanya hanya dituntut bertanggung jawab mencari nafkah saja. Idealnya, karena beban multipel pada perempuan ini, seharusnya perempuan didukung untuk mencapai kesehatan fisik dan mental yang optimal agar dapat menjalani semua tugas tersebut. Sayangnya, perempuan sering kali hanya dianggap sebagai komoditas yang terus-menerus dituntut dan diberi beban tanpa disediakan sarana untuk menjalani semua tuntutan tersebut.
Baca Juga: Mom-Shaming: Fenomena Sosial-Kultural yang Membahayakan Ibu
Perempuan dengan beban kerja yang berlebihan akan kesulitan menjadi sehat secara optimal, sehingga akan berdampak kepada produktivitas dan status finansialnya. Padahal, kurangnya pendapatan dan jam kerja yang memakan waktu dan energi juga dapat mengakibatkan perempuan kesulitan mengakses layanan kesehatan juga. Jadi, siklus ini akan terus-menerus berputar, sehingga perempuan akan terus berada dalam lingkaran setan yang membahayakan dirinya.
Tidak jarang perempuan harus membahayakan kesehatannya sendiri hanya demi mendapatkan uang untuk hidup sehari-hari; tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga anggota keluarga lainnya, terutama anak-anaknya. Selain itu, masih ada tantangan-tantangan yang harus dihadapi oleh perempuan ketika mengakses layanan kesehatan, antara lain: masalah biaya pengobatan, tidak paham prosedur BPJS, jarak ke tempat layanan dan transportnya, ketidaknyamanan untuk datang mengakses layanan sendiri, siapa yang mengurus anak-anak saat dia berobat, dan lain sebagainya.
Kita Menantikan Solusi Kebijakan yang Nyata, Serta Keikutsertaan Bersama
Keseharian perempuan yang sudah diwarnai berbagai tuntutan dan tantangan tentunya berpotensi memicu masalah kesehatan mental. Sayangnya masih marak terjadi kesalahpahaman dan bias di masyarakat (termasuk aparat penegak hukum dan tenaga medis) terhadap perempuan, yang justru cenderung menyalahkan perempuan dengan masalah kesehatan mental alih-alih memberikan bantuan yang adekuat. Situasi ini makin menjauhkan mereka dari akses kesehatan mental yang sebenarnya merupakan hak mereka, dan justru sering kali berujung memperparah kondisi kesejahteraan perempuan secara keseluruhan.
Masalah lain yang juga masih terjadi di negara kita ialah bahwa masyarakat masih sering menganggap bahwa kesehatan mental adalah masalah mistis dan spiritual, bukan masalah kesehatan. Banyak perempuan dengan masalah kesehatan mental dinilai sebagai individu yang tidak berpikir jernih, tidak bersyukur, atau tidak pernah beribadah, sehingga perlu ditangani lewat cara-cara spiritual atau keagamaan.
Yang sangat disayangkan adalah, kesemua salah kaprah ini tidak berhenti sampai di level personal atau keluarga saja, tetapi juga sudah sampai di level komunitas dan negara. Jadi, diskriminasi terhadap perempuan sudah berlangsung secara sistemik dan nasional, bahkan global. Hal ini menyebabkan perempuan dengan masalah kesehatan mental mengalami tekanan yang berlapis-lapis secara struktural.
Padahal berkaitan dengan beban perawatan anak yang sering ditimpakan pada perempuan, tentu kita bisa menarik kesimpulan bahwa kesehatan anak sangat berkaitan dengan kesehatan ibunya. Seorang ibu yang tidak sehat secara fisik dan mental tentu akan mempengaruhi perawatan anaknya, sehingga anaknya akan mendapatkan perawatan yang kurang baik.
Oleh karena itu, kesehatan perempuan sejatinya tidak boleh dipandang sebelah mata, dianggap sebagai hal yang tidak perlu apalagi dianggap sebagai biaya yang berlebihan, karena yang dipertaruhkan adalah kesehatan dan kesejahteraan generasi penerus kita juga. Sudah saatnya kita memasukkan perspektif interseksionalitas perempuan ke dalam tiap-tiap keputusan dan kebijakan yang dibuat, agar lika-liku perempuan bisa didengar, dianalisis, dan dicarikan solusi terbaiknya.
Baca Juga: Pentingnya Pendekatan Intersektionalitas di Dunia Kesehatan
Meskipun saat ini UU Kesehatan Jiwa sudah digabungkan dalam UU Omnibus Kesehatan yang baru, tetapi pemahaman tentang kesehatan secara holistik termasuk kesehatan mental belum benar-benar merasuk menjadi dasar pertimbangan dalam setiap UU yang ada. Oleh karenanya kami berharap di masa depan para pembuat kebijakan dapat memperbarui tiap-tiap detail kebijakan kesehatan dengan perspektif inklusivitas dan non-diskriminasi, sehingga kebutuhan kesehatan perempuan secara holistik dapat terjamin dan semua aspek yang bisa mempengaruhi atau terpengaruh dari kesehatan mental perempuan dapat ter-cover.
Tinggalkan komentar