6 Desember 2024
Oleh Antonio Salles de Sousa

Timor-Leste, sebuah negara di Asia Tenggara yang meraih kemerdekaannya pada tahun 2002, menghadapi berbagai tantangan dalam mengembangkan sistem kesehatannya. Meskipun telah terjadi banyak kemajuan, ketidaksesuaian politik sering kali menghambat pengambilan keputusan teknis, sehingga memengaruhi kemampuan sistem untuk memberikan layanan kesehatan yang adil dan berkualitas. Tulisan ini mengeksplorasi bagaimana dinamika politik membentuk keputusan dalam sektor kesehatan, menyoroti area yang menjadi perhatian, serta membahas bagaimana kemitraan dan keahlian teknis dapat mendorong kemajuan meskipun ada tantangan-tantangan tersebut.

Warisan Ketidakstabilan Politik

Konteks politik Timor-Leste sangat dipengaruhi oleh sejarahnya. Penjajahan Portugal selama berabad-abad, diikuti dengan pendudukan Indonesia selama 24 tahun, meninggalkan jejak ketidakstabilan yang masih terasa hingga hari ini. Sejak kemerdekaannya, pemerintahan Timor-Leste ditandai oleh ketegangan antara partai-partai politik utama, termasuk Fretilin dan CNRT. Rivalitas ini sering kali menghasilkan pergantian kepemimpinan yang sering, yang berdampak besar pada kebijakan dan tata kelola.

Sebagai contoh, sejak tahun 2002, Timor-Leste telah memiliki lebih dari sembilan perdana menteri, dengan setiap pemerintahan memperkenalkan prioritas baru dan merombak kepemimpinan di dalam kementerian. Kurangnya kesinambungan ini secara langsung memengaruhi sektor kesehatan, yang memerlukan arah kebijakan yang konsisten.

Pergeseran Kebijakan dan Fluktuasi Pendanaan

Photo by Tara Winstead on Pexels.com

Salah satu dampak paling nyata dari rivalitas politik adalah terganggunya inisiatif kesehatan jangka panjang. Sebagai contoh, Rencana Strategis Sektor Kesehatan Nasional (NHSSP 2011–2030), yang bertujuan memperluas akses ke pelayanan kesehatan primer dan meningkatkan hasil kesehatan, diimplementasikan secara tidak merata. Pergantian pemerintahan sering kali mengalihkan pendanaan berdasarkan preferensi politik, bukan pada prioritas teknis.

Sebagai ilustrasi, selama siklus pemilu tahun 2018, investasi dalam program kesehatan ibu menjadi kurang diprioritaskan dibandingkan proyek infrastruktur yang tampak lebih mencolok seperti pembangunan rumah sakit baru. Meskipun infrastruktur memang diperlukan, pergeseran ini menyebabkan klinik-klinik di pedesaan kekurangan staf dan sumber daya, sehingga menghambat upaya menurunkan angka kematian ibu dan anak.

Masalah ini diperburuk oleh keterbatasan anggaran. Pada tahun 2021, pengeluaran kesehatan hanya mencapai 1,6% dari PDB, jauh di bawah rata-rata global sebesar 10% (WHO). Kepentingan politik jangka pendek sering kali mengarahkan pendanaan ke area yang menjanjikan keuntungan langsung, seperti rumah sakit di perkotaan, sementara daerah pedesaan—tempat mayoritas penduduk tinggal—tetap terabaikan.

Tantangan Tata Kelola dan Administrasi

Pergantian kepemimpinan yang sering di Kementerian Kesehatan mengganggu manajemen dan pengawasan. Antara tahun 2015 dan 2022, Timor-Leste memiliki empat menteri kesehatan yang berbeda, masing-masing dengan prioritas unik. Ketidakkonsistenan ini mengakibatkan arahan yang saling bertentangan dan penundaan dalam pelaksanaan program teknis.

Patronase politik semakin memperumit masalah ini. Posisi-posisi penting dalam administrasi kesehatan terkadang diisi berdasarkan loyalitas politik daripada kompetensi, yang menciptakan inefisiensi. Sebagai contoh, beberapa laporan menyoroti kasus di mana direktur kesehatan regional tidak memiliki kualifikasi untuk mengelola krisis kesehatan masyarakat, seperti wabah demam berdarah pada tahun 2019.

Laboratorium Kesehatan Nasional: Studi Kasus Kemajuan

Photo by Martin Lopez on Pexels.com

Di tengah tantangan politik, Laboratorium Kesehatan Nasional (NHL) muncul sebagai lambang kemajuan, menunjukkan bagaimana keahlian teknis dan kolaborasi internasional dapat mendorong perubahan yang berarti. Kemajuan NHL mencerminkan pentingnya kemitraan dengan organisasi seperti Menzies School of Health Research dan tim Rumah Sakit Royal Darwin.

Menzies School of Health Research memainkan peran penting dalam mendukung perkembangan NHL melalui inisiatif pengembangan kapasitas, pelatihan staf laboratorium dalam diagnostik molekuler, dan membantu proyek penelitian kesehatan masyarakat. Selama pandemi COVID-19, upaya ini memungkinkan NHL untuk membangun kemampuan pengujian PCR waktu nyata dan memberikan diagnosis yang tepat waktu.

Selain itu, tim Rumah Sakit Royal Darwin memberikan bantuan jarak jauh yang tak ternilai selama momen-momen kritis, menawarkan saran teknis dan pemecahan masalah untuk proses laboratorium. Dukungan mereka memastikan layanan diagnostik tetap berjalan meskipun ada kekurangan sumber daya.

Antara tahun 2020 dan 2022, NHL memperluas cakupan kegiatannya untuk mencakup pengurutan genom melalui kolaborasi dengan Doherty Institute dan University of Melbourne. Kemitraan ini memungkinkan Timor-Leste untuk menganalisis sampel COVID-19 di luar negeri dan memulai pengujian lokal, menyediakan data epidemiologis penting untuk langkah-langkah kesehatan masyarakat.

Namun, kemajuan NHL tidak tanpa hambatan. Penundaan politik dalam persetujuan pendanaan dan pengadaan reagen kadang-kadang mengganggu layanan, yang menunjukkan bagaimana masalah tata kelola yang lebih luas terus memengaruhi inisiatif yang paling sukses sekalipun.

Dampak pada Hasil Kesehatan

Pengaruh politik memiliki dampak nyata pada hasil kesehatan. Sebagai contoh, gangguan dalam program vaksinasi akibat pergantian kepemimpinan atau pengalihan dana telah membuat anak-anak rentan terhadap penyakit yang dapat dicegah. Pada tahun 2022, penghentian sementara vaksinasi campak di distrik-distrik pedesaan menyebabkan wabah, dengan lebih dari 200 kasus dilaporkan di Covalima dan Ainaro.

Menuju Stabilitas dan Kemajuan

Mengatasi masalah ini memerlukan reformasi yang tegas dan komitmen terhadap stabilitas. Pertama, reformasi tata kelola harus memastikan pengangkatan berbasis merit pada posisi penting di sektor kesehatan. Kedua, kebijakan kesehatan harus dilindungi dari intervensi politik dengan mendirikan Dewan Kesehatan Nasional independen yang terdiri dari pembuat kebijakan, profesional kesehatan, dan masyarakat sipil. Investasi dalam tenaga kerja kesehatan juga sangat penting. Timor-Leste hanya memiliki 0,7 perawat per 1.000 penduduk dibandingkan rata-rata global sebesar 3,8 (Bank Dunia).

Kesimpulan

Meskipun ketidaksesuaian politik membentuk keputusan kesehatan di Timor-Leste, kemajuan institusi seperti NHL menunjukkan apa yang mungkin dicapai melalui kolaborasi dan keahlian teknis. Dengan fokus pada reformasi tata kelola, investasi tenaga kerja, dan perencanaan berbasis bukti, Timor-Leste dapat membangun sistem kesehatan yang lebih stabil dan efektif.

Artikel ini ditulis oleh Antonio Carvalho de Sousa
Ilmuwan Mikrobiologi Klinis, Molekuler, dan Serologi; Anggota Program Manajemen Laboratorium Efektif dari Timor Leste.

Pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Inggris di akun LinkedIn Antonio Carvalho de Sousa.

Referensi:

Tinggalkan komentar