Sejak zaman dahulu hingga sekarang, setiap kali kita membahas tentang kesehatan perempuan, maka yang akan dibahas adalah seputar kesehatan reproduksi: mulai dari menstruasi, kehamilan, persalinan, menyusui, hingga menopause; atau masalah-masalah kesehatan lain yang berfokus pada organ-organ reproduksi, seperti kanker payudara, kanker mulut rahim, endometriosis, mioma uteri, dan lain-lain. Dengan demikian, seolah-olah hanya organ reproduksi perempuan saja yang layak menjadi perhatian, bukannya keseluruhan tubuh dan kesehatannya.

Kesehatan perempuan sering masih dilihat dari aspek fungsi reproduksinya semata. Jarang sekali kesehatan perempuan dibahas sebagai masalah kesehatan umum yang dilengkapi perspektif gender dan biologis perempuan, misalnya penyakit diabetes, jantung koroner, hipertensi, dan stroke dari sisi biologis perempuan, lengkap dengan perspektif sosio-kultural perempuan. Padahal, penyakit-penyakit tidak menular tersebut merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan bagi perempuan di seluruh dunia, terutama negara-negara berpendapatan rendah dan menengah.

Baca Juga: Tenaga Medis Masih Sering Menstigma Perempuan!

Pada bulan April 2024, Komunitas Dokter Tanpa Stigma mengadakan kolaborasi training bersama Indian Safe Abortion Youth (ISAY) Advocates yang bertemakan Sexual & Reproductive Health & Rights 101, dengan mengangkat salah satu topik terkait kesehatan perempuan, yaitu ‘Bikini Medicine’. Apa itu? Yuk, kita berkenalan dengan istilah baru ini!

Apa itu Bikini Medicine Serta Apa Saja Dampaknya?

Sebuah penelitian yang dilakukan di George Institute, yang menganalisis konten kesehatan dari artikel-artikel yang diterbitkan dalam enam jurnal kesehatan perempuan dan lima jurnal kedokteran umum antara tahun 2010-2020, menemukan bahwa fokus terhadap kesehatan reproduksi masih sangat dominan. Meskipun ada peningkatan jumlah konten tentang kesehatan reproduksi dari 36 persen pada tahun 2010 menjadi hampir setengahnya pada tahun 2020, konten tentang penyakit tidak menular (non-communicable diseases/ NCD) malah menurun.

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Kanker, sebagai salah satu NCD, adalah topik yang paling banyak dibahas dalam jurnal kesehatan perempuan, diikuti oleh gangguan mental dan penyalahgunaan zat. Sementara itu, dalam jurnal kedokteran umum, lebih dari setengah topik NCD tentang kesehatan perempuan juga difokuskan pada kanker, sementara penyakit kardiovaskular dan masalah kesehatan mental mendapat perhatian yang lebih rendah. Kondisi ini menggambarkan apa yang saat ini kita sebut sebagai ‘bikini medicine‘, ketika masalah kesehatan umum terlupakan dan kita hanya berfokus pada aspek reproduksi perempuan saja.

Bikini medicine adalah kesalahan persepsi bahwa kesehatan perempuan hanya berbeda dari kesehatan laki-laki terkait bagian tubuh yang biasanya ditutupi oleh bikini saja, seperti payudara dan organ kelamin. Istilah ini muncul sebagai kritik terhadap pendekatan terbatas yang sering diterapkan dalam penanganan kesehatan perempuan, di mana fokus utamanya hanya pada organ reproduksi, yang secara simbolis bisa ditutupi oleh bikini.

Bikini medicine mencerminkan pandangan sempit yang tidak hanya mereduksi kompleksitas kesehatan perempuan, tetapi juga mengabaikan bagaimana NCD seperti diabetes, penyakit jantung koroner, hipertensi, dan stroke secara biologis serta sosio-kultural mempengaruhi perempuan secara berbeda dari laki-laki. Ketika kita gagal memfokuskan isu kesehatan hanya ke satu aspek saja, maka kita gagal melihat kesehatan perempuan secara holistik.

Baca Juga: Bias Gender dalam Penelitian Medis dan Imbasnya terhadap Perempuan

Tentunya, bikini medicine berdampak buruk terhadap layanan kesehatan perempuan. Bikini medicine tidak hanya membatasi pemahaman kita tentang kesehatan perempuan, tetapi juga mempengaruhi cara penelitian kesehatan dilakukan sehingga pada akhirnya mempengaruhi layanan kesehatan pada perempuan secara keseluruhan. Studi klinis secara historis cenderung mengesampingkan responden perempuan karena fluktuasi hormonal yang dianggap dapat mengganggu hasil studi. Akibatnya, banyak pengobatan dan protokol medis yang digunakan hari ini berbasis pada data yang didominasi oleh subyek laki-laki, yang mungkin tidak sepenuhnya efektif atau bahkan tidak aman untuk perempuan.

Upaya Bersama Melawan Bikini Medicine

Bikini medicine bukan lagi soal bias internal dari tenaga medis, tetapi sudah menjadi paradigma yang menjadi landasan dari pendidikan kedokteran, penelitian medis, sampai  pembuatan kebijakan. Oleh karena itu, tentu saja, mengatasinya pun memerlukan usaha bersama dari komunitas medis, peneliti, pembuat kebijakan, dan masyarakat umum. 

1) Reformasi Kurikulum Pendidikan Kedokteran

Tentu, perubahan sudah harus dimulai dari tingkat pendidikan kedokteran. Sebuah survei pada tahun 2003 menunjukkan bahwa masih kurang dari setengah fakultas kedokteran di AS memiliki kurikulum kesehatan perempuan. Meski 95% dari sekolah-sekolah tersebut sudah mengajarkan fungsi seksual dan reproduksi, hanya sebagian kecil yang mengajarkan tentang penyebab kematian utama pada perempuan dan penyakit-penyakit yang secara tidak proporsional mempengaruhi perempuan.

Kita perlu mempertanyakan apakah mahasiswa kedokteran yang akan menjadi dokter di masa depan kelak masih mempelajari kesehatan perempuan dari perspektif yang sudah ketinggalan zaman. Oleh karena itu, kita harus mendorong kurikulum pendidikan kedokteran yang seharusnya mencakup pelatihan-pelatihan tentang kesehatan perempuan di luar sistem reproduksi semata, termasuk manajemen penyakit kronis yang sering diabaikan dalam konteks kesehatan perempuan.

2) Dorong Penelitian yang Inklusif

Studi klinis yang diterbitkan di New England Journal of Medicine antara tahun 1994-1999 menunjukkan bahwa 86% dari studi tidak melakukan analisis spesifik gender. Akan tetapi, dewasa ini, sebetulnya kesadaran terkait gender dan seksualitas dalam kedokteran mulai membaik, didorong oleh perhatian lebih dari kebijakan-kebijakan baru yang mulai memacu pendekatan-pendekatan baru dalam penelitian pula. Penelitian berbasis gender yang lebih inklusif kini tidak hanya memasukkan perempuan atau mengakui gender sebagai variabel kovariat, tetapi juga harus secara aktif menilai bagaimana gender mempengaruhi suatu penyakit tertentu.

Idealnya, peneliti haruslah secara rutin menilai bagaimana gender dan faktor sosiokultural lainnya mempengaruhi timbulnya suatu penyakit. Akan tetapi, hal ini belum dilakukan cukup luas. Masih cukup banyak hambatan dalam menginklusikan masalah-masalah sosial dalam penelitian klinis, sehingga kita masih terus membutuhkan advokasi terutama di kalangan ilmuwan untuk memperhatikan inklusivitas serta melihat kesehatan perempuan secara utuh.

Photo by Artem Podrez on Pexels.com

3) Budayakan Kesetaraan di Ranah Klinis

Kedokteran berbasis gender hanya dapat diwujudkan di dalam praktik klinis rutin jika ada dukungan yang baik, mulai dari kemajuan dalam penelitian hingga regulasi yang secara sistematis dimasukkan ke dalam kurikulum fakultas kedokteran. Meskipun sudah ada upaya untuk melakukan update keilmuan terkait kesehatan perempuan, masih ada sedikit sekali penyedia layanan kesehatan (seperti dokter, perawat, dan lain-lain) yang mewujudkan hal ini ke praktik klinis.

Semakin kita melakukan update keilmuan terkait fakta bahwa seksualitas, gender, dan faktor sosial lainnya merupakan faktor penting dalam penalaran diagnostik dan jalannya pengobatan, maka semakin baik pula cara kita memahami kesehatan perempuan. Penelitian-penelitian spesifik gender yang sifatnya inklusif ini akan sangat bermanfaat sebagai referensi untuk memberikan perawatan yang aman dan efektif kepada pasien.

4) Upayakan Advokasi Kebijakan Kesehatan

Pengembangan tentunya bukan hanya dibutuhkan di ranah pendidikan, penelitian, dan klinis. Semua ini membutuhkan dukungan di bawah payung besar, yaitu regulasi dan kebijakan yang mendukung inklusivitas kesehatan. Dalam hal ini, pemerintah memiliki peran di setiap lapisan dunia kesehatan, mulai dari menyusun kurikulum, membuat regulasi di ranah klinis, hingga memberi ruang bagi para peneliti untuk mengembangkan ilmunya.

Upaya advokasi jelas sangat dibutuhkan agar kebutuhan dan keprihatinan kita sampai kepada para pejabat legislatif. Jangan sampai isu tentang bikini medicine hanya berakhir sebagai isu di kalangan komunitas ataupun aktivis semata tanpa adanya turun tangan yang konkret dari para pembuat kebijakan. Kita mengharapkan reformasi yang nyata di setiap aspek kesehatan.

Dengan menggali lebih dalam dan mengkritisi pendekatan bikini medicine yang sudah outdated ini, kita dapat membuka jalan bagi inovasi dan perubahan yang tidak hanya mengubah cara kita memandang kesehatan perempuan, tetapi juga cara kita melakukan pendekatan penelitian dan perawatan kesehatan secara menyeluruh, yang akan bermanfaat tidak hanya bagi perempuan, tetapi semua orang.

Mari memperluas pemahaman kita tentang kesehatan perempuan dan mengimplementasikan pendekatan yang lebih holistik, agar kita dapat memastikan bahwa semua perempuan mendapatkan layanan kesehatan yang komprehensif dan berbasis bukti yang mereka butuhkan untuk hidup sehat dan sejahtera. Perlu ada perubahan paradigma dalam dunia kedokteran secara menyeluruh, mulai dari pendidikan kedokteran, penelitian medis, juga praktik klinis yang didukung oleh semua lapisan masyarakat.

Referensi:

  • Akselrod S, Banerjee A, Collins T E, Farrington J, Weber M, Were W et al. Integrating care across non-communicable diseases and maternal and child health. BMJ 2023; 381: 1090. doi:10.1136/bmj.p1090. https://www.bmj.com/content/381/bmj.p1090
  • Hallam L, Vassallo A, Pinho-Gomes AC, Carcel C, Woodward M. Does Journal Content in the Field of Women’s Health Represent Women’s Burden of Disease? A Review of Publications in 2010 and 2020. Journal of Women’s Health 2022. DOI: 10.1089/jwh.2021.0425
  • George Institute for Global Health. Time to shift research focus from ‘bikini medicine’ to what is really ailing women. ScienceDaily; 2022. https://www.sciencedaily.com/releases/2022/03/220330103316.htm
  • McGregor AJ, Choo E. The emerging science of gender-specific emergency medicine. R I Med J (2013). 2015 Jun 1; 98 (6): 23-6. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4992361/

Tinggalkan komentar