Pada tahun 2018, BBC Future merilis seri reportase bertajuk The Health Gap: How Women Experience the Medical System, yang meliput pengalaman para perempuan yang menderita beragam penyakit dan hendak mencari layanan kesehatan. Berbagai kisah dari banyak perempuan dikompilasikan dalam seri 18 laporan jurnalistik, dan mencakup berbagai penyakit mulai dari nyeri haid, gangguan mental, masalah kontrasepsi, penyakit kronis, dan lain-lain.
Seri reportase tersebut sangat layak menjadi bahan acuan kita, sebagai pengingat bahwa medical gaslighting masih sering terjadi kepada perempuan, karena perempuan yang mengeluh sakit sering diabaikan dan dianggap ‘berlebihan’. Seri ini pun hanya salah satu dari sekian banyak pengakuan, catatan harian, dan dokumentasi lainnya terkait stigma dan gaslighting yang dialami perempuan ketika mengakses layanan kesehatan.
Pengalaman perempuan di dunia medis ternyata juga telah didokumentasikan dalam berbagai buku, dari perempuan-perempuan dengan latar belakang berbeda-beda dan keluhan medis yang berbeda-beda pula. Apa saja buku-bukunya? Yuk, simak daftar rekomendasi ini!
Ask Me About My Uterus: A Quest to Make Doctors Believe in Women’s Pain (Abby Norman)
Penulis buku tersebut, Abby Norman, adalah penyintas endometriosis yang menghadapi kesulitan untuk mencari pengobatan karena kebanyakan dokter tidak memercayai keluhan nyerinya, bahkan menyebut gejalanya sebagai psikosomatis belaka. Dalam buku ini, Abby Norman tidak hanya menyajikan kisah hidupnya sebagai penyintas, tetapi juga menyertakan kisah-kisah historis terkait perempuan di dunia medis sepanjang sejarah.
Pain and Prejudice: How the Medical System Ignores Women―And What We Can Do About It (Gabrielle Jackson)
Sama seperti buku karya Abby Norman, Pain and Prejudice juga merupakan memoir Gabriella Jackson sebagai penyintas endometriosis. Bedanya, buku ini menggali lebih dalam pengalaman nyeri perempuan, khususnya penelitian-penelitian terkait nyeri atau pain management yang selama ini lebih sering dilakukan kepada subjek laki-laki, padahal penderita nyeri kronis kebanyakan adalah perempuan. Ia juga menjabarkan bahwa cara kita memandang nyeri selama ini penuh dengan bias gender.
Baca Juga: Kesenjangan Nyeri dari Perspektif Gender: Seruan untuk Praktik Kesehatan yang Setara
Unwell Women: A Journey Through Medicine And Myth in a Man-Made World (Elinor Cleghorn)
Elinor Cleghorn, seorang sejarawan budaya, menjabarkan tentang budaya patriarki yang mendiskriminasi perempuan sejak zaman kuno. Sepanjang sejarah umat manusia, perempuan yang menderita penyakit tertentu sering diberi stigma atau dianggap ‘gila’. Stigma terhadap perempuan pun ternyata masih terus ada hingga masa modern kini, karena dunia medis masih bersifat ‘androsentris’ secara sistemik akibat dipupuk selama ribuan tahun lamanya.
Doing Harm: The Truth About How Bad Medicine and Lazy Science Leave Women Dismissed, Misdiagnosed, and Sick (Maya Dusenbery)
Dalam buku ini, Maya Dusenbery menyatakan bahwa ada budaya kental yang membiasakan dunia medis untuk cenderung dismissive terhadap keluhan perempuan. Ini menyebabkan banyak pasien perempuan yang mengalami underdiagnosis sehingga terapi yang diberikan pun tidak memadai. Dusenbery juga menyertakan data-data terkait seksisme di dunia medis yang melekat di berbagai level hierarki, dimulai sejak calon dokter mulai mendaftar di fakultas kedokteran.
Invisible Women: Data Bias in a World Designed for Men (Caroline Criado Perez)
Buku ini memuat berbagai data yang menunjukkan kesenjangan nyata antara perempuan dan laki-laki terkait riset yang meliputi berbagai aspek hidup seseorang. Tak hanya mengulik kesenjangan di dunia medis, Caroline Criado Perez juga membahas kurangnya riset-riset produk terkait keamanan dan kenyamanan perempuan dan juga kerentanan perempuan terhadap kekerasan di dunia sehari-hari.
Invisible: How Young Women with Serious Health Issues Navigate Work, Relationships, and the Pressure to Seem Just Fine (Michele Lent Hirsch)
Perempuan muda dengan penyakit kronis sering terpaksa untuk tampil ‘baik-baik saja’ di dunia kerja. Penulis buku ini, Michele Lent Hirsch, harus mengalami berbagai kondisi medis berat di usia 20-an awal, mulai dari kanker tiroid, operasi panggul, penyakit Lyme, sampai mast-cell activation syndrome yang membuatnya mengalami syok anafilaktik. Hirsch juga menjabarkan bahwa penyakit-penyakit autoimun masih sangat kurang diteliti, padahal mayoritas penderitanya adalah perempuan.
The Pain Gap: How Sexism and Racism in Healthcare Kill Women (Anushay Hossain)
Anushay Hossain menceritakan pengalamannya tumbuh besar di Bangladesh dan menyaksikan sistem kesehatan yang masih buruk di sana. Akan tetapi, ketika ia pindah ke Amerika Serikat, Hossain menyadari bahwa sistem kesehatan di negara maju pun masih belum setara dan masih mendiskriminasi perempuan serta individu kulit berwarna (people of color). Bahkan, Hossain nyaris meregang nyawa ketika melahirkan. Buku ini juga merangkum pengalaman para perempuan di berbagai belahan dunia yang mengalami diskriminasi multipel di dunia medis karena perbedaan etnis dan golongan.
Buku-buku ini menyajikan berbagai kisah perempuan dalam lapisan kehidupan yang berbeda, disatukan dalam tantangan yang sama. Pengalaman perempuan, yang masih sering dianggap makhluk nomor dua di masyarakat, telah banyak tercatat namun belum benar-benar ditanggapi secara layak. Semoga dengan hadirnya berbagai reportase dan dokumentasi seperti buku-buku di atas, kita semakin sadar untuk cepat bergerak menuju masyarakat dan sistem kesehatan yang setara.

Tinggalkan komentar