Kualitas kesehatan individu dengan disabilitas masih buruk, dengan angka harapan hidup yang lebih singkat dan risiko penularan penyakit yang lebih tinggi daripada individu lainnya karena minimnya akses yang inklusif. Mirisnya lagi, sampai hari ini mereka masih sering mengalami diskriminasi, baik di ruang publik maupun di ranah kesehatan. Padahal, sektor kesehatan seharusnya menjadi pionir dalam menciptakan akses dan sistem yang ramah disabilitas.

Pada tanggal 4 Desember 2023, WHO Western Pacific Regional mengadakan webinar perkenalan buku panduan Disability-Inclusive Health Services, yang juga berisikan toolkit serta materi training untuk tenaga kesehatan, komunitas, serta pembuat kebijakan di seluruh negara Asia-Pasifik. Acara ini bertepatan dengan peringatan International Day of Persons with Disabilities 2023.
Isu difabel merupakan isu kompleks yang didasari banyak sekali masalah lainnya, antara lain sistem kesehatan, faktor struktural, serta determinan sosial seperti status ekonomi, pendidikan, dan lain-lain. Jadi, perbaikan dalam masalah ini juga tidak mungkin hanya dilakukan di satu sektor saja, tetapi harus mencakup semuanya.
Isu disabilitas juga bukan hanya soal treatment atau terapi, tetapi juga melingkupi masalah promosi kesehatan, pencegahan penyakit, rehabilitasi, paliatif, dan lain sebagainya.
Hambatan Fisik Hanyalah Puncak Gunung Es yang Tampak
Webinar ini menghadirkan testimoni dari Sainimili Tawake, yang biasa dipanggil Sai, inclusive development advisor di Pacific Disability Forum. Sai merupakan seorang perempuan dengan albinisme dan low vision yang berasal dari Fiji. Menurutnya, masih ada banyak sekali hambatan yang ditemui oleh individu difabel di Fiji, terutama di bidang transportasi. Individu difabel sering kesulitan memanggil taksi, atau kesulitan karena belum semua kendaraan umum ramah difabel.
Dalam kehidupan sehari-hari, hambatan fisik merupakan hambatan yang paling jelas kita temukan, karena kita bisa dengan mudah melihat individu yang membutuhkan mobility aid atau bertempat tinggal jauh dari fasilitas kesehatan. Akan tetapi, hambatan-hambatan fisik ini hanyalah puncak gunung es dari berbagai masalah yang mendasarinya: yaitu kebijakan yang tidak inklusif dan ketidakpedulian pemegang kuasa untuk meningkatkan akses tersebut.
Barrier yang dihadapi di luar kendala fisik tentunya banyak sekali, dan sering kali tidak kita perhatikan. Beberapa individu difabel bahkan membutuhkan pertolongan penuh dari pendamping dalam menjalani kesehariannya mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali, belum lagi berbagai kendala ketika mereka harus keluar rumah, menghadiri urusan publik, dan berobat ke rumah sakit.
Stigma Selalu Lekat Kepada Difabel, Terutama Perempuan
Testimoni kedua diisi oleh Metta Thippawong, program manager di Cooperative Orthotic and Prosthetic Enterprise (COPE). Metta merupakan perempuan yang menggunakan kursi roda dan berasal dari Laos. Menurut cerita Metta, area pedesaan di Laos masih sangat minim edukasi dan minim akses kesehatan preventif, sehingga ia dan penduduk desanya tidak mendapatkan vaksin polio. Oleh karena itu, Metta merupakan salah satu dari sejumlah anak-anak di desanya yang terinfeksi polio.
Menurutnya, banyak anak-anak difabel yang kehilangan akses untuk mendapatkan pendidikan karena hambatan fisik mereka. Hal ini terutama paling sering terjadi di area rural, sementara area urban sudah cukup baik. Selain itu, akses alat bantu seperti kursi roda dan tongkat juga hanya tersedia di kota besar, termasuk akses rehabilitasi medis. Dalam hal ini, organisasi COPE didirikan dengan tujuan memastikan semua pihak yang membutuhkan prostetik dan ortotik mendapatkannya secara layak.

Perempuan difabel jauh lebih rentan dan sering sekali mendapatkan stigma, terutama terkait kemampuan reproduksinya. Metta mengatakan bahwa perempuan difabel sering merasa takut jika nanti memiliki anak, maka anak-anaknya akan bernasib sama sepertinya. Orang lain juga sering mengatakan bahwa perempuan difabel tidak akan mampu mengurus anaknya kelak, sehingga lebih baik tidak usah memiliki anak.
Menurut Metta, hal ini bisa pelan-pelan kita hilangkan dengan cara meningkatkan inklusivitas dan penerimaan masyarakat terhadap perempuan difabel, dengan cara berhenti memandang mereka sebagai beban di masyarakat, tetapi memberikan mereka akses agar bisa menjalani hidup seproduktif mungkin. Dengan demikian, mereka bisa tetap berdaya dan tidak lagi perlu takut untuk memiliki keturunan.
Targeted Education Sangat Diperlukan Agar Terarah
Perempuan difabel juga terhambat dalam memperoleh edukasi, termasuk edukasi tentang kesehatan jiwa serta kesehatan reproduksi. Ini sering disebabkan karena tidak adanya wadah bagi mereka untuk mendapatkan informasi yang sesuai dengan kemampuan mereka, seperti dalam hal membaca atau mendengar.
Baca Juga: Pendidikan Kespro Inklusif untuk Penyandang Disabilitas
Komunikasi yang baik ternyata masih sulit dicapai dalam keseharian individu difabel. Sering kali, ketika mereka berobat ke faskes, bahkan tenaga medis pun tidak mengajak mereka berbicara secara langsung, melainkan hanya menanyai pengantar atau pendamping pasien. Menurut Sai, ini sungguh membuat individu difabel merasa ‘tidak dianggap’, sehingga mereka bisa kehilangan kepercayaan terhadap tenaga kesehatan.
Kita membutuhkan informasi yang diolah sedemikian rupa agar bisa diterima dan dicerna oleh para individu difabel, dengan menggunakan konten dan cara penyampaian yang secara khusus disusun untuk mereka, bukan hanya sekadar menerjemahkan konten yang sudah ada ke bahasa isyarat. Sebab, individu difabel bisa memiliki cara komunikasi dan cara menyerap informasi yang berbeda.
Saat ini, di Fiji sedang terjadi wabah malaria dan dengue, juga angka HIV yang semakin meningkat. Maka, urgensi bagi individu difabel untuk mendapatkan informasi tentang penyakit menular semakin meningkat, ditambah lagi akses lainnya yang sangat mereka butuhkan seperti ketersediaan ruang cuci khusus disabilitas, akses obat-obatan yang low-cost, dan lain-lain.
Addressing Barriers Bisa Menjadi Langkah Pertama
Menurut Sai, hambatan-hambatan yang ia bahas di webinar ini tidak hanya terjadi di Fiji, tetapi juga masih merupakan masalah umum yang dialami semua individu difabel di Asia-Pasifik. Tentunya saat ini sudah mulai banyak terjadi perubahan, tetapi dampaknya belum signifikan. Perjalanan masih panjang menuju dunia yang lebih ramah disabilitas.
Baca Juga: Tenaga Medis Jangan Jauh dari Disabilitas!
Dunia yang ramah disabilitas bukan hanya soal teknologi pendukung hambatan fisik ataupun desain bangunan yang inklusif, tetapi juga soal paradigma masyarakat agar bisa memasukkan perspektif difabel ke semua ranah kehidupan. Masih banyak hal-hal yang terlupakan, juga hal-hal yang kita anggap remeh, seperti penulisan label obat yang sulit dibaca oleh individu low vision sehingga menyulitkannya minum obat. Jadi, peningkatan standar juga harus terjadi di aspek-aspek terkecil seperti ini.
Diharapkan, modul pengantar dari WHO Western Pacific ini bisa menjadi alat bantu bagi pada pembuat kebijakan dan stakeholder untuk menciptakan sistem kesehatan yang lebih inklusif. Selain itu, perubahan sistem dan kebijakan juga tentunya harus diikuti implementasi yang baik, yang melibatkan semua orang, mulai dari komunitas, tenaga medis, hingga masyarakat umum.

Tinggalkan komentar